“Mel, kamu harus cepat-cepat pergi dari sini agar Jemmy dan Tianka bisa secepatnya menikah. Karena meski di mata hukum Jemmy masih resmi menjadi suami kamu, talak yang Jemmy berikan sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri hubungan kalian. Enggak usah dipersulit apalagi sampai nuntut gana-gini. Toh saat datang ke sini, kamu cuma modal apem basi yang sudah biasa dipakai banyak laki-laki. Bahkan kamu sampai hamil di luar pernikahan, sebelum akhirnya kamu malah mandul, kan? Saya sampai hafal, ngeri, saking bobroknya kamu jadi wanita!” ucap ibu Marta sambil melirik sinis Amel.
Amel dan Jemmy saling mencintai, meski hadirnya Tianka dalam hubungan mereka langsung mengubah segalanya. Tianka selaku teman masa kecil sekaligus cinta pertama Jemmy membuat perhatian bahkan cinta Jemmy terbagi. Jemmy benar-benar bermain api, terlebih ibu Marta sang mamah yang sangat membenci Amel justru sangat mendukung hubungan Jemmy dan Tianka.
Tak mau makin terluka, Amel memilih mundur, pergi membawa rahasia besar mengenai kehamilannya. Akan tetapi ketika akhirnya takdir kembali mempertemukan mereka dalam keadaan yang berbeda, kehidupan Amel kembali tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak? Ternyata Jemmy sudah menikahi Tianka, tapi masih tetap tidak bisa melepaskan Amel, terlebih kini ada James dan juga Josh, putra kembar mereka.
Mampukah Amel lepas dari luka sekaligus lingkaran dendam yang menjeratnya, kemudian hidup bahagia bersama kedua putra kembarnya, layaknya impian terbesarnya? Lantas, benarkah Jemmy tetap tidak bisa memilih? Atau pria itu akan membiarkan Dion yang selalu tulus kepada Amel dan putra kembar mereka, menggantikan perannya sebagai laki-laki yang sepenuhnya mencintai Amel, sekaligus menjadi papah sambung terbaik untuk putra kembar mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 : Terbiasa dan Bisa
Malam pertama Josh dan James pulang ke apartemen Amel, keduanya langsung rewel dan tak hentinya menangis. Semalaman penuh hingga dini hari, Amel mondar-mandir menenangkan bayi-bayinya ditemani orang tuanya. Fatalnya lantaran ASI Amel juga sampai kurang, Josh dan James terpaksa diboyong ke rumah sakit lantaran keduanya juga sampai demam tinggi sekaligus dehidrasi.
Melalui pesan WA, Amel mengabari Jemmy, tanpa meminta pria itu datang. Jemmy memang membalas meski pria itu melakukannya terbilang telat. Sekitar paginya, Jemmy mengabarkan sudah kembali ke Indonesia karena Tianka akan melahirkan.
Di Indonesia tepatnya di salah satu rumah bersalin kelas elite yang ada di Jakarta, Tianka yang sudah mengalami pembukaan sempurna tak kunjung bisa mengejan. Malahan, Tianka sibuk memarahi semua orang yang ada di sekitarnya tanpa terkecuali Jemmy. Jemmy yang masih kalut sekaligus emosi lantaran Amel tak mau ia nikahi, balik memarahi Tianka, menyamakan Tianka dengan Amel.
“Semua wanita yang melahirkan juga merasakan sakit, Ti. Beneran bukan hanya kamu. Amel saja yang melahirkan dua bayi besar-besar, kuat. Kamu, yang satu dan dokter bilang kecil, seheboh ini! Lihat, itu kepalanya sudah kelihatan! Kalau kelamaan gini, kasihan bayinya!” marah Jemmy.
Ibu Marta yang ada di sana bersama sang suami dan juga papah Tianka, langsung tidak terima. Ibu Marta memarahi Jemmy. Petugas rumah sakit di sana termasuk dokter yang akan menemai Tianka menjalani persalinan dan sedari awal sudah memberi arahan sekaligus semangat, menjadi kecewa bahkan malas berurusan dengan Tianka.
“Kamu bilang gitu karena kamu enggak ngerasain jadi aku, Jem! Tahu-tahu aku sedang hamil tua, bahkan aku sampai melahirkan lebih cepat, kamu masih saja ngelayab nyamperin yang enggak pasti ke Singapura!” tegas Tianka meledak-ledak. Ia yang masih duduk dan baru saja ditinggalkan para perawat maupun dokter yang akan membimbingnya menjalani persalinan, berkata, “Aku mau sesar saja!”
