Menikah karena kesalahannya dimasa muda, namun setelah ia mempunyai dua orang anak, suaminya malah berkhianat dan menikah dengan wanita lain. Ayyara Ariani harus menelan pil pahit pernikahan.
Ia menjalani kehidupan sebagai janda dengan dua orang anak. Hidup dengan cacian dan hinaan orang-orang disekelilingnya tak membuat Yara berputus asa.
Arzan Alvaro memilih hidup sendiri setelah istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat ia mengandung buah cinta mereka. Arzan menghabiskan waktu dengan bekerja dan menjadi pria yang dingin tak tersentuh. Sukses membangun bisnis peninggalan sang ayah yang terancam bangkrut dan menjadi kan Zein's company semakin maju dan tak terkalahkan di bidang industri dan perdagangan di kancah internasional.
Bagaimana kisah mereka berdua? yuk mari kita simak...
selamat membaca...
cover by noveltoon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jangan ganggu istri ku
Langit mendung dipagi hari tidak menyurutkan langkah Azam menapaki jalan trotoar menuju sekolahnya.
Remaja laki-laki yang sebentar lagi akan menamatkan pendidikan SMA itu menghentikan langkahnya dan menyipitkan mata. Ia mengenal pria yang kini terlihat mondar-mandir di depan pintu gerbang sekolahnya.
Azam menghela nafas. Mau apa lagi pria jahat itu menemui nya? Tak cukupkah ia selama ini menyakiti hati kakak dan keponakannya.
Dengan malas Azam berjalan mendekat menuju gerbang sekolah. Pria itu berbalik dan tersenyum kala melihat yang dia cari kini telah datang.
"pagi Zam.... Tumben jalan kaki? Motor kamu kemana?" sapa pria yang agak sedikit berbeda penampilannya dari yang terakhir Azam lihat beberapa tahun lalu.
Dengan malas Azam menjawab sapaan pria yang tak lain adalah mantan kakak iparnya alias mantan suami mbak Yara nya, Daniel.
"Lagi di bengkel, mau apa mas Daniel ke sini?" ucap Azam malas.
"Lagian motor butut gitu masih dipakai Zam... Atau kamu mau mas belikan motor baru, gimana mau?" ucap Daniel entah basa-basi atau memang serius.
Azam menghela nafas malas. " nggak usah mas, motor nya masih bisa dipakai. Cuma putus rantai. Mas Daniel ada perlu apa? Bukan cuma mau tanya motor ku kan?" Azam mempertanyakan maksud kedatangan mantan iparnya ini.
"begini Zam, mas dengar kalau mbak mu Yara udah nikah lagi sama pria tajir dan seorang pengusaha. Mas bisa minta tolong nggak, mas ingin ketemu sama anak-anak, mas kangen mereka " ujar Daniel menceritakan alasannya ke sekolah Azam.
"kenapa baru sekarang, kemarin-kemarin kemana mas? Lagi pula aku nggak yakin mbak Yara bakal izinin mas Daniel ketemu anak-anak. Kenapa nggak mas Daniel aja yang langsung cari mbak Yara kenapa harus melalui aku" sahut Azam yang sedikit meninggikan nada suaranya, Azam benar-benar jengkel dengan pria didepannya ini.
Daniel tak kehilangan akal. " Mas ada alasan nya Zam dan mas nggak bisa ceritakan sama kamu. tolong lah Zam bantu mas buat ketemu anak-anak. Atau ini...ini alamat mas tinggal, nanti kamu tolong antarkan anak-anak kerumah mas Daniel bagaimana?" ujar Daniel sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat tinggal nya saat ini.
Terdengar bel tanda masuk telah berbunyi. Azam bergegas berlari agar ia tidak terkunci di luar gerbang. Azam pergi tanpa mengucap sepatah katapun kepada Daniel, ia hanya mengambil kertas yang diberikan oleh Daniel tanpa membacanya terlebih dahulu.
Daniel yang melihat reaksi mantan adik iparnya sangat kesal dan mengumpat.
Ia pun segera meninggalkan area sekolah Azam karena ponsel yang ada disaku jaketnya bergetar sejak tadi.
Daniel menjawab panggilan telepon itu dengan hati yang kesal.
Daniel tiba di alamat yang kemarin Renaldi beri. Matanya begitu takjub melihat penampakan rumah mewah bergaya Eropa modern.
"Wah... ternyata kau pintar juga ya Yara cari suami. pasti kau menggunakan wajah sendu dan status janda mu itu untuk merayu agar pria kaya ini mau menikahi mu" ucap Daniel yang masih mengamati rumah kediaman Arzan dimana Yara dan anak-anak juga tinggal disana.
