Demi terbebas dari tekanan Melia—ibunya, Olla memutuskan menikah dengan pria pilihan Melia bernama Alvin. Seorang pengusaha muda yang begitu kaku dan sombong.
Ia memberikan semuanya, agar di hari yang sama dia bisa melarikan diri dan hidup bebas.
Namun, kaburnya Olla setelah malam pertama, justru membawa petaka bagi Alvin Perkasa. Bagi Alvin, Olla adalah syarat mutlak agar dia bisa merebut kembali perusahaan warisan milik ibunya yang kini dikuasai oleh ayah dan kakak tirinya.
Bermacam cara Alvin lakukan, hingga akhirnya dia berhasil menemukan Olla, tetapi wanita itu justru selalu berhasil kabur setiap kali Alvin berusaha membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Putri Seorang Pembual, Jadi Jangan Heran!
"Ya ampun, Kakak Ipar!" Olla langsung melepas tangan dari cekalan pria dibelakangnya. Senyumnya cerah seketika.
Dia tidak tau kenapa tapi seharusnya kabur akan cukup mudah. Pria ini pasti ingin Alvin menukar dirinya dengan perusahaan itu. Tapi ini tidak akan semudah menculik bayi. Olla punya mulut, dan salah jika menculiknya di sini. Meski bukan lagi dokter di sini, tetap saja akan ada yang menolong jika dia berteriak.
"Kakak Ipar membuatku kaget," ujar Olla seraya mengulurkan tangan. "Kemarin belum sempat basa basi untuk kenalan, kan? Aku merasa nggak sopan sebagai keluarga baru."
Olla semakin melebarkan senyumnya. "Alvin di dalam, Kak ... bawa sekompi tentara atau apa lah namanya buat jaga aku."
Demian tentu tahu semua itu berkat video yang beredar. Agak konyol anak itu ya! Harusnya, yang berharga tidak dibiarkan menarik perhatian semua orang. Ini malah menjadi trending di dunia maya. Demian bahkan tidak perlu repot mencari alamat yang ditulis di foto tadi kan?
Demian terkekeh pelan, sehingga Olla sedikit ketakutan, akan tetapi dia ikut tertawa agar rasa takutnya tidak kentara.
"Kau tau, seharusnya kau menolak Alvin setelah semua uang yang kau nikmati setahun terakhir."
Maksudnya? Oh, tidak ... ia sama sekali tidak menyentuh uang dalam bentuk pecahan apapun dari keluarga ini. Olla langsung mencibir.
"Mama?" Olla tidak perlu pura-pura tidak tahu. "Sayangnya, saya harus berbangga diri karena setahun terakhir, saya menumpang makan di catering teman! Kalau tidak, pasti saya sudah seperti babbi saking banyaknya uang yang Kakak Ipar gelontorkan ke Mama!"
Demian mana percaya? Wanita ini pengangguran setelah dipecat dari rumah sakit ini. Uang dari mana lagi jika tidak menjual diri atau mengemis ke Alvin atau dirinya?
"Silakan berbangga, Olla, tapi yang sudah diberi tentu akan diminta kembali—"
"Maaf saya koreksi, Kakak!" Olla mendekat selangkah, mengusap pundak Demian yang langsung ditepis kasar oleh Demian. Tawa kecil Olla terdengar melihat betapa gusar Demian ini. Sensitif dan terkesan arogan. Pria model begini mudah dipermainkan harga diri dan egonya. Olla paham dengan mudah—tidak tahu alasannya apa.
"Uang yang anda berikan pada orang lain, tidak bisa anda tagih ke saya. Lagipula, kita baru bertemu kemarin, jadi bagaimana anda mengatakan hal seperti ini? Bukankah ini agak menakutkan?"
Demian tidak peduli, baginya sama saja uang itu diberikan pada siapa selama jaminan ada didepan mata.
"Bawa dia!" perintah Demian pada anak buahnya.
"Oh, wait-wait!" Olla seketika mengangkat tangannya. Ia tahu, ini bukan saatnya bicara baik-baik pada Demian. "Satu yang pasti, sekalipun saya mati, tidak akan berarti apa-apa untuk Alvin, karena kami menikah karena perjanjian yang menguntungkan satu sama lain."
Demian tidak bisa tidak terkejut akan kata-kata yang blak-blakan itu.
Olla sedikit mengejek. "Sial sekali bukan, Kak?!"
Demian bingung. Ia tidak tahu apa ini benar atau tidak. Tapi ia hanya heran kenapa sampai Alvin menyewa orang untuk menjaga Olla dan anaknya?
