Olivia, Jatuh cinta dengan senior di kampusnya. Pernyataan cintanya ditolak dan dibenci seluruh kampus. Hidupnya berantakan, ibunya menjadi sasaran kemarahan dari orang-orang yang membencinya.
Untuk mengakhiri semua penderitaan, ia menjauhi seniornya, meninggalkan kota dan pindah ke kampus lain. Disaat kepergiannya, sosok pria yang sangat ingin ia hindari justru menyatakan cinta padanya.
Lalu bagaimana Olivia harus menanganinya? Apakah ia akan menerima cinta pria itu atau justru menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Nurmaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Olivia menginjakkan kakinya lagi di gedung ini, kali ini ia merasa bersemangat saat datang. Menatap gedung dihadapannya dengan senyum hangat, di perusahaan inilah perusahaan milik papanya akan berkembang lebih maju lagi kedepannya.
Ia kemudian berjalan masuk dan datang menuju meja resepsionis. Seperti biasa, wanita itu mengantarkannya ke ruangan pemimpin. Didepan ruangan pemimpin, Olivia bisa melihat seorang pria yang menyandang sebagai sekretaris sedang berdiri didepan pintu. Olivia yang melihatnya dengan heran langsung menghampiri dirinya.
"Pemimpin sudah menunggu kedatangan mu"
Regan menyapanya dengan sopan dan memberikan senyuman hangat. Wanita yang baru saja mengantarkan Olivia sudah pergi barusan.
"Kau tidak akan masuk?"
Olivia menatapnya dengan heran, bukankah seharusnya Regan masuk kedalam? Karena dia adalah sekretaris pemimpin di perusahaan ini.
"Pembicaraan bisnis hanya akan dilakukan oleh kedua belah pihak yang bersangkutan sedangkan aku tidak diperlukan"
Regan hanya menjawab pertanyaan Olivia dengan sopan. Sepertinya, Olivia belum banyak mengetahui aturan untuk bekerjasama diperusahaan ini.
"Bukankah sekretaris bertugas untuk mencatat apa yang telah dibicarakan dari hasil pembicaraan mengenai kerjasama?"
Olivia kembali bertanya, setahu dia tugas sekretaris itu adalah selalu mendampingi dan mencatat peristiwa penting yang dilakukan oleh atasannya termasuk dalam urusan kerjasama.
"Itu memang benar, tapi diperusahaan ini berbeda. Untuk membicarakan kerjasama hanya dilakukan oleh pemimpin dengan mitra bisnisnya, tidak boleh ada pihak yang lain"
Sekali lagi Alex hanya menjelaskannya dengan sopan. Ia memperhatikan jejak keraguan dimata wanita dihadapannya ini. Ia lalu memahami tindakannya, wajar saja ia tidak mengetahuinya karena perusahaannya baru saja dibuka sehingga masih belum mengetahui aturan kerjasama diperusahaan ini.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu"
Olivia hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan berjalan masuk, tidak memperhatikan Regan sama sekali. Sebenarnya ia masih bingung dengan penjelasannya mengenai aturan kerjasama diperusahaan ini. Tapi yasudah lah, nanti ia akan mengetahuinya sendiri.
"Silahkan"
Regan membukakan pintu untukknya masuk dan menutup kembali. Sepertinya, Olivia sangat berbeda dari wanita lainnya. Biasanya, wanita yang datang untuk kerjasama selalu menggunakan pakaian yang kurang bahan dan juga bertingkah menggoda. Tentu saja yang ingin mereka goda adalah Alex. Tapi, setelah melihat Olivia, ia langsung kagum melihat betapa sopannya ia dalam berpakaian dan bertingkah laku. Seandainya saja Alex bisa terpesona olehnya, pasti akan menyenangkan.
.....
Olivia berjalan masuk kedalam, ia dapat melihat seseorang duduk membelakanginya ke arah jendela. Sepertinya pria itu adalah pemimpin di perusahaan ini, ia harus bisa bersikap dengan baik.
Olivia berjalan mendekat kearahnya saat merasakan bahwa pria itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Ia menatap punggung tegap pria yang masih membelakangi dirinya, ia mengambil nafas dan mulai berbicara dengan pelan.
"Selamat siang, Pak. Saya dari perusahaan yang ingin berkerjasama dengan perusahaan ini"
Ia berusaha untuk berbicara dengannya. Lalu ia melihat pergerakan dari kursi yang didudukinya.
"Ya"
Alex sebenarnya sudah merasakan kehadiran seseorang sejak awal, tapi ia tetap tidak peduli. Setelah seseorang itu berbicara dengannya barulah ia membalikkan dirinya dan matanya langsung terkejut saat melihat siapa sosok wanita dihadapannya.
"Oliv!"
Olivia terkejut saat melihat sosok pria yang selama ini sangat tidak ingin ia lihat. Tubuhnya bergetar dan tangannya mengepal dengan keras. Kakinya hampir saja lemas dan terjatuh kalau saja ia lengah. Kenapa? Kenapa ia bertemu kembali dengan pria itu!
Alex bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah sosok wanita yang selama ini masih memenuhi hati dan pikirannya. Tubuhnya benar-benar ingin merengkuh tubuh mungilnya dalam dekapannya dan tidak akan membiarkannya untuk pergi lagi.
