Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Jejak yang Tertinggal
Malam itu, suasana di kediaman keluarga Ramirez terasa sangat tenang. Setelah makan malam bersama yang berlangsung lebih hening dari biasanya, karena Adrian dan Brian masih tertegun melihat perubahan sikap adik mereka, setiap orang kembali ke ruangan masing-masing.
Di dalam kamar luasnya, Claudia duduk bersandar di kursi kerja, menatap ke luar jendela yang memandang ke arah taman belakang yang remang diterangi lampu taman. Di atas meja terbentang catatan-catatan kecil yang ia tulis sepanjang hari, lengkap dengan peta kasar denah sekolah dan posisi setiap kamera pengawas yang berhasil ia amati.
Bagi Zerrin, informasi adalah senjata paling berharga. Tanpa data yang akurat, strategi apa pun hanyalah perkiraan kosong.
“Rekaman CCTV adalah kunci utamanya,” gumamnya pelan, matanya menyipit tajam. “Jika Sari memang merencanakan ini dengan matang, dia pasti sudah memikirkan cara untuk menghindari bukti terlihat jelas. Namun tidak ada rencana yang sempurna, selalu ada celah yang terlewatkan.”
Ia berdiri, berjalan mendekati meja rias dan membuka laci kecil di sisi kanan. Dari ingatan Claudia, ia tahu bahwa di sana tersimpan peralatan kecil untuk keperluan sehari-hari, serta seperangkat kunci cadangan yang sering dipakai untuk membuka lemari atau laci. Dengan cekatan, ia memilih beberapa kunci yang bentuknya paling umum, lalu menyimpannya ke dalam saku baju tidurnya.
Selanjutnya, ia mengambil ponsel pintar milik Claudia. Sebagai putri keluarga kaya, ponsel ini dilengkapi fitur keamanan tinggi dan akses ke berbagai aplikasi. Namun bagi Zerrin, mengoperasikannya terasa sangat mudah, bahkan jauh lebih sederhana dibandingkan sistem komunikasi terenkripsi yang biasa ia gunakan saat memimpin klan Felix.
Ia mulai mencari informasi tentang struktur organisasi sekolah, siapa saja yang bertugas di bagian keamanan, jam pergantian jaga, serta siapa kepala bagian yang memiliki wewenang untuk mengakses dan menyimpan rekaman pengawas. Dari situs resmi sekolah dan grup siswa yang sering membagikan informasi, ia mendapatkan gambaran dasar.
“Pak Joko… kepala bagian keamanan, sudah bertugas selama tujuh tahun. Punya istri dan dua anak, tinggal tidak jauh dari area sekolah. Gajinya cukup standar, dan tidak tercatat memiliki masalah hukum,” baca Claudia pelan sambil mencatat nama dan data penting itu. “Orang seperti ini biasanya memiliki prinsip, namun juga memiliki kelemahan, kebutuhan keluarga dan rasa aman akan pekerjaannya.”
Ia tidak berniat menyuap atau mengancam secara terang-terangan, setidaknya belum saatnya. Itu terlalu mencolok dan bisa menjadi senjata balik bagi musuh. Sebagai gantinya, ia akan menggunakan pendekatan yang lebih halus namun pasti.
Keesokan harinya, Claudia tiba di sekolah sedikit lebih awal dari biasanya. Gerbang baru saja dibuka, dan hanya ada beberapa siswa serta petugas kebersihan yang terlihat beraktivitas. Ia berjalan menuju pos keamanan yang terletak di dekat pintu masuk samping, tempat Pak Joko biasanya duduk.
Begitu melihat kedatangan Claudia, Pak Joko mengangkat kepalanya, sedikit terkejut. Ia sudah mendengar kabar buruk tentang gadis ini, namun sebagai petugas, ia hanya bisa bersikap netral.
“Selamat pagi, Non Claudia. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan namun menjaga jarak.
Claudia tersenyum tipis, senyum yang lembut namun tetap memancarkan wibawa yang membuat orang sulit berbuat kasar. “Selamat pagi, Pak Joko. Saya hanya ingin bertanya sedikit hal, jika Bapak berkenan meluangkan waktu sebentar.”
Pak Joko mengangguk, mengizinkannya masuk ke dalam ruangan pos yang sempit namun rapi. “Silakan duduk. Apa yang ingin ditanyakan?”
