Menjadi sarjana diusia yang masih muda, tentu impian semua wanita, begitu pula dengan Alesya Faihanah, seorang wanita muslimah yang bersungguh-sungguh menghabiskan waktu mudanya untuk meraih impiannya.
Ketika Alesya sedang mempersiapkan baju toga entah mengapa ia harus memakai baju pengantin secara tiba-tiba. Apakah ini menjadi TAKDIR TERINDAH bagi Alesya?, yaitu menjadi seorang mahasiswi sekaligus seorang istri.
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
"Teruntuk kalian yang sedang membaca, jadilah pembaca yang aktif ya, aktif beri bintang dan beri komentar, Percayalah jempol kalian adalah suntikan semangat bagi saya sebagai penulis pemula yang masih belajar merangkai cerita"
{Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yak🙏}
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ukhfira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan Yang Lengkap
Setiap orang menginginkan hidup bahagia
Tetapi tidak semua orang hidupnya bahagia
Jika hidupmu sedang bahagia bersyukurlah
Karena dirimu salah satu orang yang beruntung
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Kedua mata Alesya yang terpenjam sejak 1 jam yang lalu akhirnya terbuka juga dengan perlahan. Diperhatikannya seluruh sudut ruangan yang serba berwarna putih aroma obat-obatan tercium menyengat di hidungnya. Ini rumah sakit. Mengapa Alesya ada di rumah sakit?. Setelah mencoba menfungsikan otaknya kembali Alesya tersadar bahwa tadi dia pingsan dan Ziva yang mungkin membawanya.
Afnan yang dari tadi berjalan mondar mandir dengan rasa cemas yang melekat. Melihat Alesya sudah sadar dia langsung menghampirinya.
"Alhamdulillah kamu sudah bangun Einy, aku khawatir sekali sama kamu, sama bayi kembar kita."
Alesya teringat akan buah hatinya yang sedang berada didalam kandungannya. Tadi dia pingsan karena merasakan sakit di perutnya. Apakah bayi kembarnya saat ini baik-baik saja?.
"Alby, bayi kembar kita nggak kenapa-kenapa kan?, mereka baik-baik saja kan di kandungan aku?" Tanya Alesya sangat panik.
Afnan menenangkannya. Membelai kepalanya dengan lembut. "Kamu yang tenang ya, alhamdulillah bayi kembar kita baik-baik saja."
Alesya dapat bernapas sangat lega karena bayi kembarnya tidak kenapa-napa dan baik-baik saja. Alesya berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak akan mengulangi kesalahan fatal ini yang akan mencelakai bayi kembarnya yang harus dia jaga sampai tiba waktunya dilahirkan.
Pintu ruangan terbuka menampilkan dokter yang didampingi oleh suster. Mereka melangkah menghampiri Alesya yang terbaring di branker pasien.
"Selamat siang Ibu Alesya."
"Siang Dokter."
"Bagaimana kondisi Ibu Alesya, apa masih terasa sakit perutnya?"
Alesya menggeleng pelan. Dia bersyukur karena perutnya sudah tidak terasa kram serta melilit lagi.
"Syukurlah kalau begitu, sebaiknya Ibu Alesya jaga kesehatannya ya, Pak Afnan tolong dijaga kondisi istrinya jangan biarkan dia capek apalagi banyak pikiran, ini bisa berdampak kepada bayi kembarnya yang masih berada dalam kandungannya Ibu Alesya."
Nasihat dari sang Dokter benar-benar didengarkan dengan baik oleh Alesya serta Afnan. "In syaa Allah Dokter saya akan menjaga kesehatan istri beserta bayi kembar kami."
"Baiklah kalau begitu Ibu Alesya sudah boleh pulang, saya sudah memberikan suntikan pengkuat janin sehingga Ibu Alesya tidak perlu khawatir lagi ya, dan jangan lupa obatnya nanti ditebus ya?"
Alesya dan Afnan mengangguk dengan sopan kepada dokter dan tak lupa saling memberi ucapan terima kasih. Usai Dokter dan Suster keluar dari ruangannya tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan anggota keluarganya. Terutama Ziva yang ternyata menjemput mami dan papi serta ayah dan bunda Alesya.
Alesya dan Afnan sama-sama terkejut melihat anggota keluarga mereka sedang mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Izma dan Aiza dengan kompaknya menghampiri Alesya dan menanyakan keadaannya saat ini. Alesya berisyarat bahwa dirinya serta bayi kembarnya baik-baik saja.
"Zi?, kamu yang memberitahu Mami, Papi dan Ayah, Bunda?." Tanya Afnan dengan heran.
Ziva menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan sang abang yang dibuatnya geleng-geleng kepala. "Iya Bang Af, Zizi panik takut Kak Al kenapa-kenapa, makanya Zizi jemput Mami, papi dan Ayah Bundanya Kak Al."
"Lain kali jangan begitu ya Zi, kasihan Mami, Papi, Ayah, Bunda juga, mereka jadi panik begini kan."
