Seorang jendral besar dan ahli dalam berperang meninggal di bunuh oleh orang orang yang dendam padanya, seorang dewa membawanya ke dunia baru, dimana dunia itu baru saja lepas dari kegelapan.
Sebenarnya dia hanya ingin hidup tenang karena di kehidupan terdahulu sudah sangat lelah berperang, tapi ketika bertemu dengan seorang saint dari benua tengah yang mengatakan soal penglihatan nya pada dirinya, akhirnya dia memutuskan kembali terjun ke medan perang dan mengambil tahta demi orang orang terdekatnya, dia menjadi raja dan berjuang melawan kegelapan bersama sepuluh pahlawan yang di pilih dewa.
Bisakah dia mengambil tahtanya dari para lords yang menguasainya dan menghalau kegelapan dari utara ?
Genre : fantasy, drama, perang, 100% fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dajo Gunz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Setelah Dustin selesai bercerita, Hugo dan Valen juga menceritakan perjalanan mereka dan mimpi Hugo kepada Theo, Gwen dan Dustin. Kemudian Theo dan Gwen juga menceritakan perjalanan mereka, mimpi yang di alami Gwen dan pembunuhan Oscar Baranger. Setelah mencocokan semua cerita,
“Hmmm tidak ku sangka...ternyata kamu yang membunuh Oscar Baranger...” Ujar Hugo kepada Theo.
“Tapi dengan begitu, para lords yang tidak tahu diri itu jadi berperang satu sama lain, sebenarnya hal itu bagus untuk kita.” Ujar Dustin.
“Aku harus berterima kasih pada Theo dan Gwen...Oscar Baranger harus nya adalah tunangan ku yang di tentukan oleh ayah....” Balas Valen.
“Itu sebabnya aku membunuhnya neesan....” Balas Theo.
“Hmmm apa tidak ada alasan lain ?” Tanya Hugo.
“Ada...dia mau coba coba menyentuh Gwen....” Jawab Theo.
“Theo....” Ujar Gwen malu.
“Hahahaha...aku suka kamu Theo...sepertinya kita bisa bekerja sama...” Hugo tertawa kencang mendengar alasan Theo.
“Terima kasih Hugo-niisan....” Ujar Theo.
“Huh asal adik ku jangan kamu pengaruhi dengan sifat dan pikiran kotormu...” Balas Valen.
“Ah kenapa kamu selalu sentimen dengan ku....baiklah kalau begitu, Dustin-san, Valen, Theo dan Gwen...aku akan menyelinap pergi untuk kembali ke Knightdom dengan tujuan memanggil pasukan ku....” Ujar Hugo.
“Hah...aku ikut...” Ujar Valen.
“Lah...kenapa mau ikut ?” Balas Hugo.
“Kalau kamu tidak di awasi, kamu akan belok ke tempat lain....contoh rumah bordil, brothel, bar mesum dan lainnya...waktu kita mepet.” Jawab Valen.
“Astaga, segitu tipisnya kah rasa percaya mu padaku ?” Tanya Hugo.
“Hah ? jangankan tipis....aku sama sekali tidak percaya...” Jawab Valen.
“Anooo maaf, boleh tanya ? hubungan Valen-neesama dan Hugo-san apa ya ? apa sama seperti aku dan Theo ?” Tanya Gwen.
“Hah...sama dia ? jangan harap...” Jawab Valen sambil memalingkan wajah.
“Hmm...kalau gitu jangan ikut, aku lebih cepat sendiri.” Balas Hugo.
“Itu lain soal....aku ikut.” Balas Valen.
“Haaah...susah memang perempuan ini....terserah kamu lah...” Ujar Hugo berdiri.
“Tunggu Hugo....” Ujar Dustin.
Tiba tiba Dustin membuka matanya yang putih, tubuhnya bergetar dengan mulut yang berkomat kamit seperti sedang berbicara tanpa mengeluarkan suara. Hugo kembali duduk di sebelah Valen sambil memperhatikan Dustin. Theo, Gwen dan Valen juga memperhatikan Dustin.
“Dia sedang menerima penglihatan...waktu itu pernah juga seperti ini...” Ujar Noah untuk memberitahu yang lain.
