NovelToon NovelToon
You Are My Destiny

You Are My Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / One Night Stand / Single Mom / Hamil di luar nikah / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Lari Saat Hamil
Popularitas:33.2k
Nilai: 5
Nama Author: xavieraa

Mereka pernah bersama pada masanya. Namun, kesalahpahaman membawa mereka untuk mengakhiri hubungan itu begitu saja.

Sampai beberapa tahun kemudian Gavin masih memiliki rasa yang sama pada Karina. Akan tetapi, seorang anak kecil membuat Gavin berpikir jika orang yang selalu ia harapkan jadi miliknya itu sudah menikah. Pada akhirnya Gavin harus menerima kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Akankan Gavin memperjuangkan cintanya pada Karina? Bagaimanakah takdir mempersatukan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xavieraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

H-?

Atas permintaan keluarga Sandika dan rencana yang telah disiapkan. Gavin juga tak mau menunda-nunda moment ini. Dalam waktu 2 Minggu mereka mengurus dokumen dan venue untuk acara resepsi mereka.

Di tengah kesibukan Gavin yang padat, begitu juga dengan Karina yang juga sering keluar kota untuk job model maupun iklan mereka tetap mengurus keperluan ini.

2 Minggu yang begitu padat dan sangat melelahkan.

Hari ini h-3 sebelum acara inti mereka. Mereka hari ini rencananya akan melakukan fitting baju. Seharusnya ini dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi, karena kesibukan satu sama lain dan baru sempat hari ini mereka akan ke butik.

Karina masih berada di Florist, hari ini ada pesanan spesial dari client dimana ia membantu menghandle ini pula. Sorenya Gavin akan menjemput untuk melakukan fitting baju pengantin mereka.

Sedangkan Gavin baru saja keluar dari media center tempat rapat bersama karyawannya.

"Pak, semuanya sudah beres," Wisam memberikan sebuah map ke Gavin yang berisikan proposal kegiatan proyek perusahaan.

"Oke, baiklah," Gavin menerima map itu dan membawanya.

"Jangan lupa pas wedding gue dandan yang cakep, siapa tau nyantol cewek disana," ucap Gavin kepada Toni dan Wisam yang berjalan di samping kanan kirinya.

"Siap, Pak. Btw temen Bu Karin ada yang jomblo nggak?" Tanya Toni dengan antusias.

"Entah, ntar gue tanya Karina," sambung Gavin lalu pria itu tertawa.

Toni dan Wisam pun turut membantu dirinya dalam menyiapkan vendor acara pernikahannya. Ia percaya kepada dua pria yang sudah lama bekerja bersama dirinya itu. Meskipun Wisam terbilang baru, tapi pria itu sangat kompeten dan memiliki kinerja baik. Maka dari itu bisa mendapat posisi jabatan yang kurang lebih sama dengan Toni.

Usai rapat itu mereka istirahat makan siang. Kebetulan hari ini mereka tak keluar cari makan bersama. Hanya Toni dan Wisam yang keluar berdua dan Gavin pun memilih untuk kembali langsung ke ruangannya.

"Bapak beneran nggak ikut kita? Atau mau nitip juga boleh kok..." Toni pun menawarkan opsi barangkali bos nya itu malas keluar karena panas.

"Nggak, makasih banyak. Gue udah ada lunch kok," jawab Gavin.

"Kalau gitu kita keluar dulu, Pak. Kalau mau nitip bisa chat saya atau Mas Toni," pamit Wisam.

"Iya, tenang aja." Wisam dan Toni pun berlalu meninggalkan Gavin yang hendak menuju lift ruangannya.

"Hufttt, nggak kerasa udah H-3 aja," Gavin masuk ke ruangannya dan menyandarkan kepalanya di sofa ruangannya.

Lelah, tidak terasa sama sekali bahkan meskipun dirinya selain rapat juga harus bertemu banyak vendor untuk acara pernikahannya dan lain-lain di setiap harinya.

Ia pun mengambil sebuah paperbag berukuran sedang di meja kerjanya. Ia pun membuka isi paperbag itu. Senyumnya tertarik kala membukanya.

