7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
" Ada apa tante?" tanya Zaira ketika seorang wanita paruh baya datang menemuinya
" Apa ada hal penting yang ingin tante bicarakan pada kami?" kali ini Azka yang gantian bertanya pada wanita paruh baya yang tengah duduk di hadapan keduanya
" Nak Za, nak Azka... sebelumnya tante mau mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian berdua karena berkat kalian putri tante Mia mendapatkan perawatan yang sangat baik" tutur wanita paruh baya yang tidak lain adalah mamanya Mia yaitu mama Nina
" Tante tidak perlu berterima kasih kepada kami, sebagai sahabat mana mungkin kami membiarkan Mia sendirian menghadapi semua ini, apa yang kami lakukan tidaklah seberapa tante kami hanya berharap Mia segera sembuh dan bisa kembali sehat seperti dulu lagi" tutur Zaira yang tak pernah sanggup menahan air matanya setiap kali membicarakan tentang Mia
" Amin, semoga saja ingatan Mia bisa segera pulih dan dia bisa menerima dengan ikhlas tentang kepergian Sendy"
Zaira mengaminkan doa mama Nina dan keduanya pun saling berpelukan memberi dukungan satu sama lain
" Nak Za, nak Azka sebenarnya kedatangan tante kesini selain ingin mengucapkan terimakasih tante juga ingin meminta pendapat kalian berdua"
Azka dan Zaira saling melemparkan pandangannya " Pendapat apa tante!" tanya Azka mewakili sang isteri yang sama penasarannya
Mama Nina menarik napas terlebih dahulu sebelum mengutarakan maksud kedatangannya " Begini nak Azka, nak Za.. Tante berencana ingin membawa Mia pulang ke kampung halaman tante, ya siapa tahu dengan suasana di kampung, kondisi Mia bisa jauh lebih tenang dan bisa mempercepat masa menyembuhan kesehatannya" terang mama Nina
Zaira menoleh ke Azka wanita beranak tiga itu seakan meminta jawaban dari sang suami
Azka tersenyum dan mengusap lembut kepala sang isteri " Menurut saya itu ide yang cukup bagus tante, ya siapa tahu dengan suasana yang berbeda kondisi Mia akan jauh lebih baik dan masa penyembuhannya juga bisa saja meningkat, akan tetapi tante tidak bisa membawa Mia begitu saja, ada resiko yang perlu kita perhatikan, bagaimana pun Mia tetap harus selalu dalam pengawasan tante, setidaknya untuk berjaga-jaga takutnya apa yang tidak kita inginkan terjadi sementara tante akan sulit mengendalikannya dan hal itu akan berdampak buruk pada Mia dan juga lingkungan tempat tinggal nantinya " tutur Azka menjelaskan dengan sangat rinci dan mama Nina membenarkan semua yang diutarakan Azka
" Lalu apa yang harus tante lakukan nak Azka?"
" Mia bisa ikut tante pulang ke kampung halaman tante tapi Mia tetap harus didampingi oleh dokter Rani ( Dokter yang selama ini merawat dan menangani Mia) dokter Rani akan ikut bersama tante untuk menjaga dan memantau kondisi Mia sewaktu-waktu"
" Apa itu tidak merepotkan nak Azka dan bagaimana dengan dokter Rani sendiri apa dia tidak keberatan untuk tinggal di kampung tante?" mama Nina sungguh merasa tidak enak hati
" Tante tenang saja dokter Rani pasti tidak akan menolak, saya akan mutasikan dokter Rani ke sana dan nanti saya akan mencarikan dia tempat tinggal yang tidak jauh dari rumah tante jadi jika ada apa-apa tante bisa segera menghubunginya"
Mama Nina sungguh merasa sangat bersyukur karena Mia memiliki sahabat yang sangat baik entah dengan apa ia membalas kebaikan sepasang suami istri yang ada di hadapannya saat ini
" Hiks...Hiks...!"
