NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Sekawan

Arbian baru saja pulang ke rumah, wajahnya masih merah padam oleh amarah. Begitu melepas jas dari pundaknya, ia langsung melemparnya ke sofa dengan kasar.

“Anak itu sekarang benar-benar lupa kalau aku Papanya!” Suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu. “Bagaimana bisa dia tidak mengatakan bahwa ia punya hubungan dekat dengan Renald Dirgantara?!”

Nafas Arbian memburu. Amarah yang ia tahan sejak dari restoran tadi akhirnya pecah.

“Seharusnya dia bisa merekomendasikan perusahaan kita untuk bekerja sama dengan Merta Dirga! Dasar anak tak tahu diri!” Tangannya mengepal. “Sudah bagus aku membesarkannya dari kecil, tapi tadi… memperkenalkan aku saja tidak, bahkan menegur pun tidak!”

Diana dan Rani yang berada di ruang tamu hanya saling pandang. Keduanya memilih diam, takut menambah bara di dada sang Papa.

Diana menggigit bibir, tapi dalam hatinya bergemuruh. Ia tahu, semua kemarahan itu diarahkan pada Kinara, saudara tirinya yang sejak dulu seolah selalu mendapat keberuntungan.

Diana semakin tertekan ketika teringat bayangan wajah Renald. Pria muda itu—sukses, karismatik, dan nyaris sempurna. Jauh berbeda dengan Bayu, yang baru-baru ini ia dekati. Rasa iri menelannya bulat-bulat.

“Sudahlah, Pa.” Rani akhirnya angkat suara, mencoba menenangkan. “Kita harus cari cara lain untuk mendekati Renald.”

Arbian menghentikan langkahnya, menoleh dengan mata masih menyala. “Cara lain? Bagaimana caranya? Bahkan Kinara saja tak sedikitpun menoleh ke arahku saat di restoran tadi!” Suaranya parau, campuran marah dan kecewa.

Rani tersenyum tipis. “Aku punya cara. Besok akan aku katakan pada Papa.”

Mendengar itu, wajah Arbian sedikit mencair. “Benarkah? Aku tak sabar mendengarnya, sayang.” Ujung bibirnya melengkung, ia tahu Rani—istrinya itu selalu bisa memberikan solusi untuknya

Merasa lebih tenang, Arbian akhirnya menggenggam tangan istrinya, lalu menuntunnya ke kamar mereka. Pintu kamar tertutup rapat, disusul suara BLAM!! yang terdengar keras.

Diana tersentak, lamunannya buyar. Ia tahu persis apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Ia memutar bola matanya dengan malas dan mendengus kesal, sembari bergumam, “Dasar orang tua, nggak sadar apa udah punya anak sebesar ini.”

Tanpa memperpanjang omelannya, Diana memilih masuk ke kamarnya. Ia tak peduli lagi  dengan kedua orangtuanya yang memang selalu terlihat layaknya pengantin baru dan tak pernah bosan memuaskan keinginan masing-masing.

Rani bisa dikatakan sangat piawai melayani membuat Arbian kian bergantung padanya. Malam itu, entah berapa lama mereka habiskan hingga akhirnya Rani terkulai lemah di pelukan sang suami.

Sementara itu di luar sana, mobil hitam milik Renald berhenti di depan apartemen milik Kinara

“Terima kasih Renald karena sudah mengantarku.” Ucap Kinara sambil membuka pintu.

Renald hanya mengangguk ringan. “Motormu nanti akan diantar oleh orangku. Masuklah, langsung istirahat. Lupakan saja apa yang terjadi di restoran tadi.”

Ia tak menunggu jawaban, hanya menghidupkan mesin lalu melaju pergi tanpa berpamitan lebih lanjut.

Kinara berdiri sejenak, menghela napas. “Tingkahnya selalu begitu.” Gumamnya. Ia pun melangkah masuk ke dalam apartemen.

Begitu pintu tertutup, ia langsung merebahkan tubuh di kasur empuk yang ia rindukan. “Ah, akhirnya bisa ketemu kasurku.” Senyumnya samar.

Tapi detik berikutnya ia tersadar, tubuhnya masih lengket oleh keringatnya. Mau tak mau, ia bangkit, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Air hangat yang mengalir membawa rasa penatnya. Namun selepas mandi, kantuk yang tadi menekan hilang entah kemana. Kini yang muncul justru rasa lapar.

