Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Beberapa hari telah berlalu, namun rencana yang sempat terbersit di benak Andy saat berada di kamar rawat Amar tempo hari masih terus berkecamuk di kepalanya. Menjadikan Rexsaka sebagai pengawal pribadi Nadya adalah opsi terbaik yang ia miliki saat ini untuk melindungi sang putri dari ancaman Arnold.
Nadya yang selalu menolak mentah-mentah jika harus ditempeli bodyguard formal selama 24 jam dan tak jarang nekat melarikan diri dari pengawasan. Karena itu, Rexsaka adalah solusi paling sempurna mengingat putrinya begitu menyukai pemuda itu. Terlebih, Andy sama sekali tidak meragukan kemampuan Rexsaka. Di usianya yang masih muda, ia sudah menyandang gelar kapten, sebuah bukti otentik bahwa kemampuan bela diri dan taktiknya jauh di atas rata-rata. Bukti nyata lainnya terjadi tiga tahun lalu, pemuda itulah yang menyelamatkan Nadya dan berhasil mengumpulkan bukti-bukti kuat hingga mampu menyeret Arnold ke balik jeruji besi.
Satu-satunya kecolongan Andy adalah ia sempat meremehkan kekuatan jaringan di belakang Arnold, hingga ia lengah dan terlambat mengetahui bahwa pria berbahaya itu telah bebas. Namun di sisi lain, rencana ini menjadi buah simalakama bagi Andy. Ego dan harga dirinya berontak. Jika ia merekrut Rexsaka, ia akan tampak seperti pria yang menjilat ludahnya sendiri, mengingat kalimat-kalimat merendahkan yang pernah ia lontarkan kepada pemuda itu tiga tahun silam.
Lamunan Andy seketika buyar saat sebuah cangkir kopi diletakkan perlahan di atas meja kerjanya.
"Papa kenapa? Semenjak Nadya keluar dari rumah sakit, Mama lihat Papa sering melamun terus," tanya Marini lembut, menatap sang suami dengan raut cemas.
Andy menghela napas berat, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. "Ini soal Nadya, Ma. Papa berencana meminta Rexsaka untuk menjaga Nadya, menjadi bodyguard pribadinya."
"Benarkah?" Wajah Marini seketika berbinar senang. Ia tahu betul rencana ini pasti akan membuat Nadya bahagia, dan ia pun sangat yakin Rexsaka lebih dari mampu melindungi putri mereka. Namun, sedetik kemudian keraguan melintas di wajahnya. "Tapi Pa... apa memang bisa? Bagaimana dengan pekerjaan Rexsaka? Bukankah seorang tentara aktif tidak bisa sembarangan menjadi pengawal pribadi?"
"Kalau soal itu, Papa yang akan cari solusinya, Ma. Tapi..." Kalimat Andy menggantung di udara.
"Tapi apa, Pa?" cecar Marini, menatap suaminya lekat-lekat.
"Tidak apa-apa," pungkas Andy cepat. Ia memaksakan sebuah senyuman, memilih menyimpan rapat-rapat rahasia tentang konflik tajam antara dirinya dan Rexsaka tiga tahun lalu dari telinga sang istri. Langkah selanjutnya yang harus ia ambil sudah bulat, memanggil pemuda itu dan mengutarakan niatnya untuk mempersunting harga diri Rexsaka agar mau menjadi tameng pelindung putrinya.
"Jadilah pengawal Nadya."
Permintaan itu meluncur tegas dari bilah bibir Andy. Pria paruh baya itu berdiri menghadap dinding kaca besar di lorong lantai dua kediaman Sismoko, menatap ke arah taman belakang yang megah dengan kolam renang yang berkilau di tengahnya.
Di belakangnya, berdiri sesosok pemuda bertubuh tinggi tegap dalam postur prajurit yang sempurna. Paras menawannya tampak mengeras, sementara sepasang netra hitam pekat miliknya menghujam punggung Andy dengan tatapan tajam nan tak percaya setelah mendengar permintaan tak masuk akal dari atasan ayahnya itu.
