Tentang Ulama, di benak Tumang ialah seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan. Tanpa sayu, parau dan Lelah memberikan nasehat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya. Seperti perkataan Malaikat Jibril, “Ulama adalah Pelita dunia dan akhirat.”
Selain berkelana mencari dambaan hati, Tumang juga selalu berusaha memperbaiki diri dan berusaha sabar, Ridha dengan apa yang di dapat dari karunia Allah serta selalu berbuat Kebajikan. InsyaAllah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tasbih pemberian Tumang
Butet merasakan desakan mencekik di lehernya, seolah-olah kehadiran makhluk itu melenyapkannya dari dunia ini. Dia berjuang keras, mencoba membebaskan diri, tapi kekuatannya semakin melemah. Bayang-bayang gelap menyerbu pikirannya, mengisinya dengan ketakutan dan keputusasaan.
Seketika, cahaya putih bersinar dari balik bayang-bayang. Sebuah tasbih putih bersinar terang, memancarkan aura yang memukau. Butet memegangnya dengan erat, merasakan ketenangan dan kekuatan dari dalam. Dengan teriakan terakhirnya, dia meneriakkan doa dalam hati.
Makhluk itu mundur, terbakar oleh cahaya suci yang dipancarkan oleh tasbih. Butet merasakan dirinya terlempar keluar dari kapal, mendarat di pantai dengan kelelahan yang menghantamnya seperti gelombang yang memecah batu.
Dia merangkak menjauh dari pantai, menjauhi kapal yang menyimpan misteri dan bahaya. Meskipun dia berhasil selamat dari ancaman mengerikan itu, tetapi rasa takut dan trauma akan terus menghantuinya, mengingatkannya pada malam yang tak terlupakan di laut yang gelap.
Butet terduduk di pantai, menatap kegelapan laut yang gelap gulita. Hatinya berdebar kencang, pikirannya terus memutar ingatan akan pengalaman mengerikan di kapal tersebut. Dia merasakan getaran dingin merambat di tulang belakangnya, mengingatkannya pada bahaya yang baru saja dihadapinya.
Dengan perlahan, dia bangkit berdiri, mencoba menenangkan diri. Kaki gemetar saat dia berusaha untuk bergerak, tapi tekadnya tak tergoyahkan. Dia tahu dia harus meninggalkan pantai itu segera sebelum kegelapan benar-benar melahapnya.
Menggunakan sisa-sisa kekuatannya, Butet mulai menjauhi pantai, memasuki hutan belantara yang gelap. Cahaya remang-remang bulan yang tersembunyi di balik awan memberikan sedikit pencerahan di sekitarnya, tapi tetap saja, suasana itu membawa ketakutan yang menghantui.
Langkahnya terhenti saat dia mendengar suara desiran di semak-semak. Jantungnya berdegup lebih kencang, matanya berusaha memperhatikan setiap gerakan di sekitarnya. Namun, tak ada yang terlihat kecuali bayangan yang menyeramkan.
"D-d-didengar s-siapa di-sana?" desis Butet, suaranya bergema di antara pepohonan. Namun, tak ada jawaban kecuali suara angin yang bertiup pelan.
Dia melanjutkan langkahnya dengan hati-hati, tetapi rasa ketidakpastian terus menghantuinya. Setiap suara kecil membuatnya melompat ketakutan, setiap bayangan membuatnya merasa seperti sedang dikejar oleh sesuatu yang tak terlihat.
Tiba-tiba, dia terjatuh ke dalam lubang yang tersembunyi di bawah semak-semak. Tubuhnya terbanting ke tanah dengan keras, membuatnya terengah-engah kesakitan. Saat dia mencoba bangkit, dia merasakan sesuatu yang aneh di bawah kakinya.
Butet menatap ke bawah dan mengerang ketakutan saat dia menyadari bahwa dia tidak sendirian di dalam lubang itu. Mata yang bersinar di kegelapan menatapnya dengan ganas, gigi-gigi tajam terlihat di bibir yang melengkung ke arahnya.
"J-j-jangan... jangan dekat-i-i-i!" teriak Butet, mencoba merangkak mundur dari makhluk itu. Namun, langkahnya terhenti saat dia merasakan tangan kasar meraih kakinya, menariknya ke dalam kegelapan yang mencekam.
