Jadi anak dari seorang duda ganteng nan kaya raya merupakan hal yang sangat merepotkan bagi Artika, gadis manis berusia 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas dua SMA.
Alih-alih sibuk dengan dunia percintaannya sendiri, Tika malah disibukkan dengan kisah cinta sang ayah.
Pasalnya, hampir setiap hari selalu ada wanita-wanita yang datang menitipkan salam untuk sang ayah melalui dirinya. Hal itu tentu saja membuat Artika kesal dan memutuskan untuk membantu mencarikan beliau pendamping hidup.
Pilihannya tiba-tiba tertuju pada Anissa, guru bahasa indonesia berusia muda yang langsung menarik perhatian gadis itu.
Berhasilkah Artika menyatukan mereka berdua demi kelangsungan dan ketenangan hidupnya sendirii?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Bakti pertama sebagai istri.
Aura kebahagiaan dan senyum merekah terpancar jelas di wajah kedua mempelai. Mereka dengan ramah menerima jabatan tangan dari para tamu undangan yang datang. Mereka tampak begitu menikmati resepsi pernikahan megah yang diadakan Ari.
Tika yang baru saja selesai mempersembahkan sebuah tarian penuh energik untuk sang ayah dan ibu barunya, bahkan terlihat sangat bahagia. Senyum manis tak pernah surut dari wajah cantiknya.
Akan tetapi, suasana bahagia yang dirasakan oleh para tamu undangan, sangat berbanding terbalik dengan raut wajah dua orang yang baru saja tiba di sana. Siapa lagi kalau bukan Tio dan Laura?
Pasangan sejoli itu sebenarnya sungkan untuk datang ke acara pernikahan Anissa dan Ari. Namun, hal tersebut terpaksa dilakukan karena Ari adalah atasan tertinggi mereka.
"Kamu duluan dong, Sayang!" seru Laura kesal. Sejak di pintu masuk tadi, keduanya tampak saling dorong mendorong pelan untuk datang ke atas pelaminan.
"Ck, kamu saja duluan!" tolak Tio.
"Ih, kamu ini!" Alhasil, Laura berjalan lebih dulu di depan Tio.
Sementara Anissa yang mendapati sosok sang mantan tunangan hanya bisa terdiam. Senyum di wajah cantiknya sempat hilang, sebelum kembali tersungging ketika sang suami menggenggam erat tangannya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ari lembut.
Anissa menggeleng pelan dan membalas genggaman Ari. "Tidak." Keduanya kembali menyalami beberapa tamu undangan lagi, hingga pada akhirnya Tio dan Laura muncul di hadapan mereka.
Laura mengulurkan tangannya ke hadapan Anissa dengan wajah gugup. "Selamat ya, Bu Anissa," ucap wanita itu sopan. Kini dia bahkan memanggil Anissa dengan sebutan kehormatan.
Anissa menyambut uluran tangan Laura. "Terima kasih sudah berkenan datang ke sini," ucapnya.
Laura tersenyum canggung sebelum akhirnya melanjutkan perkataan. "Maafkan sikap saya dulu. Saya harap, Anda tidak menyimpan kebencian terhadap saya," kata Laura penuh penyesalan. Dia tidak bisa memungkiri rasa takut yang hadir, bila Anissa menggunakan kekuasaan sang suami untuk memecat mereka. Namun, bukan berarti permintaan maaf yang terlontar dari mulutnya tidak tulus.
"Andai saja saya bisa melakukannya, bukan kamu yang akan saya benci, Laura," ujar Anissa sembari melirik Tio yang sedari tadi tertunduk di sebelah kekasihnya.
Mendengar ucapan Anissa, Tio tampak terkejut dan semakin menundukkan kepalanya
"Tapi, sekarang saya hanya ingin berbahagia tanpa mengingat masa lalu." ujar Anissa yang kemudian dengan berbesar hati beralih pada Tio dan menjabat tangan pria itu terlebih dahulu.
"Bahagiakanlah bersama Laura, jangan menjadi pria brenngsekk seperti dulu," pinta Anissa tulus. Embusan napas terdengar dari mulut Anissa setelahnya.
Lepas sudah rasa sakit hati yang sempat membelenggu selama bertahun-tahun di hati wanita itu. Dia memang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berdamai dengan masa lalunya, seperti memaafkan Tio dan Laura. Anissa tidak ingin memiliki penyesalan karena pernah mengalami hal buruk itu. Justru, dia sangat bersyukur, karena tanpa perbuatan Tio, dia mungkin tidak akan bertemu dengan sang suami tercinta.
Tio menatap nanar sosok Anissa, gadis polos dan baik hati yang dulu sangat dicintainya. Sosok yang pernah disakitinya sedemikian mendalam.
"Maafkan aku, Nis," ucap Tio dengan wajah bergetar.
Anissa mengangguk. Dia menepuk pelan lengan Tio dengan penuh keakraban layaknya seorang teman.
Laura dan Tio kemudian berjalan menuju Ari. Mereka -khususnya Tio- memberi ucapan selamat yang sama pada pria itu, dan memintanya untuk menjaga Anissa dengan sepenuh hati.
