NovelToon NovelToon
Rintihan Hati Nadira

Rintihan Hati Nadira

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:130.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amallia

Kehidupan Nadira semakin menderita sejak kejadian malam itu. Mulai dirinya yang ternyata hamil di luar nikah, di keluarkan dari kampus secara tidak hormat. Semua orang mengecapnya sebagai wanita tidak baik. Pupus sudah impiannya selama ini untuk bisa lulus kuliah dan bekerja kantoran. Yang ada dirinya harus hidup penuh penderitaan. Leon yang merupakan ayah dari anak yang di kandungnya pun tak mau bertanggung jawab.

Hingga pada akhirnya kedua orang tua Leon tahu kelakuan anaknya. Mereka terpaksa menikahkan Leon dengan Nadira. Setelah menikah pun kehidupan Nadira jauh lebih menderita dari sebelumnya, karena Leon memperlakukannya dengan buruk.

Suatu hari mantan kekasih Leon yang bernama Vanesa meminta kembali menjalin hubungan dengannya. Hampir setiap hari Leon dan Vanesa bermalam bersama di rumah yang sama dengan Nadira. Hati Nadira semakin sakit saat melihat kemesraan mereka. Biar bagaimana pun Leon adalah suaminya dan tak pantas berselingkuh di depan matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode.30

"Sayang, kamu kenapa? Mas perhatikan sejak tadi diam saja." Leon membelai rambut panjang istrinya.

"Nggak apa-apa," jawabnya ketus.

"Tapi ...," ucap Leon tak jadi karena mendengar dering ponsel miliknya.

Leon mengambil ponsel miliknya yang ada diatas nakas. Ia melihat ada nomor asing yang menghubunginya. Dengan cepat ia mengangkat panggilan telepon itu.

📞"Hallo, ini siapa ya?" tanya Leon.

📞"Maaf, Pak. Ini saya Selvi asisten produksi. Saya tadi malam mengirimkan sampel baju produksi kita tapi Bapak belum menilainya," ucap Selvi dari seberang sana.

📞"Kenapa nomor kamu ganti?"

📞"Maaf, Pak. Ponsel saya hilang. Sekali lagi maafkan saya. Saya tunggu penilaian Bapak secepatnya."

📞"Baiklah," ucap Leon lalu mematikan panggilan telepon secara sepihak.

Nadira melirik suaminya tanda cemburu. "Udah teleponnya? Mesra banget kayaknya. Kok mendadak gerah ya." Nadira mengibas-ngibaskan tangannya.

Leon menatap istrinya heran. "Kamu kenapa sayang?"

"Sepertinya aku ngidam berondong deh. Nggak apa-apa kan kalau aku jalan sama berondong?"

"Jaga perkataan kamu Nadira. Selamanya kamu akan selalu menjadi istriku." Leon terlihat emosi, tetapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia tak mau terjadi perselisihan dengan istrinya karena hal sepele.

"Habisnya kamu juga pakai chattingan sama perempuan lain, udah gitu pakai kirim kirim baju sexy segala."

"Apa maksudmu?"

"Nggak usah pura-pura deh."

Leon mengecek pesan masuk di ponselnya untuk memastikan apa maksud dari perkataan istrinya. Lagian ia tak merasa berselingkuh. Sebuah senyuman terlihat jelas di sudut bibirnya. Sekarang ia tahu apa yang membuat istrinya merajuk.

"Aduduh ternyata istriku cemburu." Leon menaruh kedua tangannya di pinggang istrinya. Posisi Nadira membelakangi suaminya karena memang ia enggan bertatap muka.

"Apaan sih." Nadira mencoba melepaskan pelukannya tetapi Leon malah semakin mempereratnya.

"Sayang, yang mengirim pesan baju sexy itu Selvi karyawan Mas. Tadi juga orangnya telepon. Kamu nggak usah cemburu gitu dong. Lagian kamu juga tahu kalau cinta Mas hanya untuk kamu dan anak kita," jelas Leon memberikan pengertian.

"Apa itu benar?" Nadira memutar posisi tubuhnya sehingga kini berhadapan dengan suaminya.

