NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dua Cincin dan Antusiasme Silvi

Ketegangan yang sempat mencekam koridor lantai dua mall mewah itu perlahan-lahan mencair seiring langkah kaki Zenix yang membawa adiknya menjauh dari hadapan Jennie. Di sebuah sudut koridor yang agak sepi, tepat di dekat sebuah bangku panjang berlapis kulit, Zenix menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh tegapnya, menatap lekat-lekat wajah Silvia yang hidungnya masih memerah dan sisa-sisa air mata masih menggenang di sudut kelopak matanya.

Zenix berlutut dengan satu kaki di depan adiknya, menyetarakan tinggi badannya agar bisa menatap langsung mata Silvi. Tangan kanannya yang mengenakan cincin perak bergerak lembut, menyeka tetesan air mata yang membasahi pipi mulus sang adik.

"Sudah, jangan menangis lagi. Cewek gila tadi tidak akan berani menyentuhmu lagi, Abang jamin itu," ucap Zenix dengan nada suara berat yang sangat lembut, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan bentakan menggelegar yang ia layangkan pada Jennie beberapa menit lalu.

Silvi mengendus pelan, mencoba meredakan isak tangisnya. Keberadaan Zenix yang begitu protektif dan kokoh di depannya perlahan-lahan mengembalikan rasa amannya. "Aku cuma kaget, Bang. Baru juga pulang ke Indonesia, kok udah ketemu nenek sihir kayak begitu di mall. Dia galak banget, kayak mau makan aku hidup-hidup."

Zenix terkekeh geli, sebuah tawa tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. Ia menepuk pundak Silvi dengan pelan. "Dia cuma orang asing yang tidak penting. Sekarang, Abang tidak mau hari pertamamu jalan-jalan rusak karena dia. Sana, kamu masuk ke toko kosmetik dan baju di sebelah itu. Beli apa saja yang kamu mau, baju, tas, semuanya. Pakai kartu Abang." Zenix merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan sebuah kartu kredit hitam (black card) premium milik pribadi lalu menyerahkannya ke jemari Silvi.

Melihat kartu sakti di tangannya, binar kesedihan di wajah Silvi seketika lenyap, digantikan oleh senyuman manja yang melebar sempurna. "Wah! Beneran ya, Bang? Asyik! Aku mau borong parfum sama gaun baru!" seru Silvi penuh semangat, melupakan trauma instannya dan langsung berlari riang masuk ke dalam diler pakaian mewah seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Setelah memastikan adiknya sibuk berbelanja dengan aman di bawah pengawasan pasif beberapa pramuniaga, Zenix Dirgantara membalikkan badannya. Namun, alih-alih ikut masuk ke dalam butik pakaian modis barat tempat adiknya berada, langkah kaki Zenix justru membawanya berjalan menuju area sayap kiri mall, tempat di mana terdapat beberapa butik pakaian muslimah eksklusif berstandar internasional.

Zenix melangkah masuk ke dalam salah satu butik tersebut. Kehadiran seorang pemuda jangkung berjaket kulit hitam dengan anting hitam di telinga kiri dan aura bad boy yang kental, seketika membuat para pelayan butik tertegun heran. Tempat ini biasanya hanya dikunjungi oleh ibu-ibu sosialita atau gadis-gadis berhijab anggun, bukan seorang pemuda metropolis yang tampak seperti ketua geng jalanan.

Namun, Zenix tidak memedulikan tatapan heran di sekelilingnya. Sepasang mata tajamnya menyisir deretan manekin yang memajang pakaian gamis dan jilbab syar'i. Di dalam benaknya, memori tentang sosok Anisa yang anggun dalam kesederhanaannya langsung berputar jelas.

"Selamat siang, Mas. Ada yang bisa saya bantu? Sedang mencari kado untuk ibunya?" tanya salah seorang pelayan butik dengan ramah dan sopan.

"Bukan. Untuk seseorang yang sangat spesial," jawab Zenix singkat dengan suara beratnya yang datar.

