Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Deru mesin mobil putih milik Baskara Group terdengar halus saat membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai berselimut warna jingga senja. Kemacetan sore hari di kawasan Sudirman seolah tidak mampu menahan laju kendaraan yang membawa Narendra Baskara, Hani, dan Pak Gibran menuju Rumah Sakit Pusat Medika.
Di dalam kabin mobil, suasana yang semula tegang kini telah mencair, digantikan oleh rasa lega yang begitu membuncah setelah badai besar di ruang rapat pleno berhasil dilewati.
Hani duduk di dekat jendela, menatap deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Tangannya masih mendekap erat buku harian milik ayahnya.
Namun, kali ini debar jantungnya bukan lagi karena rasa takut atau kecemasan akan intrik politik Surya Adiguna. Debar itu murni karena rasa rindu dan kekhawatiran yang mendalam pada sosok pria yang kini terbaring di ruang perawatan intensif.
"Pak Narendra," panggil Hani pelan, memecah keheningan di dalam mobil. "Bagaimana kondisi Pak Reza yang sebenarnya? Kemarin malam... genangan darah itu..." Hani tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, bayangan mengerikan di dermaga lama malam itu kembali terlintas di benaknya.
Narendra yang duduk di baris tengah menoleh, menatap Hani dengan senyum kebapakan yang menenangkan.
"Dokter bilang peluru itu tidak mengenai organ vitalnya secara langsung, Hani. Struktur tubuh Reza cukup kuat untuk bertahan hingga tim medis melakukan tindakan operasi darurat. Ditambah lagi, motivasinya untuk memastikan kamu selamat tampaknya jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya."
Narendra terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Kamu lihat sendiri bukan, bagaimana dia masih sempat meretas jaringan Baskara Tower dari ranjang rumah sakit? Sifat keras kepalanya itu benar-benar menurun dariku."
Pak Gibran yang duduk di baris paling belakang ikut tersenyum. "Anak muda zaman sekarang memang luar biasa, Narendra. Jika delapan tahun lalu kita memiliki ahli siber sekelas Reza, mungkin kita tidak perlu bersembunyi terlalu lama di perbukitan."
Tawa kecil terdengar di dalam mobil, membawa kehangatan yang telah lama hilang dari lingkaran keluarga Baskara. Hani merasakan pipinya sedikit menghangat saat mendengar perkataan Narendra tentang motivasi Reza.
Ada sesuatu yang tidak bisa ia pungkiri lagi di dalam hatinya bahwa hubungan mereka kini telah melangkah jauh melampaui batas formalitas antara atasan dan staf administrasi biasa.
...****************...
Tiga puluh menit kemudian, konvoi mobil memasuki pelataran parkir khusus eksekutif Rumah Sakit Pusat Medika. Kedatangan Narendra Baskara langsung disambut oleh kepala pengamanan rumah sakit yang segera membukakan jalur lift privat menuju lantai paviliun VIP.
Saat pintu lift terbuka di lantai sembilan, suasana sunyi dan steril langsung menyambut mereka. Tiga pria berjas hitam yang menjaga koridor depan kamar segera membungkuk hormat saat melihat Narendra berjalan mendekat.
Sarah, yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis perawat untuk mengambil beberapa berkas administrasi, langsung menoleh. Begitu melihat sosok Hani yang berjalan di samping Narendra, senyum lega langsung merekah di wajah asisten setia tersebut.
"Pak Narendra, Pak Gibran," sapa Sarah dengan anggukan hormat, sebelum pandangannya beralih sepenuhnya pada Hani. "Hani... syukurlah kamu tidak apa-apa. Aku melihat sekilas berita di media daring mengenai apa yang terjadi di Baskara Group. Kalian luar biasa."
"Ini semua berkat bantuanmu dan Pak Reza dari sini, Sarah," balas Hani tulus, melangkah maju dan menggenggam tangan sahabatnya itu. "Bagaimana kondisi Pak Reza sekarang?"
"Dia baru saja selesai diperiksa oleh dokter spesialis satu jam lalu," jawab Sarah sambil menunjuk ke arah pintu kaca tebal di belakangnya.
"Sisa efek obat biusnya sudah hilang sepenuhnya. Kondisinya stabil, tapi dokter melarangnya untuk melakukan aktivitas berat. Sayangnya, bos kita yang satu itu baru saja memaksa minum air putih dua gelas berturut-turut karena tidak sabar menunggu kedatangan seseorang." Sarah memberikan kerlingan penuh arti yang membuat wajah Hani kian merona.
Narendra berjalan mendekati pintu kamar, lalu menoleh ke arah Hani dan Pak Gibran. "Gibran, mari kita ikut Sarah ke ruang dokter spesialis di sebelah untuk mengurus berkas pemulihan fisikmu juga. Biarkan Hani masuk terlebih dahulu."
Pak Gibran mengangguk paham, mengetahui bahwa ada ruang yang harus diberikan kepada dua anak muda itu. "Tentu, Narendra. Mari, Sarah."
