Jual-beli harusnya barang, bukan manusia.
Dimalam Fasya menolak untuk berhubungan badan dengan kekasihnya.
Dia dijual.
Dilempar ke ranjang yang besar, pria tampan berbadan tinggi yang cukup berkharisma datang.
"Jika kau bisa menjadi pengasuh putra ku, maka aku akan membayar mu cukup tinggi."
- Shin
Bukan memuaskan hawa nafsu yang pria itu inginkan, tapi menjadi pengasuh anaknya? Kenapa harus Fasya?
Tapi ketika Fasya masuk ke rumah itu, dia menemukan banyak hal baru, fakta tentang siapa dirinya sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kan, makanya jangan nyuri!
"Ah, senangnya habis ini aku mau apa ya? Hmm? Ga sabar nunggu Minggu depan dan---"
Nathalia diam ditempatnya, saat dia melihat di depannya, di halaman rumah utama keluarga Cadivan ada kobaran api yang cukup besar, dimana tampak Asta disana berdiri dengan seluruh barang-barangnya?
Nathalia ingin murka saat itu juga, saat dia sadar bahan bakar dari api yang menyala itu adalah seluruh barang-barangnya yang Asta lemparkan sendiri ke dalam api menyala itu.
Nathalia berlari kencang, dia ingin menampar Asta, namun detik itu juga dihentikan oleh Margaret.
"Jangan lupa kalau anda berani kasar pada tuan muda, maka anda akan diusir dari rumah ini segera, seperti Non Tiara."
Mendengar perkataan Margaret, Nathalia membeku di tempatnya. Dia ingat, itu adalah ancaman Shin. Baik Naina, Nathalia maupun Jason, dilarang keras untuk menyentuh dan melakukan kekerasa terhadap Asta, Shin sendiri yang berjanji akan mengusir siapapun di rumah ini yang kasar pada Asta.
Yah walau waktu itu Shin memberikan keringanan pada Tiara, karna Tiara adalah adik tunggal yang paling Sagita sayangi, kan?
Makanya, Nathalia langsung diam ditempatnya tak berkutik, dia lebih takut dirinya di usir dan dicoret dari keluarga Cadivan dibanding harus kehilangan seluruh barang-barangnya.
Meski begitu, tak membuat Nathalia ikhlas atas segala barang-barangnya yang sudah menjadi arang dan debu dihadapannya sendiri. Barang-barang yang sangat dia sayangi.
Dia menoleh ke kanan, setidaknya sudah ada setengah dari barang-barangnya yang sudah hangus terbakar. Di sisi kanan Asta, dia melihat ada enam pakaian yang dia ingat sebagai pakaian Fasya yang dia rampas.
Pakaian-pakaian itu jauh dari api, masih aman dan rapi, masih berbentuk sempurna. Melihat itu sepertinya membuat Nathalia sadar akan satu hal, Asta marah karna dirinya mengambil barang-barang yang diberikan untuk Fasya.
"Jangan bilang kau bakar semua barang-barang ku karena pakaian itu?!" Nathalia meninggikan suaranya, dia menatap Asta benci, pupil matanya tampak melebar, dia murka sekarang, urat-urat kekesalan jelas terukir dikeningnya. Jika dia bisa, dia ingin mengajar satu bocah sialan ini.
"Iya, kenapa? Itu kan salah mu, kau punya barang-barang mahal atas pemberian ayah ku, terus kenapa berani-beraninya merampas barang-barang bibi ku?!" Asta melipat tangannya, menatap Nathalia dengan berani, siapa yang peduli?
Asta sudah menyimpan enam pakaian baru khusus untuk Fasya itu, dia juga tidak berniat membakarnya karena itu adalah pakaian-pakaian yang sudah Asta pilihkan sendiri dengan hati-hati untuk sang bibi yang baik hati.
Cukup dicuci saja, itu adalah perintah Asta, karna menurutnya sudah terkontaminasi oleh tangan-tangan kotor milik Nathalia.
"Kau bocah! Hentikan itu, padamkan apinya cepat!"