Tak lama gerbang tinggi itu terbuka dan sebuah sedan keluaran Eropa muncul dari balik gerbang diiringi juga oleh sebuah sedan mercy putih yang berjalan dibelakangnya. Entah siapa yang ada di dalam kedua mobil mewah itu, yang jelas pasti salah satunya berisi anak-anaknya.
Daniel mengemudikan mobilnya mengikuti mobil mercy putih. Entah lah, feeling nya mengatakan jika didalam mobil itu ada Abhi sang putra yang pasti akan bersekolah.
Dan benar ternyata dugaannya, terlihat Yara yang juga ikut serta mengantarkan si sulung Abhinaya ke sekolah diikuti oleh si kecil Yasmine yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan sang kakak.
Daniel mencengkram stir mobil. Ia bahkan tak berkedip sedikitpun saat melihat penampilan mantan istrinya yang terlihat begitu terawat dan yang pasti makin cantik dan modis.
Tak lama setelahnya, mobil mercy kembali bergerak entah mau menuju kemana. Daniel tetap mengikutinya dari belakang.
Daniel tersenyum senang dalam hati, ternyata Yara sedang berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Yara.... Tunggu..." panggil Daniel saat ia melihat Yara yang akan masuk ke dalam rumah.
Yara menoleh dan matanya tertuju pada satu pria yang sudah lama ia lupakan perihal apapun tentang nya.
Yara mundur selangkah saat melihat Daniel yang maju mendekatinya.
Jika boleh jujur, Yara masih marah bahkan benci pada pria yang menjadi ayah dari anak-anaknya ini. Pria yang dulu begitu Yara cintai tapi juga pria yang telah menorehkan luka dan rasa trauma mendalam baginya.
"Yara...wah kamu makin cantik aja ya...aku salut dengan usaha mu dalam memperoleh hidup enak..." ujar Daniel yang secara terang-terangan menghina Yara.
Yara menatap kearah Daniel.
"Mau apa mas Daniel datang kemari, bukannya urusan kita udah selesai" ucap Yara tegas.
"santai dong Yara, kamu jangan memusuhi mas gitu. Mas mau kita bicara baik-baik. Ini menyangkut anak-anak " sahut Daniel yang masih menganggap segala hal adalah masalah mudah yang gampang untuk diselesaikan.
Yara mengepalkan tangannya. Ia harus kuat menghadapi pria ini. Pikir nya.
"kenapa dengan anak-anak memangnya. Bukankah dalam surat cerai yang mas tanda tangani tertulis hak asuh anak ada padaku. Lalu kenapa sekarang menanyakan anak-anak. Mau mas apa sebenarnya?" ujar Yara yang sedikit menaikkan nada bicaranya.
"mas mau ketemu sama anak-anak. Dan mas dengar dari orang-orang jika kamu sekarang sudah menikah lagi. Mas cuma ingin tahu jika anak-anak mas baik-baik saja dan nggak dilukai oleh ayah tirinya" ucap Daniel beralasan.
Yara berdecih. " anak-anak mas? Mas ngigau atau salah minum obat. Mas kenapa baru sekarang mencari keberadaan anak-anak? Dimana mas saat kami membutuhkan keberadaan mas? Dimana mas saat Abhi demam tinggi dan memanggil ayahnya? Dan dimana mas saat Yasmine di ejek oleh teman-temannya yang mengatakan jika ia nggak punya ayah... Kenapa baru sekarang muncul...kenapa hah...." ujar Yara yang kini memang tidak bisa meredam emosinya. Bahkan ibunya pun sampai keluar rumah saat mendengar jeritan Yara.
Bahu Yara naik turun menahan isak dan emosinya.
"Yara, kamu nggak berhak melarang aku untuk bertemu anak-anak ku, aku ayah mereka. Aku ayah kandung mereka, bukan suami baru mu itu yang entah pria seperti apa. Dan kamu jangan mau dibodohi oleh pria itu, mungkin saja kamu cuma dijadikan istri simpanan. Yara.... sadarlah keadaan kamu sungguh menyedihkan. Mana ada pria baik-baik mau sama janda dua anak kecuali kamu menjebaknya dengan.... Ya kamu tahu sendiri kan, aku nggak usah bilang... Sama seperti kamu yang yang dulu menjebak ku agar aku mau menikahi mu..." ujar Daniel yang melontarkan kata-kata hinaan dan mengungkit masa lalu mereka.
"Tutup mulutmu, jangan pernah menghina istriku! Jika kau ingin hidup aman, maka jauhi istri dan anak-anak. Paham!" ucap suara dingin nan khas milik seseorang yang Yara kenal.
Yara berbalik dan menatap suaminya yang entah sejak kapan berada di belakangnya.
"Sudah ya jangan khawatir, ada mas yang akan selalu jagain kalian. Sudah jangan menangis" ujar Arzan menghapus air mata Yara dan memeluknya erat di hadapan semua orang yang menyaksikan tontonan drama gratis dipagi hari.
Bersambung...