Deanitha elisya merupakan Seorang mahasiswi cantik di salah satu universitas ternama di kotanya. memiliki kecantikan yang nyaris sempurna membuat banyak yang iri hati bahkan merasa tersaingi. namun begitu, Dea begitu biasa ia di sapa, sama sekali tidak peduli, baginya yang terpenting adalah ia segera menyelesaikan pendidikannya agar dapat membanggakan kakak laki-lakinya, yang merupakan satu satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya.
Brian Jilbert, pria berprofesi sebagai CEO sekaligus pemimpin perusahaan miliknya sendiri. pria yang begitu menyayangi adik sepupunya, rela melakukan apapun demi adik sepupu kesayangannya itu. hingga suatu hari ia sengaja melakukan tindakan yang merugikan seorang gadis, yang dianggap sebagai perusak hubungan asmara adik sepupu kesayangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Brian.
Pandangan Brian beralih dari layar ponselnya saat mendengar seseorang memutar handle pintu ruang kerjanya.
"Tesa." Brian terdengar berseru saat melihat keberadaan Tesa memasuki ruang kerjanya.
Brian kembali menatap layar ponselnya lalu berkata pada Lion. "Nanti aku akan menghubungimu lagi." setelahnya Brian pun menyudahi panggilan videonya dengan Lion.
"Ada perlu apa kau datang ke sini???."
Pertanyaan Brian berhasil membuat senyum masam tercipta di sudut bibir wanita itu.
"Kau bahkan belum mempersilahkan aku duduk tapi kau sudah bertanya seperti itu padaku, Brian." jujur saja sebagai wanita yang sebentar lagi menjadi calon istri Brian, Tesa merasa Brian tak memperlakukannya layaknya sebagai calon istri, tatapan serta nada ucapan datar selalu saja terucap dari dalam mulut pria itu untuknya.
"Katakan saja ada keperluan apa kau datang ke sini, karena saat ini aku sedang banyak pekerjaan." masih dengan wajah datarnya Brian berucap.
Meski Brian tak mempersilahkannya untuk duduk namun Tesa memilih mendaratkan bokongnya di tempat duduk yang berada di depan meja kerja Brian.
"Please, Brian jangan mengubahku menjadi wanita yang jahat." tutur Tesa.
"Apa maksudmu???." dengan dahi berkerut Brian bertanya.
"Sebaiknya sekarang kau jujur saja padaku, jika kenyataannya kau memang mencintai wanita lain!!! Karena jika aku mengetahuinya setelah kita bertunangan maka jangan salahkan jika aku bertindak di luar nalar pada wanita itu. mungkin di mata orang lain termasuk dirimu, aku akan terlihat jahat tapi sebagai seorang wanita aku hanya berusaha mempertahankan sesuatu yang sudah seharusnya kupertahankan."
Peryataan Tesa sanggup membuat Brian kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya.
Sejenak keheningan menyelimuti ruangan tersebut, sampai dengan beberapa saat kemudian Brian kembali bersuara.
"Jika aku mengakui satu hal yang buruk tentang diriku, apa kau yakin masih mau bertunangan dengan pria jahat seperti diriku???." pertanyaan ambigu dilontarkan Brian sehingga membuat Tesa menautkan alis mendengarnya.
"Apa maksudmu???."
Brian kembali menegakkan tubuhnya kemudian menatap kedua manik mata hitam milik Tesa lalu berkata. " bagaimana jika pria yang sebentar lagi bertunangan denganmu pernah merenggut kes_ucian seorang gadis, apa kau yakin masih mau melanjutkan pertunanganmu???."
Deg.
Jantung Tesa seperti berhenti berdetak mendengar pengakuan Brian. selama ini Tesa cukup menyadari sikap dingin Brian padanya, sehingga membuat Tesa merasa curiga mungkin saat ini pria itu mencintai wanita lain, akan tetapi ia sama sekali tak menduga jika perbuatan Brian sampai sejauh itu.
"Kau pasti sedang berdusta, bukan???." Tesa masih mencoba berpikir positif.
"Apa selama ini kau pernah melihatku berdusta, apalagi tentang hal serius seperti ini???." bukannya menjawab,Brian justru balik bertanya dan Tesa merespon pertanyaannya itu dengan gelengan kepala.
"Sekarang kau pikirkan baik baik jika masih ingin melanjutkan pertunangan ini!!!." peringat Brian pada Tesa.
"Kenapa kau tega padaku Brian, kenapa kau tidak menolak rencana pernikahan kita sejak awal???? Kenapa membawaku ke dalam situasi seperti saat ini???." hampir dua bulan mengenal Brian, baru kali ini Tesa menumpahkan air mata serta isi hatinya di hadapan pria itu.
Jujur, Brian tak tega melihat Tesa menangis seperti ini, namun menurutnya akan lebih baik ia berterus terang sebelum terlambat nantinya.
Menyaksikan bahu Tesa berguncang hebat karena terisak dalam tangisnya, Brian pun beranjak dari duduknya mendekati wanita itu.
