Aina, istri dari Aji seorang pelaut yg beroperasi di perairan Srilangka terpaksa harus menelan kepahitan.
karena, sejak dua tahun pernikahannya dengan aji, dia harus menerima kenyataan jika aji memberikannya nafkah yang sangat tidak layak.
di tahun dua ribu satu sampai tahun dua ribu lima, aji hanya memberikannya nafkah sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk setahun.
kemudian, di tahun dua ribu enam sampai dua ribu sepuluh, aji memberikannya nafkah sebesar lima ratus ribu untuk setahunnya.
dan mulai tahun dua ribu sebelas sampai dua ribu dua puluh dua, aji memberikannya nafkah untuknya dan untuk ketiga anak anaknya sebesar satu juta untuk setahun.
lalu, bagaimana caranya aina bertahan hidup sampai saat ini dengan nafkah yang tidak layak itu?
ikuti terus ceritanya ya guys, bantu suport terus cerita aku, dan bantu beri kritik dan sarannya agar cerita yg aku buat semakin menarik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aqidatul izaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30
"Ah di depan juga ada tuh hotel." Ucap kedua bocah tersebut sembari menunjuk ke arah gedung pencakar langit di depan sana.
"Melek terus biar bisa lihatin hotel hotel di samping jalan raya," Ucap Zain membuat kedua bocah tersebut menegakkan posisi duduknya.
"Coba, cek lokasi om Yoga sekarang." Titahku membuat Zain segera mengutak-atik ponselnya.
"Hah, papa sama om Yoga mah masih ketinggalan jauh." Seru Zain sembari terbahak-bahak.
"Zain kirim lokasi kita sekarang, biar om Yoga panas dingin." Gumam Zain masih dengan terbahak-bahak.
"Auto laporan ke ayah nanti." Sahutku sembari tertawa ringan.
"Iya, nanti bapaknya mak Lampir itu langsung nyusul kita," Sahut mama ketus, tapi mampu membuatku terbahak-bahak mendengarnya, apa katanya tadi? Bapaknya mak Lampir.
***
Tak terasa aku sudah berhasil keluar dari gerbang tol kali deres, tinggal nyari tempat untuk makan dan juga istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah nenek.
"Kak, itu di depan ada rumah makan ayam goreng, kita mampir ke sana ya,"
Aku hanya mengangguk Samar lalu memutar mobilku menuju pelataran rumah makan tersebut.
Rumah makan di sini cukup ramai pengunjungnya, terbukti di parkirannya terdapat beberapa kendaraan roda empat yang terparkir di sana, dan juga puluhan lebih sepeda motor juga terparkir di sisinya.
Saat hendak memarkirkan mobilku, pandangan mataku tertuju pada satu unit Honda Brio berwarna merah.
"Itu kan mobilnya si pelakor, " Gumamku lirih namun masih dapat di dengar oleh Zain dan juga mama.
"Mana?" Tanya Zain.
Tanpa suara, aku hanya menunjukkan jari telunjukku ke arah mobil tersebut.
"Mobil kelas teri kak, pepet aja." Gumam Zain terdengar merendahkan mobil yang baru saja aku tunjukkan.
Aku memarkirkan mobilku tepat di samping mobil Brio itu terparkir, biar saja mereka ngiler pas ngeliat mobil ini di sampingnya.
Saat hendak keluar dari mobil, mataku terpaku, menatap segerombolan pemuda dan pemudi yang tengah berjalan ke arah mobilku sembari mengarahkan ponsel mereka ke arahku.
"Itu youtuber reaction tiktok terviral itu, " Seru salah satu pemuda dari gerombolan tersebut, namun mereka justru menghentikan langkahnya.
Ya, selain aku bekerja di PT Bintang Asia, aku juga sering mengisi waktu luang ku di rumah saat libur dengan membuat video reaction tiktok yang biasa aku unggah di channel YouTube dan juga di akun tiktok pribadiku.
