NovelToon NovelToon
LOST WAY

LOST WAY

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Anak Genius / Mengubah Takdir / Penyelamat / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Kisah perjuangan sebuah keluarga, dimana sang ibu divonis menderita Leukimia stadium menengah.

"Aku tidak mau mendengar alasan apapun!! Aku tahu aku bisa menyelamatkan mamahku!! Aku sudah membaca banyak buku!! Lihat dokter!!! Semua yang tertulis disini semua benar kan!!"

Ucap Suni sangat emosional sambil menunjukkan kliping yang ia buat. Dokter Sam membuka lembar demi lembar, semua tentang Leukimia yang diderita Sia, ibunya.

Hancur perasaan dokter Sam. Gadis sebelia ini, begitu sangat bertekad membawa mamahnya kembali pulang. Rasa takut dan manja benar-benar tak tergambar sama sekali di wajah Suni. Sebagai seorang dokter , baru kali ini ia bertemu dengan anak yang memiliki keberanian setulus ini.
(cut dr chapter 20)

Mampukah keluarga ini bertahan sampai akhir? mampukah Suni, si gadis sulung berusia 10 tahun ini mampu menjadi pendonor untuk ibunya?

selamat membaca...😁

karya hanya berdasarkan imajinasi author.
mohon maaf jika ada banyak kesalahan.🙏🙏😁
Salam Author Yoshua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lost Way ---30

Sania meradang melihat Sean terluka. Emosinya semakin memuncak, tatkala melihat wajah ibunya yang hampir tidak memiliki rasa bersalah. Sania benar-benar merasa dibuat malu dengan semua tingkah polah sang ibu. Gadis yang belum lama ini merayakan ulang tahunnya yang ke 18, merasa sangat tertekan dengan semua gosip dan fakta yang menerpa keluarganya.

"Mamah!! Lihat apa yang kamu lakukan!!" terimakasih Sania memandang tajam ke arah Susi.

PLAAAAAK!!!!

Semakin perih hati Sania, saat ibunya bukannya meminta maaf dan merasa bersalah, tapi justru menampar keras pipi Sania.

"Kamu ini dasar anak kurang ajar!!" bentak Susi. "Semua mamah lakukan untukmu! Semua demi kamu bisa menikmati kemewahan. Tapi ini balasanmu?!!"

"Aku tidak butuh kemewahan mah!! cukup bagiku jika semua bisa rukun! Cukup jika tidak ada perseteruan soal harta! cukup jika tidak ada mamah yang serakah, dan papah yang selalu nurut sama mamah!" cerca Sania membuat Bu Samsi menangis tersedu.

Mendengar celotehan Sania, Susi bukannya merasa malu, namun justru sekali lagi menampar pipi Sania, sampai membuat Sania terhuyung.

"Sudah Sania, kamu ikut Tante saja kita temenin Sean sekaligus menjenguk Tante Sia." ucap Suci menyambar lengan Sania dan Suni.

Susi tertegun, ia hampir tak menyangka anaknya justru yang akan pertama kali menjatuhkan mukanya di depan para tamu dan tetangga. Susi begitu marah. Susi berjalan menuju dapur, dan menumpahkan semua makanan yang telah matang sebagian.

"Sabar, Bu Susi, semua bisa dibicarakan baik-baik. Jadi menantu memang serba salah." ucap Bu Siska, salah satu tetangga.

"Tapi mereka itu keterlaluan! Mereka selalu menyerangku, mereka selalu menyalahkanku! Apa salahku? Aku bukan orang miskin! aku datang kesini juga membawa harta dari orang tuaku! tapi apa yang aku dapatkan!" Susi berteriak-teriak sesuka hati.

"Sabar Bu Susi,,,," ucap Bu Sarti, tetangga lainnya.

"Aku kurang sabar apa? Mereka mencekoki putriku dengan pikiran jahat mereka, sampai anakku berani melawanku. Lihatlah sekarang suamiku yang bodoh itu pun berbalik dan membelot membela mereka." Susi masih terikat dengan kemarahan yang semakin membara.

"Minum dulu Bu Susi, biar lebih tenang." Bu Sarti menyodorkan gelas berisi air putih.

