NovelToon NovelToon
Pesan Terakhir

Pesan Terakhir

Status: tamat
Genre:Spiritual / Iblis / Dunia Lain / Mata Batin / Horor / Tamat
Popularitas:420.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: dtyas

Yura Bestari, jatuh sakit bahkan berhari-hari tidak sadarkan diri. Setelah sadar dia bisa melihat makhluk tak kasat mata.

Bahkan ada arwah yang sengaja mendekati Yura, meminta tolong menyampaikan pesan terakhir untuk orang yang ditinggalkan. Parahnya lagi ada sosok yang mulai mengganggu kehidupan Yura.

Mendapatkan kelebihan yang cukup menakutkan membuatnya dekat dengan salah seorang senior di kampusnya yang dikenal sangat cuek dan ternyata seorang indigo.

Bagaimana kisah Yura menghadapi arwah yang mengganggunya juga arwah yang ingin Yura menjadi jembatan untuk pesan terakhir mereka?

Apakah Yura bisa menghilangkan kelebihannya ini atau menjalani sampai akhir waktu?

==== mampir ke ig : dtyas_dtyas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Keluarga

Yura Pov

Perlahan aku pun menoleh, sosok itu berdiri disana menatapku sambil tersenyum.

“Ibu,” ucapku lirih.

Rasanya tubuhku begitu lemas tapi aku memaksakan diri untuk melangkah mendekat, aku ingin sekali memeluk Ibu. Beliau pergi tanpa tanda apapun bahkan melepas kepergianku untuk kuliah dan pulang karena beliau sudah tiada.

Rindu yang aku rasa sudah tidak dapat diucapkan lagi.

“Ibu,” ujarku sambil terisak mengulurkan kedua tangan.

Sosok Ibu menggelengkan kepalanya.

“Yura sayang, jangan sedih Nak. Ikhlaskan Ibu ya ….”

“Nggak, aku nggak mau. Aku mau ikut Ibu,” ujarku masih terisak dengan tubuh yang rasanya sulit untuk melangkah. Biasanya aku akan merespon tidak baik ketika ada makhluk tak kasat mata di dekatku tapi kali ini berbeda, hanya tubuhku yang terasa lemas.

“Sayang, jalani hidup dengan baik. Masih ada yang peduli dan sayang denganmu. Jangan terbawa emosi dan cobalah memaafkan, karena Ayah tidak sepenuhnya salah.”

Aku menggelengkan kepala, “Aku nggak peduli, mereka jahat. Mereka sudah menyakiti Ibu ….”

“Ibu pergi Nak, ingat pesan Ibu ya.”

“Jangan, Ibu jangan pergi,” pekik Yura.

Sosok itu tersenyum lalu perlahan hilang.

“Tidak … Ibu,” teriakku sambil menangis dan jatuh duduk menatap arah di mana tadi sosok ibu berada.

“Yura,” panggil Aldo yang langsung berjongkok dan meraihku ke dalam pelukannya.

“Non Yura,” panggil Bik Ela lalu menghidupkan lampu membuat ruangan terang benderang. Sedangkan aku masih meraung di pelukan Aldo yang berusaha menenangkanku.

“Bik, tolong ambilkan air minum,” titah Aldo pada Bik Ela.

“Yura … hei ….” Aldo menangkup wajahku lalu menghapus air mata. “Ada apa?”

“Ibu … Bang Al, ibu datang,” tuturku masih dengan isak tangis.

Aldo mengernyitkan dahinya, lalu menghela nafasnya.

“Aku mendapatkan pesan terakhir dari Ibu, aku nggak mau. Kenapa aku harus mendapatkan kelebihan ini dan merasakan sendiri pesan terakhir dari orang yang sudah pergi. Aku nggak mau.”

“Minum dulu,” titah Aldo yang menerima gelas dari Bik Ela.

“Oke. Sekarang kita ke kamar, kamu harus istirahat.”

“Di situ, Ibu tadi di situ Bang,” tunjukku. “Kita jangan pergi, Ibu pasti datang lagi,” ujarku.

“Yura, Ibumu sudah tenang di alam berbeda. Mungkin tadi beliau benar datang karena kamu masih terpuruk, kalau berikutnya ada lagi sosok yang menyerupai itu jelas bukan Ibu tapi jin yang menyerupai almarhum.”