Dengan teriakan terakhirnya, Butet mencoba bertahan, mencoba melawan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Tetapi, kegelapan itu menelannya dengan rakus, menyimpannya di dalam rahasia yang gelap dan misterius.
Butet terjebak dalam kegelapan yang mencekam, terpisah dari dunia luar yang penuh dengan ketakutan dan penderitaan. Dia merasakan dirinya terhanyut dalam kekosongan gelap, tak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya.
Dalam kegelapan yang menyelimuti pikirannya, dia mencoba memanggil pertolongan dari mana pun yang mungkin. Doanya terdengar seperti seruan terputus-putus di lautan kegelapan, namun dia tidak kehilangan harapan. Dia tahu bahwa di tengah kegelapan itu, masih ada cahaya yang menuntunnya.
Tiba-tiba, cahaya kecil mulai muncul di kejauhan. Butet merasakan harapan membara di dalam dirinya saat cahaya itu semakin mendekat, memancarkan sinarnya yang hangat dan menenangkan. Dia mengikuti cahaya itu dengan setiap tetes keberanian yang tersisa dalam dirinya, berharap dapat mencapai titik terang di ujung kegelapan.
Setelah berlari-larian melalui labirin gelap yang mengancam, Butet akhirnya mencapai titik terang. Dia keluar dari kegelapan, menyambut sinar matahari yang menyinari wajahnya dengan hangat. Namun, kegembiraannya segera berubah menjadi ketakutan saat dia menyadari di mana dia berada.
Dia berada di tengah-tengah sebuah desa yang tampaknya terlantar. Bangunan-bangunan retak dan tertutup debu berdiri di sekitarnya, memberikan kesan bahwa tempat ini telah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Butet merasa seperti dia telah masuk ke dalam mimpi buruk, di mana waktu telah berhenti dan kehidupan telah mati.
Namun, ketakutan Butet semakin bertambah saat dia menyadari bahwa dia tidak sendirian di desa itu. Bayangan-bayangan gelap mulai muncul di antara bangunan-bangunan, mengintai dengan niat yang tidak jelas. Dia merasa dirinya seperti mangsa yang terjebak di dalam permainan makhluk-makhluk yang tidak kasat mata.
Dengan langkah-langkah gemetar, Butet mencoba meninggalkan desa itu, tetapi setiap kali dia berusaha bergerak, dia merasa seolah-olah kekuatannya terkuras habis. Dia merasa seperti terjebak dalam labirin yang tak berujung, di mana setiap jalan keluar tampaknya ditutup oleh kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
Dalam keputusasaan yang melanda, Butet memejamkan mata dan mencoba memanggil Tumang, berharap bahwa temannya itu akan mendengar seruannya dan datang menyelamatkannya dari malapetaka ini. Namun, hanya hening yang menyambutnya, kecuali suara gemuruh angin yang bertiup di antara bangunan-bangunan yang terbengkalai.
Butet merasa dirinya semakin terperangkap dalam kegelapan dan penderitaan yang menyelimuti desa itu. Dia tahu bahwa untuk selamat, dia harus menemukan jalan keluar dari labirin yang mencekam ini, namun di tengah ketakutan dan keputusasaan, harapan semakin memudar.
Dengan tekad yang masih tersisa, Butet memutuskan untuk menjelajahi desa itu lebih lanjut, meskipun ketakutan masih merajalela di dalam hatinya. Dia berjalan melalui jalan-jalan yang sunyi, melihat-lihat bangunan yang terabaikan dengan hati-hati.
Di sepanjang perjalanan, dia merasa seperti ada sesuatu yang mengawasinya dari kegelapan. Bayangan-bayangan gelap terus mengintai di antara reruntuhan, membuatnya merasa seolah-olah tak pernah sendirian. Butet terus bergerak maju, mencari tahu rahasia yang tersembunyi di balik desa terlantar ini.
Saat dia mendekati pusat desa, dia melihat sebuah bangunan yang tampaknya masih utuh di tengah-tengah kekacauan. Sebuah bangunan tua dengan pintu kayu besar dan jendela-jendela kusam menatap ke arahnya dengan kesan yang misterius.