Zaira dan Azka nampak terkejut karena tiba-tiba tubuh mama Nina bergetar
" Loh tante kenapa menangis?" Zaira meraih tangan mama Nina lalu menggenggamnya
" Tante.... tante tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian berdua, jika tidak ada kalian entah bagaimana nasib Mia sekarang" jawab mama Nina disela tangisnya
Zaira meraih tubuh renta itu lalu memeluknya " Tante jangan bicara seperti itu, Mia sudah Za anggap seperti saudara sendiri jadi jangan pernah merasa sungkan jika butuh apapun untuk Mia" ucap Zaira seraya mengurai pelukannya
Mama Nina menganggukkan kepalanya
" Terimakasih" ucapnya
Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Zaira dan Azka mama Nina pun pamit pulang
Saat ini Mia sudah tidak dirawat di rumah sakit lagi tapi sudah kembali pulang ke rumah orangtuanya
Saat mama Nina pergi ke rumah Zaira dan Azka di rumah Mia ditemani oleh dokter Rani dan juga mama Lidia
" Assalamualaikum!" ucap mama Nina ketika baru tiba di rumahnya
" Wa'alaikum salam" jawab mama Lidia dan dokter Rani bersamaan
" Maaf kalau aku terlalu lama perginya" ucap mama Nina yang merasa tidak enak dengan besannya
" Tidak apa-apa Nin, Mia kan putriku juga tidak masalah bagiku menemaninya di sini" sahut Mama Lidia
" Terima kasih Lidia" Mama Nina tersenyum
" Bagaimana pembicaraan mu dengan nak Azka?" tanya mama Lidia
Mama Nina menghela napasnya sebelum menjawab lalu menatap mama Lidia dan dokter Rani bergantian
" Nak Azka dan Zaira setuju aku membawa Mia pulang ke kampung tapi_!" Mama Nina melirik dokter Rani yang juga menatapnya
" Tapi apa?" tanya mama Lidia
" Tapi_!" mama Nina merasa tidak enak mengatakannya kepada dokter Rani
" Tidak apa-apa bu Nina, pak Azka sudah memberitahu saya sebelum ibu sampai di rumah, dan saya juga sudah membicarakannya dengan suami saya, Alhamdulillah dia tidak keberatan karena secara kebetulan suami saya juga sedang ditugaskan ke daerah tersebut" tutur dokter Rani yang mengerti perasaan Bu Nina yang pastinya merasa tidak enak dengannya
" Jadi kalian benar-benar akan pergi?" mama Lidia nampak sedih
" Kami pergi hanya untuk sementara Lidia, kau juga bisa mengunjungi kami jika kau ada waktu" sahut mama Mia
" Aku pasti akan sangat merindukan kalian" Mama Lidia merasa berat berpisah dengan Mia apalagi setelah putra semata wayangnya telah dinyatakan meninggal
" Aku tahu kamu pasti kesepian tapi ini demi kesembuhan Mia, semoga saja dengan suasana baru Mia bisa segera sembuh" terang mama Nina
" Amin, semoga saja" mama Lidia lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Mia
Mama Lidia menitikkan air matanya ketika melihat keadaan Mia yang nampak termenung menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong
" Semoga kamu cepat sembuh putriku!" ucap mama Lidia yang berdiri di ambang pintu menatap Mia dengan tatapan sendu
" Kapan kalian akan berangkat?" tanya mama Lidia ketika mama Nina sudah berdiri di belakangnya
" Mungkin lusa" jawab mama Nina
"Kabari aku sebelum kalian berangkat, jika mas Bram mengizinkan aku ingin ikut dengan kalian" ucapnya dengan mata yang tidak lepas menatap ke arah Mia
" Aku akan merasa senang jika kau bisa ikut"
Mama Lidia tersenyum " Ya, semoga aku bisa menemani Mia"
Karena hari sudah mulai gelap mama Lidia pun pamit pulang begitu juga dengan dokter Rani
Untuk saat ini kondisi Mia sudah jauh lebih baik, mungkin karena Siska yang sudah tidak bisa lagi datang menjenguknya membuat Mia jauh lebih tenang dan tidak gampang mengamuk