“Saya ingin menanyakan soal insiden kemarin, Pak,” ujar Claudia langsung pada intinya, tanpa bertele-tele. “Saya tahu Bapak bertugas mengawasi sistem keamanan sekolah. Apakah rekaman dari kamera di dekat tangga gedung utama masih tersimpan?”
Wajah Pak Joko sedikit berubah. Ia mengerutkan dahi, tampak ragu menjawab. “Saya… saya tahu ada kejadian itu, Non. Tapi soal rekaman… biasanya hanya diperiksa jika ada permintaan resmi dari kepala sekolah atau guru yang berwenang. Dan sejauh ini, belum ada perintah untuk memeriksanya.”
Claudia mengamati gerak matanya, napasnya, dan cara ia memegang pena di tangannya. Sebagai orang yang terbiasa membaca orang dalam hitungan detik, ia tahu Pak Joko tidak berbohong, namun ada sesuatu yang ia sembunyikan.
“Pak Joko, saya tidak meminta Bapak melanggar aturan atau memberikan rekaman itu secara sembarangan,” kata Claudia dengan nada tenang dan meyakinkan. “Saya hanya ingin tahu apakah rekamannya masih ada, atau apakah ada gangguan teknis sehingga tidak bisa dilihat. Selama ini banyak orang menghakimi saya tanpa bukti, dan satu-satunya cara untuk membuktikan kebenaran adalah dengan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Jika Bapak tahu sesuatu, katakan saja. Saya tidak akan melibatkan Bapak dalam masalah ini.”
Pak Joko terdiam sejenak, lalu menatap sekeliling memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Ia mendekatkan badannya sedikit, berbicara dengan suara lebih pelan.
“Jujur saja, Non… Saya sendiri sudah mencoba memeriksanya secara pribadi kemarin malam, karena penasaran. Tapi anehnya, rekaman dari jam 10.00 sampai 10.30 pagi di titik itu terlihat kosong. Sistemnya tertulis ‘tidak ada sinyal’ padahal seharusnya berjalan normal. Saya periksa kabel dan perangkatnya, tidak ada yang rusak secara fisik.”
Mendengar itu, mata Claudia sedikit menyipit. Sesuai dugaannya. Sari tidak hanya mengatur rencana di tempat kejadian, tapi juga memastikan tidak ada bukti yang terekam. Namun, bagaimana caranya? Menonaktifkan sistem kamera bukanlah hal yang bisa dilakukan sembarangan oleh siswa biasa.
“Apakah hanya kamera di titik itu saja yang bermasalah, Pak?” tanya Claudia lagi.
“Tidak, hanya yang itu saja. Kamera lain di sekitarnya berjalan lancar. Bahkan kamera yang menghadap ke arah koridor samping masih merekam dengan jelas. Seolah-olah ada orang yang sengaja memutus aliran data hanya untuk kamera itu saja dalam waktu singkat,” jawab Pak Joko, kini tampak lebih terbuka karena merasa gadis ini tidak berniat membuat masalah bagi dirinya.
Claudia mengangguk paham. “Terima kasih atas keterangannya, Pak. Ini sangat membantu saya. Tenang saja, saya tidak akan menyebutkan nama Bapak dalam hal apa pun. Saya hanya ingin mencari tahu kebenarannya.”
Ia berdiri dan bersiap pergi, namun sebelum keluar, ia menambahkan dengan nada halus, “Jika suatu saat nanti ada kejadian serupa atau hal mencurigakan terjadi pada sistem itu lagi, saya harap Bapak bisa mencatatnya dengan teliti. Kejujuran dan ketelitian adalah hal yang paling berharga dalam pekerjaan apa pun.”
Setelah Claudia pergi, Pak Joko menghela napas panjang. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari gadis ini. Selama ini ia melihat Claudia sebagai gadis yang pendiam dan sering tertekan, namun hari ini ia melihat ketenangan, kecerdasan, dan kepercayaan diri yang jarang dimiliki anak seusianya.
Sementara itu, di dalam hati Claudia, ia sudah menyusun kesimpulan baru.
Jadi sistemnya sengaja diganggu. Artinya, Sari tidak bekerja sendirian. Ia memiliki bantuan dari seseorang yang paham cara kerja sistem komputer dan jaringan sekolah. Entah itu siswa lain, atau bahkan orang dewasa yang memiliki akses ke ruang server.
Ini membuat permainan menjadi lebih menarik. Jika hanya berhadapan dengan satu gadis yang iri hati, masalahnya akan selesai dalam semalam. Namun jika ada pihak lain yang terlibat, maka jaringan kebohongannya lebih luas dari yang dibayangkan.