Tak lama kemudian, Dustin sudah kembali seperti sedia kala. Matanya sudah terpejam kembali.
“Hugo, kita harus bertahan di ruangan ini selama lima hari....semua yang ada di castletown akan hancur dan terbakar, hanya istana ini yang tersisa dan seluruh penduduk akan mengungsi ke dalam istana.” Ujar Dustin.
“Hah....lima hari di sini ?” Tanya Hugo.
“Astaga...di ruangan kecil pengap dan sempit ini ?” Tambah Theo.
“Tidak....ikut aku....” Ujar Dustin sambil berdiri dan menunduk karena kepalanya menyentuh langit langit.
Semuanya berdiri mengikuti Dustin, kemudian mereka membuka pintu masuk dan keluar di dalam gudang penyimpanan makanan. Ketika sudah di gudang, Dustin berdiri di depan sebuah lemari penyimpanan yang menempel dengan dinding. Dia memegang kedua sisi lemari itu dengan merentangkan tangan. Dengan sekuat tenaga dia menarik lemari itu keluar, “Greeek.” Lemari itu bergeser keluar dari dinding, ternyata di baliknya ada sebuah jalan rahasia. Hugo yang memegang lampu berjalan masuk terlebih dulu, di ikuti oleh yang lain. Setelah semua masuk, Dustin menarik tali yang terikat di belakang lemari untuk menutup kembali pintunya.
“Wow...kamu melihat jalan ini dari penglihatan mu, Dustin-san ?” Tanya Theo.
“Ya...kita akan sampai di menara kanan yang tidak pernah bisa di masuki orang dari luar...kita akan naik ke atas dan dari atas ada jalan tembus untuk turun langsung ke singgasana.” Jawab Dustin.
“Hmm....hebat...dengan penglihatan bisa melihat semuanya...” Gumam Gwen.
“Aku kagum...” Tambah Valen.
“Semua hasil dari meditasi ku selama bertahun tahun.” Ujar Dustin.
“Ayo cepat....sepertinya perjalanan kita masih jauh...” Ujar Hugo.
Mereka terus berjalan menelusuri lorong rahasia yang gelap dan hanya di sinari oleh lampu yang di bawa Hugo. Dustin dan Noah berjalan di paling belakang untuk berjaga jaga. Di dinding banyak tertempel lukisan lukisan yang bercerita tentang kerajaan Liberta, kemungkinan besar lorong itu sudah tidak di masuki oleh siapapun selama ratusan tahun.
“Sudah seberapa tua lorong ini ? sejak kerajaan Liberta dulu ?” Tanya Hugo yang berjalan paling depan.
“Luar biasa, berarti kita orang pertama yang masuk ke sini setelah ratusan tahun.” Jawab Theo.
“Wajar, istana ini sudah berdiri sejak jaman kerajaan Liberta yang sudah menjadi legenda masih ada.” Tambah Dustin.
“Um....Gwen...jangan jauh jauh dariku...” Ujar Valen.
“Eh...iya neesama...” Balas Gwen.
“Tenang saja, tidak ada hantu di sini...” Celetuk Hugo di depan.
“Berisik....” Teriak Valen.
Setelah berjalan cukup lama, mereka bertemu dengan tangga melingkar yang naik ke atas. Ke enamnya mulai menaiki tangga melingkar yang naik ke atas, setelah naik cukup lama, mereka menemukan sebuah pintu di sebelah kiri. Hugo, Theo, Valen, Gwen, Dustin dan Noah berhenti sejenak.
“Hmmm...ini ruangan apa ?” Tanya Theo.
“Tidak tahu...pegang lampunya Theo, aku coba buka...” Jawab Hugo.
“Hei...jangan sembarangan buka...hati hati...” Ujar Valen.
“Whoaah...benar kan, kamu ternyata perhatian padaku, terima kasih sayang...” Balas Hugo.
