Noir Steel awalnya seorang pedagang kaya, sayangnya beberapa tahun berikutnya perusahaannya mengalami kebangkrutan hingga akhirnya hidup sebagai gelandangan, demi melunasi hutang ia akhirnya menjadi seorang petualang. Sayangnya kehidupan itu tidak lebih baik dari yang ia duga, dia harus menghadapi komandan raja iblis dan bertarung melawan musuh-musuh kuat dengan caranya sendiri yang terbilang licik dan pengecut.
Ini adalah cerita seorang petualang lemah yang harus bertahan hidup di dunia kejam dengan anggota party tidak berguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 : Pertemuan Kembali
Kami berdiam diri di dalam gua selagi mengeringkan pakaian kami, Nene tampak merajuk akan sesuatu.
"Namira kau juga, kalian dada besar adalah musuhku!"
Aku hanya menanggapinya dengan helaan panjang.
"Hey Noir, kamu tidak coba menggrepe dadaku?"
"Aku pilih-pilih juga," balasku pada Lifa yang cemberut.
Mengabaikan mereka, aku memikirkan soal makhluk yang menyerang kami. Itu jelas bukan sesuatu yang bisa dilawan oleh manusia terlebih ukuran dan kekuatannya juga.
Aku berkata pada Tisa yang sedang mengibas-ngibaskan pakaiannya di depan api unggun.
"Apa makhluk itu bisa terluka dengan tebasanmu?'
"Aku meragukannya tapi jika diperlukan aku akan mencobanya walaupun beberapa kali."
Dia memiliki semangat pejuang. Di sisi lain Nene telah mengenakan kembali pakaian pendetanya.
"Apapun makhluk yang menyerang kita, sebaiknya kita menghindarinya saja."
Kami semua setuju dengannya, setelah pakaian kami kering kami mulai kembali melanjutkan perjalanan. Dari sini seharusnya kami tinggal hanya berjalan ke selatan, walau jalannya sendiri memutar. Itu lebih baik.
"Noir, dari atas."
Tepat saat Kaguya memperingati hal demikian, aku langsung menebas satu goblin yang muncul secara mendadak.
Tak lama kemudian teman-temannya yang lain bermunculan, mereka mengenakan pakaian dari kulit binatang serta senjata yang dibuat dari bebatuan, bisa berupa palu, tombak dan beberapa juga membawa pedang perunggu.
"Aku yang lebih dulu maju!" Tisa mengutarakan hal demikian selagi mengayunkan pedangnya, bilah yang digunakannya membelah daging goblin dengan cepat, perpindahan dari goblin satu ke yang lainnya begitu cepat sehingga tekniknya benar-benar akurat, di sisi lain Lifa telah merapalkan sihir api lalu menembakannya dengan baik.
Nene menggunakan tongkatnya untuk mencegah goblin lain untuk menyerang Namira.
"Maaf aku tidak bisa terlalu membantu."
"Jangan khawatirkan hal itu, kami sudah berterima kasih karena sudah membawa keretanya."
Namira mengangguk dengan ragu.
Lima goblin telah aku habisi menjadi korban terakhir kami. Aku menyarungkan kembali pedangku dan meminta semua orang untuk kembali berjalan.
Aku menunjukan kewaspadaan saat sesuatu keluar dari semak-semak, kami terkejut bahwa yang di sana bukanlah goblin melainkan Vira yang telah babak belur.
"Ah jangan bilang dia sudah dilecehkan oleh goblin."
"Kau diam saja."
"Kalian semua ada di sini juga."
Aku segera menangkap Vira dalam pelukanku.
"Noir lihat itu."
Aku mengikuti perkataan Tisa dan melihat puluhan goblin telah terbunuh. Vira jelas menghadapinya sendirian.
Dia sudah pingsan jadi tidak ada kesempatan untuk bertanya lebih jauh, aku hanya menggendongnya di punggungku setelah Nene merapalkan sihir penyembuhan.
Untuk menutupi kelemahan Nene yang hanya bisa menggunakan sihir satu jam sekali, dia juga membawa beberapa ramuan potion penyembuh. Dibandingkan kami dia orang yang lebih banyak berkorban soal uang.
"Tisa, kamu pimpin jalannya."
"Baik."
"Lifa tetap awasi belakang kita."
"Oke."
Sebuah teriakan terdengar menggelegar menerbangkan burung-burung ke udara, tidak perlu bertanya suara dari siapa itu. Jelas sekali bahwa itu dari raksasa yang kami temui.
Kami memang harus bergerak cepat, setelah meningkatkan kecepatan kami akhirnya sampai di sebuah kota dengan tembok besar mengelilinginya.
Di depannya tidak dijaga oleh penjaga seperti biasanya, melainkan seorang pendeta sama seperti yang dikenakan Vira.
Melihat kemunculan kami mereka segera terburu-buru mendekat untuk memeriksa keadaan Vira.
"Kami bertemunya saat perjalanan kemari."
"Tolong bawa dia, aku akan menunjukan jalannya."
Kami hanya mengikuti salah satu dari mereka dengan cepat.