Sebuah takdir yang tidak pernah terduga, membuat Qirani Andara, terpaksa menikah dengan pria yang merupakan kekasih dari kakaknya sendiri, yang meninggal akibat kecelakaan.Namun,sebelum mengembuskan napas terakhir, kaluna masih sempat meninggalkan wasiat agar jantungnya didonorkan pada Qirani yang memang sudah mengalami kelainan jantung dari kecil. Langit Radhitya Ganendra, pria tampan yang sangat mencintai Kaluna, kakak dari Qirani itu, terpaksa mau menikah dengan adik kekasihnya. Kenapa? Karena jantung wanita yang dia cintai itu bersemayam di tubuh Qirani. Harusnya pernikahan mereka menjadi kebahagiaan bagi Qirani karena gadis itu selama ini juga sudah jatuh cinta pada pria itu. Namun, bukan kebahagiaan yang dia dapat, karena suaminya sama sekali tidak pernah bisa mencintainya. yang dia pedulikan hanyalah jantung sang kakak yang ada di tubuhnya. Akankah Qirani tetap bertahan dan sabar melihat suaminya yang hanya mementingkan jantung almarhumah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Baskoro
"Apa!" Baskoro berdiri dari kursinya. Wajahnya memerah dan rahangnya mengeras.
"Langit, apa benar yang dikatakan, Qirani?" hal yang sama juga dilakukan oleh Leo. Pria paruh baya itu juga berdiri dan menatap putranya dengan tatapan tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.
Langit tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya menundukkan kepalanya.
"Jawab, Kak! Kenapa hanya diam? Sulit ya untuk mengiyakan? Aku sudah capek, capek menutupi ini semua. Aku capek juga mendengar tuntutan dan makian mamamu yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kelakuan putra kesayangannya," ucap Qirani, dengan suara lirih dan sedikit bergetar menahan tangis. Sementara Langit masih bungkam, diam membisu.
"Hei, perempuan licik! Kamu jangan fitnah ya! Jangan buat alasan anakku tidak pernah menyentuhmu, padahal kamu yang memang tidak bisa hamil!" Mona kembali buka suara, tidak terima anaknya diintimidasi.
"Hei, diam kamu! Kamu ini wanita apa bukan sih? Berani-beraninya kamu tuduh anakku licik." Soraya tidak mau tinggal diam. Wanita paruh baya itu pun tidak terima putrinya dihina oleh besannya itu.
"Tidak mungkin Qirani mengatakan hal seperti itu, kalau tidak benar. Harusnya kamu nasehati anakmu dan kamu minta maaf pada Qirani karena sudah berpikir yang tidak-tidak padanya. Dewasa itu ternyata bukan dilihat dari usia. Buktinya jeng ini sudah tua, tapi tidak bisa bijaksana dalam menempatkan yang mana yang salah dan mana yang benar," sambung Soraya lagi dengan nada berapi-api.
"Macam kamu sudah bijaksana saja. Buktinya dulu karena anak yang kalian sayangi ini, kalian mengabaikannya putri kalian yang lain, apa itu yang namanya bijaksana?" balas Mona.
"Hei, jangan mengungkit-ungkit yang sudah berlalu. Kamu tidak tahu apa-apa! Dan asal kamu tahu, setidaknya kami sudah menyadarinya dan di akhir hidupnya dia sudah bisa merasakan kasih sayang kami. Hanya saja, takdir tidak mengizinkan untuk Kaluna bisa hidup lebih lama lagi, dan membuat kami meluangkan waktu untuk membayar semua kealpaan kami semasa dia kecil sampah dewasa. Kamu kira kami tidak sedih, hah! Dan apa pantas kamu membandingkannya dengan masalah yang terjadi sekarang?" ucap Soraya.
"Semua melihat ke depan bukan balik ke masa lalu. Setidaknya kami sudah berusaha berubah menjadi lebih baik? Kalau kamu apa? Masih sibuk berkutat dengan masa lalu, dan mengkambing hitamkan penyakit Qirani sebagai masalah dia sulit punya anak. Kamu sudah seperti Tuhan saja yang bisa menyimpulkan itu," lanjut Soraya lagi dengan lugas dan tegas.
"Kalian berdua tolong diam dulu!" Leo kembali buka suara, membuat Mona dan Soraya terdiam. Namun, mereka saling menatap dengan tatapan bermusuhan.
Setelah situasi sudah hening, Leo kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Qirani, menantunya. "Nak, sekarang bisa jelaskan, apa yang terjadi selama kalian berdua menikah? Papa ingin kamu jujur dan jangan ada yang kamu sembunyikan," suara Leo terdengar lembut, penuh kasih sayang.
Qirani tidak langsung menjawab. Wanita itu melirik sekilas ke arah Langit suaminya, yang juga menatapnya dengan tatapan sendu.
"Nak Qirani, kamu tidak usah takut dan merasa terintimidasi. Papa hanya ingin tahu agar bisa memberikan solusinya.
Qirani memejamkan matanya sekilas, lalu mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan. Untuk kali ini wanita itu benar-benar sudah memutuskan untuk berterus terang tentang semua yang terjadi. Wanita itu benar-benar sudah lelah, berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja.
