Bening gadis tompel dijodohkan dengan Bayu, pria tampan dan kaya dengan imbalan uang untuk pengobatan sang ibu yang mengalami gangguan mental.
Perjodohan yang tidak biasa karena yang menjodohkan Bening adalah Naura istri Bayu sendiri. Tentu Bayu menolak dengan tegas permintaan Naura istrinya. Wanita cantik yang profesinya sebagai artis terkenal.
Sementara Bening sebenarnya gadis manis tetapi wajahnya tompel tentu bukan selera Bayu.
"Kamu sudah gila Ra! Mana ada istri yang rela menjodohkan suaminya dengan wanita lain?!"
"Mas... tolong, dengan kamu menikahi Bening, jika aku syuting film ke luar negeri kamu ada yang mengurus."
Bayu terpaksa menikahi Bening, tetapi hanya demi menyenangkan hati Naura. Bayu bingung, apa tujuan Naura memaksa dirinya menikahi Bening. Ketika Bayu tanya alasan Naura tidak memuaskan.
Lalu apa yang akan terjadi setelah pernikahan Bening dengan Bayu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Katakan apa tujuan kamu menikahkan aku dengan Bening Ra?!" Wajah Bayu merah padam. Dalam posisi berdiri mecengkeram pundak Naura.
"Mas... sakit," Naura ketakutan, menyingkirkan tangan Bayu dari pundak, selama menjadi istri tidak pernah melihat Bayu marah sampai segitunya.
"Aaaggghh..." Bayu meninju sofa lalu menunduk.
"Sekarang jawab pertanyaan aku tadi," Bayu memelankan suaranya. Memunggunngi Naura.
Naura lantas berdiri memeluk Bayu dari belakang. "Nggak ada maksud apa-apa Mas... seperti yang aku katakan dulu. Aku hanya tidak ingin kamu kesepian," Naura memilih berbohong, hanya dengan cara ini agar marah Bayu tidak berlanjut.
"Aku mau istirahat," Pungkas Bayu, kemudian ke kamar meninggalkan Naura. Rasa lelah tubuhnya belum terobati kini sudah lelah hati. Ia tidur telungkap dengan wajah miring.
Terasa tempat tidurnya bergerak ada yang naik lalu tidur di sebelahnya, siapa lagi jika bukan Naura. Namun, Bayu tidak menghiraukan, walaupun tangan Naura memeluk tubuhnya.
Bayu akhirnya tidur.
**********
Di Cibubur Jakarta timur, di dalam kamar, Bening hanya bisa memandangi handphone. Membaca ulang chat yang sudah ia kirim selama tiga hari ini, tetapi tidak ada balasan.
"Abang bohong!" Omelnya, ia kesal sekali, pasalnya Bayu sudah berjanji akan menghubunginya, tetapi jangankan menghubungi, chat yang dia kirim pun tidak Bayu balas.
Bahkan telepon selalu di rejeck. Namun, tidak menyerah Bening menghubungi Bayu kembali. Tetap saja tidak diangkat, Bening meninggalkan handphone yang tergeletak di lantai.
Bening ke kamar mandi, hendak ambil air wudhu menjalankan shalat isya, tetapi membersihkan wajah dulu sebelum shalat.
Di depan pintu kamar Bening, Narti mengetuk hingga beberapa kali tetapi tidak ada jawaban, kemudian membuka pintu. Sudah biasa bagi Narti keluar masuk kamar Bening karena mereka sudah seperti sahabat.
"Ning..." Panggil Narti, ketika tiba di kamar, tetapi tidak ada sahutan. Ia memilih menunggu Bening duduk di lantai.
"Eh kamu Nar?" Bening keluar dengan santai, tanpa kerudung, toh Narti sesama wanita.
"Bening?" Mata Narti membelalak tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kamu kenapa Nar? Menatapku seperti itu?" Cecar Bening bingung, lalu meneliti semua pakaian yang ia kenakan, mungkin ada yang aneh karena tatapan Narti tidak biasa.
"Wajah kamu Ning," Seru Narti.
"Wajah aku kenapa? Kamu mau seperti orang-orang meledek aku, karena wajahku ini tompel?" Bening cemberut.
Narti bangkit dari duduknya, menuntun Bening mengajaknya ke depan kaca. "Lihat wajah kamu Ning, jadi kamu selama ini membohongi kami?"
"Hup" Bening terkejut menoleh Narti, ia rupanya lupa memakai pondation setelah membersihkan wajah.
"Gile benar Ning, ini benar-benar kamu?" Narti menyentuh pipi Bening, sungguh luar biasa cantik.
"Bukan Nar, aku ibu peri. Hihihi..." Bening cekikikan, disambut Narti. Kedua wanita itu terkikik.
"Nar... jangan bilang siapa-siapa dulu ya," Bening memohon. Ia belum siap menunjukkan wajah aslinya, apa lagi Bayu pun saat ini belum bisa dipercaya.
"Tapi kenapa Ning?" Narti tidak habis pikir, di mana-mana yang namanya wanita ingin menutupi jika ada kekurangan di wajah agar bisa tampil percaya diri, tetapi Bening berbeda.
