NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Aura dingin dan berwibawa terpancar jelas dari sosok Darren saat ia duduk di ujung meja ruang rapat utama.

Sebagai CEO utama di perusahaannya, setiap ketukan jemarinya di atas meja sanggup membuat belasan direksi menahan napas.

Penjelasan strateginya tajam, perintahnya mutlak, dan semua orang di dalam ruangan itu menatapnya dengan rasa segan yang tinggi.

Di dunia bisnis, Darren adalah raja yang tak tergoyahkan.

Namun, kejayaan di luar sana seolah menguap tanpa sisa begitu kakinya melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya malam itu.

Suasana sunyi yang menyambutnya terasa mencekam, jauh dari kata hangat sejak kepergian mendalam sang istri tercinta.

Darren menghela napas lelah, melonggarkan dasinya sembari berharap ada sedikit ketenangan di rumah ini. Namun, harapannya hancur seketika saat melihat ketiga anaknya—Andre, Riko, dan Angela—sudah duduk berkumpul di ruang tengah.

Mereka tidak berdiri menyambutnya. Jangankan menanyakan kabar atau apakah sang ayah sudah makan setelah memimpin rapat besar seharian, tatapan mereka justru penuh dengan tuntutan.

"Baguslah Papa sudah pulang," ujar Andre, si sulung, tanpa basa-basi.

"Kami sudah menunggu dari sore. Kita perlu bicara soal pembagian aset perusahaan dan warisan Mama. Jatahku harus segera dicairkan untuk investasi baru."

"Aku juga, Pa!" sahut Riko dengan nada kasar yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan.

"Mobil sport-ku butuh servis besar dan aku butuh modal tambahan. Papa kan uangnya tidak berseri, buat apa ditahan-tahan terus? Warisan itu hak kami!"

Angela, putri bungsunya yang selama ini dimanja, ikut menimpali sambil bersedekap dada.

"Papa jangan egois, dong. Warisan Mama kan harusnya dibagi rata sekarang. Kami bosan harus terus-menerus minta izin Papa setiap mau pakai uang dalam jumlah besar!"

Darren terpaku di posisinya. Dadanya terasa sesak, seolah dihantam godam besar.

Di kantor ia begitu disegani, namun di rumahnya sendiri, di hadapan darah dagingnya sendiri, ia tak lebih dari sekadar mesin pencetak uang.

Mereka sama sekali tidak menganggapnya sebagai seorang ayah.

"Kalian semua, keterlaluan!" ucap Darren dengan suara bergetar menahan amarah dan kekecewaan yang mendalam.

Tanpa memedulikan teriakan anak-anaknya yang masih menuntut, Darren membalikkan badan.

Ia melangkah lebar keluar dari rumah bak istana yang kini terasa seperti penjara dingin itu, mencari udara segar untuk meredakan sesak di dadanya.

Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, Jihan berjalan dengan langkah riang.

Malam ini, ia sudah berdandan secantik mungkin. Gaun terbaiknya sudah melekat pas di tubuh, dan senyum tidak pernah lepas dari wajahnya yang cerah.

Malam ini adalah malam yang ia tunggu-tunggu. Jihan sudah membayangkan bagaimana indahnya makan malam romantis bersama Albert, kekasih yang begitu ia cintai.

Di tangannya, ia membawa kotak kecil berisi camilan buatan sendiri untuk melengkapi momen kebersamaan mereka.

Langkah Jihan terhenti tepat di depan pintu rumah Albert.

Dengan jantung yang berdebar manis karena rindu, jemarinya terangkat, bersiap untuk mengetuk pintu kayu di hadapannya.

Namun, pintu itu ternyata tidak tertutup rapat. Sedikit celah terbuka, menampilkan pemandangan di dalam ruang tamu yang seketika membuat seluruh darah di tubuh Jihan membeku.

Di dalam sana, Albert sedang merengkuh tubuh wanita lain yang tak lain adalah Linda sahabat Albert.

Jihan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri—bagaimana bibir Albert mencium Linda dengan begitu mesra, ciuman yang seharusnya hanya milik Jihan.

Kotak di tangan Jihan nyaris merosot. Dunianya runtuh dalam satu detik.

"Albert..."

Suara Jihan bergetar, lirih namun sanggup membelah kesunyian di ruangan itu.

Mendengar suara yang sangat ia kenali, Albert tersentak.

Ia segera melepaskan pagutannya dan menoleh ke arah pintu.

Matanya membelalak mendapati Jihan yang berdiri mematung di sana dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

"Jahat kamu, Albert!"

Tangis Jihan pecah seketika. Pertahanan yang coba ia bangun runtuh bersama air mata yang kini mengalir deras membasahi pipinya yang sudah berdandan cantik.

Dadanya naik-turun menahan rasa sakit yang teramat sangat, melihat lelaki yang selama ini ia puja justru berbagi kemesraan dengan wanita lain di depan matanya sendiri.

Albert yang sempat terkejut, dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin dan sinis.

Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, bahkan sengaja merangkul pinggang Linda di hadapan Jihan.