“Tapi ….”

Aldo meraih tubuhku lalu menggendongku ala bridal style, akupun refleks mengalungkan tangan di lehernya dan membenamkan wajah di dadanya masih dengan isak tangis.

“Kami ke kamar Bik,” ujar Aldo.

Tubuhku di baringkan di ranjang dan di selimuti.

“Yura, berhenti menangis dan ingat pesan terakhir Ibumu. Beliau tidak mungkin hadir kalau kamu saat ini dalam kondisi baik,” seru Aldo. “Tidurlah,” ujar Aldo lagi lalu berbalik sepertinya akan menuju sofa tapi aku menarik tangannya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Aku nggak mau tidur sendiri,” keluhku karena saat ini aku masih membutuhkan pelukan.

Aldo mengerti apa yang aku ucapkan lalu beranjak menaiki ranjang dan ikut berbaring di sampingku di bawah selimut yang sama.

Aku langsung memeluknya lagi dan dia menggeser tangannya yang aku jadikan sandaran kepalaku.

“Sudah, nggak usah nangis lagi.”

...***...

Aku terjaga dan menatap sekeliling kamarku tidak menemukan Aldo.

“Eh, sudah bangun ya,” seru Aldo yang baru saja keluar dari walk in closet. Mengenakan baju koko dan sarung lalu menggelar sajadah.

“Kamu mandi sepagi ini?” tanyaku karena rambut Aldo yang sedikit gondrong tidak diikat dan terlihat masih basah. “Dingin banget ‘kan?”

“Iya, mau sholat ya wajib mandi. Nggak dingin aku pakai air hangat.”

“Tinggal berwudhu aja kali,” ujarku. Aldo hanya terkekeh.

“Besok-besok jangan pakai piyama yang bahan itu, bahaya,” ujarnya menunjuk piyama yang aku kenakan saat ini, piyama berbahan satin yang memperlihatkan lekuk tubuh.

“Bahaya,” ujarku. Tapi Aldo sudah memulai ibadahnya.

Aku masih berbaring miring menatap Aldo yang sudah mengucap salam tapi masih dalam posisinya. menunduk dan melantunkan doa serta dzikir. Dia pun menoleh dan kami saling tatap.

“Sholat dulu,” ujarnya.

“Mager, nanti dulu lagipula masih lama.”

“Jangan ditunda, cepat bangun atau mau aku gendong lagi.”

Aku mendengus lalu beranjak bangun menuruti perintah Aldo. Selesai dengan ibadah pagiku, aku kembali merebah di ranjang. Aldo yang tadi sempat menikmati rokoknya di balkon menggelengkan kepala melihatku kembali terbaring.

“Nggak boleh tidur lagi setelah subuh. Nggak baik untuk kesehatan.”

“Badan aku rasanya pada pegal, Bang.”

Aldo duduk di tepi ranjang. “Coba Ra, aku mau lihat lebam yang kemarin. Sudah hilang atau belum?”

Aku pun berbalik, Aldo menyingkap piyamaku entah apa yang dia lihat.

“Udah belum, sudah hilang ya?”

“Ra, kita sempatkan bertemu ayahku ya. Setelah kita menikah aku belum bertemu beliau lagi, sekalian aku mau tanya dengan beliau masalah lebam di tubuhmu. Mungkin besok, hari ini kamu sepertinya tidak fit.”

Kebetulan saat ini weekend jadi aku bisa bermalas-malas karena tubuhku lagi-lagi terasa tidak nyaman. Aldo sudah beranjak dari kamar, sedangkan aku sesekali menguap lagi karena kantuk luar biasa. Ponselku berdering ternyata panggilan dari Ayah dan bisa aku simpulkan kalau Ayah saat ini tidak ada di rumah.

Percakapan kami tidak lama, intinya Ayah mengajak aku dan Aldo untuk makan siang bersama sekaligus bertemu dengan seseorang. Aku jadi teringat pesan Ibu agar memaafkan Ayah serta tidak menyalahkannya, tapi bagaimana mungkin kalau keberadaan Ayah saja mencurigakan dan tidak jelas.

Author Pov

“Bik Ela,” panggil Aldo.

“Iya, Den Aldo. Butuh sesuatu?”