"Benar, Sayang," ucap Leon lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya.

Nadira langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya karena merasa malu. Ia sudah ketahuan cemburu. Leon merasa gemas sekaligus senang. Jika istrinya cemburu berarti tandanya cinta.

....

....

Sepasang suami istri yang tak lain Nadira dan Leon sedang berada di pusat perbelanjaan. Mereka bergandengan tangan seolah tak mau lepas. Setiap orang yang berpapasan dengan mereka merasa iri melihat pasangan yang sangat serasi itu.

Leon mengajak istrinya memasuki toko pakaian. Mereka akan berbelanja pakaian untuk keluarga. Nadira juga membelikan pakaian untuk Bu Ela dan Ningsih.

"Sayang, kamu hanya membeli itu saja?" Leon menunjuk beberapa stel pakaian yang sedang dipegang oleh istrinya.

"Iya, Mas. Memangnya kenapa? Ini kebanyakan ya?"

"Tidak, sayang. Justru itu sangat sedikit. Kita bisa membeli sekitar dua atau tiga lusin saja," ujar Leon memberikan saran.

Nadira menggelengkan kepalanya. "Jangan boros-boros, Mas. Lagian belum tentu dipakai semua. Aku cuma beli sedikit tapi bagus dan terlihat elegan."

"Kamu memang berbeda dengan wanita wanita diluar sana." Leon mengacak pucuk kepala istrinya. Merasa bangga karena istrinya hemat, sama sekali tak suka menghambur-hamburkan uang. Walaupun dikasih kartu black card, tetapi istrinya masih saja berhemat.

"Sekarang kita ke toko tas yuk! Aku mau beliin Ningsih tas." Nadira menggandeng tangan suaminya lalu bergegas pergi.

Menjelang malam Nadira dan Leon kembali ke hotel. Mereka merasa kelelahan seharian ini berkeliling dan berbelanja. Leon langsung berbaring diatas kasur, sedangkan Nadira memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena sudah merasa lengket.

Beberapa menit kemudian, Nadira sudah selesai membersihkan diri. Ia menghampiri suaminya dan ternyata suaminya tertidur.

"Astaga Mas Leon kok bisa tertidur dengan kondisi seperti ini." Nadira menggeleng-gelengkan kepalanya lalu ia mencoba membangunkan suaminya.

"Emmm lima menit lagi sayang. Mas ngantuk banget nih," ucap Leon tanpa membuka kedua matanya.

"Mandi dulu, Mas. Pakaian Mas kotor loh, badan juga lengket. Jangan jorok ih, nanti nggak dikasih jatah."

Seketika Leon beranjak dari atas tempat tidur. "Oke Mas mandi dulu. Nanti Mas minta jatah, tapi kali ini kamu yang memimpin permainan." Leon mengecup singkat pipi istrinya lalu bergegas pergi menuju ke kamar mandi.

Nadira masih berdiri di tempatnya mencerna perkataan suaminya. Memimpin permainan? Ah itu sangat memalukan. Nadira tak pernah berpikir akan melakukannya. Lagian ia tak tahu bagaimana cara memulainya.

....

....

Nadira dan Leon sudah pulang bulan madu. Mereka memang hanya pergi tiga hari saja mengingat pekerjaan Leon di kantor sedang banyak-banyaknya. Kepulangan mereka disambut hangat oleh Asila. Terlihat bocah mungil itu yang kini sedang berdiri di depan rumah.

"Mommy, Daddy, Cila kangen." Asila berlari ke arah kedua orang tuanya yang baru keluar dari mobil.

Leon langsung memeluk Asila lalu menggendongnya. Mencium gemas pipi gembul anaknya.

"Sayangnya Daddy makin cantik aja nih," ucap Leon sambil memperhatikan wajah putrinya.

"Daddy juga danteng," ucap Asila dan spontan membuat Leon atau pun Nadira tertawa.

"Sayang, kamu kok tahu lelaki ganteng. Memangnya siapa yang ngasih tahu?" tanya Nadira.

"Em itu loh di tv ada olang danteng," ucap Asila.

"Jadi Sila tahu orang ganteng dari tv?"

