NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Nikah Kontrak Dengan CEO Impoten

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Persahabatan / Disfungsi Ereksi / Tamat
Popularitas:916.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Auraliv

Disha dan Defan sama-sama dituntut oleh keluarganya masing-masing untuk menikah. Saat itulah mereka sepakat melakukan pernikahan kontrak.

Disha merupakan wanita karir yang selalu mengutamakan pekerjaan. Sementara Defan, tidak berminat menikah karena tak pernah memiliki hasrat jatuh cinta. Lelaki itu bahkan sengaja melakukan suntik impoten agar miliknya tidak berfungsi lagi. Disha dan Defan sendiri sudah bersahabat semenjak SMP.

Namun siapa yang menduga? 'Junior' Defan jadi tak terkendali saat melihat Disha melepas pakaian. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah pernikahan kontrak mereka dapat berjalan lancar?

*Note
Novel ini bergenre komedi romantis. Hanya sekedar hiburan. Yang baca pakai logika, sebaiknya baca novel detektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Siapa Pelakunya?

...༻✡༺...

Kini Disha berada di ruangannya. Dia masih merasakan mual. Akibat hal itu, Disha jadi kesulitan fokus bekerja.

Terdengar suara ketukan pintu. Disha mempersilahkan orang yang datang untuk masuk. Dia ternyata adalah Fida. Membawakan bubur pemberian Defan.

"Ini, Bos. Dari suaminya," ujar Fida sembari menyodorkan plastik berisi bubur.

"Kau langsung memberikannya tanpa menuang buburnya dulu ke wadah?" sahut Disha. Karena keadaannya sekarang, dia jadi mengalami suasana hati buruk.

"Maaf, Bos... Aku akan ambilkan mangkuknya." Fida membungkuk. Lalu segera mengambilkan mangkuk untuk Disha.

"Apa yang terjadi kepadamu, Sha... Kau nggak pernah seperti ini sebelumnya." Disha mengeluh kepada dirinya sendiri. Dia memijit-mijit pelipisnya dengan satu tangan.

Setelah diambilkan mangkuk oleh Fida, Disha langsung memakan bubur pembelian Defan. Bubur dan daging bebek ada di plastik berbeda. Defan pasti membeli makanan itu di tempat berbeda. Mengingat hampir tidak ada orang yang menjual bubur bebek.

"Aku merasa lebih baik setelah makan bubur," ungkap Disha yang telah menghabiskan bubur. Dia menyandar ke kursi sambil memegangi perut. Rasa mual juga perlahan menghilang. Disha akhirnya bisa fokus bekerja.

Ketika makan siang tiba, Disha mengajak Fida dan karyawan lain untuk makan di restoran enak. Tanpa disangka, Disha bertemu dengan Dimas di sana. Dimas terlihat bicara dengan rekan bisnisnya.

Usai mengurus pekerjaan, Dimas bergabung bersama Disha. Ia duduk di sebelah perempuan itu.

"Sudah pesan?" tanya Dimas.

"Ini kami baru mau pesan. Kalau bawa banyak orang begini, pesannya pasti lama, Co," jawab Disha.

"Iyalah, kan mereka harus memilih makanan yang mau dimakan dulu," tanggap Dimas. Dia menyodorkan buku menu kepada Disha. Perempuan itu segera melihat-lihat. Namun saat melihat hidangan yang ada di menu, mual Disha tiba-tiba kembali. Perempuan itu reflek menutupi mulut.

"Disha! Kamu nggak apa-apa?" tanya Dimas dengan perasaan khawatir.

"Bos!" Fida segera mengelus punggung Disha. "Mualnya kembali lagi ya?" tanyanya.

"Mual?" Dimas mengerutkan dahi.

"Iya, dari tadi pagi Bos mual-mual terus," sahut Fida.

"Mualnya parah tuh. Sebaiknya periksa saja ke dokter, Bos." Jihan memberikan usul.

"Itu benar. Kau harus periksa ke dokter. Aku akan menemanimu, oke?" Dimas setuju dengan usulan Jihan.