Ia benar-benar menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Bukankah Tuhan masih baik untuk bisa mempertemukannya kembali dengan wanita yang dia cintai. Setelah Olivia ada dihadapannya, ia ingin sekali segera berbagi perasaan dan cerita semenjak kepergiannya.
Olivia yang merasakan kalau langkah Alex semakin mendekat kepadanya membuatnya semakin memundurkan langkahnya. Ia harus segera pergi dari sini, tentang kerjasamanya ia sama sekali tidak mempedulikannya. Ia lalu berbalik dan berjalan kearah pintu, sedikit lagi pintu akan terbuka sebelum sebuah lengan yang keras memeluknya dengan kencang dari belakang.
"Tunggu, aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi seperti sebelumnya"
Untung saja Alex dapat mengejar Olivia yang tiba-tiba ingin melarikan diri ke arah pintu. Kali ini ia tidak akan membiarkannya pergi dari sisinya bagaimana pun caranya.
"Lepas!"
Olivia mencoba meronta-ronta untuk melepaskan lengan Alex dari pinggang nya, tetapi Alex malah semakin mengeratkan pelukannya dengan kuat, bahkan Olivia sempat tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Tidak akan!"
Alex tetap mempertahankan posisinya untuk terus memeluk Olivia agar ia tidak bisa melarikan diri darinya lagi.
"Lepaskan aku, kak. Aku mohon, aku mau pergi dari sini"
Olivia terpaksa harus mengeluarkan air matanya, sejak tadi ia memang sudah tidak sanggup untuk menahan air matanya yang segera keluar saat melihat Alex lagi. Rasa sakit yang ia alami masih terasa sampai saat ini. Ia tidak ingin lagi merasakan rasa sakit yang sama, cukup sekali.
Alex yang melihat wanita di pelukannya ini menangis hanya terdiam sesaat. Apakah bertemu dengannya sungguh menyakitkan hingga membuat Olivia mengangguk saat melihatnya. Pasti kesalahpahaman masa lalu terus menghantuinya sampai saat ini. Alex harus segera memikirkan cara untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi diantara mereka sekarang.
.....
Alex lalu menarik lengan Olivia kearah ruangan khusus istirahat untuk pemimpin. Ia terus menggenggam tangannya yang ingin melarikan diri. Karena melihat Olivia yang bergerak dengan tidak patuh, maka ia pun mendorong Olivia diatas kasur.
Sebelum Olivia sempat bangun, Alex langsung menindihnya agar ia tidak bisa melarikan diri darinya. Di ruangan ini tidak ada orang lain yang boleh masuk selain dirinya dan sekarang Olivia adalah satu-satunya orang yang akan diizinkan masuk setelah dirinya.
Ia memperhatikan Olivia yang tidak bergerak lagi, ia dapat melihat bahwa wanita itu bahkan sedikitpun tidak ingin melihatnya. Begitu besarkah kebencian yang selama ini ia rasakan pada dirinya. Tapi, ia paham mengenai alasan dari tindakannya. Wanita mana yang tidak akan terluka melihat laki-laki yang dicintainya bermesraan dengan wanita lain. Sekarang ia akan menjelaskan semuanya agar Olivia tidak akan salah paham dan membencinya lagi.
"Aku ingin menjelaskan kejadian 5 tahun yang lalu, kejadian yang terjadi dengan aku dan juga wanita itu dibelakang gedung kampus"
Alex memeluk Olivia dengan tubuhnya yang berada diatas tubuh wanita itu. Menatapnya dengan tatapan rindu.
"Saat itu aku sedang duduk sambil membaca buku di teras fakultas, tiba-tiba wanita yang kamu lihat bersama aku itu datang dan berpura-pura untuk berbicara denganku. Saat aku menolak untuk berbicara dengannya, ia malah menyemprotkan aku sebuah parfum yang dapat membuat kesadaran ku sepenuhnya hilang dan membuatku bisa dikendalikan oleh orang lain"
"Setelah kau datang ke belakang gedung kampus, wanita itu tiba-tiba mendudukkan ku dikursi dengan dirinya yang ada diatas ku. Aku tidak mengingat kalimat apa yang ia ucapkan sebelumnya, kesadaranku langsung kembali saat aku mendengar suaramu memanggil namaku. Saat itu aku langsung merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi"
"Setelah aku mengingatnya semua barulah aku sadar bahwa aku sudah menyakitimu. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu, aku bersumpah. Aku mohon percaya sama aku sedikit saja"
Alex tidak kuasa untuk menahan air matanya yang mengalir. Sejak lama ia sudah berusaha untuk tidak menangis, apalagi menangis dihadapan wanita yang ia cintai. Sekarang hatinya merasa lega karena telah menceritakan semua kejadian yang sebenarnya agar Olivia bisa mempercayainya bahwa ia bukanlah laki-laki seperti yang dipikirkannya.
....... Bersambung.......
kamu tau yg paling keren dari novelmu cara Alex melindungi dan membalas penganggu hubungan mereka.
sumpah. juara! aku ga nyangka sampe ke situ.
jgn kecewain aku ya thor. novelmu menjadi fav ku
yg hrs celaka ya Emily! buat si Alex seperti saat dia memperlakukan Hana. mempertahankan miliknya. melindungi cintanya
dia bisa bersikap kejam ke Hana dk sampe membunuh Hana.
kenapa tdk bs bersikap kejam ke Emily.
toh sama aja. per3mpuan terobsesi ga jelas.