Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab30
Keyla merebahkan badannya di kasur, satu jam yang lalu ia telah sampai di rumah orangtuanya, setelah mengobrol panjang dengan mamanya Keyla memilih untuk tidur di kamarnya.
Tidak butuh waktu lama Keyla telah tertidur pulas.
Di tempat yang sama lebih tepatnya di ruangan tamu Sofia tengah membereskan bekas cemilan di meja, tidak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya, karena penasaran Sofia melihat siapakah yang barusan datang. Sofia tersenyum ternyata yang datang adalah menantunya, siapa lagi jika bukan Edwin. Edwin keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
"Assalamualaikum," ucap Edwin.
Sofia tersenyum.
"Walaikumsalam, pasti nyariin Keyla, tuh dia lagi dikamar atas," ucap Sofia seraya menerima salam dari Edwin.
Edwin tersenyum.
"Papa belum pulang mah?" tanyanya.
"Belum, papa kamu betah di negara orang mama kan jadi kangen," ucap Sofia membuat Edwin tertawa.
"Eh malah ngajak kamu ngobrol, yaudah sana ke atas," titah Sofia.
"Jangan lupa buatin mama cucu, oke," ucap Sofia menepuk pundak Edwin.
"Maahh,"
"Hahaha mama ke belakang dulu, good luck," ucap Sofia seraya berlalu dari hadapan Edwin.
Edwin terkekeh pelan menanggapi ucapan ibu mertuanya, ia segera menaiki tangga dan menuju kamar Keyla.
Edwin berdiri di depan pintu bercat putih, ia mengetuk pintu di depannya.
Tok tok
Edwin menunggu tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar Keyla. Edwin memegang hendel pintu dan membukanya, ia tersenyum saat melihat Keyla yang tengah tertidur terlentang di atas kasur. Edwin menutup kembali pintu kamar dan segera menghampiri Keyla.
Edwin mengamati wajah Keyla, tangannya terulur untuk memegang pipi mulus Keyla.
Keyla membuka matanya tiba-tiba karena terusik dengan sentuhan yang ada di pipinya.
"Kamu ngapain disini bukannya tadi mau ketemu temen?" tanya Keyla dengan suara seraknya.
Edwin tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Edwin tiba-tiba menaiki ranjang dan tidur di samping Keyla dengan kepala yang ia letakkan di ceruk leher Keyla. Keyla terkesiap.
"Kamu ngapain?" tanya Keyla gugup.
"Bentar aja Key," ucap Edwin.
Keyla mengangguk pasrah. Keyla memegang rambut Edwin dan mengelusnya pelan.
"Kalau aku bohong kamu marah?" tanya Edwin tanpa menatap Keyla.
"Tergantung, kamu bohongnya kayak gimana," ujar Keyla. Apa suaminya sedang ingin berbohong sehingga dia bertanya seperti itu atau ia sudah melakukannya. Dari pada menduga-duga lebih baik Keyla bertanya.
"Kenapa tanya gitu?" tanya Keyla.
"Gak papah sayang aku cuman tanya," ucap Edwin merapatkan tubuhnya dan memeluk pinggang Keyla posesif.
"Aku nggak suka di bohongi, kamu juga kan pasti," ujar Keyla. Memangnya siapa yang ingin dibohongi meskipun dengan embel-embel demi kebaikan tetap saja rasanya sakit. Tidak percaya coba saja.
Edwin terdiam sebentar memikirkan omongan Keyla.
"Ed," panggil Keyla seraya memegang lengan kekar Edwin.
Edwin mendongakkan kepalnya menatap Keyla.
"Apa sayang?" tanya Edwin.
"Kamu nggak lagi sembunyiin apa-apa kan dari aku?" tanya Keyla menatap balik Edwin. Ia curiga pada Edwin yang tiba-tiba bertanya hal yang pasti dia tahu jawabannya.
"Enggak," jawab Edwin.
"Really?" tanya Keyla memastikan seraya menatap manik mata Edwin.
"Aku nggak bohong," ucap Edwin lalu mengecup singkat pipi Keyla.
"Oh ok," jawab Keyla singkat.
"Tapi mata kamu bohong Ed" Batin Keyla.
"kamu bisa geser nggak, kamu berat," ucap Keyla melepaskan tangan Edwin yang melingkar di pinggangnya.
Edwin tidak menolak ia melepaskan tangannya dari pinggang Keyla.
"Mau kemana?" tanya Edwin ketika Keyla ingin beranjak dari ranjangnya.
"Pamit sama mama," jawab Keyla.
"Pulang sekarang?" tanya Edwin memeluk Keyla dari belakang.