"Serius nggak ini? " Tanya salah satu dari mereka seperti ingin memastikan.
aku segera memakai masker dan juga kacamata hitam pemberian ayah agar mereka tak dapat mengenaliku.
Tanpa berpikir panjang aku segera membuka pintu mobil dan turun dari kursi kemudi.
Aku berusaha sekeras mungkin untuk berpura-pura seperti orang biasa saja.
Mereka masih terdiam di tempat mereka menginjakkan kaki.
Ketika Darren dan juga Sahim keluar dari mobil dan menyusul ku, mata mereka semua membulat sempurna ke arahku.
Gruduk .. Gruduk.. Gruduk..
"Aaaaaa.... Ini mah beneran kak Laura, ya Allah,,, nggak nyangka banget bisa ketemu youtuber favoritku.. " Ucap mereka kegirangan sembari merengsek berusaha mendekatiku dan juga dia bocah yang sering aku ajak mereaction video bareng.
Akhirnya aku membuka masker dan juga kacamata hitamku, karena percuma saja, toh mereka sudah mengenaliku.
Aku tersenyum ke arah mereka sembari menjabat tangan mereka satu persatu.
"Kak, mereka berdua siapa?" Tanya salah satu dari antara mereka sembari menunjuk ke arah mama dan juga Zain yang ter mematung menatap ke arahku yang tengah di kerubungi segerombolan pemuda.
"Ooh itu mama aku, " Sahutku apa adanya sembari berjalan ke arah mama dan juga Zain yang masih setia dengan keterkejutannya.
"Masya Allah, mamanya juga cantik banget, terus yang ini siapa kak?" Tanya mereka lagi dengan nada begitu antusias.
"Ooh ini, dia adikku, kakaknya dia bocah ini," Sahutku sembari tersenyum semanis mungkin.
"Ya ampun,, kirain teh pacarnya," Celetuk mereka membuatku tersenyum geli, sedangkan mama dan juga Zain nampak kikuk dalam situasi saat ini.
" O iya, kakak dari mana? Mau kemana?" Tanya mereka sembari mengikuti langkahku ke dalam rumah makan tersebut.
"Dari rumah mama di pekalongan mau ke rumah nenek di tangerang," Sahutku lagi membuat mereka nampak begitu terkejut.
"Ya Allah, pasti capek banget, mari kak istirahat dulu, nanti kita pesankan makanan sama minuman, katanya kalau kakak ketemu sama penonton minta di traktir, kita traktir sekarang deh, " Ucap mereka mengingatkanku dengan ucapanku kala melakukan siaran langsung di tiktok beberapa bulan lalu.
"Iya deh, tapi aku nggak sendiri loh," Sahutku.
"Tenang, pemilik rumah makan ini lagi ngidam pengen ketemu kak Laura, nanti aku panggilkan dia ah," Seru salah satu dari mereka membuatku hampir tersedak saja, apa katanya? Lagi ngidam, pengen ketemu aku?, ada ada aja orang hamil jaman sekarang, jangan jangan kalau aku hamil juga ngidam pengen ketemu orang asing, ah pasti menyusahkan sekali.
Akhirnya mereka menggiring aku dan juga mamaku bersama adik adikku menuju beberapa meja yang masih kosong.
Mataku sempat melihat keberadaan tante Rani bersama ketiga anaknya, tapi mereka belum menyadari keberadaan ku di sini.
"Hati hati mah, nanti jatuh, " Pekik suara laki-laki dari arah tangga, saat aku menoleh ke arah tersebut, tampaklah seorang lelaki yang tengah mengejar istrinya yang sedang menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
"Orangnya di sini madam... " Teriak beberapa orang yang sedang duduk di sekitarku.
"Ya ampun,, nggak nyangka banget ketemu sama idola,,, " Ucapnya sembari berlarian menyongsong beberapa orang yang berada di depannya agar bisa sampai di tempat dudukku.