Ziva tertunduk bersalah Karena telah membuat kedua orang tuanya beserta kedua orang tua Alesya panik setelah mendengar kabar bahwa Alesya masuk rumah sakit.
"Tidak apa-apa Afnan, wajar jika Ziva khawatir dengan keadaan Lesya." Ucap Ahyar yang sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
Bunda mengangguk setuju akan ucapan suaminya. "Iya Nak Afnan, justru kami ingin berterima kasih sama Nak Ziva karena sudah memberitahu kami tentang keadaan Alesya."
Ziva tersenyum ramah kepada Ahyar beserta Aiza lantaran tidak menyalahkannya seperti abangnya yang menyalahkan dirinya.
"Ayah, Bunda, Mami, Papi nggak usah khawatir ya, cucu-cucu kalian baik-baik saja kok, mereka anak-anak yang kuat." Ucap Alesya sambil mengelus perutnya dengan penuh sayang.
"Tapi kenapa bisa kamu masuk rumah sakit Sayang?, apa yang terjadi?." Tanya Aiza ingin tahu penyebab sang putri bungsunya harus dilarikan ke rumah sakit.
Alesya ragu untuk menceritakan sebab musabab dirinya yang mendadak masuk rumah sakit. Tetapi tidak mungkin juga Alesya mengabaikan pertanyaan bundanya yang begitu mengkhawatirkannya.
"Jadi begini Bun, tadi aku ke kampus untuk ketemu sama Dosen pembimbing tapi beliau nggak hadir, sampai aku menunggu lama dan akhirnya habis sholat dzuhur perutku sakit dan aku pingsan alhamdulillahnya ada Ziva yang bawa aku ke rumah sakit."
Afnan mendengus kesal setelah mengetahui penyebab istrinya harus dilarikan ke rumah sakit akibat menunggu dosen PHP. Drama lama yang sudah mendarah daging di dunia perkampusan Indonesia tidak tahu lagi di luar negeri juga sama.
"Lagu lama itu namanya. Nggak kasihan apa sama istriku yang lagi hamil, bayi kembar lagi, sudah Einy kamu konsultasinya sama aku saja, kan aku audah pengalaman mengerjain skripsi."
Seenak jidat saja Afnan bicara. Ocehannya itu justru direspon gelak tawa oleh anggota keluarganya termasuk Alesya yang tidak menyangka, jika suaminya sedang kesal omongannya akan kemana-mana.
"Alesya kenapa kamu nggak cuti saja dulu, supaya kejadian seperti nggak terulang lagi, kami mengkhawatirkan kamu dan bayi kembar kamu Sayang."
Kali ini Izma angkat bicara. Alesya dan Afnan saling bertemu pandang lantaran mendengar pendapat Izma yang menyuruh Alesya untuk cuti kuliah. Itu tidak mungkin Alesya lakukan dia sudah terlanjur janji kepada dirinya untuk lulus kuliah tepat waktu meskipun sedang keadaan hamil lebih tepatnya ingin membuktikan kepada Mama kandungnya bahwa dirinya bisa lulus kuliah tepat waktu sesuai impian mamanya yang ingin sekali anak-anaknya sukses dalam pendidikannya.
"In syaa Allah aku bisa mengatasi ini semua, Mami nggak usah khawatir ya, soalnya aku ingin lulus kuliah tepat waktu meskipun saat ini lagi hamil, atas izin Allah in syaa Allah aku bisa."
Awalnya Izma ragu namun akhirnya luluh juga karena melihat menantunya yang satu ini semangat sekali dalam menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Sebagai seorang Ibu mertua tentulah Izma akan mendukung setiap keputusan yang diambil oleh menantunya yang sudah dianggap anaknya sendiri.
∆∆∆∆∆
Dikesunyian malam lampu kamar Alesya dan Afnan sudah padam hanya cahaya bulan serta bintang yang menembus tirai jendela kamar mereka sehingga terlihat temaram bukan gelap yang sangat pekat.
Alesya tidak dapat memejamkan kedua matanya. Tugas skripsinya telah menghantui otaknya sehingga membuat dirinya tidak dapat tidur dengan tenang. Jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul 22.10 tetapi apalah daya kedua matanya tidak dapat diajak kompromi. Dari pada berdiam diri seperti patung pancoran, lebih baik Alesya mengerjakan tugas skripsinya.
Dengan ekstra hati-hati dan kewaspadaan lebih. Alesya turun dari ranjangnya sembari terus memperhatikan tubuh Afnan yang sedang terbaring merajut mimpi disisi ranjangnya.
Berhasil. Alesya sudah turun dari ranjangnya kemudian meraih beberapa buku serta laptopnya yang tadinya tergeletak di meja samping ranjangnya. Bagaikan maling di malam hari Alesya berjalan dengan mengendap-ngendap serta menjaga kakinya agar tidak menimbulkan bunyi yang membuat Afnan nantinya terbangun.
