NovelToon NovelToon
Mertuaku BUKAN Ibuku

Mertuaku BUKAN Ibuku

Status: tamat
Genre:Pelakor / Tamat
Popularitas:45.7k
Nilai: 5
Nama Author: febrianis

Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Healing POV Yusuf.

"Kamu baik-baik saja, Dek. Tidak perlu periksa!" kataku tidak terima dengan usul tersebut. Atau lebih tepatnya, aku yang terbakar api cemburu.

"Adek takut mandul, Mas!"

"Siapa yang mandul?" teriakan ibu membuat kami menatap kearah wanita itu yang kini tengah berkacak pinggang.

Aku membuang nafas panjang, tentu saja akan terjadi seusatu yang tidak diinginkan. Aku pun berinisiatif, menarik tangan istriku dan mengabaikan ibu. Walapun, aku tahu. Seperti apa tanggapannya nanti, kepadaku. Namun, aku berusaha tidak perduli. Sabab, perasaan takut akan kehilangan Febri. Membuatku, ingin sedikit melawan kepada ibu.

"Ayo, kita masuk, Dek," ajakku.

Tentu saja istriku hanya menurut, hingga. Suara teriakan ibu membutaku jegah.

"Yusuf! Kamu mau durhaka kepada Ibu? Kamu sudah berani tidak menghormati, Ibu!"

"Ada apa ini? Ribut-ribut."

Untung ada bapak yang datang disaat yang tepat, entah dari mana lelaki itu. Namun, aku tergolong dari kalimat kutukan ibuku sendiri.

"Itu, Pak! Ibu, mengatakan jika Mas Yusuf. Anak durhaka," adu istriku kepada bapak. Aku pun menatap tajam kearah Febri dengan tajam, aku tidak suka dengan sikapnya yang mengadu domba kedua orang tuaku. Walaupun, apa yang dikatakannya adalah hal yang benar sekalipun.

Sebab, tidak etis. Seseorang orang mengatakan keburukan saudaranya kepada saudara yang lain, lalu menimbulkan perdebatan ataupun pertengkaran diantara mereka.

"Benar itu, Bu? Kalau kamu bikin ulah? Aku akan bawa kamu pulang!"

Ibuku tidak menanggapi ucapan bapak, dia melenggang masuk. Aku pun segera menarik istriku dan membawanya kedalam kamar. Jujur saja, aku merasa tidak luas berada di rumah, karena ada kedua orang tuaku.

"Dek, kenapa kamu bilang seperti itu kepada bapak?" tanyaku. Ketika kami sudah berada di dalam kamar.

Aku melihat ada gurat kekesalan dari wanita yang kini duduk dirajang, aku tahu. Dia pasti sangat kesal akan apa yang aku ucapkan.

"Berbohong itu dosa, Mas! Adek juga gak ngadu! Cuma menjawab apa yang bapak tanyakan! Apa itu salah?"

Seperti dugaanku, dia pasti marah. Aku pun mencoba membujuknya, dengan duduk di samping wanita yang amat aku cintai. Lalu, aku menggenggam erat tangannya yang halus dan putih. Sungguh beruntung aku bisa memiliki istri sepertinya.

"Dek, ada dua golongan dan kamu bisa memilihnya. Yang pertama, adalah jujur lah. Walaupun itu menyakitkan dan yang kedua, berbohong lah. Jika, itu demi kebaika," jelasku dengan lemah–lembut.

Sudah menjadi suatu kewajiban untukku mendidik Febri, sebab dia adalah istriku. Tanggung jawabku, karena itu pula. Aku tidak ingin dituntut atas perkara ini, nanti dihadapan Tuhan.

"Baiklah, adek mengikuti yang pertama! Jujur 'lah, walaupun itu menyakitkan."

Aku pun hanya mampu tersenyum kecut, mendengar apa yang dikatakannya. Karena, tidak ingin berdebat. Aku memilih untuk pergi ke kamar mandi, meninggalkan wanita itu. Agar bisa berpikir sejenak dan mencerna apa yang baru aku katakan.

Namun, baru saja aku selesai mandi dan digantikan oleh istriku. Tidak sengaja, aku mendengar suara bapak dan ibu yang bertengkar.

"Kamu sudah tua! Siapa yang akan menjagamu, nanti? Jadi, orang jangan suka semena-mena!"

Terdengar, suara bapak yang memberi nasehat. Walapu, dengan suara yang seperti orang sedang marah. Tidak ada kelembutan didalamnya, yang ad hanya kekerasan.

"Terserahku, Mas! Kamu mau pulang? Ya pulang saja! Aku capek! Dan … kamu gak punya hak untuk mengaturku!" tungkas Ibuku dan berlalu. Aku menatap bapak yang kini juga membalas tatapanku.

"Bapak sudah berusaha! Bisa kamu lihat sendiri? Ibumu keras kepala! Bapak menyerah! Dan besok! Bapak akan pulang."

Setelah memberitahukan hal itu, bapak juga ikut berlalu. Aku segera kembali ke dalam kamar dan mulai mengenakan pakaian yang sudah istriku sediakan.

Semarah-marahnya wanita itu, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Hingga, mataku tertuju pada berkas yang tergeletak di nakas.