"Aku jahat?" Albert mendengus remeh, lalu menatap Jihan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan muak.

"Kamu yang harusnya tahu diri, Jihan! Kamu itu tidak pantas bersanding denganku yang tampan. Sadar diri sedikit, kamu itu seperti babi yang terus menempel padaku!"

Mendengar hinaan sekejam itu, Linda di sampingnya langsung tertawa mengejek, membuat hati Jihan serasa diiris sembilu. Namun, di tengah rasa sakit yang mendera, sesuatu di dalam diri Jihan mendadak bangkit. Air matanya berhenti mengalir.

Jihan menarik napas dalam-dalam, lalu sebuah tawa kecil yang terdengar getir namun tegas keluar dari bibirnya.

"Bukan aku yang babi, Albert," ucap Jihan, menatap lurus ke dalam manik mata mantan kekasihnya tanpa rasa takut lagi.

"Tapi kamu. Kamu adalah lelaki yang tidak punya harga diri dan tidak bisa menghargai wanita."

Dengan gerakan cepat, Jihan menjangkau lehernya.

Ia menarik paksa sebuah kalung perak yang melingkar di sana—satu-satunya hadiah yang pernah Albert berikan dan selalu ia jaga setengah mati.

Krak!

Jihan melemparkan kalung itu tepat ke arah dada Albert.

"Aku kembalikan kalung ini. Dan semoga kalian... bahagia di atas penderitaan orang lain."

Tanpa menunggu balasan dari Albert yang kini melotot marah, Jihan langsung membalikkan badan.

Ia melangkah lebar, meninggalkan rumah terkutuk itu secepat mungkin.

Langkahnya perlahan berubah menjadi lari. Jihan terus berlari membelah dinginnya angin malam, membiarkan air matanya tumpah ruah, menuju ke satu-satunya tempat sepi yang bisa ia tuju: taman kota.

Sesampainya di taman, langkah Jihan melambat. Napasnya terengah-engah setelah berlari cukup jauh.

Ia memilih duduk di salah satu bangku panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sambil memandang riak air mancur yang memantulkan cahaya lampu malam.

Krucuk... Krucuk...

Perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Jihan tersenyum getir, meraba perutnya sendiri.

Bahkan di saat hatinya hancur berkeping-keping, fisiknya tetap menuntut hak untuk diisi.

Jihan segera menghapus sisa air mata di pipinya, lalu beranjak menuju kedai makanan terdekat untuk memesan sebuah hotdog.

Setelah pesanan siap, ia kembali duduk di bangku menghadap air mancur.

Jihan menggigit hotdog hangat itu, mengunyahnya perlahan sembari menata kembali hatinya yang sempat porak-poranda.

"Aku tidak akan menangis hanya karena satu orang seperti Albert," gumam Jihan pelan pada dirinya sendiri, mempertegas tekadnya di sela-sela kunyahan hotdog.

Ia berjanji dalam hati, air matanya terlalu berharga jika harus dibuang untuk lelaki tidak tahu diri seperti mantannya itu.

Namun, ketenangan Jihan tidak berlangsung lama.

Tepat di balik pohon besar yang tak jauh dari tempatnya duduk, suasana mendadak mencekam.

Darren berdiri bersandar pada batang pohon dengan wajah yang sudah seputih kapas.

Napasnya memburu, kesakitan yang luar biasa mendadak mencengkeram dadanya.

Rasanya seperti dihantam benda berat. Sesak dan panas menjalar cepat, membuatnya sulit sekadar untuk menghirup oksigen.

"T-tolong... aku..." bisik Darren lirih dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Brugh!

Tubuh gagah CEO paruh baya itu ambruk ke atas tanah, jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Suara jatuhnya tubuh Darren seketika membuat Jihan menoleh.

Matanya membelalak mendapati seorang pria paruh baya berpakaian rapi kini tergeletak tak berdaya di bawah pohon.

Jihan langsung meletakkan sisa makanan di tangannya dan berlari menghampiri pria itu.

"Apa, Tuan bisa mendengarku?" Jihan menepuk-nepuk pundak Darren dengan panik, namun tidak ada respons sama sekali.

Melihat situasi yang genting dan taruhan nyawa di depan mata, Jihan membuang semua rasa takutnya.

Mengabaikan ukuran tubuhnya sendiri, Jihan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membopong tubuh Darren yang kekar.

Setengah menyeret dan memapah pria asing itu, Jihan bergerak cepat menuju ke tepi jalan raya.

Beruntung, sebuah armada taksi sedang melintas.

Jihan melambaikan tangannya dengan panik hingga taksi itu berhenti mendadak di hadapannya.

Dengan susah payah, Jihan memasukkan tubuh Darren ke kursi belakang, lalu ia menyusul masuk ke dalam.

"Pak, tolong ke rumah sakit sekarang! Cepat, Pak!" ucap Jihan dengan wajah panik.

Sopir taksi yang tampak ikut terkejut melihat kondisi Darren.

Taksi itu pun langsung membelah jalanan malam, membawa mereka menuju ruang gawat darurat.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!