“Dari tadi cuma makan menu fancy di resto, mana porsinya kecil banget.” Gerutunya. Ia lalu meraih ponsel, membuka aplikasi makanan, dan memesan hot pot kuah tom yam.

Tak lama, pesanan tiba. Uap panas dan aroma segar tom yam memenuhi ruangan. Kinara duduk bersila di atas kursi, melahapnya dengan lahap. Satu porsi habis hanya oleh dirinya.

“Ahhh, kenyang.” Ia bersandar lega.

Sedikit demi sedikit, kesal yang sempat ia rasakan pada Bayu dan keluarganya saat berada di restoran tadi memudar. Baginya, perut kenyang adalah obat paling mujarab.

Selesai membereskan meja, ia kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang. Pikirannya melayang ke perjanjian dengan Renald. “Apa yang harus kulakukan ke depannya?” Gumamnya

Akhirnya ia membuka laman lowongan pekerjaan. Ia ingin mencari kerja paruh waktu, asal tidak mengganggu rutinitas siangnya. Jemarinya menggulir layar. Beberapa iklan lewat begitu saja, hingga matanya berhenti pada satu postingan:

Dicari: Waitress paruh waktu di Club Harmos. Tugas hanya mengantarkan minuman, tidak melayani tamu. Gaji besar + tips.

Alis Kinara terangkat. Gaji yang ditawarkan memang menggiurkan. “Cukup aman, hanya antar minuman.” Pikirnya.

Yang ia ketahui biasanya jika sudah berhubungan dengan dunia malam dan diskotik seperti ini pastinya akan ada unsur melayani ataupun memberikan servis.

Namun saat melihat tugasnya hanyalah mengantar minuman, menurutnya pekerjaan ini bisa diambil karena tidak ada resiko. Apalagi melihat gajinya yang menurut Kinara sangat lumayan.

Pada akhirnya ia langsung menyimpan nomor kontak yang tertera ke dalam ponselnya.

Namun karena malam sudah larut dan matanya mulai terasa berat, niatnya menunda. “Besok saja kutelepon.” Gumamnya. Ia rebah, menarik selimut, dan perlahan tenggelam dalam tidur.

Di sisi lain di pusat kota, musik berdentum keras dari sebuah club malam mewah: Harmos Club. Lampu-lampu neon berwarna ungu dan biru bergantian menyapu ruangan, sementara para pengunjung larut dalam alunan musik DJ.

Di salah satu ruangan VIP, beberapa pria duduk melingkar.

“Datang juga akhirnya CEO sukses kita ini.” Ujar William begitu melihat sahabatnya masuk. Ia segera menuangkan minuman ke dalam gelas kristal, lalu menyodorkannya.

Renald duduk santai, menerima gelas itu. “Ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan.” Jawabnya singkat, meneguk minuman itu tanpa ekspresi.

Kevin ikut bersuara, nada suaranya menggoda. “Oh? Jangan-jangan belakangan ini kau tertarik pada sesuatu?”

Renald menoleh, matanya menyipit. “Kenapa? Apa Feri bilang sesuatu pada kalian?” Tanyanya curiga.

Tatapannya menajam, langsung mengarah ke Feri yang asyik meneguk minuman.

“Kenapa kau menatapku begitu? Aku cuma mengatakan apa yang kulihat!” Feri mengangkat bahu, tak merasa bersalah.

Hubungan mereka di luar pekerjaan memang lebih seperti sahabat ketimbang bos dan bawahan, jadi ia tak segan menanggapi Renald.

Kevin menyeringai. “Jadi benar, kau sedang bersenang-senang dengannya?”

Renald hanya tersenyum tipis. “Tentu saja.” Jawabnya sekenanya, jelas tak ingin memperpanjang.

William yang sedari tadi memperhatikan ikut angkat bicara, nadanya lebih serius. “Renald, aku harap setelah puas main dengannya, kau tidak membuangnya begitu saja.”

Renald mendiamkan ucapan itu, menatap kosong ke dalam gelasnya. William tahu betul sifat sahabatnya—dingin, tak mudah jatuh cinta, dan terlalu selektif. Bahkan untuk tidur dengan sembarang wanita pun Renald enggan.

Tapi sejak kabar kedekatannya dengan seorang wanita bernama Kinara muncul, William merasa perlu mengingatkan.

Renald tak merespons, hanya mengangkat gelasnya lagi. Namun di balik diamnya, ada sesuatu yang ia pikirkan.

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!