"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Persaingan 2
Arsen menggerakkan kakinya, hendak melangkah. Tapi, Erina segera menahan lengannya.
"Sayang, jangan sekarang," bisiknya pelan.
Arsen mengerutkan kening. "Tapi...."
"Semua orang sedang melihat. Lagi pula, pihak Atma Group sudah datang."
Arsen menoleh ke depan. Beberapa orang memasuki ruangan. Mereka adalah Arga dan tim nya.
Semua peserta rapat segera berdiri.
Arga tersenyum tipis sebelum mempersilakan semua orang kembali duduk.
Arsen mendengus pelan, lalu mengurungkan niatnya dan kembali ke kursinya. Namun, tatapannya yang tajam tidak sedikit pun beralih dari Alena.
Wanita itu tampak tenang, seolah tidak menyadari gejolak yang sedang berkecamuk di dalam dirinya. Atau mungkin, wanita itu memang tidak peduli.
"Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi Anda semua dalam proyek Atma Group," ucap Arga. Ia menatap seluruh peserta satu per satu.
"Perkenalkan, saya Arga. Bersama tim, saya akan menyeleksi langsung proposal dan presentasi dari setiap perusahaan. Karena waktu kita terbatas, mari kita mulai acara ini sekarang juga."
Sesuai urutan yang telah ditentukan, satu per satu perwakilan perusahaan maju ke depan untuk mempresentasikan proposal mereka.
Ruangan dipenuhi suasana serius.
Setiap peserta menjelaskan konsep, desain, perhitungan anggaran, serta keunggulan dari proyek yang mereka tawarkan.
Semua yang hadir mendengarkan dengan saksama. Tapi, tidak dengan Arsen. Pandangannya terus tertuju pada satu orang.
Alena.
Wanita itu duduk di samping Doni dengan ekspresi tenang. Sesekali, ia membuka dokumen di tangannya dan berdiskusi pelan dengan timnya.
Wanita itu tidak terlihat gugup sama sekali, sangat berbeda dengan wanita yang selama ini ia kenal.
Rahang Arsen mengeras. Kedua tangan Arsen mengepal di atas pahanya. Tatapannya semakin tajam.
"Jadi, selama ini kamu bekerja untuk WIN Group," geramnya dalam hati.
Ia kembali mengingat semua perubahan Alena selama beberapa bulan terakhir. Sikap Alena yang mulai berani melawan. Kesibukannya yang membuatnya sering pulang larut. Tatapan dingin yang kini wanita itu berikan padanya.
Semuanya mulai masuk akal.
Tapi, muncul pertanyaan yang mulai mengganggu pikirannya.
Bagaimana Alena bisa bergabung dengan perusahaan sebesar WIN Group?
Perlahan, perasaan tidak nyaman mulai menyelimuti hati Arsen.
"Baiklah, selanjutnya silakan, dari ASN Group. Kami persilakan memulai presentasinya," ucap Arga.
"Tidak peduli kamu bergabung dengan Win Group atau perusahaan manapun. Hari ini, aku yang akan mendapatkan tender itu," batin Arsen penuh percaya diri. Dia bangkit dari duduknya dengan ekspresi percaya diri, lalu melangkah ke depan ruangan.
"Tuan dan Nyonya, terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada ASN Group."
Layar besar menampilkan desain resort mewah dengan gedung hotel menjulang dan deretan vila eksklusif.
"Kami menawarkan konsep modern luxury resort yang dilengkapi hotel bintang lima, ballroom internasional, pusat perbelanjaan, dan marina pribadi. Berdasarkan perhitungan kami, proyek ini dapat selesai dalam waktu dua puluh empat bulan."
Arsen menjelaskan dengan tenang. Erina juga memaparkan estimasi biaya dan proyeksi keuntungan.
Setelah hampir empat puluh menit, presentasi selesai.
Arga menautkan jari-jarinya. "Presentasi yang cukup baik."
Arsen tersenyum tipis.
Tapi, Tim arga yang bernama Sarah justru membuka sebuah dokumen di depannya.
"Tuan Arsen, saya ingin bertanya," ucap Sarah.
"Tentu."
"Konsep yang Anda tawarkan memang mewah. Tapi, apa yang membedakan resort ini dengan puluhan resort mewah lainnya? Apa nilai unik yang akan membuat wisatawan memilih Azure Bay?"
Arsen terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab. "Kami menawarkan fasilitas premium dan pelayanan kelas dunia."
Sarah mengangguk pelan, tetapi wajahnya belum menunjukkan rasa puas.
"Semua itu dimiliki hampir setiap hotel bintang lima."
Arsen mengerutkan kening.
Surya kemudian ikut berbicara. "Selain itu, dalam proposal Anda, tingkat pengembalian investasi diperkirakan tercapai dalam tujuh tahun. Menurut analisis kami, angka itu terlalu optimistis. Apa dasar perhitungannya?"
Arsen menatap layar presentasi. Sementara Erina meminta salah satu anggota timnya untuk membuka beberapa data.
"Em... Kami menggunakan rata-rata tingkat hunian hotel di wilayah tersebut."
"Wilayah yang mana?" tanya Surya lagi.
"Kawasan pesisir bagian timur."
"Apakah Anda memiliki data wisatawan internasional lima tahun terakhir?"
Pertanyaan itu membuat salah satu anggota tim ASN Group gugup.
"Data lengkapnya... Saat ini tidak kami bawa."
Arga menghela napas pelan. "Artinya, Anda belum memiliki analisis pasar yang benar-benar matang."
Wajah beberapa anggota tim ASN Group berubah tegang. Tapi, Arsen masih berusaha untuk tetap tenang..