“Sriiing.” Valen mencabut pedang besar nya dan Gwen mati matian mencegahnya supaya tidak menghantam Hugo. Dustin maju mendekati Hugo, mereka membuka pintu secara bersamaan, “Krieeek.” Pintu terbuka, Theo mengarahkan lampunya ke dalam. Ternyata di balik pintu ada tangga turun yang terlihat panjang dan lurus,
“Sepertinya ini jalan menuju singgasana...” Ujar Dustin.
“Hmmm jalan rahasia...berarti kita bisa mendengarkan pembicaraan para lord dan siapapun yang ada di singgasana...cukup bagus...” Balas Hugo.
“Kita teruskan lagi ke atas....” Ajak Theo.
Akhirnya Dustin dan Hugo menutup pintu, mereka berjalan lagi naik memutari tangga sampai akhirnya mereka sampai di sebuah pintu gerbang yang besar. “Tling...tling...” Tedengar suara dari balik gerbang. Hugo dengan perlahan mendorong gerbang sampai terbuka, mereka masuk ke dalam. Ke enamnya terperanjat karena ternyata ruangan di balik gerbang itu adalah sebuah kamar mewah, bunyi itu berasal dari lonceng angin yang di letakkan di depan jendela yang terbuka. Tapi di depan jendela, ada seseorang yang duduk menggunakan kursi goyang sedang melihat keluar jendela.
Hugo mencabut tombaknya, Dustin menyiapkan kepalan nya, Theo mencabut pedangnya, Valen mencabut pedang besarnya dan Gwen mencabut kedua pedangnya. Noah berjaga di luar dan tidak ikut masuk ke dalam kamar. Ke limanya mendekat dengan perlahan ke kursi goyang yang bergoyang, Hugo mengintip ke balik kursi roda dan dia langsung menyimpan tombaknya.
“Tidak apa apa, simpan senjata kalian...” Ujar Hugo.
Theo, Valen dan Gwen menyimpan senjata mereka dan kemudian mereka berjalan ke depan kursi goyang itu, ternyata yang duduk di kursi goyang itu adalah sebuah tengkorak yang mengenakan gaun layaknya putri kerajaan. Tengkorak itu memegang sebuah buku yang terlihat sudah kusam dan lusuh. Ke limanya mengamati tengkorak itu.
“Hmmm tengkorak ini tidak terlihat seperti tengkorak ratusan tahun yang lalu...” Ujar Dustin.
“Benar, ini bukan tengkorak dari jaman kerajaan Liberta...” Tambah Hugo.
“Berarti selain kita ada yang pernah masuk kesini...” Tambah Gwen.
“Sepertinya begitu dan sepertinya kita semua di sini belum lahir...” Balas Theo.
“Hmm kira kira ini tengkorak siapa ya ?” Tanya Valen.
“Mari kita cari tahu...” Jawab Hugo.
Dengan perlahan, Hugo mengangkat tangan tengkorak itu dan dengan cepat mengambil buku yang di pegangnya, kemudian menaruh lagi tangan tengkorak itu ke tempatnya yang semula. Hugo mulai membuka bukunya.
“Oi Hugo, kamu tidak permisi dulu atau apa dulu main ambil saja...benar benar tidak sopan....” Ujar Valen.
“Hah...tidak masalahkan, dia sudah tidak bisa melihat kita....sudahlah, tidak usah bahas hal hal kecil...sebentar...”
Hugo membaca bukunya, ternyata separuh buku itu di tulis menggunakan bahasa jaman dulu dari benua selatan, tapi separuhnya lagi di tulis dengan bahasa kuno di benua tengah yang masih mirip mirip dengan bahasa sekarang.
“Hmm...pemilik buku ini bernama Tel Athea, kemungkinan ini tengkorak beliau...” Ujar Hugo.
“Hmm namanya kok asing ya ?” Tanya Theo.
“Tidak, itu nama dari suku iblis yang tinggal di benua selatan...Tel Athea...dimana aku pernah mendengar nama itu...” Jawab Dustin.
“Sama, aku juga pernah mendengar nama itu...tapi kapan...” Tambah Gwen.
“Sebentar Hugo, coba pinjam....” Valen langsung merebut buku dari tangan Hugo.
“Hei...hati hati, jangan sampai rusak...” Ujar Hugo.