Saat melihatku, perempuan itu segera memelukku erat sembari terus mengucapkan kalimat yang mengungkapkan rasa bahagianya kala bertemu denganku.
"Kamu tau nggak Laura? Mami selalu mimpi kamu datang ke sini," Ucapnya sembari menangkup kedua pipiku, sehingga kedua netraku beradu dengannya.
Aku terpaku melihat perempuan ini, lebih tepatnya aku menatapnya kagum, kecantikan perempuan ini aku akui memang di atas rata rata, mata bulatnya, alis tebal, hidung mbangir, bibir tipis, pipi tirus, dan juga dagunya yang nampak lancip, membuat kecantikannya nampak begitu sempurna.
"Laura, dedek mami mau di elus sama Laura tau," Rengeknya membuat tanganku refleks terulur mengusap perut buncitnya, dan seketika senyumku terbit kala merasakan gerakan halus dari perutnya.
"Wah,,, adeknya gerak gerak,, " Seruku kegirangan, lalu tanpa basa basi aku membungkukkan kepalaku ke arah perutnya, berniat untuk menguping detak jantungnya.
"Waaah,, bunyi dug dug dug.. " Seruku lagi membuat perempuan di di sampingku tertawa terbahak-bahak, di susul juga oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kak Laura lucu ya, kayaknya kak Laura seneng deh nguping perut orang, " Celetuk mereka membuatku tersenyum malu malu.
"Ya ampun, sampe lupa, ini mamanya Laura ya?" Tanya perempuan hamil di sampingku sembari menjulurkan tangannya ke arah mama.
"Iya, " Sahut mama sembari menyambut uluran tangannya.
"Waah mamanya juga nggak kalah cantik,, " Ucap perempuan di sampingku sembari beranjak ke arah mamaku, dan memeluk mamaku sembari terus tersenyum bahagia.
"Ah, mami juga cantik banget tau, Laura aja naksir banget ini sejak pandangan pertama," Ucapku apa adanya.
"Aaa, makasih sayang, eh btw Laura tau nama mami nggak?" Perempuan itu tersenyum sumringah sebelum melontarkan kembali pertanyaannya ke arahku.
"Tau dong," Sahutku mantap.
"Nama mami siapa coba?" Tanyanya sembari tersenyum meledek ke arahku.
"Mami Zea," Sahutku, membuatnya membulatkan kedua matanya.
"Tau dari mana?" Tanyanya dengan ekspresi keheranan.
"Kan Laura juga follower tiktoknya mami, tapi Laura nggak pernah ngasih komentar hehe," Sahutku lagi membuatnya semakin nampak terkejut.
"Hah, apa iya?" Gumamnya tak percaya sembari membuka ponselnya.
"Aaaa, iyaaaa ternyata Laura juga sering mengunjungi profil mami ya?" Serunya kegirangan.
"Ini, di minum dulu Laura," Ucap seorang laki-laki sembari meletakkan empat gelas es tea ke atas meja di depanku, laki-laki itu yang tadi mengejar mami Zea kala menuruni tangga.
"Ini sayang di minum dulu," Titah mami Zea sembari mengangkat gelas ke arahku.
"Terimakasih mami," Sahutku sembari meraih gelas tersebut.
"Mamanya Laura sama adik adiknya juga minum dulu atuh, itu siapa, abangnya ya?" Ucap mami Zea sembari melontarkan pertanyaan ke arah Zain.
"Adeknya mam," Sahut Zain membuat mulut mami Zea membulat membentuk huruf O.
"Masuk!" balas
jagan lupa koma sebelum di tutup petik 2
atau tnda seru setelah kta perintah
Bagus ceritanya 👍☺️
Penulisannya juga rapi, jadi enak bacanya 😊
Ini sih kayaknya author dah pengalaman😂
Soalnya beda banget sama yang masih belajar😁😁🤭
aku mampir nih
salam dari langit 😊
btw judulnya serem amat yak😂
1 juta utk setahun😂