"Apa maksud Anda, Tuan?" ulang Rexsaka dengan dahi mengernyit dalam.
Ia mencoba mencerna kegilaan apa lagi yang sedang direncanakan oleh pria di hadapannya ini. Sebagai seorang prajurit aktif, tugas seperti ini jelas menyalahi aturan. Terlebih lagi, apakah telinganya tidak salah dengar? Seorang Andy Sismoko, pria arogan yang tiga tahun lalu memberikan ultimatum keras dan melarang keras Nadya untuk mendekati dirinya, kini justru datang dan seolah menyodorkan putrinya sendiri ke dalam dekapannya.
"Saya menolak," lanjut Rexsaka, suaranya sedingin es. "Aturan instansi kami melarang keras para prajurit untuk mengambil tugas personal. Kami disumpah untuk mengabdi pada negara, bukan menjadi pengawal pribadi."
"Ini permintaan khusus. Paman tidak peduli dengan penolakanmu, Paman sendiri yang akan membicarakannya dengan atasanmu langsung. Biarkan dia yang memutuskan nanti," ujar Andy keras, nadanya meninggi karena tersinggung oleh penolakan mentah-mentah dari pemuda itu, meskipun ia tahu argumen Rexsaka sangat logis.
Niat awalnya adalah meminta baik-baik tanpa perlu menegangkan urat saraf. Namun, apa daya ego besarnya telanjur terusik. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia ditolak secara terbuka, padahal ia sudah menurunkan harga diri dan rela menjilat ludahnya sendiri demi keselamatan sang putri.
Sejujurnya, Andy tidak pernah membenci Rexsaka. Ia bahkan menyayangi pemuda ini layaknya putra kandung sendiri. Hanya saja, ada sebuah alasan mendalam, alasan sederhana yang terlampau memalukan untuk ia akui, yang membuatnya menentang keras hubungan asmara antara Nadya dan Rexsaka.
Sebelum membalikkan badan untuk melangkah pergi, pria paruh baya itu sempat menoleh. Tatapannya tertuju lekat pada punggung tegap Rexsaka yang masih berdiri kaku dalam diam, menyimpan misteri tentang apakah pemuda itu sedang didera kekesalan atau penolakan keras atas permintaannya. Sosok di hadapannya ini terlampau pandai menyembunyikan emosi, menjadikannya seumpama teka-teki yang terlalu rumit untuk bisa ia baca.
Namun, ada satu jawaban yang telanjur mengusik rasa penasaran di dasar hatinya. Sebuah kegelisahan mendesak tentang bagaimana sebenarnya perasaan pemuda itu yang sesungguhnya terhadap sang putri.
"Saka... apa kamu mencintai Nadya?" tanya Andy tiba-tiba, melontarkan pertanyaan krusial itu secara gamblang tanpa tedeng aling-aling.
Rexsaka terdiam selama sepersekian detik. Tarikan napasnya tertahan sebelum ia menjawab, "Tidak." Singkat, tegas, dan lugas tanpa keraguan.
Andy hanya mengangguk pelan. Gurat kelegaan samar terpancar di wajah tuanya. "Paman harap, kamu bisa kembali bersikap hangat seperti dulu lagi, Ka. Dan panggil Paman seperti biasa, tanpa embel-embel 'Tuan'." Setelah menitipkan kalimat penuh harap itu, Andy berbalik dan meninggalkan lorong, membiarkan Rexsaka tenggelam dalam kesendiriannya.
Hangat?
Rexsaka mendengus ketir di dalam hati. Kehangatan itu sudah lama mati dan terkubur dari dirinya untuk keluarga ini. Bukannya ia tidak tahu terima kasih atas kebaikan Andy yang dahulu sudi membiayai sekolahnya hingga lulus SMA, sebelum akhirnya ia mampu membiayai akademi militer lewat jalur beasiswa. Namun, luka tiga tahun lalu dan seluruh dedikasi ayahnya selama ini dirasa sudah lebih dari cukup untuk melunasi utang budi di masa lalu.