"Pa dan kalian semuanya yang ada di sini, dari awal pernikahan sampai dengan hari ini, Kak Langit sama sekali belum bisa menerimaku sepenuhnya. Pernikahan ini dia anggap hanya sebagai tugasnya untuk memenuhi amanah Kak Luna. Dia menerimaku di sampingnya hanya agar bisa lebih dekat dengan jantung Kak Luna yang ad di tubuhku," Qirani mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Qirani!" Langit masih berusaha untuk mencegah.
"Maaf, Kak! Aku sudah capek. Izinkan aku untuk meluapkan semua yang berusaha aku tutupi selama ini. Aku capek denganmu, aku bahkan lebih capek dengan tuduhan dan praduga-praduga yang tidak masuk akal sekaligus menyakitkan dari mamamu. Aku manusia, bukan malaikat. Aku juga punya batas kesabaran," sahut Qirani, tegas.
Kemudian, Qirani kembali menatap Leo papa mertuanya, kemudian Mona lalu kedua orangtuanya secara bergantian.
Kemudian dengan suara berat, Qirani akhirnya menceritakan semua tentang kehidupan pernikahan mereka yang memang terlihat baik-baik saja di luar tapi tidak di dalamnya. Wanita berparas cantik itu, bercerita panjang lebar, tanpa ada yang ditutupi, mulai dari mereka yang semenjak menikah pisah kamar , makanan yang semuanya diatur, dia sakit tapi yang dipedulikan hanya jantung sampai ucapan Langit yang mengatakan tidak akan pernah mau menyentuhnya, karena tidak ingin menghianati Kaluna, bahkan Qirani juga menceritakan kalau Langit ingin punya anak dengannya dengan melakukan program bayi inseminasi.
Bugh
Tiba-tiba Langit mendapatkan tinju keras di wajahnya. Siapa lagi yang melepaskan tinju itu kalau bukan Baskoro, papanya Qirani.
"Hei, berani sekali kamu memukul putraku!" Mona seketika berteriak dan menghampiri putranya.
"Kenapa? Jangankan hanya tinju, kalau tidak ada hukum, aku sudah membunuh putramu yang tidak tahu diri ini!" teriak Baskoro dengan wajah memerah dan mata yang berkaca-kaca. Pria paruh baya itu tengah berusaha menahan agar air matanya tidak keluar, begitu mendengar kehidupan pernikahan putri yang mereka sayangi. Pria itu tidak bisa membayangkan Qirani diperlakukan hanya sebagai wadah untuk menampung jantung putri mereka yang lain oleh Langit, pria yang mereka percaya bisa membahagiakan putri mereka, Qirani.
"Tapi, kamu tidak boleh menyalahkan Langit begitu saja. Dia sangat mencintai Kaluna, jadi harusnya kamu memakluminya. Dia tidak mungkin bisa melupakan Kaluna secepat itu," Mona masih berusaha melakukan pembelaan pada putranya itu.
"Tapi bukan dengan cara begini!" teriak Baskoro dengan suara menggelegar, membuat Mona tersentak kaget. Kemudian, dia menoleh ke arah Langit yang masih meringis kesakitan.
"Kematian Kaluna bukan kesalahan Qirani, Langit. Kaluna memberikan jantungnya untuk adiknya, agar adiknya bisa tetap hidup. Dia menitipkan Qirani padamu, karena dia ingin adiknya bahagia. Dia percaya kalau kamu sanggup membahagiakannya. Tapi, apa yang sudah kamu buat? Kamu justru membuat Kaluna sedih dengan apa yang sudah kamu lakukan pada adiknya. Apa kamu kira dengan perlakuan ke Qirani Kaluna akan bahagia? justru di sedih!" Leo yang dari tadi diam saja akhirnya ikut buka suara.
"Jadi sekarang bagaimana, Nak?" tanya Leo dengan lembut.
"Ya, apalagi? Kami akan bawa anak kami pulang ke rumah kami. Segera urus perceraian. Kalau Langit tidak mau urus, aku akan membantu Qirani mengurusnya," ucap Baskoro yang benar-benar sudah emosi.
"Pa, jangan Pa. Apa tidak ada cara lain lagi selain ini. Papa boleh menghukummu, tapi tolong jangan sampai bercerai. Aku berjanji akan berubah dan akan memperlakukan Qirani sebagaimana seorang istri," mohon Langit dengan panik.
"Kenapa? Apa karena kamu takut tidak bisa jauh dari jantung yang ada di tubuh Qirani? Ingat, kamu sama sekali belum punya hak atas jantung itu!" sindir Baskoro.
"Tidak, Pa. Aku__"
"Ahhh, tidak usah cari alasan lagi! Aku sebagai papanya benar-benar sakit hati, dengan perlakuanmu. Pokoknya kami akan bawa putri kami pulang. Kamu da mamamu tidak bisa menerimanya, aku dan mamanya masih ada untuknya. Ayo, Qirani, ikut papa dan mama pulang sekarang!" pungkas Baskoro tak terbantahkan.
"Maaf, Leo! aku tahu kalau kamu menyayangi Qirani, tapi tidak ada yang lebih menyayangi Qirani dibandingkan aku papanya. Kami Pamit dulu!" Baskoro meraih tangan Qirani dan mengajak putrinya itu pergi.
Tbc
kira kira bawangnya sampe bab berapa Thor, AQ mau siapin mental buat baca biar kuat /Grin//Grin/