Ditutupnya pintu kamar Alesya dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan bunyi khas pintu yang biasa terdengar. Akhirnya Alesya dapat bernapas dengan lega karena kini sudah berada di ruang keluarga dan bisa kembali mengerjakan tugas nya yang minta diselesaikan secepatnya.
Sebelum kembali menghabiskan malam bersama laptop kesayangnya tak lupa Alesya meminta izin kepada bayi kembarnya supaya bisa berkompromi dengannya malam ini.
"Sayang-Sayangnya Umma yang tenang ya Nak, Umma harus melakukan ini semua demi masa depan kalian, dan supaya Mama kandungnya Umma bisa sayang sama Umma lagi bahkan bisa sayang sama kalian juga, karena kalian adalah cucu-cucunya." Ucap Alesya yang dengan sayangnya mengelus-elus perutnya agar bayi kembarnya tetap dalam keadaan tenang.
Sementara di kamar, Afnan membalikkan tubuhnya menghadap ke sisi ranjang Alesya bahkan berniat ingin memeluk istrinya namun ranjangnya kosong. Tangannya mencoba meraba-raba tempat tidur Alesya yang ternyata memang kosong. Afnan panik dan langsung terbangun dari tidurnya. Dia mana Alesya?, mengapa tempat tidurnya kosong?.
Mungkin Alesya sedang ke kamar mandi pikir Afnan yang segera menuju kamar mandi. Tetapi dugaannya salah. Kamar mandi kosong tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Lalu dimana Alesya berada?.
Kepanikan mulai mengguyur dirinya. Rasa kantuk hilang mendadak. Dengan langkah yang cepat Afnan keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Alesya yang ntah sedang ada dimana.
Langkah Afnan terhenti di salah satu ruangan. Yaitu ruang keluarga dimana Alesya sedang fokus mengetik serta membolak-balik lembaran demi lembaran buku yang berada digenggamannya.
"Einy, kamu sedang apa?, ini sudah malam."
Alesya terkejut mendapati Afnan kini sudah duduk disisinya sembari menatapnya dengan serius. Setelah berusaha keluar dari kamarnya dengan penuh kehati-hatian yang ekstra ternyata ketahuan juga oleh Afnan. Alesya hanya dapat menggigit bibir bawahnya sambil menatap Afnan dengan rasa bersalah bagaikan maling yang tertangkap basah habis mencuri di rumah orang.
"Alby, kok bangun?." Tanya Alesya mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sendiri kok disini Einy?, jangan bilang sedang mengerjakan skripsi." Tebak Afnan yang tidak salah lagi.
Alesya menggaruk kepalanya yang tidak gatal hanya untuk menutupi salah tingkahnya karena ketahuan sedang mengerjakan skripsi.
"Einy, tadi siang kamu ingat kan apa kata Dokter, kamu nggak boleh kecapean, tapi ini apa kamu kok malah mengerjakan skripsi sih, sudah ya mengerjankannya besok saja, sekarang kita tidur sudah malam, kasihan bayi kembar kita, mereka harus istirahat."
Alesya menggeleng pelan. Menolak ajakan Afnan untuk kembali ke kamarnya dan tidur kembali. "Aku nhgak bisa tidur Alby, aku kepikiran skripsi, izinkan aku mengerjakan malam ini ya, aku janji kalau aku merasa capek aku akan langsung tidur."
"Aku mohon Alby."
Melihat Alesya yang memohon dengan sangat kepadanya berhasil membuat Afnan tidak tega hingga akhirnya mengizinkan Alesya untuk mengerjakan skripsinya.
"Jazakallah khoiron Alby." Ujar Alesya yang dengan senangnya langsung berhambur kepelukan Afnan. Bahkan sempat mendaratkan ciuman penuh cinta dipipi Afnan.
"Satunya?." Timpal Afnan sambil menunjuk sebelah pipinya yang tak tersapu bibir ranum Alesya.
Alesya langsung menuruti arahan Afnan yang ingin pipi sebelahnya dicium dengan penuh cinta juga.
"Ya sudah kalau begitu, aku bantu kamu ya biar kamu nggak terlalu capek"
Serius?!, Afnan ingin membantunya untuk mengerjakan skripsinya?, wah suatu kebahagian tersendiri bagi Alesya jika suaminya ingin membantunya. Ya setidaknya meringankan bebannya dalam menyelesaikan rumitnya sebuah skripsi.
Kini Afnan sudah seperti orang kantoran yang sibuk dengan laptopnya sementara Alesya bagaikan direktur utama yang dengan santainya tiduran di sofa tepat dibelakang Afnan. Bukan tiduran biasa melainkan sedang membaca buku yang kemudian mendikte Afnan yang sedang mengetik yang berkaitan dengan bahan skripsinya.
Pasangan yang kompak, saling membantu satu sama lain. Siapa yang tidak menginginkan hal itu. Bersyukurnya Alesya disempurnakan agamanya oleh laki-laki seperti Afnan.