“Sudah disesar saja! Kasihan bayinya, punya mamah enggak becus kayak dia!” sergah Jemmy tak kalah emosi.
“Jeem, dari kemarin aku begini!” rengek Tianka refleks berteriak.
“Nah makanya karena sudah dari kemarin, kasihan bayinya!” sergah Jemmy masih dengan nada tinggi.
Acara persalinan yang harusnya dipenuhi energi positif malah penuh drama sekaligus perdebatan. Ibu Marta sampai mendorong pak Winarya untuk menyeret Jemmy pergi dari sana, sedangkan ia sengaja mendekati sekaligus menenangkan Tianka. Memberi menantu kesayangannya itu dukungan lebih.
***
Semenjak setiap kabar yang Amel kirim kepada Jemmy hanya dibalas dengan kesibukan Jemmy, Amel memutuskan untuk berhenti melakukannya. Tanpa mengganti nomor ponsel maupun memblokir nomor Jemmy dengan maksud tidak memutus hubungan Jemmy dengan putra-putra mereka.
Tanpa terasa, satu tahun telah berlalu dan selama itu juga, jangankan datang, sekadar kabar Jemmy saja, tidak ada. Jemmy benar-benar lepas komunikasi meski pria itu selalu online dan kerap mengunggah kabar termasuk foto-fotonya bersama Tianka dan putri mereka. Namun sepanjang Jemmy mengunggah foto sang putri, wajah bayi perempuan itu selalu ditutupi. Termasuk di akun Instagram Tianka, wajah putri pasangan pengkhianat itu selalu disensor.
Satu tahun berlalu, otomatis Amel juga sudah mengambil keputusan penting untuk kariernya di sana. Amel memilih resign, dan berniat kembali ke Indonesia dengan kebahagiaan yang telah ia dapatkan semenjak perpisahannya dari Jemmy.
Josh dan James tumbuh dengan sangat cepat. Keduanya juga mulai berlarian, mengucapkan beberapa kata andalan, layaknya sekarang.
“Ini,” lirih James yang tengah memilih video di ponsel yang Dion kendalikan. James duduk di pangkuan Dion, sedangkan Josh sang kakak dan hanya berbeda usia tiga puluh detik, berdiri di belakang punggung Dion. Josh mendekap punggung Dion, mengunci pundak kanan pria itu menggunakan dagunya. Sedekat itu memang hubungan Dion dengan kedua putra Amel dan harusnya memang terjadi pada Jemmy.
Kadang, rasa nelangsa itu hadir dan tak jarang membuat Amel menitikkan air mata di setiap sang putra ditanyai oleh orang-orang akan keberadaan papahnya. Termasuk ketika keduanya lengket dengan Dion layaknya sekarang.
Sejauh ini, yang James dan Josh tahu, papah mereka itu pak Antony. Karena bukannya memanggil kakek atau opa, Josh dan James memang memanggil sang kakek dengan sebutan papah tua. Sedangkan kepada Dion, keduanya kompak memanggil Om.
Di bandara kini, mereka tengah menunggu jadwal penerbangan. Di sebelah Amel, orang tuanya tengah asyik membahas foto-foto yang menghiasi layar ponsel ibu Mia.
Resah, Amel kembali melirik sebelah kanannya selaku kebersamaan Dion dan kedua putranya. Tak lama kemudian, Amel mengeluarkan ponsel dari tas jinjing warna birunya. Ia membuka ruang obrolan WA-nya dengan Jemmy. Di ruang obrolan yang dipenuhi pesan darinya itu, ia sengaja mengirimkan potret kebersamaan Dion dan kedua putranya.
Amel : Kami akan kembali ke Jakarta. Dion melamarku, dan aku sudah menjawab iya. Kami akan menikah dalam waktu dekat.
Satu hal yang membuat Amel mantap menerima lamaran dari Dion. Selain selalu membuatnya nyaman, Dion juga sangat dekat sekaligus peduli kepada James dan Josh. Baru saja, pria itu menoleh kepadanya hingga tatapan mereka bertemu.
“Kenapa?” lirih Dion yang sengaja menggunakan tangan kanannya untuk mengusap ubun-ubun Amel. Wanita yang makin hari makin modis itu mendesah sambil menunduk.
“Ngantuk,” lirih Amel bersandiwara padahal pada kenyataannya, ia terlalu takut ibu Marta dan Tianka melukai anak-anaknya, andai ia di Indonesia.