"Baju yang kau kenakan, lepas itu dan bakar sekarang, aku gak Sudi baju pilihan ku kau pakai. Itu baju yang harusnya menjadi milik bibi ku." Asta paling kesal dengan ini, itu adalah pakaian yang dia pilihkan paling khusus untuk Fasya, dress coklat muda yang sudah Fasya kenakan dan tampak sangat cantik dan menarik.
"Aku tidak mau! Kau pikir kau siapa berani mengatur ku?!"
"Oh?" Asta tidak takut, dia bahkan menatap Nathalia sinis, anak jenius kita ini memancarkan permusuhan terang-terangan pada Nathalia.
......................
Harusnya kalau aku bilang lepas dan bakar, kau harusnya menurutinya, kan kalau seperti ini masalahnya jadi panjang.
Begitulah batin Asta, saat dia sedang dihadapkan dengan situasi yang cukup menarik di depannya sekarang.
Asta sedang bersantai ria dengan beberapa cemilan di tangannya, juga ada Fasya yang ikut duduk di sebelahnya, sesekali Asta menyuapi Fasya, atau bahkan sebaliknya.
Tak jauh dari mereka, duduk juga Shin dengan wajah dingin dan mata tajamnya, Shin memang dikenal dengan orang beraura gelap, tekanan yang menyesakkan dan tanpa senyuman.
Tapi saat ini, tekanan itu terasa sepuluh kali lipat lebih berat dari biasanya, karna beberapa alasan, terutama karna gadis yang sedang berlutut di hadapannya saat ini.
Dia Nathalia.
Nathalia saat ini sedang berlutut di hadapan Shin, disaksikan oleh beberapa pelayan yang bersembunyi dan mencoba curi-curi pandang untuk menyaksikan drama keluarga Cadivan hari ini.
Nathalia gemetar, dia berkeringat, bisa dia rasakan tatapan Shin yang begitu menusuk jantung dan pikirannya, apalagi tekanan disekitar Shin yang terasa sangat berat.
Siapa saja tolong Nathalia! Dia ingin pergi darisana, dia takut pada Shin dengan segala kepribadian kakak tirinya itu.
Nathalia menyesal, harusnya dia tidak memperpanjang masalah ini dan membiarkan saja Asta membakar barang-barangnya dibanding dia harus berhadapan dengan Shin.
Setelah Nathalia menolak melepas dress coklat muda itu, Asta langsung mengadukan segalanya pada Shin, Asta memprovokasi Shin sedemikian rupa hingga bos besar yang gila kerja itu murka.
Shin meras harga dirinya ternoda, dia yang membelikan pakaian itu untuk Fasya dengan uangnya sendiri. Shin yang memberikan itu untuk Fasya, lalu tiba-tiba adik tirinya datang dan merampas itu semua dengan dalih itu adalah miliknya.
Jelas, Shin marah saat itu juga.
"Kak, aku tidak--"
"Tutup mulut mu, aku belum bertanya apapun, kau cukup menjawab saat aku bertanya saja."
William masih kesal, makanya dia menahannya dengan terus tetap diam.
Semua orang tegang, termasuk Margaret dan William.
Tapi coba lihat bibi dan keponakannya ini? Mereka berdua sibuk makan cemilan di tempatnya sembari menyaksikan itu. Fasya ingin iba sih, tapi kata Asta tidak perlu, Fasya diminta fokus saja pada cemilannya.
Mau bagaimana lagi, cemilan itu memang enak, Fasya kan jadi terbawa suasana.
"Makanya, barang orang lain tuh jangan diambil, rasain kan. Lagian, berani-beraninya ambil barang bibi aku, huh!" Ledek Asta dari tempatnya, dia bahkan tidak merasa bersalah, Asta dengan tenang membuka mulutnya saat Fasya memberikan cemilannya.
Jangan tanya, sikap Asta dan Fasya juga membuat Shin kesal. Shin sudah begitu serius, tapi yang disana sibuk makan cemilan.
Apa cemilan itu jauh lebih penting dari aku disini?
Shin kesal, rasanya dia tidak lebih berarti dari beberapa cemilan kering yang disantap dua orang disana.
makasih Thor
sehat slalu lah byar up sampai tamat.
aku suka ❤️👍
padahal suka banget ceritanya
dapat notif tak kira up
ternyata 😌