"Lucu banget, dia effort bikinin aku makan siang gini," gumamnya sembari mengeluarkan isi dalam paperbag itu.

Bisa kalian tebak? Yaps, bekal makan siang. Alasan Gavin tak makan siang diluar karena hari ini ia mendapat bekal lunch dari Karina saat akan berangkat ke kantor tadi. Ia diminta untuk datang ke Florist mengambil bekal itu.

Gavin pun mulai melahap sendok demi sendok bekal buatan calon istrinya itu, pertama kali dirinya ke kantor membawa bekal dan bekal itu buatan calon istrinya pula.

Di dalam bekal itu juga ada buah-buahan yang sudah dipotong rapi kecil-kecil serta air mineral dan susu. Begitu lengkap bekal yang Karina bawakan, walaupun seperti bekal Shaka karena sebanyak itu makanan yang Karina bawakan tapi Gavin sangat suka.

Senyum pun terus mengembang di bibir Gavin sepanjang makan siang kali ini. Sampai ia menghabiskan bekal itu hingga tandas.

Ia pun kembali ke kursi kerjanya. Kembali mengerjakan rentetan tugas yang menunggu untuk diselesaikan.

Hingga waktu tak terasa hampir menunjukkan pukul 4 sore. "Astaga, kok sampai lupa sih," Gavin pun melihat jam tangan yang melingkar ditangannya sudah menunjukkan pukul 15.50.

Ia pun bergegas keluar dari ruangannya dan mematikan komputernya. Dengan langkah cepat ia segera menuruni lift agar cepat sampai di lantai dasar.

Gavin pun membuka ponselnya dan mendapat Karina mengiriminya pesan menanyakan keberadaan dirinya.

Pintu lift terbuka, Gavin segera keluar dari sana dan bergegas menuju parkiran.

"What? Foto gue di react love?" Gavin baru menyadari jika foto yang ia kirim sudah Karina lihat dan mendapat reaksi love dari si penerima.

Ia pun terus memandangi room chat itu dengan senyum yang begitu merekah di sepanjang langkah kakinya.

Brukk

Tak ada aba apapun seseorang menabrak Gavin dengan kerasnya. Sampai ponsel Gavin jatuh ke lantai.

"Aduh, Pak Gavin saya minta maaf," seseorang yang menabrak Gavin hampir saja mengambil ponsel milik Gavin yang terjatuh itu dengan kondisi masih menyala. Namun, secepat kilat Gavin mengambil ponselnya sendiri.

"Bapak nggak papa?" Tanya wanita itu memastikan kondisi Gavin sesaat setelah ia tabrak itu.

"Nggak. Kalau jalan matanya dipakai," ketus Gavin kepada wanita itu. Ia pun berlalu meninggalkan wanita itu yang masih mematung disana.

"Mengganggu pemandangan saja," gerutunya akibat kejadian baru saja terjadi itu.

Gavin pun segera melajukan mobilnya untuk menjemput Karina. Waktunya tidak banyak sebab ini sudah begitu sore. Ia takut jika Karina kecapekan karena pastinya wanita itu juga banyak pekerjaan.

Kurang lebih setengah jam ia mengendarai mobil akhirnya sampai juga di Florist milik Karina. Gavin pun segera turun dan masuk ke dalam Florist.

Baru saja Gavin akan mengeluarkan ponsel dari saku jas nya untuk menelpon Karina ternyata wanita itu sudah menunggu di dalam sana.

"Sori ya, tadi aku hampir aja lupa karena fokus banget di depan laptop," Gavin pun mengatakan alasannya pada Karina. Harusnya mereka pergi jam set 4, alhasil terulur lama.

"Iya, nggak papa kok," ucap wanita itu dengan tenang.

"Ayo sekarang," Gavin pun mengajak Karina keluar dari Florist menuju mobilnya.

Mobil itu sudah melaju membelah jalanan yang melenggang tak begitu padat seperti biasanya.

"Udah selesai kerjaan kamu?" Tanya Gavin ditengah keheningan dalam mobil.

"Belum, udah di handle Sasha," tukasnya.

"Shaka dimana?"

