Apakah dengan merenggut nyawa seseorang yang tidak bersalah membuatmu hidup tenang dengan bergelimang harta??
Jika hal itu dapat menghantarkan setiap orang ke surga dunia dan surga akhirat, tentu kau sudah tidak hidup di dunia ini. Melainkan sudah menjadi tumbalku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona ribka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Tumbal Pesugihan
Di rumah sakit mereka menunggu berjam-jam sampai tengah malam. Johan dan Becca tidak tega meninggalkan Isna sendirian, sementara bidan yang ikut bersama mereka sudah pulang setelah menceritakan kondisi terakhir Rasty saat di tangani olehnya kepada dokter yang sekarang menangani Rasty.
Johan pun menelepon istrinya Hanum, mengabari bahwa dia akan pulang setelah Rasty mendapatkan kamar perawatan. Syukurnya tak lama setelah itu tepat pukul setengah satu dini hari Rasty dapat di pindahkan ke ruang perawatan.
Isna ibu Rasty sudah menelepon kerabat mereka, dan mereka bisa datang besok pagi. Becca pun meminta ayahnya untuk pulang, sementara Becca memutuskan menemani Isna ibu Rasty di rumah sakit.
"Ayah pulang saja, Becca mau temani tante Isna disini.." Ucap Becca.
"Yakin kamu kak, gak takut??" tanya Johan memastikan.
"Disini banyak orang ayah, lagian apa yang harus Becca takutkan dengan tante Isna." Jawab Becca Sembari tersenyum.
"Baiklah kalau kamu merasa begitu, ayah pulang dulu ya. Beritahu tante Isna kalau ayah sudah pulang." Ucap Johan.
"Iya ayah, hati-hati di jalan." Ucap Becca.
Johan pergi meninggalkan rumah sakit, Becca langsung masuk ke ruang perawatan. Disana hanya ada Becca, Rasty dan tante Isna yang tertunduk dengan wajah yang sangat sedih.
Mereka hanya duduk diam sampai setengah jam, hingga akhirnya Becca memberanikan diri untuk bertanya kepada tante Isna karena memang mereka sama-sama tidak bisa tidur malam itu. Mereka fokus menunggu Rasty yang belum sadarkan diri.
"Tante maaf kalau Becca lancang, tapi Becca ingin tau apa yang sebenarnya sudah terjadi tante??" tanya Becca sembari memegang tangan Isna.
Isna menunduk air matanya tampak mengalir di pipinya.
"Kalau tante gak bisa cerita, gakpapa kok tante jangan di paksa ya tante." Ucap Becca yang tidak ingin memaksa.
"Tidak nak, tante akan ceritakan semuanya pada kamu." Ucap Isna dan menghapus air matanya.
Isna pun akhirnya menceritakan semuanya dari awal kepada Becca. Becca mendengarkan dengan sangat serius setiap ucapan yang keluar dari mulut tante Isna.
"Sebenarnya tante gak tau kalau om Robert bersekutu dengan setan seperti ini hanya untuk kekayaan. Sebelum om Robert pensiun dini dari perusahaannya, om Robert hanya mengatakan pada tante ingin buka usaha tapi tidak bilang jenis usahanya. Sampai akhirnya pertama kali om Robert buka pabrik sama seperti ayah kamu, telur dan arang jelas tante marah mengapa harus jadi pesaing bisnis sahabat sendiri sementara banyak bisnis lainnya. Dengan perdebatan panjang akhirnya kami tidak lagi menternakkan telur, tante minta untuk om Robert fokus ke arang dan membuka restoran. Saat pertama kali buka restoran, restoran kami sangat sepi Becca. Tante pikir mungkin karena baru jadi kami tunggu sampai akhirnya genap 10 bulan kami buka restoran tidak ada keuntungan sama sekali, di saat itu kami mengalami kerugian besar-besaran. Tante dan om bertengkar hebat kembali, sampai suatu om pergi dari rumah dan hanya mengatakan ingin belajar bisnis dengan rekannya selama seminggu. Karena tante merasa sangat mengenal suami tante, tidak ada pikiran buruk atau keganjalan disana. Tante sangat percaya apa yang di ucapkan om pada tante." Ucap Isna.