∆∆∆∆∆
Selama 3 bulan belakangan ini Alesya disibukkan dengan tanggung jawab terakhirnya yang dibebankan pihak kampus kepadanya sebagai penyandang mahasiswi semester tua. Disela-sela kesibukannya Alesya sampai tidak sadar atau bisa dibilang amnesia dadakan bahwa usia kehamilannya kini sudah memasuki trimester akhir yaitu genap 7 bulan. Dapat dibayangkan bagaimana melebarnya Alesya saat ini. Dia pun sempat tidak percaya diri lantaran ini pertama kali tubuhnya mengembang bagaikan balon yang ditiup. Sebagai seorang suami yang pengertian Afnan sama sekali tidak mempermasalah kannya. Toh itu juga karena ulahnya yang menghamili Alesya sehingga tubuh Alesya membengkak karena hamil buah cintanya, kembar lagi.
"Sya, ayo berang-kat."
Afnan yang baru saja membuka pintu kamarnya dibuat terkejut melihat Alesya tengah memperhatikan perutnya yang sudah membesar dengan seksama didepan pantulan cermin dan jangan lupakan ekspresi wajahnya yang menggemaskan.
"Alby dari tadi bayi kembar kita gerak-gerak terus tahu, sini deh Alby coba pegang."
Alesya yang nampak riang menceritakan bahwa anak kembarnya sedang bergerak-gerak di dalam sana segera meraih tangan Afnan dan diletakkan di perutnya. Dan benar saja ketika Afnan mulai mengelus perut Alesya dengan lembut disaat itulah terasa ada yang menendang-nendang telapak tangan Afnan yang menempel diperut Alesya.
"Maa syaa Allah mereka aktif banget sih, Nak ini Baba, Sayang, bersabar ya di dalam sana, sebentar lagi in syaa Allah kita bertemu." Ucap Afnan yang sudah tidak sabar ingin menimang kedua buah hatinya sekaligus.
"Ya audah kita berangkat sekarang ya, tadi Silmi mengabari kalau sebentar lagi giliran kamu." Alesya mengangguk seraya mengambil tasnya lalu diselempangkan ke pundaknya.
Hari ini adalah hari di mana Alesya akan memperjuangkan kemerdekaan nya sebagai mahasiswi akhir dengan menghadapi sidang skripsi yang sudah dijadwalkan oleh pihak kampus usai skripsinya berhasil dibubuhi tanda tangan dosen pembimbingnya. Sebentar lagi dia akan lulus dan nanti tinggal menunggu hari wisuda tiba. Semoga kerja kerasnya yang begitu keras lantaran kedua bayi kembarnya yang masih dalam kandungan secara tidak langsung diikutsertakan dalam penggarapan skripsinya dapat membuahkan hasil yang sangat manis.
"Nak doain Umma ya, semoga hari ini diberikan kelancaran sama Allah. Dan kalian yang tenang ya di dalam sana, supaya Umma nggak kepikiran kalian."
"Aamiin."
"Sudah bisa berangkat sekarang?." Tanya Afnan yang segera dianggukkan kepala oleh Alesya.
Tanpa berucap lagi Afnan langsung menggendong Alesya ala bridal style meskipun tadinya sedikit kesulitan lantaran tubuh sang istri sudah tidak selangsing dulu. Hitung-hitung olahraga pagi kata Afnan. Tetapi Alesya sempat memberontak minta diturunkan. Dia sadar diri bahwa tubuhnya sudah tidak seringan dulu. Apalagi melihat Afnan mengeluarkan tenaganya habis-habisan demi bisa mengangkat Alesya untuk dibawa turun ke lantai 1 lalu keluar dari rumahnya.
"Alby, aku bisa jalan kok, nanti di tangga aku bisa pegangan kuat sama kamu, sudah turunkan aku saja, kamu sudah berkeringat seperti ini."
Permintaan Alesya yang ingin diturunkan bak angin lalu yang berlalu begitu saja. Afnan memang tidak bisa menyangkal bahwa tubuh istrinya sudah semakin berat. Tetapi dia masih kuat untuk menggendong nya. Demi keselamatan istri dan anaknya jangankan menggendongnya turun ke lantai bawah. Mendaki gunung sambil menggendong Alesya pun Afnan siap. Siap ngos-ngosan. Entahlah tidak mungkin juga Alesya ingin mendaki gunung dikondisinya yang sedang hamil itu. Setidaknya Afnan hanya merumpamakan bahwa dia siap menjadi tameng untuk keselamatan istri dan anak-anaknya.
∆∆∆∆∆
Kedatangan sang bumil cantik yang auranya terpancar begitu saja disambut meriah oleh Silmi dan Ziva yang sudah berada didepan sebuah ruangan yang menjadi saksi bisu perjuangan Alesya nantinya.
Dengan penuh kewaspadaan Afnan menggandeng erat sang istri yang berjalan perlahan menghampiri sahabat serta adik iparnya yang sudah menunggunya dengan suka cita.