"Aku tidak peduli lagi dengan keluarga ini!! Aku mau minggat saja!" Susi beranjak menuju kamar Bu Samir setelah menenggak habis air putih dari Bu Sarti.

"Mau minggat kok masuk kamar mertuanya?" bisik Bu Siska pada ibu-ibu yang lainnya.

"Mungkin mencari harta warisan. Dia kan suka edan." cerca Bu Siti menyahut dengan bisikan.

"Iya, amit-amit, jangan sampai aku punya mantu macam dia." bisik Bu Sarti.

"Bisa-bisa mati berdiri setiap hari makan hati."sahut pelan Bu Siska.

Para ibu-ibu membantu membereskan kekacauan rumah Bu Samsi. Sedangkan Susi masih mengobrak-abrik kamar ibu mertuanya.

.

.

.

"Anak pinter, anak baik, besok pasti cepet sembuh ya jagoannya kak Suni." kelakar dokter setelah selesai membalikkan perban pada luka di lengan Sean, membuat semua yang hadir terkekeh, termasuk Sean.

"Kata Kakek, laki-laki tidak boleh menangis, Dok." jawab polos Sean sambil membersihkan wajahnya dari air mata.

"Pinter sekali Sean." puji dokter Setya, dokter anak.

"Maafkan Tante ya, Sean. Tante pasti tidak sengaja itu tadi." ucap lirih Samsul.

"Iya, paman." Sean menjawab polos disertai senyuman.

Sundan menepuk punggung abangnya, rasanya lama sekali mereka tidak sedekat itu. Entah siapa yang menciptakan jarak sebelumnya, entah apa yang membuat keduanya saling semakin menjauh.

Tepukan pelan dan hangat dari sang adik pun, tersambung baik oleh sang kakak. Samsul seperti telah tergugah hatinya. Samsul berbalik menatap Sundan, lalu membalas tepukan ditambah senyum penyesalan.

Bu Samsi tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, saat melihat sendiri kedua putranya yang telah lama sekali saling diam, akhirnya mulai berbalas kebaikan, meskipun masih terasa canggung dan sangat asing.

Dari sudut ruangan pun, tampak sebuah senyum cantik merekah, senyum berasal dari wajah ayu putri Samsul, Sania namanya. Gadi berusia 18 tahun itu pun terlihat begitu bahagia melihat ayahnya bisa kembali rukun dengan saudaranya.

Semua keadaan tertangani dengan baik. Keluarga itu keluar dari ruangan penanganan Sean. mereka berjalan menuju tempat Sia dirawat, di ruangan ICU.

"Dokter!! dokter!! emergency!!" perawat memanggil dokter Sam yang waktu itu tampak berjalan di lobi, baru beberapa langkah keluar dari kamar Sia.

Dokter Sam terlihat berbalik dengan segera. Melihat hal itupun, keluarga Sundan melangkah dengan cepat, rasa takut dan khawatir kembali menguasai seluruh pikiran mereka. Hanya menunggu di balik pintu ICU ,sambil mondar-mandir sambil berdoa keras-keras dalam hati, berharap agar Sia baik-baik saja.

Hampir 10 menit berlalu, akhirnya dokter Sam keluar, disambut oleh keluarga Sundan.

"Dokter Sam,,," seru lirih Sundan.

"Pak Sundan, ada yang harus saya sampaikan. Mari ke ruangan saya." ajak dokter Sam.

Langkah kedua pria dewasa itu terlihat sangat tegas. Raut wajah keduanya pun terlihat sangat serius. Melihat hal itu, Suni diam-diam mengikuti langkah ayah dan dokter yang telah menganggapnya sebagai sahabat kecil.

"Pak Sundan, sebenarnya saya sangat berat untuk menyampaikan hal ini. Tapi melihat kondisi Sia yang semakin tidak stabil, kita harus hanya bisa mengambil dua pilihan." ucap serius dokter Sam saat keduanya telah duduk berseberangan di dalam ruangan dokter Sam.

"Apapun asal Sia bisa sembuh. Memangnya apa yang bisa dilakukan, Dok?"

Dokter Sam menghela nafas dengan sangat berat. "Dokter kepala memberikan ijin Suni untuk menjadi pendonor bagi ibunya, tapi karena berat badan Suni masih kurang sedikit, jadi ada hal lain yang juga memerlukan perhatian lebih, Pak Sundan.

