Keling, begitulah orang menyebut Lastri. Bukan hanya itu, kata hinaan kerap terlontar untuk Lastri rasa sakit, kecewa, serta merasa tidak berguna.
Hal itu membuatnya menerima ajakan Nilam untuk memasang susuk serta ritual agar ia bisa menjadi cantik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wewe Gombel
Malam hari saat tepat pukul 00.00 Lastri bersiap untuk ritual rutinnya, ia menebarkan lebih banyak bunga kantil dan berendam di dalamnya.
Ia memejamkan matanya sambil melafalkan mantra yang sebenarnya sudah dilarang oleh Nyi Ratih.
“Aku nyalakan cahaya redup. Aku pancarkan ke segala arah. Merah menyala seperti hasrat. , aku persembahkan ini untuknya.”
Lastri membenamkan dirinya ke dalam bak lalu memakan satu kuncup bunga kantil. Usai melakukan ritualnya, Lastri berpakaian lalu duduk di depan TV.
Ia merenung sembari termangu di depan TV yang menyala. Berkali-kali ia menghela nafas panjang lalu bersandar di kursi tuanya.
'Rasanya hampa banget. Lama-lama aku lelah melakukan semua ini,' benak Lastri.
“Lastri?” terdengar suara lirih dan berat memanggil namanya.
Netra Lastri terbuka lebar, suara yang tidak asing itu membuatnya sedikit ketakutan
“Lastri,” panggil suara itu lagi.
“Siapa?” tanya Lastri.
Lastri berdiri dan mencari sumber suara tersebut, hingga ia sampai di depan kamar almarhumah Minah. Perlahan Lastri mendekatkan kupingnya di pintu dan ia mendengar suara itu memang dari kamar mendiang ibunya.
Dengan tangan gemetar ia menurunkan perlahan gagang pintu dan membuka pintu kamar Minah.
Terlihat Minah tengah duduk di atas ranjang kayunya dan membelakangi Lastri.
“Bu.” Lastri perlahan mendekat.
Lastri mencoba untuk menyentuh bahu ibunya itu, saat itu Lastri merasakan tubuh Minah yang begitu dingin serta kaku.
“Bu.”
Secara tiba-tiba Minah berbalik, terlihat wajah yang pucat dengan darah yang menghitam keluar dari mulut Minah dan membasahi kasur yang ia duduki.
Spontan Lastri berteriak dan langsung berlari ke kamarnya.
“Aaaaa ....”
Dengan tangan gemetar Lastri mengambil HP-nya dan mencoba menghubungi Emir, namun tidak kunjung diangkat. Lastri pun mencoba menghubungi Azlan, baru tersambung beberapa detik teleponnya sudah di angkat oleh Azlan.
“Halo Lastri, tumben jam segini menelponku,” ucap Azlan dalam telepon.
“Azlan. Tolong aku!” ucap Lastri dengan pelan.
“Kamu kenapa? Sekarang kamu dimana?”
“Aku di rumah, aku melihat ibu di kamar tapi penuh darah. Aku takut!” ucap Lastri dengan bibir gemetar.
“Tunggu aku! Lima menit aku akan sampai teleponnya jangan di tutup!”
Sambil terus menelpon Azlan bergegas keluar dan masuk ke mobilnya, ia melaju dengan cepat menuju rumah Lastri.
Sementara itu Lastri duduk di pojok kamarnya, sebelumnya ia sudah mengunci pintu dengan rapat.
Duk! Duk!
Pintu kamar Lastri di gedor, bahkan gagang pintu kamar Lastri berulang kali bergerak membuat Lastri semakin ketakutan ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
“Lastri itu siapa?” tanya Azlan yang masih tersambung di telepon.
“Aku nggak tahu Azlan. Di rumah ini cuma ada aku,” ucap Lastri sambil berbisik.
“Sebentar lagi aku sampai. Kamu jangan sampai tutup teleponnya.”
Beberapa saat kemudian dari kaca jendelanya terlihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.
“Lastri aku sudah sampai.”
Saat Azlan di depan pintu rumah Lastri, tiba-tiba pintu kamar Lastri terbuka dengan sendirinya dan Minah berada di depan pintu kamar Lastri.
“Aaaaaaaaa ....”
Sosok Minah dengan cepat menghampiri Lastri tangan pucatnya itu mulai memegangi leher Lastri. Minah menyeringai dengan darah yang menetes ke wajah dan mulut Lastri.
“Bu ... Ini Lastri Bu!” ucap Lastri.
“Aaakhhh!”
Minah mencengkeram kuat leher Lastri, Lastri berusaha melepas cengkraman itu namun ia tidak berdaya menghadapi sosok gaib tersebut.
Wajah Lastri mulai memerah, hingga Azlan masuk dengan mendobrak pintu rumah Lastri.
“Lastri!”
“Lepaskan dia! Aku tahu kamu bukan Minah!” ucap Azlan.
Sosok itu berbalik dan tertawa terbahak sambil berjalan mendekati Azlan. Azlan merogoh sakunya dan mengeluarkan tasbih kecil.
Sambil melafazkan doa dan menggerakkan tasbihnya, sosok Minah itu perlahan mundur.
“Ya Allah engkau pemilik seluruh alam semesta dan seisinya, atas izinmu tunjukkanlah kebenaran!”
Seketika wujud Minah berubah menjadi sosok wewe gombel, rupanya ia hanya meniru agar bisa mendekati Lastri.
“Apa tujuanmu?” tanya Azlan.