Zenix mulai berjalan mengitari gantungan baju. Dengan jemarinya yang terampil, ia memilih beberapa macam pakaian gamis dengan bahan katun premium dan sutra halus yang terasa sangat sejuk jika disentuh ia tahu betul cuaca di tepi Hutan Sangker sering berubah-ubah. Zenix memilih beberapa warna yang menurutnya sangat cocok dengan kulit bersih Anisa: warna hijau lumut yang meneduhkan, biru dongker yang elegan, cokelat susu yang manis, serta warna hitam pekat yang anggun. Tidak lupa, ia juga memadukannya dengan beberapa macam jilbab pasmina dan jilbab instan berbahan premium dengan warna-warna senada.

Bagi Zenix, ini adalah bentuk perhatian nyata darinya. Di tengah gemerlapnya kota yang serba terbuka, ia ingin memberikan hadiah terbaik untuk menjaga kesucian dan keanggunan gadis yang ia sayangi, sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas komitmen cinta mereka.

Setelah menyelesaikan pembayaran untuk beberapa potong gamis mewah tersebut, Zenix menjinjing tas belanjaan kertas besar yang tebal. Langkahnya kemudian beralih menuju toko sepatu dan sandal kulit terkenal yang berada tidak jauh dari butik pakaian.

Di dalam toko tersebut, Zenix berdiri di depan deretan sandal wanita dengan model kasual yang datar namun memiliki bantalan yang empuk dan kokoh. Ia tahu bahwa jalanan di Desa Beringin Sakti dipenuhi batu-batu tajam dan tanah berlumpur, sehingga Anisa membutuhkan alas kaki yang nyaman untuk aktivitas hariannya menyiram tanaman herbal atau membantu warga desa.

Zenix mengambil sepasang sandal kulit berwarna krem. Ia membolak-balikkan sandal itu di tangannya dengan dahi berkerut, tampak berpikir keras. Jujur saja, Zenix tidak tahu secara pasti berapa ukuran kaki Anisa karena mereka belum pernah membahas hal sedetail itu. Namun, dengan mengandalkan ingatan visualnya saat melihat kaki mungil Anisa yang melangkah di atas lantai bambu gubuknya beberapa bulan lalu, Zenix mulai mengira-ngira ukuran yang pas.

"Mas, ukuran berapa yang dicari?" tanya pelayan toko sepatu.

"Ukurannya kecil... sekitar nomor tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan. Berikan saya model yang paling kuat jahitannya dan empuk bantalannya," ujar Zenix pasti. Setelah draf sandal terpilih, ia segera membayarnya dan memasukkannya ke dalam tas belanjaan.

Tepat saat Zenix keluar dari toko sepatu, Silvi sudah menunggunya di koridor dengan menjinjing tiga tas belanjaan berisi kosmetik dan pakaian baru. Namun, perhatian Silvi langsung tersedot sepenuhnya pada tas belanjaan kertas besar yang dipegang oleh abangnya.

Silvi mengernyitkan dahi, matanya mengintip ke dalam tas belanjaan Zenix. Rasa penasarannya mendadak membubung tinggi ke langit saat melihat lipatan kain-kain panjang bermotif gamis muslimah dan sekotak sandal wanita berdesain bersahaja.

"Lho, Abang... itu tas belanjaan isinya pakaian wanita, kan? Tapi kok... panjang-panjang kayak gamis? Terus itu sandal buat siapa, Bang? Enggak mungkin buat Mama, kan? Mama kan seleranya gaun malam atau kebaya modern," selidik Silvi dengan mata yang menyipit kepo, menatap wajah abangnya dengan penuh selubung tanda tanya.

Zenix hanya melirik adiknya sekilas, lalu kembali menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik ketenangan yang dingin. "Bukan buat Mama. Sudah, jangan banyak tanya. Nanti Abang jelaskan di dalam mobil," jawab Zenix seadanya, membalikkan badan dan menuntun Silvi untuk berjalan menuju pintu keluar mall.

Namun, perjalanan belanja Zenix ternyata belum berakhir sepenuhnya. Sebelum menuju ke area parkir basement, Zenix membelokkan langkah kakinya menuju sebuah gerai toko perhiasan emas dan berlian tertua yang terkenal paling mewah dan mahal di koridor utama lantai dasar mall tersebut.

Silvi yang mengikuti dari belakang hanya bisa melongo heran. "Bang, kita mau ngapain ke toko perhiasan? Abang mau beliin aku anting emas ya?" tebak Silvi manja.