“Nggak, saya cuma mau tanya. Yura nggak ada saudara lain?”

“Hm, nggak ada Den. Non Yura anak satu-satunya.”

“Hubungan Yura dan orang tuanya gimana Bik?”

Aldo sengaja banyak bertanya untuk mengetahui keadaan keluarga tersebut yang mungkin saja ada hubungannya dengan yang Yura hadapi saat ini. Aldo menganggukan kepalanya mendengarkan penjelasan Bik Ela.

Menjelang siang, Yura menuruni anak tangga.

“Bik,” panggil Yura.

Bik Marni yang paling dekat pun menghampiri. “Non Yura mau makan?”

“Nggak Bik, Ayah ajak aku makan siang. Bang Aldo mana?”

“Tadi di luar Non,” jawab Bik Marni. Yura pun keluar melewati pintu samping dan mencari pria yang sudah berstatus menjadi suaminya. Ternyata pria itu baru saja beres mencuci mobil Yura dan motor miliknya.

“Ck, ngapain kali. Bisa minta Pak Ucup tau,” seru Yura membuat Aldo menoleh.

“Lain kali tidak boleh tidur pagi, tadi aku ijinkan karena kamu sedang kurang sehat aja,” ujar Aldo.

“Bang Al, Ayah ajak makan siang. Ayo siap-siap, kebetulan aku mau makan di luar.”

Aldo hanya tersenyum lalu berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Yura.

...***...

Saat ini Yura dan Aldo sudah berada di private room sebuah restoran sesuai dengan arahan Ayah Yura.

“Habis ini aku mau beli desert,” ujar Yura.

Belum sempat Aldo menjawab, terdengar ada suara gaduh di luar lalu pintu ruangan pun terbuka masuklah Ayah diikuti beberapa orang. Yura memandang lekat orang-orang yang hadir bersama Ayah. Seorang wanita yang Yura kenal karena pernah dikenalkan oleh Ibunya.

“Bu Broto,” gumam Yura lalu beralih menatap Kaivan yang juga ada di sana. Serta seorang pria yang menatap tajam ke arahnya, di mana ada makhluk hijau dan berbulu lebat berdiri di belakang pria itu. Artasena, pria sombong yang pernah datang ke rumahnya.

“Kita duduk,” ujar Ayah.

“Yura dan Aldo, Ayah rasa kalian sudah kenal dengan mereka,” ujarnya lagi.

Aldo mengusap tangan Yura yang berada di wajah meja, berusaha untuk menenangkannya.

“Mereka? Jangan bodoh kamu, kita ini keluarga,” hardik pria tua yang Yura belum pahami hubungannya dengan Kaivan juga ibunya.

 

1
Tutuk Isnawati
Luar biasa
Sri Wiludjeng
Cerita nya seru Bikin nagih .. pengen baca terus ...
Ajeng Sripungga
Luar biasa
Sri Widjiastuti
lhah kok enak???
Sri Widjiastuti
boro2... istrinya meregang nyawa g ditungguin
Sri Widjiastuti
kematian ibunya dibiarkan gitu aja ya??
Sri Widjiastuti
kok bisa adem wae ya, hub ayah, Yura & ibu anik??
Sri Widjiastuti
minta dibangunin. tp g bangun2
Sri Widjiastuti
diih ibu anik kok g paham punya bapak kaya begitu
Sri Widjiastuti
kaivan aja G berdaya dg si kakek gila
Sri Widjiastuti
tambeng e si Yura
Sri Widjiastuti
betul ni... ibunya meninggal jg karena guna2 pocong dr artasena
Sri Widjiastuti
ayah Yura selingkuh dg ibu kaivan ni. ketahuan. bertengkar deh. kaivan tahu & G nyaman dg si yura
Sri Widjiastuti
Yura G peka nihh... bener kaivan, G bisa dibilangi..
Sri Widjiastuti
ditunda lagiii
Sri Widjiastuti
Yura itu yg nyebelin
Sri Widjiastuti
emangbodo kan??
Sri Widjiastuti
trus G mikir ibunya kenapa yg merenung di taman gitu si Yura??
Sri Widjiastuti
ngapain jg G jujur dg ortu sendiri??? dituduh halusinasi, G suka.. trus gimana maunya??
Rinisa
best 👍🏻👍🏻👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!