"Kau adalah milikku! Kau sudah membuatku tertarik menjadikanmu kekasih ku, jadi kau harus tahu diri dan jangan coba-coba untuk melarikan diri!" Lennox menangkup wajah gadis cantik itu, lalu mencium bibir ranumnya dengan seduktif.
Memiliki seorang kekasih yang merupakan seorang mafia bukanlah hal yang indah dan mudah seperti sebuah kisah cinta dongeng Cinderella yang diceritakan!
Dia adalah putra salah satu mafia terbesar yang ada. Dia terus memaksaku untuk menjadi kekasihnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dnrfitri_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Lennox sedang duduk di minibar sambil menikmati segelas sampanye saat Edbert datang menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Bagaimana dengan gadis itu? Apa kau sudah membunuhnya?" tanya Edbert sambil menuangkan sampanye ke dalam gelas.
Lennox menjauhkan gelasnya dari bibir, lalu menjawab. "Dia masih hidup. Aku tidak membunuhnya."
"Apa? Seorang mafia mengampuni mangsanya? Kita tidak memiliki hati untuk menerapkan perasaan dan otak untuk berpikir jernih. Untuk apa kau membiarkannya berada di mansion ini? Harusnya kau langsung membunuhnya. Tindakanmu mengampuni gadis itu saja sudah salah besar. Lalu, sekarang kau membiarkan gadis itu hidup hanya karena kau ingin menjadikan dia kekasih mainan mu?"
"Kenapa kau membiarkannya hidup? Itu bisa mengancam keamanan organisasi kita."
"Tenang saja, Ayah. Gadis itu sangat bodoh dan penakut. Dia tidak mungkin membahayakan kita. Aku bisa jamin itu," kata Lennox meyakinkan ayahnya, kemudian Lennox kembali meneguk sampanye di gelasnya hingga tandas.
"Kau belum menceritakan tentang latar belakang gadis itu pada Ayah. Setahu Ayah, kau hanya bermain-main dengan Kathleen saja akhir-akhir ini dan kemudian tertarik pada benalu yang kau sebut Serena itu. Tapi tiba-tiba gadis itu ada di mansion setelah kau mencarinya. Bagaimana ceritanya kau bisa membawa dia ke tempat ini? Ayah hanya memintamu untuk memaksa dia agar memberikan keturunan untukmu, setelah lahir kau harus membuang wanita itu. Untuk apa menampungnya di mansion ini, jika dia bersikeras menolak menjadi kekasih mu." sejak pertama melihat Serena, Edbert penasaran. Edbert merasakan perbedaan yang ada di hati putranya.
Sebab hanya Serena saja yang berani masuk ke dalam markas rahasia mereka. Dan Lennox begitu mempedulikannya.
"Ayah tenang saja, dia sudah menyerah padaku seperti yang ayah katakan bahwa kita tidak bisa dikalahkan. Dia baru menyetujui untuk menjadi kekasih ku." Jawaban Lennox tidak berhasil menenangkan ayahnya, ia malah sukses mengejutkan Edbert hingga bola mata ayahnya itu terbelalak lebar.
Edbert berdiri dari duduknya. Wajahnya terlihat marah. Lennox mendongak menatap pada Edbert.
"Ayah pikir kau ingin menjadikan dia kekasih hanya untuk dijadikan mainan mu saja, itu tidak cukup dan ayah merasa itu salah. Bagaimana jika kau menyembunyikan sesuatu dari ayah? Kau menyukai wanita itu? Karena apa?? Saat ayah menyuruhmu untuk membunuhnya, kau malah mengampuni benalu itu."
Edbert berjalan tegas menuju ke sebuah ruangan yang membuat Lennox terkejut.
Itu adalah ruangan di mana Edbert menyimpan koleksi senjatanya.
"Ayah, apa yang akan Ayah lakukan?"
"Jika kau tidak ingin membunuh gadis itu, biar Ayah saja yang melakukannya. Dia harus menanggung hukuman karena berani menyelinap dan menggagalkan operasi organisasi kita! Ayah tidak peduli bahwa dia adalah kekasih mu atau bukan." Edbert sudah siap mengambil sebuah pistol besar, lalu mengisinya dengan peluru.
Lennox segera mencegah dengan memegangi pistol itu sebelum Edbert berhasil melangkah pergi.
"Lepaskan Ayah, Lennox! Ayah harus membunuh gadis itu!"
"Jangan lakukan itu, Ayah!"
"Kenapa? Kenapa kau mencegah Ayah melakukannya? Kau mulai tertarik padanya? Kau menjadikan dia kekasih bukan untuk dijadikan mainan, tapi karena kau mencintainya? Iya?" mata Edbert memicing.
Lalu, kembali berkata. "Cinta membuat kita sangat rentan dan lemah. Kau tahu? Ibumu meninggal hanya karena sebuah rasa cinta."
Lennox menggeleng tegas. "Itu mustahil! Aku tidak mungkin mencintai seorang wanita. Aku hanya ingin dia menanggung hukuman yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada langsung membunuhnya."
Perkataan Lennox menumbuhkan kernyitan di alis Edbert. "Maksudmu?"
"Jika saja aku langsung membunuhnya, maka penderitaan Serena akan berakhir begitu saja. Tapi jika aku membiarkan dia tinggal di mansion ini dan membuatnya menderita sebagai tawananku, maka dia akan merasa sepanjang hidupnya seperti sebuah neraka. Aku harap Ayah mengerti maksudku."
Edbert terdiam sesaat. Benaknya sedang mencerna ucapan Lennox.
Senyum Lennox terlihat misterius.
Dari raut wajah Lennox, Edbert bisa melihat kesungguhan di sana.
"Kau akan pastikan dia menderita?"
Lennox mengangguk. "Tentu saja."
Kali ini Edbert menarik sebelah sudut bibir, membentuk senyum miring. "Jika begitu lakukan sesukamu. Tapi kau harus janji untuk jangan pernah jatuh cinta pada gadis itu!"
"Aku janji."
Tersenyum puas, Edbert lalu menepuk bangga pada pundak kanan putranya tersebut.
Lennox balas tersenyum sambil berkacak pinggang. Matanya memperhatikan Edbert yang kini kembali menaruh pistol yang tadi sempat diambilnya dan pistol itu pun kembali dipajang di dinding ruangan setelah pelurunya dikeluarkan.
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚌𝚎𝚝𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝🙏 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 thor