Untuk membalaskan dendam dan menemukan kebenaran atas pencobaan pembunuhan yang menimpanya, Scarlet berpura-pura menjadi wanita bodoh dengan IQ rendah dan menikah dengan keluarga Fergus sebagai nyonya muda. Scarlet dan Darius Fergus menikah karena perjodohan. Yang berarti tidak ada cinta di antara mereka.
Saat Darius melihat Scarlet yang bodoh dan memiliki keterbelakangan mental, dia sangat marah hingga dia meminta cerai! Dia adalah seorang pebisnis yang jenius. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki orang bodoh untuk menjadi istrinya? Tapi yang Darius tidak tahu adalah bahwa bakat Scarlet berada jauh di atasnya, Scarlet termasuk seorang dokter jenius, pianis, investor, peretas handal...
Tapi apa yang bisa wanita itu lakukan jauh di luar imajinasinya. Selama mereka menikah, Darius pun perlahan-lahan mulai menemukan wajah asli di balik topeng "istrinya" ...
Akankah seorang Darius Fergus akan jatuh cinta pada istrinya? Atau dia akan tetap bersama Cindy kekasihnya yang ternyata adalah sauda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meta Janush, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. BERSIKAP BAIKLAH
Suasana hati Darius sangat buruk setelah beberapa hacker menyerang sistem komputernya dan mengambil beberapa data penting perusahaan.
Bukan hanya itu saja, hacker itu menyebarkan informasi klien perusahaannya. Darius bersandar dikursinya sambil berpikir keras.
Sejak kejadian di kelab malam itu, Darius menyadari jika ada seseorang yang secara diam-diam sedang mempermainkannya.
Dia merasa penasaran ingin mencari tahu siapa orang yang sudah berani mempermainkannya. "Karena ada seseorang yang sangat ingin mendapatkan perhatianku, maka akan membosankan jika aku tidak memberikan respon bukan?"
Darius memegang dagunya dengan satu tangan dan menatap lurus. Berdasarkan perkiraannya, semua kejadian yang menimpanya belakangan ini pasti ada hubungannya dengan wanita yang selalu muncul tiba-tiba dihadapannya.
"Baiklah, tuan." Miller menganggukkan kepala. "Kapan rencananya kita berangkat?"
"Besok." jawab Darius.
"Besok? Lalu, bagaimana dengan Nyonya Fergus?" tanya Miller yang tiba-tiba teringat dengan Scarlet.
Darius terdiam, dia benar-benar melupakan keberadaan Scarlet. Sebelumnya dia hidup sendiri dan sudah terbiasa dengan kesendiriannya.
Tapi, tiba-tiba saja hadir seseorang yang membuatnya harus selalu memperhatikan keberadaan orang itu.
Miller pikir setidaknya Darius menunjukkan sedikit perhatiannya pada wanita itu dan menjaganya. Lagipula, wanita itu adalah istri yang dipilihkan oleh Tuan Besar Fergus untuk Darius.
Tapi Darius hanya diam selama beberapa saat lalu berkata, "Booking tiket pesawatnya!"
Saat Miller keluar dari ruang kerja itu, Scarlet pun bergegas mematikan komputernya dan menghapus semua jejak dan juga IP address agar tidak bisa dilacak.
Setelah dia menyembunyikan komputernya, dia berbaring diatas tempat tidur. Tak berapa lama, terdengar suara pelayan yang mengetuk pintu seraya memanggilnya.
"Nyonya Fergus, Tuan Fergus mengundang anda untuk makan malam."
"Ya ya.....sudah waktunya makan." sahut Scarlet dengan suara polos kekanak-kanakan.
Sedangkan di ruang makan, Darius terlihat sedikit keewa. Dia tidak berniat untuk berbicara dengan Scarlet. Wanita itupun tidak mempedulikan, dia menundukkan wajahnya menatap makanan didepannya.
Perlahan dia menyantap makanan, dan seperti biasanya dia selalu menyerakkan makanan di meja makan. Bagi Scarlet, menyantap makanan tidak ada bedanya dengan bertempur di medan perang.
Darius melirik kearahnya dan terpaku. "Apa kau tidak tahu aturan di meja makan?"
"Apa aturannya, sayang? Apakah makanannya enak?" Scarlet terkekeh dengan ekspresi bodoh dan melambaikan tangan dan kakinya.
"Sayang, bisakah kau membawaku ke taman hiburan besok? Tapi jangan ajak wanita tua itu untuk datang lain kali ya." ujar Scarlet.
Dia memasang wajah cemberut dan tampak marah. Darius meletakkan alat makannya dan menyeka mulut. Gerakannya sangat elegan layaknya seorang bangsawan.
"Tidak!" Darius langsung menolak tanpa berpikir panjang. "Aku akan membawamu ke rumah kakek besok."
"Hah? Apa kita akan pergi bermain dengan kakek?" Scarlet tersenyum lalu bertepuk tangan, "Bagus....bagus sekali sayangku! Kita bisa main petak umpet."
"Tidak! Hanya kau saja." Darius menatap tajam Scarlet, "Aku punya pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Scarlet terihat seperti tidak mengerti maksud perkataan Darius. "Apa kau pergi bermain-main diluar? Apa ada makanan enak disana? Bawalah aku bersamamu, aku tidak mau ditinggal! Aku janji akan selalu mendengarkan ucapan sayangku."