"Saya tidak akan menyia-nyiakannya, seperti seseorang di masa lalu." Meski sambil tersenyum, perkataan yang terlontar dari mulut Ari cukup membuat tenggorokan Tion tercekat.
Setelah selesai bersalaman dengan Ari, mereka kemudian beralih pada kedua orang tua Anissa. Kendati Anissa sudah memaafkan Tio, tetapi nyatanya tidak begitu dengan Ibu Widuri. Beliau bahkan enggan menerima uluran tangan Tio dan Laura.
Sepasang kekasih tersebut hanya bisa menunduk sembari menuruni pelaminan.
Resepsi yang berlangsung selama hampir tiga jam tersebut, berakhir dengan sangat baik.
...**********...
"Selesai," ujar Ibu Widuri, ketika baru saja melepaskan semua atribut di kepala putri bungsunya. Mereka berdua kini sedang berada di kamar penginapan yang telah disulap menjadi kamar pengantin.
"Terima kasih, Bu," ucap Anissa sembari menatap pantulan sang ibu di cermin.
Ibu Widuri tersenyum. "Sama-sama, Nduk. Sekarang, mandi lah. Ibu akan panggilkan suamimu."
Baru saja Ibu Widuri hendak melangkah pergi, Anissa buru-buru menahan tangan beliau.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ibu Widuri kebingungan.
Alih-alih menjawab, Anissa justru memasang wajah memelas di hadapan sang ibu. "Aku ... hanya bingung harus bagaimana, Bu," ucapnya dengan pipi merona merah.
Mendengar perkataan putri kecilnya, Ibu Widuri tersenyum maklum. Wanita itu kemudian mengajak Anissa untuk duduk di atas ranjang tidurnya, seraya menggenggam erat tangan Anissa.
"Jangan khawatir, Nduk, ibu rasa semua wanita memang mengalami hal demikian. Sebab, Ibu juga sama sepertimu dulu," kata Ibu Widuri.
"Lalu, bagaimana Ibu mengatasinya?" tanya Anissa penasaran.
Ibu Widuri tersenyum. "Berjalan saja ... ikuti alurnya. Apa lagi, Nak Ari sudah pasti berpengalaman."
"Ibu!"
Mendengar pekikan kecil Anissa, Ibu Widuri sontak terkikik geli. Setelah puas menggoda putri bungsunya tersebut, Beliau pun menceritakan sedikit hal yang pernah dia lakukan untuk sang suami pada hari pernikahan mereka dulu.
"Dulu, saat pertama kali bapak masuk ke dalam kamar pada malam pengantin kami, Ibu menyiapkan seember air hangat untuk mencuci kakinya. Ibu juga membantu menyiapkan air mandi hangat dan pakaian bersih untuk beliau," ujar wanita itu. "Kamu bisa melakukan hal yang sama sebagai wujud bakti pertamamu untuk suami, Nduk," sambungnya.
Anissa menganggukkan kepalanya patuh.
...**********...
Ari terkesiap, tatkala mendapati sebaskom air dengan rendaman mawar di dalamnya tersaji di sebelah tempat tidur. Tak jauh dari sana, dia juga melihat setumpuk pakaian bersih miliknya.
Tidak lama kemudian, Anissa keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar. Tidak ada lagi atribut pengantin yang menghiasi dirinya.
"Duduk dulu, Mas?" pinta Anissa ketika melihat sang suami sudah tiba di dalam kamar. Dia menuntun Ari untuk duduk di tepi ranjang, tempat baskom tersebut berada.
"Ini untuk apa?" tanya Ari.
Sambil membuka sepatu dan kaos kaki Ari, Anissa pun menjawab, "aku baru saja mendapat wejangan dari Ibu tadi," katanya seraya mencelupkan kedua kaki sang suami ke dalam air.
Ari terdiam. Dia memerhatikan bagaimana Anissa dengan telaten membersihkan kedua kakinya selama hampir tiga menit, lalu mengeringkannya dengan handuk kecil.
Selesai mencuci kaki Ari, Anissa membawa air tersebut ke kamar mandi dan membuangnya. Setelah selesai, dia baru menyiapkan air hangat untuk Ari mandi.
"Air hangat untuk Mas sudah siap," ujar Anissa.
Ari tentu saja terharu dengan perlakuan Anissa. Dia hanya bisa termangu di hadapan Anissa.
"Mas? Mas?" Anissa yang heran dengan keanehan Ari, mulai mendekatkan diri ke tubuh sang suami. Saat itu lah Ari langsung menarik istrinya dan memeluk tubuh kecil itu seerat mungkin.
"Terima kasih, Sayang, aku mencintaimu," ucap Ari lirih. Dada pria itu sontak bergemuruh keras, ketika akhirnya bisa menyentuh Anissa secara halal. Kebahagiaan benar-benar membuncah dalam dirinya.
Anissa tersenyum tipis lalu membalas pelukan sang suami. "Aku juga mencintaimu," jawabnya lembut.
❤❤❤❤
Ari Annisa❤❤
mbak Author
👍❤🙏
favorit
👍❤
PaMud mampir
Selanjutnya
Ry Benci Pakpol Mampir