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Claudia tetap fokus mengikuti pelajaran dan mengamati lingkungan sekitar. Ia tidak lagi memandang sekadar teman sekelas, melainkan menganalisis siapa yang memiliki keahlian teknis, siapa yang sering berinteraksi dengan Sari selain Rina, dan siapa yang mungkin memiliki akses ke ruang-ruang terbatas di sekolah.
Saat jam istirahat tiba, ia berjalan menuju perpustakaan sekolah, tempat yang paling sepi dan jarang dikunjungi oleh siswa populer seperti Arjuna dan kawan-kawannya. Di sana, ia bisa berpikir tenang tanpa gangguan tatapan dan bisikan.
Namun, saat ia sedang membuka buku referensi, langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Saat menoleh, ia melihat Arjuna berdiri di depan mejanya, dengan ekspresi yang lebih rumit dari biasanya, bukan hanya marah, tapi juga penuh rasa ingin tahu dan keraguan.
“Kau bersembunyi di sini?” tanya Arjuna, suaranya tidak setajam kemarin.
Claudia menutup bukunya perlahan, menatapnya dengan tenang. “Mengapa aku harus bersembunyi? Di sini tempat yang tenang untuk berpikir. Apakah ada lagi tuduhan baru yang ingin kau lontarkan?”
Arjuna menarik kursi di seberang meja, lalu duduk tanpa diminta. Tindakan itu membuat Claudia sedikit terkejut, namun ia tetap tenang.
“Aku hanya ingin tahu… apa tujuanmu sebenarnya dengan bersikap seperti ini?” tanya Arjuna menatap matanya lekat-lekat. “Selama tiga tahun kita bersekolah, kau selalu terlihat lemah, takut, dan seolah memohon belas kasihan. Tapi sejak kemarin… kau berubah total. Seolah ada orang lain yang hidup di dalam tubuhmu.”
Pertanyaan itu menusuk tepat pada intinya. Namun Zerrin sudah terlatih menghadapi situasi seperti ini selama bertahun-tahun. Ia tidak tergagap, tidak panik, hanya menampilkan senyum tipis yang sulit diartikan.
“Arjuna, perubahan itu terjadi saat seseorang akhirnya sadar bahwa menangis dan memohon tidak akan mengubah pandangan orang lain,” jawab Claudia dengan nada yang terdengar tulus namun tetap dingin. “Aku hanya lelah dianggap sebagai penjahat tanpa bukti. Jadi, aku memutuskan untuk tidak lagi bersikap seperti korban yang pasif. Apakah itu salah?”
Arjuna terdiam. Kata-katanya masuk akal, namun perasaan di hatinya berkata ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perubahan sikap biasa. Cara Claudia berbicara, cara dia menganalisis masalah, bahkan cara dia menatap orang lain, semuanya terasa seperti orang dewasa yang berpengalaman, bukan gadis remaja berusia delapan belas tahun.
“Tapi bukti tetap mengarah padamu,” desak Arjuna, mencoba mempertahankan pendiriannya sendiri. “Kamera tidak merekam apa-apa, dan Sari bersaksi bahwa kau yang melakukannya. Jika kau benar-benar tidak bersalah, di mana buktinya?”
Claudia mencondongkan badannya sedikit ke depan, nadanya menjadi lebih rendah namun tegas. “Ketiadaan bukti bukan berarti aku bersalah, Arjuna. Itu hanya berarti seseorang telah berusaha menghilangkan jejaknya dengan sangat rapi. Dan jika kau cukup jeli, kau akan melihat bahwa justru hilangnya rekaman itu yang menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Mengapa hanya kamera di lokasi kejadian yang bermasalah, sedangkan yang lain berjalan normal? Apakah menurutmu itu kebetulan?”
Pertanyaan itu membuat Arjuna tertegun. Ia belum pernah memikirkan hal itu dari sudut pandang itu. Selama ini ia hanya mendengar versi cerita yang disampaikan Sari dan melihat kesan permukaan saja.
“Kau sedang mengatakan bahwa ada orang lain yang sengaja merusak sistem itu?” tanyanya perlahan.