“Dia harus jadi makananku!” sahutnya dengan nada yang berat.
“Bau darahnya sangat manis, aku sudah lama mengincarnya!” sambungnya.
“Bohong! Aku tahu ada yang mengirimmu ke sini!”
“Kamu akan aku ampuni jika kamu mengaku!” Azlan mengangkat tangannya ke atas.
Sosok wewe gombel itu tertawa dan tetap berusaha mendekati Lastri, untungnya Lastri bersembunyi di belakang tubuh Azlan.
Azlan mulai melafazkan doa lagi, hingga sosok itu berteriak dan meminta ampun kepada Azlan, namun Azlan menghiraukannya.
“Ampun! Ampun!”
“Aku tidak akan terkecoh olehmu,” sahut Azlan.
Azlan menghirup nafas panjang lalu mengerang, sosok itu pun melebur dan menghilang dari hadapan Azlan.
Azlan mengucap syukur di barengi dengan Lastri.
“Lastri kamu nggak apa-apa?” tanya Azlan.
“Aku nggak apa-apa, terima kasih Azlan kamu sudah membantuku.” Ucap Lastri.
“Sama-sama. Sebaiknya kamu ikut aku Lastri, karena sepertinya masih tidak aman,” ucap Azlan.
Tanpa pikir panjang Lastri mengiyakan ucapan Azlan. Lastri mengemas barang-barangnya ke dalam tas lalu keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Azlan.
Saat di perjalanan Azlan menanyakan satu hal kepada Lastri.
“Lastri apa aku boleh nanya?” tanya Azlan.
“Mau tanya apa?”
“Apa keluargamu atau orang tuamu punya perjanjian dengan makhluk gaib?”
“Ti-tidak punya. Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa,” sahut Azlan tersenyum.
Sepanjang jalan Azlan selalu melihat ke bagian kursi belakang lewat kaca spionnya. Rupanya di belakang mereka ada Nyi Ratih yang sedari duduk di kursi belakang.
Mereka pun sampai di sebuah perumahan elite, Azlan berhenti di sebuah rumah mewah dengan pagar yang tinggi.
“Ini rumah siapa?” tanya Lastri.
“Rumahku, ayo kita masuk!” ajak Azlan.
'Rumah ini gede banget,' pikir Lastri.
'Ini kira-kira bayar listriknya berapa duit ya?'
Lastri masih takjub dengan apa yang ia lihat, Azlan membawa Lastri ke sebuah kamar yang cukup luas.
“Ini kamar kamu Lastri, kalau kamu butuh aku. Aku ada di atas,” ucap Azlan.
“Baik. Terima kasih Azlan,” sahut Lastri.
Azlan pergi meninggalkan Lastri, sementara Lastri melihat-lihat isi kamar tersebut, Lastri juga melihat isi kamar mandi yang ada di kamar itu. Kamar mandi itu terlihat mewah dan elegan dengan nuansa hitam.
“Wah! Kamar mandinya bagus banget.”
Lastri keluar kamar mandi dan merebahkan diri di kasur empuk.
“Kasurnya beda banget sama kasur di rumahku. Kalau bangun tidur suka sakit badan!” ucapnya.
Lastri mulai mematikan lampu, menaruh kepalanya di bantal untuk beristirahat.
'Aku sekarang tahu kenapa orang kaya tidak pernah kena yang namanya salah bantal,' pikir Lastri.
Lastri mencoba menyalakan TV agar dia tidak mengantuk, karena setelah ritual ia tidak boleh tidur sampai matahari terbit.
'Enak banget ya jadi orang kaya,' pikirnya.
“Sepertinya aku harus kerja keras serta memperbanyak pengalaman.”
Saat itu tiba-tiba Lastri teringat dengan pertanyaan Azlan, ia takut jika Azlan mengetahui yang sebenarnya tentang dirinya. Lastri terus berdoa agar Azlan tidak mengetahui yang ia lakukan.
Pagi harinya, Lastri tanpa sadar terlelap namun Azlan membiarkannya sampai Lastri bangun.
Lastri membuka matanya, terlihat dari jendela kaca yang besar itu matahari sudah naik, pertanda jika ini sudah siang.
Lastri mengambil Hp dan melihat jam.
“Astaga! Jam 11!” Lastri bergegas bangun dan berlari ke kamar mandi.
Usai mandi dan berpakaian Lastri berlari menuju pintu namun, lari Lastri terhenti.
“Kamu mau kemana?” tanya Azlan.
“Azlan. Aku mau ke kantor.”
“Jam segini? Kamu hari ini libur dulu, besok baru kita berangkat.” tanya Azlan.
“Tapi Azlan-“
“Nggak ada tapi-tapian!”
Dengan wajah masam Lastri kembali ke kamarnya dan menaruh tasnya lalu keluar kamar. Terlihat beberapa pekerja tengah sibuk membersihkan rumah.
Lastri duduk di sofa sambil memandang layar Hp-nya. Tidak lama pesan masuk ke Hp-nya.
“Lastri kamu dimana? Aku tadi pagi jemput kamu tapi kamu udah nggak ada di rumah,” tulis Ayu di pesan.
Lastri bingung harus menjawab apa, karena jika ia jujur ia takut Ayu akan marah kepadanya.
“Ayu izin hari ini Yu. Aku ke rumah paman aku ada syukuran soalnya,” balas Lastri.
“Oh ya. Ya sudah aku kita ada sesuatu yang buruk terjadi sama kamu.”
Lastri hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya, karena ia takut jika ketahuan berbohong.