"Maaf sebelumnya ya, Mas Dimas. Menurutku sebaiknya Bos Disha pergi bersama suaminya saja. Takut kalau gejala yang di alami Bos Disha adalah kehamil--"

"Hus! Jangan menyimpulkan sembarangan!" Disha langsung angkat suara. Ia segera menatap Dimas. Mengajak lelaki itu untuk menemaninya memeriksakan diri ke dokter.

Dimas tentu setuju. Dia dan Disha berangkat tanpa makan siang terlebih dahulu.

"Kau salah makan apa, Sha?" tanya Dimas. Dia dan Disha sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat.

"Tadi malam letoy beli banyak banget bir. Kayaknya gara-gara aku kebanyakan minum deh, Co." Disha menjawab sambil memejamkan mata. Sesekali dia mengangakan mulut ke bawah karena ingin muntah. Dimas bahkan menyerahkan kantong plastik untuknya.Tetapi tidak ada apapun yang keluar dari mulut Disha.

"Kau itu harusnya terapi, Sha! Kau sudah kecanduan tahu nggak. Lebih baik buang kebiasaan burukmu sekarang," ucap Dimas memberi nasihat. "Lagian kenapa letoy beli bir segala. Dia lagi banyak pikiran apa?" sambungnya yang merasa tak habis pikir.

"Aku juga nggak tahu. Tadi malam itu tumben banget letoy beli begituan," balas Disha. Selang sekian menit, dia dan Dimas tiba di rumah sakit.

Disha memeriksakan diri. Ketika namanya dipanggil, dia langsung masuk ke ruangan dokter. Sementara Dimas memilih menunggu di luar.

Dokter bernama Faris memberikan Disha beberapa pertanyaan. Kemudian tidak lupa memberikan pemeriksaan ke perut perempuan tersebut.

Faris tersenyum setelah menemukan hasil dari diagnosisnya. Dia menyuruh Disha untuk kembali duduk.

"Jadi aku kenapa, Dok?" tanya Disha penasaran.

"Mbak datang sendirian?" Faris justru berbalik tanya.

"Enggak. Aku datang sama teman. Kenapa ya, Dok?"

"Aku kira sama suaminya. Kalau bareng suaminya kan bisa dapat kabar baik ini sama-sama."

"Maksudnya, Dok? Bisa ke intinya saja nggak?" Disha sudah tidak sabar.

"Selamat ya, Mbak. Kau hamil anak pertama!" ujar Faris dengan senyuman lebar. Dia tentu mengenal Disha. Menantu dari Zidan dan Zerin. Nama dua orang tua Defan itu memang terkenal di kalangan banyak dokter.

"A-apa?!" Mata Disha membulat sempurna. Dia memegangi dada karena merasa sangat syok. Disha nyaris pingsan.

Faris yang melihat bergegas menenangkan. "Mbak? Mbak Disha nggak apa-apa?" tanyanya.

Disha memegangi perutnya. Dia memasang tatapan kosong dan berjalan keluar dari ruangan.

Menyaksikan kemunculan Disha, Dimas bergegas menghampiri. Menanyakan hasil pemeriksaan dari perempuan tersebut.

"Apa kata dokter? Kau baik-baik saja kan?" tanya Dimas.

Disha masih terdiam. Dia perlahan merengek dan memecahkan tangis.

"Disha!" Dimas langsung memeluk Disha. Dia segera membawa perempuan itu jauh dari keramaian.

Dimas menuntun Disha duduk di bangku taman rumah sakit. Dia berusaha menenangkan sahabatnya tersebut lebih dulu, kemudian barulah menanyakan apa yang terjadi secara baik-baik.

"Ada aku di sini, Sha. Semuanya akan baik-baik saja," tutur Dimas.

"Semuanya nggak baik-baik saja, Co!" ujar Disha. Menyebabkan dahi Dimas sontak berkerut.

"Aku hamil, Co! Aku hamil!" ungkap Disha histeris.