“Aku tidak menuduh siapa pun saat ini. Aku hanya menyampaikan fakta yang ada,” jawab Claudia tenang. “Terserah kau ingin percaya atau tidak. Tapi ingatlah, saat kau memutuskan untuk memihak seseorang hanya karena dia terlihat lemah dan menyedihkan, bukan karena kebenaran yang sesungguhnya… kau bisa saja menjadi alat bagi orang yang ingin memanfaatkan situasi.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Claudia membuka kembali bukunya, memberi isyarat bahwa percakapan itu sudah selesai. Arjuna duduk diam beberapa saat, lalu berdiri dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan keluar perpustakaan dengan pikiran yang kacau balau—pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terlintas kini terus berputar di kepalanya.
Sementara itu, di sudut lain sekolah, di ruang server yang terkunci rapat, dua orang sedang berbicara dengan nada tergesa-gesa. Salah satunya adalah Sari, dan yang satunya lagi adalah seorang siswa kelas dua belas jurusan komputer yang jarang bergaul namun memiliki keahlian teknis yang cukup baik. Namanya Rian.
“Kau yakin tidak ada yang tahu soal ini, Rian?” tanya Sari dengan wajah cemas. “Tadi aku dengar Pak Joko sempat memeriksa sistemnya.”
Rian mengusap keringat di dahinya, tampak gelisah. “Tenang saja. Aku hanya memodifikasi waktu penyimpanan datanya selama dua puluh menit saja, lalu mengembalikannya seperti semula. Tidak ada jejak yang terlihat jelas bagi orang awam. Tapi jika ada ahli yang memeriksa secara mendalam, kemungkinan besar akan terdeteksi ada gangguan pada log sistemnya.”
“Ahli? Di sekolah ini mana ada orang yang punya keahlian sejauh itu? Guru komputer saja hanya mengerti dasar-dasarnya saja,” ujar Sari mencoba menenangkan diri, meski hatinya tetap berdebar kencang. “Selama Claudia tidak memiliki bukti, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dia hanya gadis kaya yang bodoh dan lemah, ingat itu.”
Namun ucapan itu tidak sepenuhnya meyakinkan dirinya sendiri. Bayangan tatapan tajam Claudia hari ini terus terlintas di pikirannya, membuatnya merasa seperti sedang diawasi dari kejauhan.
Malam harinya, saat seluruh rumah sudah sepi, Claudia kembali bekerja di kamarnya. Ia membuka akses ke jaringan sekolah melalui komputer yang tersedia di ruang kerjanya. Dengan keahlian yang dimiliki sebagai Zerrin, yang pernah mengelola sistem keamanan digital milik klan Felix yang sangat ketat, ia mencoba masuk ke sistem pengelolaan data sekolah.
Ia tidak berniat merusak atau mencuri data, hanya ingin melihat apakah ada jejak yang tertinggal meski sudah dimodifikasi. Setelah beberapa jam bekerja dengan tenang dan teliti, akhirnya ia menemukan sesuatu yang dicari.
Ada gangguan kecil pada catatan waktu masuk dan keluar data. Seseorang mengubahnya secara manual, namun tidak sempurna. Ada selisih waktu dua detik yang tidak sesuai dengan kecepatan server normal, batin Claudia sambil mencatat kode dan data yang ditemukan. Dan alamat akses yang digunakan berasal dari komputer di laboratorium komputer sekolah, tepatnya pada jam istirahat pertama hari kejadian.
Ia menyimpan temuan itu ke dalam berkas terenkripsi yang hanya bisa dibuka dengan sandi yang ia buat sendiri. Sekarang ia sudah memiliki petunjuk, bukan bukti yang bisa langsung dipakai di depan umum, tapi sudah cukup untuk mengetahui siapa yang terlibat dan bagaimana cara kerjanya.
“Permainan semakin jelas sekarang,” gumamnya sambil tersenyum dingin. “Kalian berpikir sudah menutup semua pintu, tapi kalian lupa bahwa setiap tindakan pasti meninggalkan jejak. Dan aku… adalah orang yang sangat pandai membaca jejak-jejak itu.”
Ia menatap langit malam yang gelap, lalu menyusun rencana selanjutnya. Langkah berikutnya adalah mengungkap keterlibatan orang ketiga itu, dan dengan cara yang tepat, membuat mereka mulai saling curiga satu sama lain. Dalam dunia persaingan dan kebohongan, perpecahan di antara pihak lawan adalah jalan tercepat menuju kemenangan.
Malam itu, angin berhembus lebih kencang, seolah menandakan bahwa badai yang akan mengubah segalanya sudah mulai mendekat. Dan Claudia, yang kini memegang kendali penuh atas takdirnya, bersiap untuk melancarkan serangan balasan yang tidak akan pernah diduga oleh musuh-musuhnya.
**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**