"Shaka main di rumah temannya, dari pulang sekolah tadi."

"Nanti setelah fitting kita jemput Shaka, ya," ajak Gavin pada Karina. Karina pun mengiyakan.

Sampailah kini mereka di tempat fitting baju. Mereka masuk bersama ke dalam butik terkenal di kota itu.

Mata Karina menatap kagum saat masuk dalam ruangan itu. Terpajang gaun-gaun cantik dari yang berukuran kecil, sedang, dan besar. Dengan warna yang begitu cantik dan memanjakan matanya.

"Bu Karin, Pak Gavin," seseorang menghampiri mereka berdua dan berjabat tangan. Dia adalah Sely, seorang manager di butik itu.

Mereka pun diarahkan ke tempat gaun-gaun cantik yang akan Karina pakai nantinya.

"Ini ada banyak pilihan, silahkan bapak ibu lihat dulu." Sely mengajak mereka berdua untuk melihat gaun serta jas yang terpajang disana.

"Ini bagus deh kayaknya," Gavin menunjuk sebuah gaun putih di etalase.

Dan Sely pun memberikan opsi lain ke Karina, dan kini Karina mencoba satu persatu gaun yang menurutnya pas.

Percobaan pertama, Karina mencoba gaun itu di ruang ganti.

"Gimana? Bagus nggak?" Karina keluar dari ruang ganti dan Gavin pun menunggu diruangan sana.

"Cantik," puji Gavin kagum saat wanitanya baru saja keluar dari ruang ganti itu.

"Tapi, terlalu terbuka. Aku kurang setuju, Rin," Gavin pun merasa kurang srek dengan percobaan pertama ini.

"Yaudah, coba yang lain lagi," Karina pun kembali mencoba gaun selanjutnya.

Sampai 2 kali percobaan, Gavin masih belum setuju dengan gaun yang akan Karina pakai.

Kali ini percobaan ketiga kalinya setelah Gavin mengomentari hal yang sama seperti gaun pertama yaitu terlalu terbuka.

Karina keluar mencoba gaun ketiganya. "Beautiful."

"Gimana?" Karina memastikan kepada pria nya itu.

"Bagus, aku suka yang ini," komentarnya.

Senyum Karina mengembang, setelah 3 kali mencoba akhirnya pas. Dan Gavin pun juga sudah mendapatkan jas yang cocok untuknya.

Fitting baju selesai. Usai fitting mereka pun menjemput Shaka dirumah temannya seperti yang Karina katakan tadi.

Mobil itu sudah melaju menuju rumah teman Shaka.

"Mau makan?" Gavin menoleh menawari Karina.

Karina mengangguk. "Mauuu..." ucap wanita itu semangat. Membuat Gavin gemas dengan jawaban manis dari wanita itu.

"Hai, Daddy!" Shaka yang baru saja keluar dari rumah kawannya itu menatap girang kehadiran Gavin yang menjemputnya.

"Halo sayang, kita pulang ya," Gavin pun menerima pelukan kecil dari Shaka.

"Iya, Daddy," anak kecil itu masuk ke mobil bersama Gavin. Sedangkan Karina masih berbincang dengan ibu dari kawan Shaka itu.

"Daddy pasti abis jalan sama Mommy kan?" Shaka seolah menebak Gavin dan Karina baru darimana.

"Daddy habis fitting baju buat nanti Daddy sama Mommy married," ujarnya.

"Asikkkk!" Shaka memeluk Gavin erat dengan manjanya.

Gavin pun mencium gemas Shaka yang sedang duduk di pangkuannya itu. "Pasti nanti Mommy cantik bangettt..." Shaka seolah membayangkan Karina mengenakan baju pengantin berpasangan dengan Daddynya yang tampan itu.

"Pasti, Mommy pasti cantik bangett," puji Gavin.

"Kalian ngomongin aku ya?" Karina tiba-tiba masuk dalam mobil saat mereka berdua sedang berbincang.

"Iy-" Ucapan Shaka terpotong saat Gavin menempelkan telunjuknya di bibir mungil itu.