"Tolong pikirkan bagaimana Alvin mempermainkan Kakak selama ini ... ini hanya jebakan lain lelaki itu agar anda terpancing dan bingung." Olla melirik kiri kanan. Sungguh ia jumpalitan dalam hati dan berharap Demian percaya ucapannya. Ia sudah tidak bisa lagi tenang mengingat Alvin yang tidak mau datang membantunya.
Sialan kan pria itu! Maunya apa coba? Bawa orang sepleton tadi buat apa kalau pas kesulitan begini, malah nggak ada yang nongol satupun!
"Ah, ya ampun!" Olla seketika mendapatkan ide buat kabur. "Kakak, bisa tolong antar saya ke markas partai P? Saya harus menemui Pak Galih untuk koordinasi soal pengobatan dan pembangunan fasilitas kesehatan di desa yang saya pegang."
Olla melihat kiri kanan, pura-pura panik. "Aku udah pasti telat ikut briefing, dan pasti nggak bisa kembali ke desa secepatnya ini. Ini gara-gara Alvin bajingan yang terus minta dilayani sampai aku harus ke dokter buat benerin badan dan nggak hamil!"
Demian menyipit, menatap Olla teliti. Reaksi wanita ini kelihatan menyakinkan. Jadi dia memutuskan percaya dalam hitungan detik.
"Kapan kamu ke desa?"
Olla menatap Demian terkejut, seolah malu gerutuannya terdengar oleh Demian. "Lusa saya berangkat, kata Alvin masih ada satu dua hal yang harus diselesaikan sebelum kami pisah. Dan siapa tau sebelum kembali saya bisa ketemu keluarga besar kalian! Itung-itung nambah kenalan. Saya butuh koneksi setelah selesai di desa nanti, Kak!"
"Aku bisa bantu asal kamu nggak balik kerja sama Alvin lagi!" Demian akhirnya punya celah.
"Oke, Kakak Ipar ... tapi beneran carikan aku tempat kerja, ya! Kalau perlu kakak buat rumah sakit juga, aku yakin, Kakak sukses di bidang itu!" Olla menjilat.
"Tapi kalau kamu ingkar, anak kamu yang aku habisi! Aku udah tau dimana anak kamu kamu sembunyikan!" ancam Demian dengan muka sangat serius.
Olla mengangguk dan menggenggam tangan Demian yang semuanya bengkak itu. "Tentu Kakak Ipar. Pasti aku tepati janji! Makasih ya, Kak!"
Demian menarik tangannya kasar lalu menuju mobil. Membiarkan Olla mengikutinya ketakutan.
"Kak, apa nggak masalah saya satu mobil sama Kakak Ipar? Saya merasa nggak pantas!" Duh, Olla takut sebenarnya, tapi sudah terlanjur bilang juga. Gimana ini?
Demian mencibir sinis. Olla pasti merasa rendah dan hina di dekatnya. Ia dengan pongah berkata, "kamu harusnya tau sejak awal betapa hebat kami ini! Sebuah kehormatan bagimu karena bisa duduk sebelahan sama kasta tinggi sepertiku!"
Olla tidak membuang waktu lagi, lalu duduk seperti orang yang rendah diri. Uh, semoga nggak terjadi apa-apa. Ini agak menegangkan.
Alvin melihat semua itu tapi ia sengaja membiarkan Olla berusaha sendiri. Ia dan Devon sudah mengatur agar Demian teralihkan. Namun kesalahannya sendiri membawa Demian dengan mudah menemukan Olla.
Tapi ia heran dengan apa yang Olla katakan sampai Demian percaya semudah itu. Agak aneh saja kelihatannya. Tapi tidak juga. Demian memang dungu dan Olla sungguh pintar mengelabui. Entahlah siapa yang paling unggul di sini?
Alvin tersenyum licik. "Dia adalah anak seorang pembual, jadi jangan rendah diri jika kau keliru menilainya!"
ada apa dengan kak misshel?
tumben2an ini
Hanya karena wasiat harus memiliki pasangan baru dapat mewarisi bisnis tersebut, bukti nyata seperti buku nikah sudah cukup untuk memenuhi syarat. Hal seperti cinta tidak dapat dijadikan syarat karena sesungguhnya perasaan adalah suatu hal yg tak bisa di lihat, bisa dibuktikan tapi tetap tidak diketahui bukti tersebut tulus atau tidak.
Jadi, si tua Andika dan Damian kalian yg tidak memiliki perasaan dan hanya dibutakan harta harusnya lebih paham hal tersebut tapi malah sok² bijak/baik + sok tau menilai pernikahan seseorang demi mempertahankan yg bukan milik kalian. Sudah Jelas Tololnya + tak Tau malunya deh😏