Mata Dimas membuncah hebat. Dia sangat kaget mendengar pengakuan Disha. Yang ada dalam pikirannya, Disha dan Defan pasti sudah menjalin hubungan melewati batas kontrak mereka.

"Ka-kau dan Defan melakukan..." Dimas mencoba menebak. Namun Disha langsung menepis. Perempuan tersebut menggeleng kuat.

"Nggak! Kami hanya pernah berciuman bibir. Tidak lebih dari itu, Co! Kau tahu sendiri Defan melakukan suntik impoten. Dia tidak mungkin melakukannya. Terlebih malam itu, dia sudah membantuku meredakan obat perangsang yang tidak sengaja kuminum!"

Dimas semakin tercengang. Dia sakit hati saat mendengar Disha dan Defan pernah berciuman. Keduanya bahkan tidak menceritakan hal itu kepadanya.

"Maaf, Co. Aku baru menceritakan ini kepadamu. Aku merasa malu saat mengingatnya," ucap Disha yang masih terisak.

"Lalu... Siapa yang menghamilimu?" Dimas dibuat bingung. Sebab Disha menampik keras kalau pelakunya adalah Defan.

"Itulah masalahnya. Aku tidak tahu, Co! Aku nggak pernah melakukannya dengan siapapun. Aku bersumpah!" Disha memeluk Dimas. Dia begitu frustasi dengan keadaan yang menimpanya sekarang.

Begitu pun dengan Dimas. Dia tidak menyangka, perempuan yang sejak lama dicintainya tiba-tiba divonis hamil.

"Apa aku mendapat azab? Atau aku dihamili oleh jin?..." rengek Disha. "Huhuhu... Aku harus bagaimana?..." sambungnya. Tangisan Disha berakhir mencapai sesegukan.

Wanita mana yang tidak syok saat mengetahui dirinya divonis hamil, padahal dia merasa tidak pernah berhubungan intim dengan siapapun.

"Tenang, Sha. Kita akan atasi masalah ini pelan-pelan..." kata Dimas. Dia yang sudah sedikit tenang, berusaha menenangkan Disha.

Meski Disha terus menepis, namun entah kenapa Dimas tidak bisa berhenti mencurigai Defan. Dia harus menanyakan langsung kepada sahabatnya itu sesegera mungkin. Dimas juga ingin tahu reaksi Defan saat mengetahui Disha hamil.

1
ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰
🔥🔥🔥🔥
Yundari Gayosa
Luar biasa
Marine Gulo
Biasa
Marine Gulo
Kecewa
Nindy Liani
Luar biasa
Ayachi
👍
Ayachi
novelnya up di apk baca novel Mana yahhh, thorr?!
Auraliv: sudah aku hapus kak
total 1 replies
Ayachi
Jangankan pil Kontrepsesi ataupun pengaman, Suntik IMPOTEN aja masih ga mempan smaa gagaknya Defan😭😭🤣
Ayachi
ga habis thinking gw, sesubur apa sebenarnya defan ini😭😭😭🤣
Ayachi
Aisshhh, Lebih bejad dari bapaknya si Zidan ini mah, parah deh
Ayachi
Sumpah nih anak satu, Gak gentle banget sihh, bapaknya Bejad anaknya Gak gentle jdi cowo hisss
Ayachi
Mau bohongin Zidan? Dia aja ngatur strategi utk ngelawan Wira demi bisa enak²an sama Zerin, bahkan masih banyak kebohongan lgi🤣 Udah Suhu si Zidan soal bohong² gini🤣🤣
Ayachi
Trjebak frendzone yah
Kamiem sag
habislah kau Def
Kamiem sag
bingung Disha? bayangin aja gak merasa diperawanin tau2 bunting🤣🤣
Kamiem sag
benar benar bejad si Def mau menggauli istri dlm keadaan tdk sadar
Kamiem sag
moga Jerry menemukan gadis yg lebih baik
Kamiem sag
nyamukpun kena sasaran😀😃
Kamiem sag
bejat banget Defan gak tanggung jawab gak mau ngakuin perbuatannya
Kamiem sag
nah mulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!