"Ayo kita cari makan dulu," Gavin mengalihkan topik. Karina hanya menatap masam dua pria yang hanya senyam-senyum menatap dirinya.

Shaka pun duduk di bangku belakang. Agar Gavin bisa fokus menyetir.

"Mau makan apa?" Gavin bertanya pada calon istrinya itu.

Tak ada sahutan, Gavin tertawa melihat wajah Karina yang cemberut. Pasti Karina salah paham soal tadi dirinya dan Shaka membicarakannya.

"Mau makan apa sayang?" Gavin mengulangi kembali kalimatnya.

Karina yang mendengar itu bergidik geli, sayang?

"Terserah," jawab wanita itu cuek. Gavin hanya bisa menghela nafasnya kasar. Jurus jitu wanita jika sudah marah yaitu TERSERAH.

Gavin pun berhenti disebuah resto makanan Jepang. Gavin tahu Shaka sangat suka masakan Jepang, begitupun Karina. Mau tak mau Karina juga turun mengikuti Gavin dan Shaka yang sudah keluar lebih dulu.

Gavin memesan makanan, sedangkan Karina lebih memilih duduk mencari tempat. Gavin sudah tahu apa yang Karina mau.

Gavin dan Shaka kembali setelah memesan makanannya. Menghampiri Karina yang sudah menempatkan diri disana.

"Mau pesan yang lain nggak?" Gavin memastikan lagi kepada Karina. Karina pun menggeleng.

Tak lama setelah itu makanan mereka datang. Mereka pun melangsungkan acara makannya.

Usai makan Gavin berniat mengantarkan mereka pulang. Namun, sebelum pulang Gavin mempunyai janji pada Shaka jika Shaka mendapatkan nilai bagus akan dibelikan hadiah. Gavin berhenti di toko mainan untuk membelikan anak kecil itu mainan.

"Kita mau kemana?" Tanya Karina yang penasaran saat arah jalan tak ke rumah mereka.

"Beli mainan dulu buat Shaka, dia udah tepati janji aku dapat nilai bagus," ujarnya.

"Udah nggak usah, mainan nya udah banyak dirumah."

Entah mengapa Gavin sekarang seperti takut dengan wanita disampingnya ini, sekalinya marah seperti macan batinnya.

"Kita pulang aja, Dad. Kapan-kapan aja kita belinya," Shaka tiba-tiba berucap ditengah keheningan.

Gavin menoleh. "Beneran?" Pria itu memastikan.

"Iya, Mommy sama Daddy pasti capek."

Alhasil Gavin pun langsung menuju arah apartment Karina. Mengantar 2 manusia itu pulang.

Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di area apartment Karina. Gavin pun ikut turun mengantar dua kesayangannya itu.

"Istirahat ya, jangan kecapekan terus," Gavin menasehati Karina.

"Iya, kamu juga jaga kesehatan." Gavin pun bersalaman pada Karina.

"Thank you udah antar kita, Daddy," Shaka pun memeluk Gavin.

"Iya, sayang sama-sama," balasnya.

Gavin pun melihat Karina dan Shaka sudah berjalan masuk ke unitnya. Ia pun kembali ke mobilnya dan melajukan mobil untuk segera pulang ke rumah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

To be continue. Next? Jangan lupa dukungannya ya semua. Thank u guys hehe!❤️❤️

1
notperfecthuman
next
Surtinah Tina
sama Tio aja itu sasha siapa tau cocok
Surtinah Tina: eh iya salah kak...Toni kok tio
total 2 replies
Surtinah Tina
Karuna hamil....Gavin yg ngidam
Surtinah Tina
bagus
Surtinah Tina
Buruk
notperfecthuman
kerenn/Smile//Smile/
notperfecthuman
meski karya pertama udh cukup bagus, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. semangatt!
Isabel Hernandez
Jempolan!
Arisu75
Aku senang sekali ketika membaca cerita ini, semua masalah di kehidupan sehari-hari terasa jauh seketika.
xavieraa: thank u so much!
total 1 replies
xavieraa
rekomendasi buat cerita santai, konflik nya ga berat kok. jangan lupa dukungannya yaa. thank uu!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!