"Maa syaa Allah bumil tambah cantik saja deh, semangat ya Sayangnya akoh, sebentar lagi giliran kamu."
Silmi segera menggantikan posisi Afnan disamping Alesya begitu juga dengan Ziva yang sudah berada disisi Alesya juga. Hari ini hanya Alesya yang akan sidang skripsi lantaran jadwal sidang skripsi Silmi masih besok. Sebagai sabahat sejati Silmi ingin sekali berada disisi Alesya untuk menyemangatinya tanpa meminta balasan dari Alesya agar besok menyemangatinya juga lantaran kondisi Alesya yang sedang hamil 7 bulan, bayi kembar lagi. Cukup doa saja yang ingin Silmi tagih kepada Alesya untuk kelancarana sidangnya besok.
Setelah menunggu cukup lama. Tibalah waktunya Alesya untuk masuk ke dalam ruangan yang menegangkan. Sebelum akhirnya benar-benar masuk keruangan yang bertuliskan "Ruang Sidang" Alesya meminta doa dari orang-orang tersayang yang telah menyiapkan waktunya untuk hadir di hari perjuangannya dan semoga berjalan lancar. Tak lupa Alesya membaca sebuah doa nabi musa yaitu doa minta dimudahkan urusan dan ucapan
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
"Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku" (QS. Thoha: 25-28)
Maha besar Allah Tuhan semesta alam yang menjadikan Alesya nampak tenang di ruangan tersebut. Para dosen yang bertugas bagaikan juri disebuah pementasan saling tersenyum puas atas ucapan serta jawaban Alesya yang sempat mereka serbu dengan beberapa pertanyaan. Sampailah di akhir waktunya. Usai mengucapkan salam penutup Alesya menunggu kabar selanjutnya yang 5 menit lagi akan disampaikan oleh salah satu dosen terkait hasil sidang skripsi yang disajikan tadi.
Terlihat beberapa Dosen yang berjumlah tiga orang dihadapan Alesya nampak sedang berbicara kecil satu sama lain tentunya membicarakan Alesya mengenai skripsi dan hasil penjelasannya tadi. Lima menit pun berlalu. Tiga dosen tersebut juga sudah mengalihkan perhatian nya kepada Alesya seorang.
"Baik Alesya setelah kami berunding dengan sesingkatnya. Kami memutuskan bahwa saudari Alesya Faihanah mohon maaf-"
Suasana hati Alesya berubah seketika. Salah satu dosennya mengucapkan kata maaf apa itu artinya mereka tidak puas akan sidang skripsi Alesya dan Alesya belum bisa dinyatakan lulus?. Entahlah Alesya benar-benar dibuat tegang dan cemas. Dia memperbanyak dzikirnya untuk menenangkan hatinya.
"Kamu telah mengejutkan kami karena kehamilan kamu saat ini membutikan bahwa kamu bisa lulus dengan tepat waktu."
"Selamat Alesya kamu dinyatakan lulus."
Suara tepukan tangan dari ketiga dosennya menyadarkan Alesya yang terkejut lantaran tidak menyangka bahwa ternyata dirinya "lulus" bahkan dosennya bangga lantaran Alesya yang kondisinya sedang hamil tua dapat menyelesaikan kuliahnya dengan tepat waktu dan sidang skripsinya berjalan lancar.
Alhamdulillah, Akhirnya perjuangannya selama beberapa bulan belakangan ini Alesya dapat meneguk kemanisan yang tercipta. Tentu ini berkat campur tangan Allah yang memberikannya kekuatan dalam menyelesaikan pendidikan jenjang S1 nya ini. Gelar S.Pd.I kini melekat dibelakang namanya namun bukan itu yang Alesya kejar selama ini namun ilmu yang didapatkan selama ini yang dia harapkan dapat menjadi manfaat untuk dirinya dan untuk orang-orang yang disekitarnya.
Dari senyum yang merekah diwajah Alesya sudah cukup mewakili perasaannya saat ini. Orang-orang tersayangnya yang sudah menunggunya diluar langsung berhambur berebut untuk memeluknya seraya mengucapkan selamat atas keberhasilannya menyeselaikan pendidikan jenjang S1nya. Afnan tidak ikut berebut karena dia memberikan kesempatan Silmi dan Ziva untuk memeluk Alesya duluan sebab nantinya Alesya akan jatuh kepelukannya juga. Namanya juga istrinya.
Benar apa dikatakan Afnan. Saat ini Alesya sudah melangkah untuk menghampirinya. Kali ini Silmi dan Ziva membiarkannya karena mereka sudah puas memeluk sang bumil kesayangan yang sedang berbahagia hari ini.
"Alhamdulillah Alby Aku lulus." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah."