Karena, penasaran. Aku segera mengambilnya dan melihat isi didalam map berwarna coklat tersebut. Teryata, tugas isteriku.

"Mungkin ini yang dikatakan, tugas dari Pak Martin," gumamku pelan dan mulai membaca, isi didalam berkas tersebut.

Walaupun, aku tidak mengerti dengan apa isi didalamnya. Setidaknya aku tahu, jika istriku selalu berkata jujur.

"Mas! Bapak pergi!"

Aku tersentak kaget, mendengar apa yang istriku katakan. Kemudian, aku segera melangkah ke luar dan mencari kebenaran bapak. Sedangkan istriku, masuk ke dalam kamar.

"Bapak!" panggilku, ketika lelaki itu masih diambang pintu. Dengan perasaan gusar, aku mendekatinya dan bertanya, "Bapak mau ke mana?"

"Healing!"

Setelah mengatakan hal itu, dia pun pergi. Aku menatap punggung yang telah mulai menjauh, tanpa niat untuk mencegahnya.

Aku seolah memiki ide, dari apa yang diucapkan oleh bapak. Aku kembali masuk dan berpasan dengan ibu.

"Suf! Bapakmu pulang?" tanyanya dan aku pun menggelengkan kepala.

"Lalu, kemana dia?"

Bukan ibu namanya kalau tidak kepo, aku pun menjelaskan jika bapak pergi dan hanya mengatakan healing.

"Healing?" gumam ibu.

Aku segera bergegas menuju kamar, ketika aku masuk. Ternyata istriku tengah mengah mengerjakan tugasnya, aku mendekat dan memegang pundaknya. Dia pun berbalik, balik dan menatapku sekilas. Kemudian fokus kembali, pada leyar laptopnya.

"Bapak, ke mana, Mas?" tanyanya.

"Bapak, pergi healing! Oh iya, Dek. Gimana, kalau kita makan malam diluar?" ajakku.

Terlihat ada guratan kebimbangan, dari istriku. Dia mengangkat dokumen dan menunjuk layar laptopnya, seolah menjelaskan. Jika, ia memiliki pekerjaan. Aku tidak menyerah begitu saja, kembali kubujuk dia.

"Malam ini aja, Dek. Nanti, Mas bantu kamu mengerjakan pekerjaanmu. Mas, ingin sekali ke angkringan waktu itu. Pas kita pertama kali bertemu," jelasku, seraya membuat istriku mengingat kembali. Awal kami bertemu dan masa di mana dia kuliah, serta sering nongkrong.

Banyak orang mengatakan, jika masa muda adalah masa emas. Dimana, seseorang bisa melakukan banyak hal tanpa beban dan halangan. Sebab, masa itu. Seseorang tengah mencari jati diri dan bisa mengekspresikannya dalam bentuk yang mereka ingin.

Ada yang positif, tetapi ada pula yang negatif. Semua tergantung pada diri orang itu sendiri, sebab hidup ada di genggam Manusia. Tinggal, bagaimana. Manusia itu menjalaninya dan apa yang mereka pilih untuk masa hadapan.

"Beneran, Mas? Adek juga kangen masakan disana, dah lama … Adek gak pernah ke sana lagi."

Aku merasa senang, melihat istriku yang antusias dan kembali ceria. Tentu saja, hal itu membuat aku juga bersemangat. Kami pun memutuskan untuk pergi, jam delapan malam. Disaat, keadaan di tempat yang ingin kami tuju. Mulai renggang, sebab aku tidak suka berada dalam keramaian orang.

Setelah, bersiap-siap. Kami pun, melangkah keluar kamar. Akan tetapi, langkah kami dihadang oleh Ibu. Wanita itu menatap kami, dari atas hingga kebawah.

"Mau kemana, kalian?"

1
Komsiyah Komsiyah
makin belibet ceritanya
Komsiyah Komsiyah
panggilannya gak jelas ganti 2 sampai 3x
Ayujoe Desiana Haful
gak jelas 😏🥴🥴 gak ad akhir cerita
AZ & AR
HVS kali thor.. HIV mah pemyakit..
Author_Febrianis: iya kak 🙈 maaf, tempo 😅 mau ketawa, tapi ... takut dosa
total 1 replies
◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔
Saya suka novel ini, jalan & alur cerita nya benar² bagus 😱🥰🤩🤩
◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔
semangat kk, terus up ya😊 jangan terlalu memaksakan diri kk buat nulisnya, istirahat aja kk dulu😅🙏
◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔
saya dh mampir kk, novelnya bagus saya suka😆😆😊
As Cempreng tikttok @adeas50
karya keren kak, Semangat 😁
Lina Zascia Amandia
Gila Ibu mertua memakai baju kerja menantu...
Lina Zascia Amandia
Hehee... namaprotagonis wanitanya sm dgn napen Kak Wilda..... sedihnya pny mertua begitu, apalagiserumah....
Author_Febrianis: iya kak Lina 😅
total 1 replies
Lina Zascia Amandia
Likenya yang mampir duluan.
Lina Zascia Amandia: Sama2 semangat ya...
total 2 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Balada menantu dan ibu mertua.
sabar yak, Febri😌
Author_Febrianis: iya Mak 🤧
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!