Rexsaka masih bergeming di posisi yang sama, menatap lurus ke bawah melalui dinding kaca. Di sana, di taman belakang itu, berdiri sosok yang ia anggap sebagai hulu dari segala kerumitan yang siap mengusik hari-hari tenangnya, baik kini maupun nanti.
Nadya mendongak, menyambut netra Rexsaka dengan senyuman manis yang merekah di wajahnya yang masih tampak pucat. Jemarinya menggenggam erat setangkai bunga, yang keindahannya bahkan kalah telak jika disandingkan dengan pesona gadis itu sendiri, kecantikan mutlak yang pasti mampu membuat siapapun terpana.
Namun, tidak untuk seorang Rexsaka.
Alih-alih terpesona dan membalas kehangatan itu, sepasang netra hitam pekat milik Rexsaka justru menghujamnya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Hanya butuh waktu satu detik bagi Rexsaka untuk dengan sengaja memutus kontak mata mereka. Ia membalikkan tubuh tegapnya secepat kilat, melangkah pergi meninggalkan lorong tanpa menoleh lagi, mengabaikan senyuman yang perlahan luntur dari bibir gadis di bawah sana.
"Sombong amat! Gue sumpahin lo jatuh cinta sama gue, baru tahu rasa!" sungut Nadya dengan nada tinggi. Telunjuknya menuding geram ke atas, tepat ke arah dinding kaca tempat Rexsaka berdiri beberapa saat lalu.
Ucapan spontan bernada dongkol itu seketika memantik kekehan geli dari pria paruh baya di hadapannya. Mang Juki, tukang kebun setia di rumah itu, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sang majikan.
berawal Nadya yang sudah hampir mati kebosanan karena terus dikurung di kamarnya. Sang mama memperlakukannya bak pasien kritis yang rapuh dan mengharamkannya melakukan aktivitas apa pun. Padahal, Nadya merasa tubuhnya sudah sehat bugar. Namun, karena titah sang Ratu adalah segalanya, ia hanya bisa pasrah.
Sampai akhirnya, ia nekat menyelinap keluar untuk berjalan-jalan hingga sampai ke taman belakang ini. Mengetahui Mang Juki sedang sibuk merapikan tanaman hias yang mulai meninggi, Nadya pun memutuskan duduk di dekatnya untuk membunuh waktu, sampai netranya tak sengaja menangkap siluet tegap Rexsaka di lantai dua tadi.
"Mana ada orang bisa jatuh cinta cuma karena sumpah serapah, Non," ujar Mang Juki di sela tawa kecilnya, kembali memotong ranting bunga dengan gunting besar.
"Nggak ada bukan berarti nggak bisa, kan, Mang? Bukankah ucapan itu adalah doa? Siapa tahu kali ini benar-benar kejadian," kekeh Nadya, menyelipkan secercah harapan tulus di balik nada guraunya.
Mang Juki menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap Nadya dengan binar mata seorang ayah yang bijak. "Iya, Non, memang benar. Mungkin awalnya dari sumpah. Tapi, bukan semata-mata karena kalimat itu seseorang bisa langsung jatuh cinta. Pasti ada proses panjang di dalamnya. Terlebih, harus ada sesuatu yang dimiliki Non Nadya yang mampu menggetarkan hati bekunya... sesuatu yang perlahan bisa membuka pintu hatinya untuk melihat Non sebagai pasangannya."
Nadya tertegun. Kalimat sederhana dari Mang Juki mendadak bergaung jauh ke dalam dadanya, menyentuh bagian paling sensitif dari perasaannya pada Rexsaka.
Gadis itu menunduk, menatap setangkai bunga mawar di genggamannya yang kini ia putar-putar perlahan dengan ibu jari. Senyum tipis kembali terukir di sudut bibirnya, bukan lagi senyum kesal, melainkan sebuah senyuman penuh tekad yang samar.
Sesuatu yang menggetarkan hati bekunya, ya? batin Nadya lirih. Jika memecahkan gunung es di dalam dada Rexsaka membutuhkan waktu seumur hidup, maka Nadya bersedia mempertaruhkan seluruh hatinya untuk menjadi kehangatan yang mencairkannya.