Isna menarik nafasnya panjang.
"Setalah pulang dari rumah temannya itu sebulan di rumah om benar-benar berubah drastis. Dia bangun satu ruangan khusus di belakang rumah terpisah dari dapur. Tapi waktu itu ruangan itu dia gembok dan kunci tante atau Rasty dilarang masuk kesana. Om Robert menjadi pemarah, pendiam dan sangat sulit di ajak berkomunikasi. Namun sejak saat itu juga restoran kami jadi sangat ramai. Tante sangat bahagia dan jadi melupakan sikap om Robert yang mulai berubah. Kami berpisah, Om fokus ke pabrik arang sementara tante fokus ke restoran jd kami jarang bertemu. Hanya bertemu di rumah saat malam." Ucap Isna dengan sangat serius.
Becca pun mendengarkan cerita Isna dengan sangat serius dan mencoba mencerna semuanya secara perlahan. Isna menceritakan kembali kepada Becca, saat tengah malam Isna ingin ke kamar mandi tidak mendapati suaminya di kamar. Isna mencoba mencari ke ruang tengah hingga sampai ke dapur.
Di dapur Isna melihat pintu belakang rumah mereka terbuka, dari pintu dapur itu Isna mendengar suara-suara aneh dari dalam bilik yang di buat suaminya. Isna mendekati bilik itu dan dengan jelas Isna mendengar suara d*sah** seorang pria dewasa dan seorang wanita.
Isna sangat mengenali suara lelaki itu tapi tidak mengenali suara wanita itu. Isna sangat merinding hingga akhirnya pergi kembali ke kamar dengan tubuh gemetar. Isna berpura-pura tidur, sampai pagi pun suaminya tidak kunjung kembali ke kamar. Jelas ada rasa khawatir, gelisah, cemburu yang membara di hatinya.
Paginya Isna bangun sudah mendapati suaminya duduk di teras dengan secangkir kopi. Isna yang berpura-pura tidak mendengar apapun semalam mencoba basa-basi dengan suaminya.
"Mas kok kamu sudah bangun cepat banget." Ucap Isna saat itu.
Dengan dingin Robert menjawab," iya, aku gak bisa tidur semalam."
Saat itu Isna hanya berpura-pura tersenyum, saat mereka semua sudah pergi bersama. Isna ke restoran dengan Rasty sementara Robert ke pabrik. Tak lama sampai di restoran, Isna menyerahkan semua urusan ke Rasty dan berkata ingin bertemu dengan teman-temannya.
Namun Isna tidak pergi bertemu dengan teman-temannya melainkan ke rumah. Isna pulang ke rumah, dengan cepat Isna langsung membuka gembok kamar yang ada di belakang rumah mereka. Bilik yang dilarang Robert untuk dimasuki, namun karena rasa cemburu dan penasaran Isna masuk ke kamar itu.
Betapa terkejutnya Isna saat mengetahui di kamar itu ternyata kosong, tidak ada seorang wanita. Namun banyak sesajen dan ada satu tempat tidur yang sangat mewah. Isna mendekati tempat tidur itu dan bergidik jijik serta merinding karena begitu banyak cairan yang mengering di kasur itu. Jelas Isna mengetahui itu cairan apa, Isna tiba-tiba sangat mual dan keluar dari ruangan itu.
Isna mengunci dan mengembalikan kunci ke tempat semula. Isna yang mual pun langsung muntah di kamar mandi. Di kamar mandi itu Isna muntah dan menangis. Ada rasa jijik yang melanda hatinya, Isna sangat ingin bertanya dan marah kepada suaminya namun apa daya dia tidak ada keberanian untuk itu.
Yang Isna dapat lakukan hanya menangis dan mencoba menyelidiki dengan perlahan mengenai apa yang sudah suaminya perbuat selama ini.
Bersambung..
Sebenarnya apakah yang Robert perbuat??
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca dan terus mengikuti cerita saya. Semoga teman-teman dapat terhibur dengan cerita-cerita saya, tetap sehat dan selalu semangat untuk kita semua. Love you all ❤️.