"Kami dapat melengkapi data tersebut jika diperlukan."
Arga tersenyum tipis. "Tentu. Tapi, kami berharap semua itu sudah dipersiapkan sebelum presentasi."
Ucapan itu terdengar halus, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi canggung.
Setelah beberapa pertanyaan lagi, presentasi ASN Group pun ditutup.
Arsen kembali ke tempat duduknya dengan rahang mengeras karena ada beberapa poin yang gagal mereka jawab dengan sempurna.
"Selanjutnya, dari WIN Group."
Semua mata beralih ke arah Doni. Tapi, pria itu justru mempersilahkan Alena untuk maju menjelaskan.
Wanita itu berdiri dengan tenang. Ia berjalan menuju depan ruangan sambil membawa remote presentasi.
"Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada WIN Group."
Layar menampilkan gambar pantai yang indah.
"Kami tidak hanya ingin membangun sebuah hotel mewah. Kami ingin membangun sebuah destinasi."
Kalimat pertama itu langsung membuat Arga dan tim nya saling pandang.
"Konsep yang kami tawarkan adalah Eco-Luxury Experience," ujar Alena. "Saat ini, wisatawan tidak hanya mencari kemewahan. Mereka juga menginginkan pengalaman yang berbeda dan berkesan, sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan di tempat lain."
Layar berikutnya menampilkan desain resort.
"Ada tiga keunggulan yang kami tawarkan," lanjutnya. "Pertama, kepedulian terhadap lingkungan. Tiga puluh persen kebutuhan energi resort akan menggunakan tenaga surya."
"Yang kedua, pengalaman budaya lokal. Kami akan bekerja sama dengan masyarakat sekitar agar para tamu bisa menikmati wisata budaya dan kuliner khas daerah."
"Dan yang ketiga, privasi serta pelayanan eksklusif. Kami akan menyediakan vila premium dengan pelayan pribadi dan akses pantai khusus."
Sarah mulai tersenyum, sementara Surya mencatat sesuatu di buku catatannya.
Alena kemudian mengganti slide.
"Berdasarkan riset yang kami lakukan selama enam bulan terakhir, jumlah wisatawan kelas premium di kawasan ini terus meningkat hingga dua puluh dua persen setiap tahun."
Data dan grafik pun muncul di layar.
"Kami juga mempelajari lima resort pesaing. Dari hasil analisis kami, belum ada satu pun yang menggabungkan konsep ramah lingkungan dan pengalaman budaya lokal secara menyeluruh."
Arga menatap layar dan mendengarkan presentasi Alena dengan penuh perhatian.
Tidak lama kemudian, presentasi selesai dan sesi tanya jawab dimulai.
"Jika target pasar Anda adalah wisatawan kelas premium, bagaimana cara Anda menjaga jumlah tamu agar tetap stabil di luar musim liburan?" tanya Sarah.
Alena tersenyum. "Kami sudah menyiapkan tiga strategi." Ia kembali mengganti slide.
"Pertama, bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk mengadakan konferensi dan acara bisnis di resort ini. Kedua, menyediakan program liburan kesehatan atau wellness retreat selama satu minggu bagi wisatawan internasional. Dan yang ketiga, kami akan membuat program keanggotaan eksklusif dengan berbagai keuntungan khusus bagi pelanggan tetap."
Jawaban itu membuat Arga dan lainnya saling bertukar pandang.
"Bagaimana jika jumlah wisatawan menurun akibat krisis ekonomi global?" tanya Surya.
Tanpa terlihat gugup sedikit pun, Alena menjawab, "Kami sudah mempertimbangkan kemungkinan itu dalam analisis risiko."
Slide baru pun muncul.
"Dalam kondisi terburuk, tingkat hunian diperkirakan turun hingga lima belas persen. Namun, pendapatan dari pusat konvensi, vila premium, dan program keanggotaan masih cukup untuk menjaga kondisi keuangan perusahaan tetap stabil."
Surya mengangkat alis. "Anda bahkan sudah menghitung kemungkinan terburuk?"
"Tentu, Pak. Proyek sebesar ini tidak boleh hanya berfokus pada keuntungan. Kami juga harus siap menghadapi berbagai risiko yang mungkin terjadi."
Arga tersenyum tipis. "Saya punya satu pertanyaan terakhir."
"Silakan, Pak."
"Mengapa kami harus memilih WIN Group?"
Alena menatap semua orang di ruangan itu, terutama Arga dan timnya. Ia tahu, itulah pertanyaan yang paling penting.
"Kami tidak datang hanya membawa proposal pembangunan. Kami datang membawa visi jangka panjang," jawab Alena.
"Resort ini bukan sekadar bangunan mewah. Ini adalah investasi yang bisa menjadi ikon pariwisata dan memberikan keuntungan selama puluhan tahun. Karena itu, proyek sebesar ini membutuhkan mitra yang bukan hanya mampu membangun, tetapi juga tahu bagaimana mengembangkannya agar terus maju."
Arga tersenyum lebar. "Sangat menarik. Saya rasa, jawaban-jawaban Anda sudah cukup menunjukkan kemampuan WIN Group. Namun, kami masih perlu berdiskusi sebelum memutuskan siapa yang akan memenangkan tender ini."
Sarah dan Surya mengangguk setuju.
Sementara itu, Arsen terus menatap Alena tanpa berkedip. Ia tidak menyangka wanita itu mampu menjawab setiap pertanyaan dengan begitu tenang dan meyakinkan.
Dan, Arsen mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Kagum sekaligus merasa terancam.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...