"Betul Mommy," ucap Asila.

"Sepertinya mulai sekarang anak kita jangan dibiarkan menonton yang aneh-aneh, Mas," ucap Nadira.

"Nggak apa-apa kali, lagian anak kita jadi tahu orang ganteng," ucap Leon.

Nadira mencubit pinggang suaminya dan tentu Leon langsung mengaduh kesakitan.

"Aduh iya maaf, sayang. Nanti Mas nggak akan izinkan Sila menonton tv lagi."

Bu Salma menyambut anak dan menantunya. Bahkan sudah menyiapkan minuman dari beberapa menit yang lalu. Bu Salma mengajak mereka untuk duduk sambil mengobrol santai.

"Nadira, Leon, silakan minum dulu! Mungkin kalian haus setelah menempuh perjalanan," ucap Bu Salma ramah.

"Eh iya, Mah. Maaf sudah merepotkan." Nadira mengambil gelas yang berada di depannya lalu meneguk es teh buatan mertuanya.

"Mamah tidak merasa di repotkan sama sekali, Nak. Oh iya, bagaimana bulan madu kalian? Sukses?" Bu Salma menatap anak dan menantunya secara bergantian.

"Sukses dong, Mah," ucap Leon penuh percaya diri. Sedangkan Nadira memukul pelan lengan suaminya karena malu.

"Ah mamah jadi nggak sabar ingin cucu lagi."

"Doakan saja, Mah. Semoga secepatnya Nadira hamil," ucap Nadira.

"Mamah selalu mendoakan yang terbaik untuk pernikahan kalian."

Obrolan mereka terhenti karena rengekan Asila. Bocah kecil itu tiba-tiba merengek ingin tidur siang. Leon membawa Asila ke kamarnya. Begitu juga Nadira yang mengikuti suaminya. Namun, sebelum itu Nadira berpamitan dulu kepada Bu Salma.

1
nisacantik
ko ga terusan kan lucu tentang arsila
Adi Iyem
y banyak benar , demam bayar 50 juta
muhammad affar
jgn bikin lupa ingatan Thor
Sri Fauziahanwar
wihhh...kayakny cila jodoh doni yg tertunda wkwkwkwk....om danteng cuma punya cila yg lain nda boleh!!
Lee Mba Young
kl nadira minta maaf makin besar kepala si Leon udah bohong ma istri gk minta maaf malah istri nya suruh minta maaf ma arini. Gila tu Leon pling clbk ntar itu apa lagi ayah arini ngomong nitip krn sebatang Kara, hai arini bukan bayi kl sebatang Kara gk bisa hidup toh sdh lewat gadis jd bisa hidup sendiri lah ngapain malah wasiat nitip in ma mantan yg sdh punya kluarga gk etis apalagi Leon smp gk jujur ma nadira.
hrs Leon yg minta maaf ma nadira krn bohong
Lee Mba Young
jng mudah luluh nadira lihat suamimu beberapa malam keluar pasti nemui arini dan sudah bohong pake HP di kunci jng lngsung minta maaf tp cek dulu HP suamimu trus yg teges bisa aja itu cm alasan Leon mnjauh kan arini tp ntar tiba tiba nemui. gk mungkin arini gk punya maksud lihat tiba tiba ayah arini minta Leon menjaga trus arini mau jd OG semua pasti punya niat lo. jng mudah percaya apalagi Leon sdh berani bhong itu sdh jd tanda Tanya besar. sekarang pelakor banyak yg macak polos.
Siti Aisyah Aisyah
lnjut up lg thor
Ama: hehe besok
total 1 replies
Sri Fauziahanwar
sabar leon wkwkwkwk...
Azrilali Ali
akhirnya bertemu jg..
Amallia 2
baik
Amallia 3
mantap
Ama
bagus
Azrilali Ali
ceritanya bagus,semangat bt author
Ama: makasih kka
total 1 replies
Azrilali Ali
sabar ya nadira
Azrilali Ali
jahat bgt Dion,
Putri Chaniago
moga diakhir cerita Nadira pisah dari Leon ,
g suka bila lelaki yg sudah selingkuh tetap diterima istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!