"Maafkan aku, aku tahu kau wanita yang baik dan aku merasa tidak pantas untuk wanita sebaik dirimu, Tesa. kau cantik dan berpendidikan tinggi aku yakin masih banyak pria baik di luar sana yang pantas mendapatkan dirimu."
Untuk pertama kalinya selama mengenal pria itu, Tesa mendengar Brian bertutur dengan lembut padanya, Bahkan untuk pertama kalinya Pria itu mengelus lembut puncak kepalanya.
Tesa mendongakkan kepalanya menatap Brian. "Lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku??? Mereka pasti akan merasa sangat malu jika pertunangan ini sampai gagal." tidak jauh berbeda dengan Brian, sebenarnya Tesa pun menerima rencana pernikahan yang diatur oleh ayahnya tersebut hanya ingin menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
"Kau tidak perlu memikirkan itu, biarkan itu menjadi urusanku!!! Bukankah sebelum pertunangan kita di rencanakan oleh Om Rio dan juga ayahmu, kau menjalin hubungan asmara dengan seorang pria????." kalimat terakhir Brian berhasil membuat Tesa tersentak mendengarnya.
"Bagaimana kau bisa tahu???." cicit Tesa dengan raut wajah menuntut.
"Kau tidak perlu tahu darimana aku mengetahui semuanya, yang jelas aku cukup mengenal sosok pria bernama Armada itu. raih lah kebahagiaanmu bersama dengannya karena dia jauh lebih baik dari diriku, Tesa Mirasya!!!." dengan tulus Brian berucap sembari menggenggam kedua tangan Tesa.
Tesa terlihat menundukkan kepalanya. "Tapi aku takut ayahku tidak akan setuju. Aku takut ayah tak akan setuju karena Armada bukan pilihan ayah." ucapnya.
"Tesa...." seruan Brian mampu membuat wanita itu menengadahkan kepalanya memandang Brian.
"Semua orang tua pasti menginginkan kebahagiaan untuk anak anaknya, aku rasa begitu pun dengan om Salim. Kesalahanmu adalah kau tidak berani mengungkapkan perasaanmu pada pria itu dihadapan ayahmu." Ya, Tesa merupakan gadis yang sangat penurut pada kedua orang tuanya terutama ayahnya, maka dari itu ia tidak memiliki keberanian ketika ayahnya mengemukakan niatnya untuk menjodohkan dirinya dengan Brian.
"Jujur, aku sayang padamu Tesa, tapi rasa sayangku padamu bukan rasa sayang seorang pria kepada seorang wanita, tetapi rasa sayang seorang kakak laki laki pada adik perempuannya. Dan karena rasa sayang itu pula yang mendorongku untuk berterus terang padamu tentang keburukanku. Aku harap kau bisa mengerti dan tidak membenciku untuk ke depannya." ungkap Brian masih dengan menggenggam kedua tangan Tesa.
"Sekarang sebaiknya kau segera kembali ke rumah dan beristirahatlah!! Aku akan meminta asisten Bani untuk mengantarkan mu pulang, tidak baik kau menyetir sendiri dalam keadaan seperti ini. Untuk masalah kita, nanti aku akan bicara dengan om Salim, jadi kau tidak perlu memikirkannya. Aku juga akan membantumu bicara pada om Salim tentang hubunganmu dengan tuan Armada, semoga Om Salim dapat mengerti dengan hubungan kalian!!." tutur Brian, dan Tesa terlihat menganggukkan kepalanya, sebelum kemudian beranjak dari duduknya.
Brian masih menatap ke arah Tesa hingga tubuh wanita itu menghilang di balik pintu ruang kerjanya untuk menemui asisten Bani yang telah menunggunya di depan. Setelahnya, Brian terlihat kembali mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya, pria itu nampak menghela napas lega seakan beban berat dipundaknya baru saja lenyap.
"Cukup satu kali aku menyakiti hati seorang gadis dan aku tidak akan melakukannya lagi untuk kedua kalinya, Tesa." batin Brian.
Kini Brian memfokuskan pikirannya untuk memikirkan cara untuk menyampaikan terkait rencana pembatalan pertunangannya dengan Tesa pada papa Rio dan juga Ayah Salim, hingga percakapannya bersama Lion beberapa saat yang lalu terlupakan begitu saja olehnya.
Selama satu bulan terakhir ini, Brian meminta bantuan pada orang kepercayaannya untuk mencari informasi terkait tentang kehidupan Tesa sebelum bertemu dengannya. tepat dua hari yang lalu, Brian menerima informasi dari orang kepercayaannya jika ternyata sebelum rencana pertunangan mereka di atur oleh kedua bela pihak, Tesa menjalin hubungan asmara dengan seorang pria bernama Armada, yang merupakan asisten pribadi dari salah seorang pengusaha ternama tanah air bernama Hantara putra Adipura Sanjaya. Sejak dua hari lalu pula Brian yakin jika pertunangan mereka memang tidak harus terlaksana.
Untuk mendukung karya recehku jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya sayang sayangku 😘😘😘😘😘😘 dan jangan lupa untuk memberikan ulasan 🥰🥰🥰🥰
akhirnya armada di kasih jodoh juga sama Author🤭