Berawal dari kesalahpahaman seorang suami yang baru menikahi wanita yang dia cintai. Pada akhirnya membuat kerenggangan antara dirinya dengan sang istri.
"Diamlah dan kita lalui semua ini biasa saja. Sampai aku mau kembali padamu seperti dulu!"
Salah satu kalimat cuplikan dari Gavin untuk istrinya, Hanna.
Hanna merasa setelah menikah, Gavin semakin menjauh darinya. Entah apa yang membuat Gavin marah padanya, Hanna tidak tahu. I
Hanna terpaksa meninggalkan resepsi pernikahan karena saat itu ia pusing dan pingsan tiba-tiba. Ia ditolong oleh Kelvin yang merupakan teman Gavin.
Dan semenjak kejadian itu, Gavin berubah dingin padanya. Mungkinkah ada sesuatu yang Gavin lihat dan Hanna tidak tahu?
Sementara adik Gavin yang bernama Gina selalu ikut campur dalam rumah tangga mereka.
Cover from Pexel. Edit by Tinayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat ke Singapura
"Ke singapura?" Mutiara terkesiap mengetahui jika hari ini Gavin dan Hanna akan berangkat ke Singapura. "Mendadak sekali. Ada acara apa kalian?"
Bibir Gavin kelu untuk mengatakan semua. "Hanna sakit, Ma. Aku akan mengobatkan dia di sana."
Ridwan dan istrinya terkesiap mendengarnya.
"Sakit. Sakit apa? Biasanya Hanna baik-baik saja." Kata Mutiara.
Gavin menjelaskan penyakit yang diderita Hanna beserta alasannya kenapa ia memilih Singapura untuk jadi tujuan pengobatan. Ridwan dan Mutiara masih menunjukkan keterkejutan mereka, karena sebelumnya mereka sama sekali tak tahu Hanna memiliki penyakit seserius itu.
"Kau memilih tempat yang tepat, Nak. Berdoa dan teruslah kalian berusaha. Semoga Hanna segera sembuh dari sakitnya." Ridwan mengulas senyum ramah sekaligus kalimat yang menguatkan hati mereka berdua, terutama Hanna.
"Terima kasih, Pa."
Gina mendengar percakapan mereka berempat dari balik tembok dekat tangga. Ia berniat ambil minum di dapur tadi, tapi karena ada kakaknya, ia mengurungkan niat. Ia hendak kembali ke atas tapi terkejut ketika Gavin mengatakan Hanna sakit.
'Hanna sakit?' tanyanya dalam hati.
Yang dia tahu Hanna selalu sehat-sehat saja. Ia suka berolahraga dan teratur menjaga gizi makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.
Gina melongok ke ruang tamu lagi dan mengamati perubahan tubuh kakak iparnya yang tak ia sadari. Benar, tubuh Hanna terlihat lebih kurus dari biasanya. Tulang pipinya terlihat, tapi jika hanya dilihat sekilas saja, perubahan itu tak akan nampak.
'Terserahlah, aku tidak peduli.' Baru selangkah ia meninggalkan tempatnya, ia sudah berhenti lagi.
Sisi lain hatinya tergerak ingin menguatkan Hanna agar dia bisa melewati masa-masa sulitnya dengan tegar. Namun, sisi lain tak mengizinkan dia untuk melakukan itu.
Ia pun kembali meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya.
"Hati-hati di jalan. Sampai di Changi kabari papa."
Gavin mengangguk. Ia menerima pelukan singkat dari sang papa.
"Jika butuh apa-apa, kabari papa ya." Menepuk lembut punggung sang anak.
"Iya, Pa."
Ridwan juga memeluk menantunya. Mutiara juga melakukan hal yang sama meskipun tak ada satu pesanpun yang keluar dari bibirnya untuk Hanna.
"Vin, jaga dirimu baik-baik ... dan jaga juga istrimu. Semoga dia lekas sembuh." Ia berbisik di dekat telinga Gavin ketika mereka hampir melepaskan pelukan.
"Ma," Hanna mendekati mama mertuanya. Sedari tadi ia merasa jika sikap mamanya masih dingin padanya. Ke depannya ia tak tahu, ia akan bertemu lagi dengan keluarganya atau tidak, tapi inilah kesempatannya untuk memperbaiki hubungan dengan sang mertua. "Jika Hanna salah, Hanna minta maaf ya, Ma. Jika ini pertemuan terakhir kita-"
"Bicara apa kau ini. Tugasmu melayani Gavin belum selesai. Pergilah. Kau bisa ketinggalan pesawat jika banyak bicara!" Seru Mutiara ketus.
Mata Hanna memanas. Air matanya menjalar pelan hingga ke pipi. Senang, juga takut. Senang karena Mutiara menunjukkan perhatiannya dengan cara yang berbeda. Serta takut jika ia tak bisa kembali menemui mereka lagi.
Di dalam mobil, Hanna masih terisak-isak sampai tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
"Sudah, jangan menangis lagi. Kau akan baik-baik saja dan kembali bertemu dengan keluarga kita. Yakinlah!" Gavin merapatkan tubuh Hanna ke tubuhnya, lalu meninggalkan satu kecupan di dahi sang istri.
