Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Meminta Maaf?!
Afkha terbangun lebih awal pagi ini, dia tersenyum saat mendapati istrinya yang masih berada dalam pelukannya itu. Rasanya senang sekali bisa melewatkan malam indah semalam bersama dengan istrinya ini. Afkha mengelus kepala Deandra, merapikan rambutnya yang menutupi wajah istrinya dan mengganggu tidurnya.
"Aku mencintaimu" bisik Afkha di telinga Deandra, lalu dia mengecup pipi istrinya sebelum dia turun dari atas tempat tidur.
Suara pintu ruang ganti yang tertutup membuat Deandra langsung membuka matanya. Dia mengehembuskan nafas pelan, mengingat kejadian semalam sekarang malah membuatnya gelisah. Tentang surat perjanjian diantara dirinya dan suaminya yang masih belum di ketahui akan seperti apa akhir dari semua ini.
"Aku memang bahagia dengan ungkapan cintanya dan telah memberikan mahkotaku padanya. Tapi sekarang aku malah bingung sendiri, bagaimana kelanjutan pernikahan ini setelah ini"
Hah, beberapa kali Deandra menghembuskan nafas kasar. Dia bangun dan terduduk di atas tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos itu. Masih memikirkan hal yang sama, tentang perjanjian bersama dengan suaminya ini.
"Apa aku tanyakan saja ya? Mungkin sebaiknya aku coba tanyakan saja sama dia nanti. Lagian terus berpikir seperti ini sementara aku tidak menanyakannya. Bagaimana aku bisa tahu akan seperti apa akhirnya ini"
Deandra turun dari atas tempat tidur dengan perlahan, bagian bawahnya masih terlalu sakit hingga dia bergerak dengan pelan. Menyambar piyama handuk yang tersampir di sofa. Lalu segera memakainya. Deandra berjalan ke ruang ganti, menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
"Mungkin gak ya kalau dia lakukan ini benar-benar karena cinta, bukan karena hal lain"
Satu kegelisahan dan pikiran negatif memenuhi pikirannya, maka pikirian negatif lainnya langsung bermunculan. Entah harus bagaimana sekarang, karena Deandra yang sedang gelisah dan terlalu memikirkan tentang kedepannya dari pernikahannya dengan Afkha ini.
"Sayang, lagi mikirin apa hm?" Afkha yang tiba-tiba muncul dan memeluk Deandra dari belakang. Menyandarkan dagunya di puncak kepala Deandra yang memang tinggi tubuhnya hanya sebatas dada Afkha saja.
"Sayang, kamu sudah selesai mandinya. Aku juga mau mandi dulu" ucap Deandra dengan tersenyum, namun kali ini senyumannya terlihat cukup samar.
Afkha membalikan tubuh istrinya, menatapnya dengan lekat. "Kau kenapa? Apa ada masalah?"
Deandra menggeleng kecil, dia tersenyum pada suaminya itu. Tangannya mengelus pipi Afkha yang basah dan terasa dingin itu. "Aku tidak papa, hanya lelah saja"
Mendengar itu Afkha langsung tersenyum, karena memang dirinya dan Deandra semalam bermain cukup lama. Afkha mengelus pipi istrinya dengan lembut, memberikan kecupan selamat pagi di kedua pipinya dan juga bibirnya.
"Sayang, aku blum mandi ih. Kamu malah sudah cium-cium kayak gini"
Afkha hanya tersenyum melihat istrinya yang sedikit cemberut dan menjauhkan dirinya dari Afkha karena alasan dia yang belum mandi. "Karena kamu belum mandi, apa mau kita ulang yang semalam? Biar kamu sekalian saja mandinya"
Deandra memukul lengan suaminya itu, merasa malu juga jika dia mengingat tentang kejadian semalam. Bagaimana dirinya yang mendesah dengan begitu memalukan. Tidak memikirkan apapun pada saat keduanya sedang menyatukan tubuh mereka. Tapi sekarang justru dia yang malu sendiri ketika mengingat tentang kejadian tadi malam.