Dion yang langsung tersenyum dan nyaris menertawakan Amel, berangsur menggunakan tangan kirinya untuk membingkai dagu Amel. Melalui kenyataan tersebut, ia menyandarkan kepala kekasihnya itu pada pundak kirinya. Tak lama setelah itu, Amel menggunakan kedua tangannya untuk mendekap pinggang Dion. Kenyataan Amel yang pura-pura tidur malah membuat wanita itu sungguh ketiduran. Saat akan masuk pesawat, Josh dan James sengaja diserahkan kepada ibu Mia dan pak Antony.
Di pesawat pun, Josh dan James masih bersama orang tua Amel. Penerbangan pertama yang keduanya jalani, malah diisi dengan tidur pulas oleh keduanya. Padahal mereka sempat cemas Josh dan James akan rewel. Bahkan karena itu juga, Dion dan pak Antony sengaja didatangkan untuk ikut membantu.
Amel dan Dion yang duduk bersebelahan dan memang kerap memperhatikan Josh dan James yang duduk lurus di seberang mereka, refleks tersenyum ketika tatapan mereka tak sengaja bertemu.
“Kamu enggak sepenuhnya bahagia. Katakan padaku, apa yang kamu khawatirkan dan sudah sangat mengganggu pikiran kamu?” lirih Dion masih menatap Amel. Ia yang duduk di sebelah jendela, berangsur meraih sekaligus menggenggam kedua tangan Amel.
“Sebenarnya aku enggak hanya khawatir, Ion. Karena sebenarnya, aku sangat takut.”
Pengakuan lirih Amel barusan, refleks membuat Dion mengernyit. “Takut?”
Amel mengangguk-angguk dan beberapa kali menepis tatapan Dion sambil menggigit kuat bibir bawahnya. “Aku takut, ... Tianka dan ibu Marta macam-macam ke Josh dan James. Bahkan aku yakin, alasan Jemmy sengaja menjaga jarak dari kami juga masih karena mereka.”
“Nanti aku sewa pengawal khusus buat jaga Josh dan James. Jadi kamu jangan takut lagi. Malahan takutnya, ketakutan berlebihan kamu berdampak buruk ke semuanya. Pokoknya kamu enggak usah takut, terlebih untuk urusan jaga Josh dan James, mamahku sudah langsung daftar,” lirih Dion meyakinkan sambil menahan senyumnya.
“Ih, kamu!” lirih Amel sambil tersenyum gemas. Ia yang sempat bingung melampiaskannya lewat apa, memilih mencubit asal perut Dion yang malah menjadi sibuk menahan tawa.
Sambil meringis dan mengelus asal bekas cubitan Amel, Dion berkata, “Ya sudah sekarang kamu tidur lagi. Tadi kan kamu kelihatan ngantuk banget. Jujur saja aku curiga, kalau ternyata alasan kamu gampang ngantuk di setiap aku ada di dekat kamu karena kamu merasa sangat nyaman saat bersamaku!” godanya masih berucap lirih.
Menahan tawanya, Amel juga menjadi tersipu. Iya, ... bersama kamu, aku memang senyaman ini. Hawanya ngantuk terus. Kamu bikin aku sedamai ini, hingga aku leluasa buat istirahat apalagi tidur, Ion! Batin Amel yang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Dion.
“Bakalan susah kalau kayak gini,” ucap Dion yang kemudian mengambil sesuatu dari balik punggungnya. Bantal leher warna abu-abu ia ambil dari sana kemudian mengenakannya kepada Amel.
“Begini akan membuat kamu jauh lebih nyaman karena tempat duduk kita agak jauh,” ucap Dion masih lirih dan sangat manis.
“Thank you!” lirih Amel yang tersenyum ceria, menatap Dion.
“I love you!” balas Dion sambil mengelus pelan ubun-ubun Amel, kemudian mencium kening wanitanya itu penuh sayang dalam waktu terbilang lama.
Jujur, sedekat apa pun hubungan mereka, jika sedang mendadak diperlakukan dengan sangat romantis layaknya sekarang, Amel langsung merasa kikuk sekaligus sangat canggung kepada Dion. Mungkin karena belum terbiasa, tapi sejauh ini, sejak semalam dan Dion kembali melamarnya untuk yang ke dua puluh empat kali, rasa nyaman itu tetap yang Amel rasakan di setiap kebersamaan mereka.