Valen membuka bagian tengah yang di tulis menggunakan bahasa benua tengah, dia mencoba membacanya, Valen terbelalak kaget karena di paling belakang buku itu ada tulisan mengenai house Duncan. Di katakan kalau wanita bernama Tel Athea dan suaminya yang bernama Einar Liberta, tinggal di menara itu dan yang mengurus mereka adalah house Duncan. Tel Athea juga menulis ramalan 100 tahun lalu yang mengatakan kerajaan Liberta akan bangkit, raja yang akan naik tahta adalah seorang pria berambut hitam dan bermata hitam dengan tanda lahir berbentuk sayap di punggungnya.
Tapi yang mengejutkan mereka adalah tulisan terakhir di dalam buku itu yang mengatakan kalau keberadaan mereka di ketahui dan mereka terpaksa memberikan anak mereka yang baru lahir kepada house Duncan dan menamainya Rex Liberta.
“Rex Duncan...Rex Liberta...hahahahaha......sekarang aku mengerti...” Hugo tertawa.
“Maksudnya apa niisan ?” Tanya Theo.
“Raja kita, yang mulia Rex, adalah raja yang tertulis di ramalan ini....dengan kata lain kita berada di jalan yang benar...” Jawab Hugo.
“Tapi ini tidak masuk akal.....siapa sebenarnya wanita bernama Tel Athea ini ?” Tanya Valen.
“Putri demon lord kerajaan Tel Odinir....aku baru ingat, aku pernah dengar nama itu dari leluhurku...” Ujar Dustin.
“Ah benar juga, kita yang tinggal di balik dinding pasti tahu...aku baru ingat nenek ku juga pernah cerita padaku.” Ujar Gwen.
“Dan suaminya Einar Liberta, berarti perang antara suku demon dan manusia tidak pernah ada....100 tahun lalu bukanlah akhir dari peperangan melainkan awal penggulingan tahta.” Gumam Theo.
“Benar....berarti ada yang mengubah sejarah yang sebenarnya....aku sepertinya tahu siapa saja biang keroknya.” Ujar Hugo.
“Ramalan itu berasal dari 100 tahun yang lalu dan dia yang menulisnya, bukankah pembunuhan terhadap house Duncan terjadi 18 tahun lalu, kalau di urutkan dari sekarang ?” Tanya Valen.
“Ya...aku rasa jawabannya adalah Tel Athea melahirkan Rex-sama ketika dia sudah berumur 100 tahun lebih.” Jawab Dustin.
“Wow...tapi apa mungkin ?” Tanya Gwen.
“Mungkin saja....lihat, entri terakhir ini mengatakan keberadaan mereka ketahuan dan mereka menitipkan bayi mereka kepada house Duncan, berarti Tel Athea melahirkan Rex-sama sekitar 18 tahun lalu, sedangkan dia menulis ramalan di usia 18 tahun kalau di baca di entri pertengahan buku....berarti usia dia saat melahirkan adalah pas 100 tahun dan kalau di lihat dari kerangkanya, sepertinya dia awet muda.” Jawab Hugo.
“Semua keajaiban dewa dewa...kerangka ini penuh dengan kekuatan sihir. Aku bisa merasakannya.” Tambah Dustin.
“Lalu kemana suaminya ?” Tanya Theo.
“Kemungkinan tidak mati di kamar ini...tulisan terakhir ini terlihat teburu buru dan acak acakan...jadi kemungkinan dia langsung menulis ketika di serang dan suaminya mengadakan perlawanan.” Jawab Hugo.
“Kita harus beritahu Rex-sama nanti....” Balas Gwen.
“Tapi sebelum itu, setelah lima hari, ijinkan aku memakamkan kerangka Tel Athea di halaman istana...” Ujar Valen.
“Aku setuju neesan...” Tambah Theo.
“Hmm sepertinya itu memang yang terbaik...” Tambah Dustin.
Setelah itu, dengan hati hati mereka memindahkan kerangka Tel Athea dan membungkusnya dengan kain tirai yang menutupi tempat tidur mewah di sebelahnya. Ke limanya berdiri di depan kerangka Tel Athea yang sudah dibungkus dan mengatupkan tangan sambil memejamkan mata.