"Sudahlah... nanti aku ceritakan semua sama kamu," Jawab Bening. Lalu bertanya ada keperluan apa Narti ke kamarnya.
"Kata Nyonya kamu di suruh makan malam,"
"Okay... kamu mau duluan, atau menunggu aku shalat?" Tanya Bening, sembari mengenakan mukena.
"Aku menunggu kamu saja Ning," Jawab Narti sebab dia sudah shalat di kamarnya. "Ning, kita kan belum tukar nomor ponsel," Sambung Narti.
"Ketik saja nomor kamu di hp aku Nar. Dah ah, aku shalat dulu," Pungkas Bening.
Sementara Narti ambil handphone Bening hendak menyimpan nomor miliknya. Namun, lagi-lagi Narti dikejutkan dengan layar hp yang tertera caption Bayu dengan Bening di pinggir sawah, dan anehnya, Bayu merangkul pundak Bening mesra dari belakang.
"Astagfirullah... jangan-jangan... Bening dengan tuan Bayu pacaran? Tetapi mana mungkin?" Narti bertanya-tanya dalam hati. Gadis itu tidak percaya jika Bening berhubungan dengan Bayu.
Narti tahu, jika Bening tidak pantas untuk menjadi pelakor tetapi foto mesra itu bukankah sudah menjadi bukti?" Pertanyaan itu muncul di benak Narti.
"Sudah Nar?"
"Su-sud... belum," Jawab Narti gugup karena tiba-tiba Bening mendekatinya.
"Sini, nomor kamu berapa, biar aku kirim nomor hp aku?" Bening ambil handphone miliknya dari tangan Narti. Setelah menukar nomor, mereka ke lantai bawah. Tentu, Bening mengenakan pondation terlebih dahulu.
"Ning, besok kamu sudah mulai sekolah, tapi mama minta, jangan lagi bekerja di toko," Saran Leanna ketika selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Leanna sudah mendaftarkan Bening sekolah. Namun, hanya masuk seminggu tiga kali.
"Tapi Ma," Bening bingung, jika tidak bekerja bagaimana bisa mengumpulkan uang untuk membayar hutang Naura. Pasalnya, pemilik PK yang akan membeli tanah membatalkan begitu saja. Bening tahu, jarang investor yang mau membeli tanah perkampungan itu, selain perusahaan PK. Karena akses jalan sawah itupun miliki perusahaan tersebut.
"Kamu jangan khawatir Ning, jika yang kamu pikirkan biaya pengobatan ibu kamu, atm ini mama serahkan untuk kamu. Kami tidak akan membeda-bedakan antara kamu dengan Bayu, karena ketika Bayu pulang nanti mama sama papa akan membicarakan masalah ini." Tutur Leanna panjang lebar.
Bening diam, Entah apa yang akan dia ucapkan, jika punya keberanian tentu akan jujur kepada mertuanya bahwa ia istri Bayu. Bening bersalah karena sudah berbohong kepada kedua mertuanya.
"Ini terima Ning," Leanana memberikan kartu tipis tetapi isinya muat milyaran itu.
"Maaf Ma, atm ini mama saja yang pegang. Lagi pula saya sudah menerima atm dari Abang,"
"Bayu memberi kamu atm?" Leanna terkejut.
Bening rupanya keceplosan. "Maksudnya tugas saya kan memasak ma, jadi... Abang menitipkan atm ini karena menurutnya tidak ada Mbak Naura. Jadi... saya diberi kepercayaan untuk membeli apapun untuk kebutuhan rumah," Entah kata-kata darimana, Bening bertutur gamblang. Padahal dalam hati dia tidak mau berbohong, tetapi apa boleh buat untuk sementara ini Bening belum bisa jujur.
"Ya sudah... itu kan atm milik Bayu, yang ini tetap kamu pegang, jika kamu membutuhkan uang untuk sekolah, atau untuk ibu kamu jangan sungkan-sungkan," Leanna tidak mau dibantah.
"Terimakasih Ma," pada akhirnya Bening menerima atm. Di ruang keluarga menjadi sepi karena waktu sudah malam, seisi rumah masuk ke kamar masing-masing.
Begitu juga dengan Bening, sebelum tidur seperti biasanya selalu kirim pesan kepada Bayu. Walaupun tidak direspon, Bening bukan lantas menyerah. Toh, ia harus berpikir positif, mungkin Bayu tidak sempat membalas pesanya walaupun dilihat dari centang berwarna biru itu sudah pasti dibaca.
"Bang... sekarang sedang apa? Aku sudah mau bobo,"
Begitulah Bening mengirim tulisan, lalu mengirimkan foto selfie yang Bening ambil sambil tiduran. "Mudah-mudahan... dibalas," Bening berbicara sendiri.
Ting.
"Alhamdulillah... dibalas" Bening tersenyum kegirangan, lalu klik pesan yang dikirim Bayu.
"Jangan terus-terusan kirim pesan tompel! Kamu harus tahu! Saya pergi jauh itu karena jijik melihat wajah kamu! Terus apa ini?! Kamu kirim foto buruk kamu itu!"
Jedeeerrr...
Bersambung.
.