Butet memutuskan untuk mendekati bangunan itu dengan hati-hati, berharap bisa menemukan petunjuk atau jawaban atas misteri yang menyelimuti desa ini. Saat dia mendekat, dia merasakan ketegangan yang semakin meningkat di udara, seolah-olah sesuatu yang ganas sedang menunggu di balik pintu tersebut.
Dengan hati-hati, Butet membuka pintu kayu yang berat, mengungkapkan kegelapan yang menyelimuti ruangan di dalamnya. Dia masuk dengan langkah ragu-ragu, menatap sekeliling dengan waspada.
Di dalam ruangan itu, dia melihat sesuatu yang membuatnya terperangah. Di tengah-tengah ruangan yang gelap, sebuah sosok berdiri dengan tegak, menatapnya dengan mata yang bersinar dalam kegelapan. Wajahnya tertutup oleh bayangan, tapi aura kejahatan yang menyelimuti tubuhnya begitu terasa.
"Siapa... siapa kamu?" desis Butet dengan suara gemetar, berusaha menahan ketakutannya.
"Ssst... jangan takut, Butet. Aku adalah penunggu desa ini. Aku telah menantimu," suara itu menggema, membuat bulu kuduk Butet merinding.
Butet mencoba untuk mundur, tetapi kakinya terasa terpaku di tempat. Dia merasa seperti terperangkap dalam jalinan kekuatan yang tidak bisa dia lawan.
"Sialan! Kamu tidak bisa melarikan diri dari sini," bentak sosok itu tiba-tiba, membuat Butet merasa semakin terjebak dalam cengkeraman kegelapan.
Dalam keputusasaan yang melanda, Butet mencoba memanggil keberanian terakhirnya. Dia menggenggam tasbih putih yang masih terang di tangannya, berharap bahwa cahaya suci yang dipancarkannya bisa mengusir kegelapan yang menyelimutinya.
"Dengan kekuatan yang ada padaku, aku mengusirmu!" teriak Butet, memancarkan cahaya suci dari tasbih itu.
Sosok itu menjerit kesakitan, terbakar oleh cahaya yang dipancarkan oleh tasbih Butet. Dengan keberanian yang masih tersisa, Butet melarikan diri dari ruangan itu, berlari secepat mungkin keluar dari desa terkutuk itu.
"Argghh!!!"
Balung seharusnya suruh dzikir saja biar nggak ketasukan setan atau apa gitu. jangan biarkan jiwa kita kosong apalagi saat kondisi kita dalam ketakutan seperti itu. Tukang dan teman teman seharusnya kalian baca surat pendek saja biar para setan nggak bisa mendekati kalian.
Maaf ya kak🙏😊💕
namun juga menegaskan bahwa kegelapan itu tidak terkalahkan. Selain itu, interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah lapisan kompleksitas pada cerita, dengan pembaca dibawa pada perjalanan yang penuh dengan ketidakpastian dan keberanian yang tersembunyi. Kesimpulannya, komentar tersebut berhasil menarik perhatian pembaca dan membangun suasana yang mencekam.
Penjelajah pemberani yang menantang kegelapan memberikan dorongan pada narasi, namun nasibnya yang tragis menegaskan bahwa kekuatan jahat itu tidak terbendung. Suara-suara mengerikan yang menggema dari rumah tua yang terkutuk menambah lapisan ketegangan yang mencekam, sementara ketidakberdayaan warga desa yang terperangkap dalam cengkeraman kegelapan menciptakan atmosfer yang memicu adrenalin.
Interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah kompleksitas pada cerita, dengan kehadiran tokoh tua tersebut memberikan nuansa yang lebih dalam terhadap rahasia yang tersembunyi di balik kegelapan itu. Ketegangan mencapai puncaknya ketika suara gemuruh yang menakutkan kembali menggema, memotong keheningan malam dengan kekerasan yang menakutkan, meningkatkan ketidakpastian dan kecemasan pembaca.
Dengan setiap langkah yang diambil Butet dalam usahanya untuk melawan kegelapan, pembaca merasakan ketegangan yang semakin memuncak, sementara suara tawa jahat Kliwon dan pengikutnya menggema di antara bayangan-bayangan gelap, menambah ketakutan yang menyelimuti pikiran.❤️
Sirih harus benar-benar kuat untuk bertahan menghadapi semua ancaman yang muncul dari kegelapan. Di bab ini si Butet liat si nenek menapak di atas tanah nggak?