Meskipun Darius sudah menegaskan kalau dia tidak bisa membawa wanita itu pergi bersamanya tapi Scarlet tampak tidak mengerti dan menatapnya penuh harap.
Untuk kedua kalinya Darius pun memberikan penolakan, "Tidak! Kau tidak bisa ikut."
"Kalau kau bersedia tinggal dirumah kakek untuk sementara dan bersikap baik, aku akan membawakan makanan enak untukmu." ujar Darius menambahkan.
Dia terpaksa mengatakan itu agar Scarlet tidak bersikeras ikut dengannya. Darius bahkan tertegun setelah mengatakan kalimat itu.
'Sejak kapan aku bisa mengatakan kalimat seperti itu?' pikirna. Dia bahkan tidak percaya jika dia baru saja mengatakan sesuatu untuk menenangkan Scarlet.
"Kenapa kau tidak bisa membawaku? Sayang.....apa karena kau tidak menyukaiku lagi? Kau tidak mau pergi denganku? Itukah alasannya?" Scarlet terlihat sedih karena penolakan Darius.
Darius tidak tahu harus mengatakan apa. Tiba-tiba saja Scarlet berdiri, sikapnya seolah ingin memprotes dan menuntut keadilan.
Dia memajukan tubuhnya kedepan hingga wajahnya sangat dekat dengan Darius. Saking dekatnya jarak mereka, bisa merasakan hembusan napas masing-masing.
Sesaat Darius tidak bisa bernapas dengan normal. Jantungnya berdetak kencang, apalagi aroma tubuh Scarlet yang selalu membuatnya kacau.
"Menyukaimu? Maksudmu?" tanya Darius.
Tentu saja dia tidak menyukai wanita itu. Wanita didepannya ini adalah wanita bodoh, tapi setidaknya dia memperlakukannya dengan baik selama ini demi kakeknya.
"Suamiku, kau tidak menyukaiku.....apa kau membenciku suamiku sayang?" tanya Scarlet dengan sengaja menghempaskan napasnya yang langsung mengenai wajah Darius.
"Tidak!" jawab Darius singkat.
"Baiklah. Jika kau tidak membenciku, itu artinya kau menyukaiku. Iyakan sayang? Jangan khawatir sayang, aku akan menunggumu dirumah kakek. Jangan lupa membawakan makanan enak untukku ya?"
Meskipun Scarlet terlihat tenang, namun sebenarnya berada sedekat itu dengan Darius membuatnya tidak tahan. Apalagi menatap mata hitam kelam pria itu dan wajah tampannya.
Scarlet adalah seorang wanita, meskipun dia tidak memiliki perasaan apapun pada Darius tapi dia tidak memungkiri kalau dia juga menyukai ketampanan pria itu.
"Ya, akan kubawakan. Bersikap baiklah." sahut Darius.
Scarlet kembali duduk dikursinya dan melanjutkan makan dengan ekspresi bahagia terpancar diwajahnya. Melihat itu, Darius mengeryitkan keningnya.
Setelah makan malam, Darius membawa Scarlet pergi kerumah utama keluarag Fergus. Tuan Besar Fergus yang sudah mengetahui kedatangan mereka pun segera mengirimkan pelayan untuk menyambut Scarlet.
Scarlet turun dari mobil dan berjalan menuju kerumah utama. Dia melihat Darius yang masuk kedalam mobil dan hendak menutup pintu.
Tiba-tiba saja Scarlet berlari kearah Darius dan menghalangi pintu mobil agar Darius tidak bisa menutupnya. Pria itu menatap Scarlet dengan bingung.
Scarlet tersenyum tipis. Dibawah cahaya rembulan, wajahnya terlihat sangat cantik dan polos. Saat dia tidak bicara, dia bahkan terlihat sangat cantik dibandingkan wanita manapun.
Tapi sayangnya, jika dia sudah membuka mulut dan bicara......"Sayang.....Aku tidak akan melihatmu untuk waktu lama. Aku akan merindukanmu. Bisakah kau memberiku ciuman sebelum kau pergi?"
Mendengar perkataan Scarlet membuat Darius kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa dia mencium wanita bodoh itu dalam keadaan sedang sadar?
Tanpa mempedulikan permintaan Scarlet, Darius mendorongnya lalu segera menutup pintu mobil. Scarlet gagal mendapatkan ciuman perpisahan dari suaminya.
Scarlet berdiri terpaku menatap mobil yang dikendarai Darius melaju meninggalkan tempat itu. Melihat dari cara Darius mengemudikan mobilnya, dia seperti orang yang sedang berlari untuk menyelamatkan diri.
Scarlet menahan tawa, dia yakin untuk sementara waktu Darius tidak akan mencurigainya lagi. Dan setelah hari ini, Darius pasti tidak mau melihatnya lagi.
"Hahahahaha kenapa dia terlihat ketakutan setiap kali aku ingin menciumnya?"
Scarlet terkekeh sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihatnya tertawa.
kapan di lanjut lagi thor...
masih misterius asal usul scarlet
lanjut thor up lg... 👍🏻🔥🔥
ini cerita banget2...
lanjut thorrrr....
hahahaaaaaaaa.
atit piyut atu thurrrr.......
mening jujur aja sama darius supaya bisa memecahkan misteri bersama-sama
😁