Hani menatap punggung ketiga orang itu yang berjalan menjauh menuju koridor sebelah. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, Hani perlahan mendorong pintu kaca tebal kamar nomor 901.
Krieeek...
Suara gesekan pintu yang pelan membuat pria yang sedang bersandar di atas ranjang rumah sakit itu langsung menoleh. Reza Baskara, dengan wajah yang masih tampak pucat namun sepasang mata yang telah kembali memancarkan kilat kecerdasan yang tajam, menatap lurus ke arah pintu masuk.
Langkah kaki Hani terhenti seketika di ambang pintu. Pandangannya terpaku pada selang oksigen tipis yang masih terpasang di hidung Reza, serta balutan perban tebal yang menyembul di balik baju pasien berwarna hijau muda itu. Rasa haru yang luar biasa menyeruak di dalam dada Hani, membuat matanya mendadak berkaca-kaca.
"Hani..." suara Reza terdengar serak, namun ada nada kebahagiaan yang sangat nyata di dalamnya. Ia mencoba menegakkan posisi duduknya sedikit lebih tinggi.
"Jangan bergerak dulu, Pak Reza!" seru Hani panik, langsung setengah berlari mendekati sisi ranjang. "Jahitan Anda baru saja selesai diperiksa. Tolong jangan membuat gerakan mendadak."
Reza tidak memedulikan peringatan itu. Sebaliknya, ia perlahan mengulurkan tangan kanannya yang bebas dari jarum infus ke arah Hani. "Kemarilah."
Hani menyambut uluran tangan itu. Jemari Reza yang hangat dan sedikit kasar menggenggam jemari Hani dengan erat, seolah ingin memastikan bahwa wanita di hadapannya ini benar-benar nyata, selamat, dan berada di dalam jangkauannya.
"Kamu berhasil, Hani," bisik Reza, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Hani. "Aku melihat jalannya rapat pleno dari laptop tadi. Kamu berdiri di podium itu dengan sangat luar biasa. Ayahmu pasti sangat bangga melihat putrinya hari ini."
Air mata yang sejak tadi ditahan Hani akhirnya luruh juga, membasahi pipinya. Ia mengangguk pelan. "Saya tidak akan bisa berdiri di sana jika Anda tidak mempertaruhkan nyawa Anda malam itu di dermaga, Pak Reza. Dan jalur siber yang Anda bukakan sore ini... itu yang membuat Surya Adiguna tidak berkutik."
Reza tersenyum tipis, ibu jarinya bergerak lembut mengusap air mata yang menetes di punggung tangan Hani yang sedang digenggamnya. "Sudah kubilang, bukan? Aku adalah pelindungmu di dalam permainan catur ini. Seorang pion yang melangkah maju demi kebenaran layak mendapatkan benteng pertahanan terbaik."
Hani menarik sebuah kursi lipat dan duduk tepat di samping ranjang Reza, tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. "Sekarang Surya Adiguna sudah dibawa oleh pihak kepolisian. Skandal delapan tahun lalu akan dibuka kembali secara transparan besok pagi dalam konferensi pers. Nama baik ayah saya... akhirnya bersih, Pak Reza."
"Aku tahu," sahut Reza lembut. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi dokumen rahasia yang harus kamu takuti. Tidak ada lagi pelarian atau rasa waswas setiap kali melihat logo Baskara Group. Kamu bebas, Hani."
Hani menatap wajah Reza yang tampak lelah namun dipenuhi kedamaian. "Lalu... bagaimana dengan Anda? Apa yang akan Anda lakukan setelah sembuh nanti?"
Reza terdiam sejenak, menatap ke arah jendela luar yang kini menampilkan pemandangan kerlip lampu kota Jakarta di bawah langit malam yang pekat. Senyumnya kali ini terasa jauh lebih personal, bukan lagi senyum seorang direktur muda yang penuh kalkulasi bisnis.
"Setelah ini, aku ingin melepaskan sejenak urusan kode siber dan draf proyek korporasi," ucap Reza, beralih menatap Hani dengan pandangan yang sarat akan ketulusan yang mendalam.
"Aku ingin memulai sebuah babak baru. Sebuah babak di mana aku tidak lagi berjalan di depanmu sebagai atasan, melainkan berjalan di sampingmu... sebagai seseorang yang ingin menjagamu sepanjang sisa hidupku. Bagaimana menurutmu, Hani?"
Pertanyaan yang frontal namun penuh kelembutan itu membuat jantung Hani berdegup kencang. Ia menatap genggaman tangan mereka yang begitu erat, lalu mendongak menatap sepasang mata Reza yang memancarkan kesungguhan mutlak.
Di dalam ruangan steril yang sunyi itu, sebuah jawaban bisikan yang tulus akhirnya mengalir dari bibir Hani, menandai berakhirnya era kegelapan dan dimulainya lembaran baru kehidupan mereka.