Afnan merenggangkan kedua tangannya. Menyambut sang istri untuk memeluknya. Alesya pun luluh dan segera memeluk tubuh gagah Afnan yang dengan sigap membawanya kedalam pelukan yang lebih erat namun tetap penuh kehati-hatian lantaran diperut Alesya ada kedua buah cinta mereka yang jangan sampai terhimpit.
∆∆∆∆∆
2 Bulan Kemudian
Skenario Allah begitu indah. Alesya merasakan hal itu. Setelah dinyatakan lulus Allah memudahkannya untuk bisa mendaftar diri lebih dulu agar segera melakukan proses wisuda. Sebagaimana rencana awal Alesya ingin lulus kuliah tepat waktu yaitu sebelum hari bayi kembarnya dilahirkan kedunia.
Tepat dihari ini bayi kembar hasil kerja sama Afnan dan Alesya menginjak umur 9 bulan lebih tepatnya 9 bulan lebih 7 hari. Itu tandanya sebentar lagi perut Alesya akan mengempes alias lahiran.
Dengan ditemani Silmi yang duduk sampingnya Alesya mengikuti rangkaian acara di hari wisuda mereka. Akhirnya kedua sahabat ini benar-benar merealisasikan janji mereka yang ingin wisuda bersama. Bahkan gamis kebaya yang mereka pakai sama modelnya tetapi beda warna. Gamis kebaya Alesya berwarna silver sementara gamis kebaya Silmi berwarna cream. Ntah mengapa dihari-hari bahagianya Alesya selalu memilih pakaian berwarna silver waktu menikah dia menggunakan gaun warna silver dan kini di hari wisudanya juga berwarna silver. Kata Alesya sih warna silver itu terlihat manis dan elegant. Tetapi ada satu perbedaan yang paling menonjol diantara mereka yaitu postur tubuh. Jika Silmi terlihat lebih kurus dari sebelumnya lantaran sempat stres kepikiran skripsinya berbeda hal dengan Alesya yang terlihat lebih berisi dari kemarin maklumlah namanya juga lagi hamil. Jadi jika Nanti mereka foto bersama bagaikan angka 10, Silmi seperti angka 1 dan si bumil menggemaskan tentunya seperti angka 2.
Selang beberapa jam kemudian acara wisuda yang digelar di gedung khusus akhirnya selesai juga. Kini kedua sahabat yang baru saja diwisuda itu beramai-ramai bersama keluarganya untuk mengabadikan moment penting di kamera yang dibawa oleh Ziva dan Shuwan. beberapa kali foto sudah tersimpan rapi dimemori kamera tersebut.
Tiba-tiba wajah Alesya nampak sedih. Seperti ada yang kurang. Padahal keluarganya datang semua dari ayah dan bundanya serta mami papi mertuanya, jangan lupakan Ziva yang tiada henti memotretnya tentunya juga ada Afnan yang setia mendampinginya.
"Einy?, ada apa?." Tanya Afnan yang menyadari bahwa raut wajah Alesya tampak sedih.
Alesya ingin menjawabnya namun tiba-tiba saja ada sepasang suami istri datang menghampirinya. Dialah kakak kandung dan kakak ipar Alesya yang datang jauh-jauh dari kota singa putih hanya untuk menghadiri undangan wisuda adik kesayangannya.
"Assalaamu 'aikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
"Kakak."
"Adik."
Dengan sangat gembira Alesya segera berhambur kepelukan Alula yang sedikit terkejut lantaran Alesya yang tiba-tiba memeluknya.
"Selamat ya Bumil, akhirnya kamu diwisuda juga, Kakak bangga sama kamu."
"Jazakillah khoiron ya Kak, Kakak sudah mau hadir di hari wisuda aku, aku sayang Kakak."
"Wa jazakillah khoiron Dik, Kakak apalagi, sayang baaaanget sama kamu."
Suasana pun semakin gembira dengan kedatangan Alula serta Faqih ditengah-tengah keluarga besar mereka. Namun raut wajah Alesya kembali sedih. Padahal tadi ya dia sangat senang kakaknya datang.
"Kamu pasti menunghu kedatangan Mama ya?"
Seakan mengetahui isi hati Alesya. Alula menanyakan beneran dugaannya bahwa Alesya sedang menunggu kedatangan mama kandungnya.
Alesya mengangguk. "Iya Kak, aku menunggu kedatangan Mama, aku ingin lihat wajah bahagia Mama saat tahu aku berhasil menyelesaikan kuliahku walaupun saat ini aku lagi hamil."
Semua orang yang mendengarkan ucapan Alesya dibuat terharu. Begitu seriusnya Alesya ingin membuktikan kepada mamanya bahwa dia berhasil dan semoga mama kandungnya bangga kepadanya.
"Dik maafkan Mama ya?, tadi Kakak sudah coba bujuk mama untuk datang ke acara wisuda kamu, tapi-"
Seakan mengetahui kelanjutan ucapan Alula. Alesya pun mengangguk ikhlas. Mungkin mamanya masih belum bisa memaafkannya serta melupakan kekecewaan yang selama ini tersirat dihatinya sebab Alesya yang tak pernah menuruti ucapannya.