Zenix tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan berkilau tersebut, langsung menghampiri meja kaca etalase tempat memajang deretan cincin pernikahan dan cincin pertunangan eksklusif. Mata tajam Zenix menyisir jajaran perhiasan berkilau tersebut, hingga pandangannya berhenti pada sebuah cincin emas putih murni berkadar tinggi dengan desain yang sangat simpel, elegan, namun dipercantik dengan sebutir berlian kecil bermata tunggal (solitaire) yang bersinar sangat jernih di bagian tengahnya.

Desain cincin itu sangat anggun, tidak mencolok, namun memancarkan kemewahan yang sunyi sangat mencerminkan kepribadian Anisa yang tenang dan bercahaya. Zenix berniat membeli cincin ini untuk mengikat janji suci cinta mereka. Ia ingin perhiasan ini melingkar di jari manis Anisa, sebagai simbol kepemilikan dan pengingat yang abadi bahwa di tengah jarak ribuan kilometer yang memisahkan kota dan desa, ada seorang pria bernama Zenix Dirgantara yang selalu setia menjaga hatinya dan akan segera datang untuk menjemputnya.

"Saya ambil cincin yang ini. Tolong siapkan kotak beludru merah terbaik," perintah Zenix kepada sang penguji perhiasan dengan nada suara yang mantap tanpa ragu sedikit pun. Tangan kanannya mengeluarkan kartu kredit hitamnya lagi untuk digesek di mesin pembayaran.

Melihat seluruh rangkaian aksi belanja abangnya siang itu mulai dari memborong baju gamis muslimah, mengira-ngira ukuran sandal flat, hingga membeli sebuah cincin emas putih yang sangat romantis isi pikiran Silvia benar-benar berputar hebat. Jujur saja, dari lubuk hatinya yang paling dalam, Silvi merasa sangat bingung sekaligus terkejut luar biasa.

Sebagai adik kandung yang tumbuh bersama Zenix sejak kecil, Silvi tahu betul bagaimana tabiat dingin abangnya. Zenix Dirgantara adalah sosok pria yang anti sosial terhadap wanita, tidak pernah pacaran, dan selalu menganggap kehadiran gadis-gadis kota yang centil sebagai gangguan yang menjengkelkan. Namun hari ini, melihat bukti fisik di depan matanya, Silvi mulai mengira-ngira dengan tingkat kepastian sembilan puluh sembilan persen. Abang kandung dan pelindungnya ini ternyata sudah memiliki seorang kekasih!

Rasa penasaran yang teramat sangat mulai menggerogoti benak remaja Silvi. Di dalam pikirannya yang polos namun protektif, Silvi mulai membayangkan dan mereka-reka seperti apa kiranya sosok gadis yang telah berhasil meluluhkan hati sedingin es milik abangnya itu.

"Kekasih Abang itu orangnya kayak gimana, ya?" gumam Silvi di dalam hatinya dengan dahi yang berkerut dalam, sembari menatap punggung tegap Zenix yang sedang menunggu pembungkusan cincin. "Apakah gadis itu baik, tulus, dan penyayang? Kalau semisal watak gadis itu jahat, angkuh, dan bermuka dua seperti nenek sihir yang melabrak aku di lantai dua tadi... amit-amit jabang bayi! Aku bersumpah demi apa pun tidak akan pernah sudi mengakui gadis itu sebagai kakak iparku! Aku sendiri yang akan pasang badan di depan Papa dan Mama untuk mengacaukan hubungan mereka dan memisahkan Abang dari cewek itu!"

Silvi mengepalkan tangan kecilnya dengan tekad yang bulat. Baginya, Zenix adalah abang terbaik di dunia yang layak mendapatkan wanita terbaik pula, bukan gadis toxic yang hanya mengincar harta atau popularitas semata. Namun, Silvi sama sekali belum menyadari bahwa sosok wanita yang dibelikan gamis dan cincin oleh Zenix saat ini adalah seorang gadis suci penghuni tepi hutan mistis, yang kelembutan doa subuhnya justru telah menyelamatkan jiwa Zenix dari kehancuran dunia nyata. Rahasia besar itu kini tersimpan rapat di dalam saku jaket kulit hitam Zenix, siap untuk dibuka saat roda mobil SUV baru mereka mulai berputar menuju petualangan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!