"Apa memangnya?"

TOK!!! TOK!!! TOK!!!

Percakapan terhenti sejenak saat dokter kepala mengetik pintu.

"Wah, kebetulan sekali, ada pak Sundan." ujar dokter kepala memasuki ruangan dokter Sam.

Belum juga dokter kepala bisa duduk dengan nyaman, alarm keadaan kritis kembali terdengar, memanggil dokter Sam. Melihat hal itu, dokter kepala pun ikut terjun langsung.

Baru beberapa menit sebelumnya sudah tertangani, kali Sia kembali drop. Dokter Sam semakin tak tega melihat kondisi Sam.

"Dokter!!! Mamahku kenapa!!! Ijinkan aku menyelamatkan mamah sekarang!!" teriak Suni didepan pintu ICU.

Semua terkejut dengan teriakan Suni, termasuk Sania.

"Suni, sabar dulu sayang,,, dokter baru mengusahakan yang terbaik untuk kita semua." Sundan memeluk tubuh anaknya. Air mata tak bisa lagi dicegahnya.

"Aku cuma mau mamah pulang pah!! Aku mau mamah!! Aku bisa menyelamatkan mamah!! Itu kata dokter Sam pah!!" Suni pun tersedu.

"Suni sayang,,,, papah tahu anak papah hebat." Suara Sundan seperti tercekik diantara kerongkongan. Ia tak bisa menangani ketakutan anak perempuannya.

"Kakak!!" Sean menghambur memeluk punggung Suni.

"Sean,,,," kedua bocah kembali berpelukan dengan isak dan tangis yang begitu menyakitkan.

"Om, antar aku mengambil sesi pemeriksaan. Aku juga ingin Tante Sia pulang ke rumah. Aku merindukan makanan-makanan yang ia buat dengan tangannya sendiri." Sania berdiri mengepalkan erat kedua tangannya, menahan berbagai ketakutan.

Semenjak Sia divonis menderita Leukimia, Sania berpikir berulang kali untuk ikut andil memeriksakan diri, jika saja ada yang bisa dilakukannya, namun rasa takut akan jarum suntik, rasa takut pada kedua orang tuanya yang masih berseteru dengan pamannya, juga dengan rasa malu akan kelakuan buruk ibunya, membuat Sania terus saja mundur dan menunda.

"Sania,,,," panggil lirih Samsul yang terhenyak melihat ketulusan anaknya.

"Aku juga menyayangi Tante Sia, Pah. Tante Sia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Hanya saja karena ayah dan mamah selalu berseteru dengan om Sundan, aku selalu takut untuk menunjukkannya."

Bu Samsi dan Susi menghambur memeluk Sania. Tangis haru memenuhi ruang tunggu di depan pintu ICU, dimana di dalamnya, Sia tengah berjibaku melawan kelemahan dan kelelahan.

...****************...

To be continue...

1
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ
Wah, aku bacanya sial/Sob/ ternyata siaaaa,
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Recommend.
Novel yg penuh perjuangan, keikhlasan, dan pengorbanan.
yosh—: ahh, thanksyu2😁
total 1 replies
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Suni pasti akan baik-baik aja
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
laahhhhhhhhh
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Suni jgn knp2 yaaa
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Dalem bgt kata-katanya
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
endingnya😭😭😭
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
ehhhh..... jgn Doong.....
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Suni, anak luar biasa....
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
seru lirih. mungkin disini typo Thor.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
suci selalu bisa di andalkan.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
hahaha assiikkk
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
gula sih, pengikut Dajjal ini mah. Ayahnya mati malah mikirin warisan.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
paling Gedeg deh gue sama gosip sialan.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
perbuatan buruk akan di kembalikan kepada yg merencanakan nya.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
perawatannya minta di lempar ke kali, JD makanan biawak.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
betul, kebijakan di perlukan dlm situasi darurat
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
dgn senang hati dokter sam lakukan 🤭
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
org2 selalu mencari kambing hitam dlm setiap Musibah. gak seru klo gak ada yg di salahkan.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
sampe hancur dong, ya Rabb
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!