"Baru sebentar saja, aku sudah rindu dengan semuanya." Ungkap Hanna.
"Secepatnya kita akan kembali menemui mereka. Anggap saja ini bulan madu kita yang belum pernah terlaksana."
Tadi, Hanna dan Gavin sudah lebih dulu berpamitan dengan orang tua Hanna.
Seperti Ridwan dan Mutiara, Setya dan juga Mina sangat terkejut mendengar kenyataan bahwa Hanna sakit parah.
Mina tak berhenti menangis jika saja Setya tak menarik paksa dia masuk ke dalam rumah dan membiarkan Hanna dan Gavin pergi.
Suasana yang begitu menyedihkan bagi orang tua Hanna. Rumah tangga Hanna dan Gavin yang berantakan sebelumnya telah mengejutkan Mina, kini ia dikejutkan lagi dengan penyakit yang selama ini disembunyikan putrinya.
Terpaksa Mina melepaskan Hanna lagi pada Gavin saat Gavin meyakinkan mertuanya dia akan menjaga Hanna dengan baik dan akan mengobatkan Hanna ke Singapura. Wajah Hanna sampai kebas ketika Mina mendaratkan banyak ciuman di sana sambil menangis sedih.
**
Sampai di Changi, mereka berdua menggunakan taksi menuju ke apartemen yang sudah mereka sewa. Wajah Hanna nampak pucat sekaligus kelelahan. Tubuhnya lemas hingga Gavin tak tega melihatnya.
"Sini, aku gendong." Tiba-tiba saja Gavin mengangkat tubuh Hanna ketika di lorong menuju kamar mereka.
Tangan Hanna melingkari leher Gavin. "Aku bisa jalan sendiri, Gav. Aku malu-"
"Tapi mau?"
"Hais, kau ini!"
Gavin hanya merespon dengan senyuman.
"Istirahatlah yang nyenyak, jangan banyak berpikir macam-macam. Ada aku di sini!"
Hanna membiarkan suaminya itu menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Apa kau tidak istirahat?"
"Nanti. Aku harus menemui dokter Steve."
"Besok kan bisa. Perjalanan tadi pasti membuatmu lelah."
"Tidak bisa ditunda, aku sudah membuat jadwal pertemuan dengannya."
Ia menghadiahi istrinya dengan kecupan singkat di bibir. "Aku segera kembali. Apa kau mau titip sesuatu?"
"Tidak, aku ingin tidur saja."
"Baiklah. Aku pergi dulu." Lagi-lagi Gavin mendaratkan bibirnya tepat di bibir sang istri.
"Gav, maaf sudah merepotkanmu."
Gavin tersenyum mengusap bibir Hanna dengan jempolnya. "Sama sekali tidak merepotkan. Janji kau kuat dan tidak meninggalkan aku."
"Aku akan berusaha tidak mengecewakanmu."
Hanna memandang punggung Gavin yang mulai menghilang dari balik pintu.
Air mata menetes di sudut matanya.
"Aku takut." Katanya diiringi isak tangis yang tak tertahan lagi.
Ia terlalu sedih, bahkan terkadang menutupi kesedihannya itu dengan pura-pura tersenyum rasanya sangatlah sulit. Kematian memang sangat dekat. Dekat sekali. Kita tidak pernah tahu kapan itu tiba, namun beruntunglah Hanna karena ia mendapatkan penyakit, setidaknya ia bisa bersiap-siap menyambut hari itu tiba.
Ia bangkit dari tidurnya menuju ke koper miliknya. Ia menata pakaiannya dan pakaian Gavin di dalam lemari. Lalu berhenti lagi saat dirasa tubuhnya sangat lelah dan pusing mulai melanda.
"Semakin hari pusingku semakin sering datang. Bagaimana ini?"
**
"Aku sudah membuatkan jadwal untuk Nyonya Hanna. Ini, silakan diperiksa."
Gavin menerima selembar kertas yang diberikan dokter Steve.
Pertemuan pertama Hanna dan Steve akan dilakukan besok untuk pemeriksaan keseluruhan. Tepatnya pada pukul sembilan pagi.
"Setelah pemeriksaan keseluruhan, aku baru bisa menyimbulkan tindakan selanjutnya yang kami lakukan kepada Nyonya Hanna. Saat ini, tolong jangan tinggalkan dia sendirian, karena menurut catatan terakhir yang aku terima, kondisinya semakin hari semakin melemah."
Gavin mengangguk. "Ya, aku akan terus bersamanya. Apalagi yang bisa aku lakukan untuk menjaganya Dokter?"
"Atur pola makannya. Nanti asistenku akan membuatkan list makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh nyonya Hanna konsumsi. Selama dalam masa pengobatan, jangan biarkan nyonya Hanna kelelahan. Ia harus benar-benar istirahat total."
Gavin mengangguk mantap.
"Itu saja saat ini yang bisa aku sampaikan. Apa ada pertanyaan lagi pak Gavin?"
"Tidak. Saat ini tidak. Kalau begitu sampai jumpa besok, Dokter."