"Aku mandi dulu, jangan aneh-aneh ya. Aku masih sakit nih gara-gara kamu semalam" ucap Deandra dengan cemberut.
Afkha tertawa lucu mendengar ucapan istrinya dan juga wajah Deandra yang cemberut seperti itu pasti selalu membuat Afkha gemas. "Yaudah kamu mandi sana dan siap-siap ya. Kita akan pergi jalan-jalan hari ini"
Wajah cemberut Deandra langsung berbinar mendengar ucapan suaminya barusan. Deandra yang memang sangat jenuh terus berada di rumah dan ingin sesekali jalan-jalan keluar rumah. Tapi suaminya itu selalu tidak mengizinkan, jadi Deandra tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa menunggu Afkha mengizinknnya atau dia yang mengajak duluan untuk pergi.
"Beneran ya? Aku mau ke Green Sakura juga" ucap Deandra dengan antusias.
Afkha mengacak rambut istrinya itu dengan gemas. "Iya Sayang, nanti kita kesana juga. Sekarang kamu mandi dan siap-siap dulu"
"Oke"
Deandra langsung melesat ke kamar mandi, bahkan sampai dia hampir terjatuh karena kakinya yang terselimpet. Membuat Afkha menggeleng heran dengan kelakuan istrinya itu yang masih saja menggemaskan seperti anak kecil, padahal usianya sudah dewasa.
"Bagaimana aku tidak jatuh cinta padanya, dia begitu menggemaskan" gumam Afkha.
########
Deandra yang benar-benar antusias ketika suaminya mengajaknya pergi. Tentu saja karena dia selalu merasa bosan berdiam diri di rumah. Apalagi Resa yang sekarang sudah mempunyai pengasuhnya sendiri, jadi Deandra tidak mempunyai banyak kegiatan saat dia berada di rumah, selain memeriksa Sandra dan merawatnya.
"Seneng banget bisa keluar rumah"
Deandra langsung menoleh pada suaminya dan tersenyum. Dia memakaikan Afkha topi, karena takut ada yang mengenali mereka saat pergi ke tempat umum seperti ini yang ramai orang-orang.
"Iya dong Sayang, kan udah lama bangat aku gak jalan-jalan kayak gini" ucap Deandra sambil merangkul lengan suaminya.
"Kenapa si aku harus pake topi kayak gini. Sayang, wajah aku sampai hampir tidak kelihatan begini" Afkha yang tidak merasa nyaman dengan topi yang berada di kepalanya itu.
"Udah Sayang, kamu pakai saja. Nanti kalau sampai ada yang kenal sama kamu bagaimana?" Ucap Deandra yang membenarkan posisi topi yang dipakai oleh suaminya itu.
"Memangnya kenapa kalau ada yang kenal? Toh kita suami istri dan tidak ada larangan suami istri jalan bersama 'kan?" Ucap Afkha.
Aduh, dia ini memang tidak mengerti ya. Bodoh sekali.
"Tapi 'kan pernikahan kita ini tidak ada yang tahu. Mereka tahunya kamu itu suaminya Nyonya Sandra" ucap Deandra pelan.
Afkha terdiam, dia langsung berhenti melangkah ketika mendengar ucapan istrinya barusan. Menarik tangan Deandra yang akan terus melangkah hingga istrinya itu jatuh ke dalam pelukannya. Afkha yang langsung memeluknya dari belakang dengan erat. Tangannya melingkar di dada dengan kepalanya yang berada di bahu Denadra, pipi mereka menempel tanpa celah.
Deandra masih terlalu bingung dan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Afkha kali ini. Sampai dia sadar dengan tatapan beberapa orang yang lewat disana, membuat Deandra langsung mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Sayang, lepas ih. Malu banyak orang yang lihat" Lagian dia ini kenapa si sampai harus memelukku di tempat ramai seperti ini. Mau pamer juga gak kayak gini juga.
"Maafkan aku"
Hanya itu yang terdengar begitu lirih di telinga Deandra. Membuat dia langsung terdiam.
Apa? Kenapa meminta maaf, kenapa juga aku harus sedih mendengar permintaan maafnya.
Bersambung