"Alesya."
Suara seseorang yang memanggil namanya sontak membuat Alesya terdiam. Suara itu sepertinya dia mengenalinya. Dengan cepat Alesya langsung membalikkan tubuhnya kearah suara itu yang tepat dibelakangnya.
"MA-Mama?"
Apakah perempuan yang memanggilnya itu adalah Mamanya?. Tidak salah lagi perempuan yang sedang tersenyum tipis kepadanya adalah mama Farha. Mama kandung Alesya yang sejak tadi sudah ditunggu kedatangannya.
"Mama."
Farha menoleh ke samping. Melihat suaminya sedang tersenyum ke arahnya lalu mengisyaratkannya untuk menghampiri Alesya. Farha mengangguk dan mulai mengambil langkah untuk menghampiri sang Putri bungsu yang sudah menunggunya dengan tetesan air mata keharuan.
Diciumnya punggung tangan Farha dengan rasa hormat oleh Alesya. Farha tidak dapat menahan air matanya yang sudah memenuhi kedua matanya. Tetesan demi tetesan air mata pun meluruh begitu saja.
Diusapnya pundak Alesya dengan penuh sayang. "Ma-mama, Mama bang-"
"Aw."
Jeritan Alesya mengejutkan semua orang. Termasuk Farha yang belum menyelesaikan ucapannya.
"Aw, perutku." Rintih Alesya yang sudah memegang perutnya.
Afnan pun langsung menghampiri Alesya dan memapahnya agar tidak terjatuh ke bawah akibat menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar dibagian perutnya.
"Alby, pe-rut aku sa-kit."
Seketika wajah Alesya langsung pucat dan keringat membajiri sekujur tubuhnya. Rasa sakit yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Sepertinya Alesya sudah mau melahirkan." Ucap Izma yang ikut panik melihat menantunya tiba-tiba merintih kesakitan.
Alesya pun merasakan demikian. Dorongan kuat yang bersumber dari dalam perutnya mengisyaratkan bahwa kedua bayinya minta dilahirkan saat ini juga. Rasa sakit yang sangat dahsyat membuatnya tidak sanggup lagi untuk berdiri hingga akhirnya nyaris terjatuh namun beruntungnya Afnan langsung menggendongnya tanpa memperdulikan lagi berat badan Alesya yang rasanya tidak mampu diangkat. Tetapi Allah memberikan kekuatan kepadanya sehingga dengan mudahnya membawa Alesya untuk segera ke rumah sakit. Di ikuti oleh keluarga besarnya yang sangat mengkhawatirkan Alesya dan kedua bayi kembarnya.
∆∆∆∆∆
Kini Alesya sudah terbaring di ruangan bersalin yang sudah disediakan khusus untuk dirinya melahirkan sebentar lagi. Dengan setia Afnan berada disampingnya sembari terus menggenggam erat tangan Alesya dan satu tangannya lagi membelai puncak kepala Alesya.
Di luar ruangan keluarga besarnya sangat mencemaskan keadaan Alesya. Seorang dokter yang ditemani kedua suster dengan memakai pakaian khusus dalam melakukan proses persalinan menghampiri mereka lebih tepatnya akan masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan "Ruang Bersalin"
"Ibu, Bapak mohon didoakan ya semoga proses persalinan Ibu Alesya berjalan dengan lancar."
"Aamiin."
"Kalau begitu kami masuk dulu ya, mari Suster."
Usai menyapa lebih tepatnya meminta doa kepada keluarga besar sang pasien dokter pun masuk ke dalam ruangan beserta suster yang Kemudian menutup kembali pintunya dengan rapat.
"Bismillahirohmaanirrohiim."
Dokter perempuan yang akan membantu Alesya melahirkan mengucapkan bismillah terlebih dahulu berharap persalinan kali ini berjalan lancar.
"Ibu Alesya ikuti aba-aba saya ya." Ucap Dokter yang segera dianggukkan kepala oleh Alesya.
"Ibu Alesya yang tenang ya, jangan panik, Suster tolong bantu Ibu Alesya merenggangkan kakinya."
Sesuai arahan sang atasan, dua suster tersebut membantu Alesya untuk merenggangkan kedua kakinya agar dokter dapat memperhatikan jalan keluar sang bayi kembar nanti.
"Sudah saatnya, ayo Ibu Alesya tarik napas pelan-pelan trus keluarkan."
Alesya begitu tenang menarik napasnya kemudian mengeluarkan nya. Dia cukup patuh terhadap perintah sang Dokter meskipun perutnya sangat terasa sakit bahkan tanpa tersadar kedua tangannya meremas erat tepi kasur brankar yang salah satu tangannya meremas erat tangan Afnan yang terus mengenggamnya.
"Sekarang coba dorong perlahan-lahan Ibu Alesya."