"Iya," jawab Keyla.
"Satu jam lagi hmm?" tanya Edwin menyingkirkan rambut Keyla yang berada di leher.
Keyla sedikit terkejut ketika Edwin mengecup lehernya singkat. Ia tahu apa yang akan Edwin lakukan setelah itu dan Keyla harus mencegahnya sebelum terjadi.
"Ed kita lagi ada di rumah mama," ucap Keyla sedikit merasa tidak nyaman. Ia malu jika mamanya mengetahui apa yang Keyla dan Edwin akan lakukan.
"Apa bedanya sama dirumah," ujar Edwin semakin mempererat pelukannya pada Keyla.
Keyla menghembuskan nafasnya pelan. Ia pasrah, lebih baik ia menuruti keinginan suaminya dari pada mementingkan rasa malunya.
"Oke kamu menang," ucap Keyla membuat Edwin tersenyum lebar.
•••
Keyla melirik jam yang menggantung di dinding menunjukkan pukul 2 siang, ia berganti menatap Edwin yang terbaring di sampingnya dan jangan lupakan tangannya yang memeluk pinggang Keyla.
Keyla menghembuskan nafasnya pelan badannya terasa remuk setelah melakukannya berulang kali dengan Edwin dan sepertinya dia akan merasakan sakit jika harus berjalan.
Keyla menaikkan selimut sampai ke lehernya mengingat ia tidak memakai apapun begitu juga dengan Edwin.
Tapi kegiatannya itu mengusik tidur Edwin. Edwin perlahan membuka matanya dan menatap Keyla.
Keyla ingin berucap tapi Edwin terlebih dahulu membungkam mulut Keyla dengan bibirnya.
"Makasih sayang," ucap Edwin tersenyum cukup lebar hingga membuat Keyla cukup terkagum dengan senyuman Edwin barusan.
Keyla tersenyum tipis membalas senyuman Edwin, setelah itu Keyla menjadi terdiam.
"Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Keyla menatap Edwin.
"kenapa?"
Keyla sekali lagi menatap Edwin kemudian sebuh keraguan muncul dalam benaknya.
"Nggak," ucap Keyla menggelengkan kepalanya pelan.
Edwin memiringkan kepalanya ia mengamati wajah Keyla, tangannya terulur untuk mengusap pipi kiri Keyla.
"Kenapa hmm?" tanya Edwin.
"Gak papah Ed, udah ih sana mandi badan kamu lengket," ucap Keyla melepaskan tangan Edwin dari pipinya.
"Masa?" Tanya Edwin menaikkan alisnya bergantian dan malah menempelkan badannya ke Keyla.
"Aku serius jangan bercanda," ucap Keyla.
"Aku mau tidur lagi jangan ganggu," sambung Keyla membalikkan tubuhnya dan memunggungi Edwin.
"Hey kenapa malah ngambek aku bercanda lho, Key," ucap Edwin terkekeh.
"Aku capek," jawab Keyla.
"Capek kenapa?" tanya Edwin menggoda.
"Kamu tau jadi nggak usah nanya kenapa aku capek," kesal Keyla.
Edwin memeluk Keyla dari belakang.
"Oke aku salah, im sorry," ucap Edwin merasa bersalah.
"Nggak kamu ngga salah," jawab Keyla.
Edwin tersenyum tipis.
"Lain kali aku nggak akan buat kamu capek,"
Keyla menghembuskan nafasnya pelan ia membalikkan badannya dan menenggelamkan kepalanya di dada Edwin.
"Tapi aku suka" kata Keyla membuat Edwin tersenyum lantas mengecup kening Keyla lama.
"I love you," ujar Edwin.
"I love you too," jawab Keyla seraya memejamkan matanya.
Edwin tidak tidur ia mengamati mata Keyla yang terpejam, tangannya terulur untuk memegang pipi Keyla tapi kegiatannya terhenti karena hpnya yang ada di nakas kamar Keyla berbunyi.
Drtttt drttttt
Edwin mengambil hpnya dan melihat nomor yang tertera disana.
Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat nomor asing yang masuk dalam panggilannya.
Edwin tanpa ragu langsung mengangkat panggilan itu.
"Siapa?" tanya Edwin sedikit lirih karena takut Keyla terusik dari tidurnya.
Tidak ada jawaban dari sebrang sana hanya terdengar suara hembusan nafas di ikuti suara kecil yang mengatakan, "Maaf"
Dan panggilan pun berakhir.
Edwin menghela nafasnya sepertinya itu hanya orang iseng,
Edwin meletakkan hpnya kembali ke nakas dan memilih ikut memejamkan matanya bersama dengan Keyla.