Sekuat tenaga Alesya mulai mengikuti arahan dokter, berusaha mendorong agar sang bayi keluar dari rahimnya. Namun belum juga. Tetapi dokter meminta Alesya untuk tetap semangat dan jangan putus asa.
Sebelumnya Alesya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya. Ini pertama kalinya dia merasakan kesakitan yang begitu dahsyat. Beginikah rasanya seorang perempuan yang akan melahirkan. Terlintas dibenak Alesya bagaimana mama kandungnya merasakan kesakitan saat akan melahirkannya ke dunia sebagaimana yang dia rasakan saat ini.
"Dok-ter sa-ya su-dah gak ku-at Dok." Tutur Alesya yang sudah dibanjiri peluh keringat disekujur tubuhnya terutama di wajahnya. Dengan iba Afnan mengusap keringat itu dan terus menyemangati Alesya.
"Ayo Ibu Alesya sekali lagi ya, dorongnya yang kuat teriak juga nggak apa-apa."
Alesya pun mengulang kembali. Mendorong kuat sampai mengeluarkan seluruh tenaganya dan akhirnya kepala sang bayi memunculkan diri dengan sigap dokter pun menariknya pelan dan keluar
"Owek... owek... owek..."
Jeritan tangis sang bayi meramaikan ruangan bersalin. Afnan sudah tidak bisa menahan tangisnya ketika melihat bayi mungil sudah berada didekapan sang dokter yang kemudian diberikan kepada Suster.
Baru saja Alesya dapat bernapas lega. Namun perutnya masih terasa mulas. Tinggal satu bayi lagi yang harus dikeluarkan. Dokter pun membantu Alesya untuk melahirkan yang kedua kalinya. Rupanya Alesya sudah lebih kuat dari sebelumnya. Dalam satu kali dorongan yang sangat kuat bayi satunya pun keluar dan dokter langsung menimangnya.
"Alhamdulillah, selamat ya Ibu Alesya Bapak Afnan, bayi kembarnya sudah lahir dengan selamat."
Sang dokter pun menaruh bayinya didekapan ibunya dan bayi satunya yang berada ditangan suster ikut ditaruh disisi satunya. Kesakitan yang dirasakan Alesya kini terbayar sudah setelah melihat kedua bayi kembarnya sudah berada didekapan nya. Afnan tak kuasa menahan isak tangisnya ketika melihat sang istri tersenyum sembari memperlihatkan bayi kembar mereka yang begitu menggemaskan. Diciumnya kening Alesya oleh Afnan tentunya dengan penuh cinta.
Lalu Afnan segera mengumandangkan adzan didekat kedua bayinya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah dan sambutan pertama kalinya kepada kedua bayinya yang baru saja lahir ke dunia.
"Bayinya laki-laki dan perempuan." Ucap dokter setelah Afnan selesai mengumandangkan adzan. Lalu memberitahukan tentang jenis kelamin bayi kembar Alesya dan Afnan.
"Maa syaa Allah, Allah menitipkan kita sepasang bayi kembar untuk melengkapi hidup kita Einy."
Alesya mengangguk. "Iya Alby, Alhamdulillah lengkap sudah keluarga kecil kita dengan kehadiran bayi kembar kita."
"Alhamdulillah, kalau begitu bayinya kami bersihkan dulu ya Ibu, Bapak, Sus-"
Dokter terkejut mendapati kedua susternya yang sedang memperhatikan kebersamaan pasien mereka. Rupanya kedua susternya itu terbawa perasaan sekaligus terharu melihat kebahagiaan yang kini sedang Alesya dan Afnan rasakan.
"Suster."
Kedua suster tersebut akhirnya tersadar setelah dokter menegurnya dengan sedikit lantang. Alesya serta Afnan pun terkekeh melihat kedua suster itu yang salah tingkah akibat tertangkap basah sedang baper melihat keluarga kecil yang berada didepan mata mereka.
"Ma-maaf Dok, kami baper lihat mereka." Ucap salah satu Suster yang mengakui kebaperannya.
"I-iya Dok, maklum kami masih jomblo." Timpal suster yang satunya juga.
Dokter pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Lantas menyuruh kembali kepada suster-susternya untuk membersihkan bayi kembar yang baru saja terlahir.
Dengan berat hati Alesya membiarkan kedua bayinya dibawa oleh suster untuk dibersihkan. Afnan menatap Alesya dengan penuh cinta. Mata mereka pun saling bertemu dengan binaran cinta yang menghiasi di kedua mata mereka. Mengisyaratkan bahwa saat ini hati mereka sama-sama sedang dalam bahagia.
"Aku mencintaimu Einy."
"Aku juga mencintaimu Alby."
Pasangan suami istri yang kini sudah resmi menjadi ayah dan ibu itu berpelukan dengan penuh kebahagiaan yang tak terhingga karena sepasang buah cinta mereka telah hadir ditengah-tengah cinta mereka yang semakin bersemi.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Semoga ada season 2 dari karya ini
lanjut ah baca yang ke dua