Dara Lazora yang saat itu masih berusia 18 tahun, harus menerima kenyataan pahit mengetahui dirinya hamil. Ia pun meminta pertanggungjawaban dari Cakka Haztoro, kekasihnya.
Hanya saja, ibu dari Cakka tidak merestui hubungan mereka dan tidak mengakui bayi yang ada di kandungan Dara sebagai cucunya. Ia juga menghina Dara sebagai wanita murahan. Hingga Dara memutuskan untuk pergi dari kehidupan Cakka dan membesarkan anaknya tanpa sang kekasih.
Tujuh tahun kemudian, keduanya bertemu kembali, dan anehnya Cakka tidak mengenali Dara sama sekali. Akan tetapi Cakka sudah tertarik pada Dara di perjumpaan pertama mereka. Semenjak itu, Cakka terus berusaha untuk menarik perhatian Dara.
Akankah Cakka berhasil membuat Dara mencintainya? Lalu kenapa Cakka tidak mengingat Dara sama sekali? Ada kejadian apa setelah Dara pergi meninggalkan Cakka?
Yang penasaran sama ceritanya. Cekidot!
Follow ig : @yoyotaa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoyota, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Maafkan Aku
Dara masih terdiam. Ia enggan menceritakan kebenarannya. Bukan tidak mau, ia hanya masih belum berani mengatakannya. Dara malah bangkit dari duduknya dan menghindar dari Cakka dengan mengambilkan minum untuk Cakka.
"Kamu itu tidak pandai dalam hal berbohong Dar. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa kamu sedang berbohong," gumam Cakka ketika melihat Dara menjauh darinya. Tapi Cakka juga tidak ingin memaksa Dara, mungkin saja ada alasan lain kenapa Dara tidak mau mengatakan yang sebenarnya.
Tak lama kemudian, Dara kembali dengan membawa segelas air minum. Tanpa berbicara, Dara menyodorkan segelas air minum itu dan langsung diterima oleh Cakka.
"Sebaiknya bapak pulang dan periksa ke dokter. Takutnya ingatan bapak salah. Kita hanya sekedar atasan dan bawahan. Jika pun dulu kita menjalin hubungan, pastinya saya sudah menghilangkan semua yang berhubungan dengan bapak."
Cakka tidak percaya, Dara menjadi keras kepala seperti ini. Berbeda sekali dengan wanita yang ia kenal dulu.
"Aku pastikan, aku akan segera tahu semuanya Dar. Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin menceritakan apapun padaku." Cakka pun bangkit dari posisinya dan keluar dari rumah Dara begitu saja.
Setelah kepergian Cakka dari rumahnya, Dara menangis tersedu-sedu sampai bersimpuh di lantai. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Maafkan aku," lirih Dara sambil terisak dalam tangisnya.
*
*
Di perjalanan, Cakka memukul stir kemudinya, ia benar-benar bingung sekarang. Meski ingatannya telah pulih dan ia telah bertemu Dara, tetap saja ia tidak bisa mendapat penjelasan apapun dari Dara tentang kepergian wanita itu dan tentang janin yang pernah di kandung Dara dulu. Walau begitu, ia sangat yakin Revan memang adalah anaknya, mengingat usia anak itu yang cocok sekali dengan usia anaknya jika tidak ada hal buruk yang terjadi.
Cakka memberhentikan mobilnya di tempat sepi. Ia menumpahkan emosinya dan berteriak sekuat tenaga.
"Sebenarnya apa yang terjadi!? Argh!"
Sampai-sampai cairan bening pun keluar dari matanya. Ia merasa marah, sedih, kecewa dan juga sedikit bahagia karena ingatannya telah kembali.
Seketika kilasan ingatan ketika Cakka keluar dari kamar mamanya 7 tahun lalu pun muncul.
Flashback on
Di saat itu, Cakka sudah menemukan cincin yang dimaksud oleh sang mama. Ia pun keluar dari kamar sang mama dengan wajah yang tersenyum. Sayangnya, sesampainya di ruang tamu, Cakka tidak melihat Dara disana. Ia hanya menemukan sang mama dengan robekan cek disana.
"Ma, Dara kemana?" tanya Cakka yang kebingungan.
"Tidak usah cari-cari dia lagi. Dia hanya memanfaatkan kamu saja. Anak yang dia kandung bukanlah anakmu Cakka," ucap Mama Mira.
"Maksud mama apa?! Jelas-jelas aku yang mengambil kehormatannya untuk pertama kalinya!" ucap Cakka dengan nada sedikit meninggi.
"Kamu jangan gampang dibodohi Cakka! Bisa saja itu adalah darah palsu! Lihat cek 100 juta yang mama kasih saja dia sobek. Dia menginginkan lebih dari nominal itu. Lebih baik mulai sekarang kamu jangan dekat-dekat dengan dia. Jangan cari dia! Dan jangan pernah berhubungan lagi dengan dia!" larang Mama Mira.
"Ma! Dara tidak seperti itu! Dia adalah gadis sederhana! Mama jangan mengada-ada! Aku bakalan cari dia sampai ketemu dan akan menikahinya walaupun tanpa restu dari mama!"
Cakka pun bergegas pergi dari rumahnya dengan sebuah kotak cincin yang masih di dalam genggamannya.
Flashback off
Kilasan ingatannya berhenti ketika ia akan mengejar Dara.
"Sampai sekarang aku tidak tahu, apa yang kamu bicarakan dengan mamaku. Apa yang membuatmu pergi begitu saja di waktu itu?"
Tiba-tiba di sela kekalutannya, ponselnya berdering. Cakka melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.
'Mama'
Cakka bimbang antara mengangkat atau membiarkan telepon tersebut. Dengan segala pertimbangan Cakka pun mengangkat telepon tersebut.
"Kamu dimana Cak? Kenapa nggak pulang-pulang ke rumah?" tanya sang mama.
"Aku lagi di jalan mau pulang ma. Sudah dulu ya ma, aku takut tidak bisa konsentrasi menyetir soalnya jalanan lagi rame."
Tanpa balasan iya dari sang mama, Cakka mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Ia juga sengaja berbohong ada sang mama. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Ia pun melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Entah ke tempat mana yang akan ia tuju, ia pun tak tahu. Ia hanya mengikuti kemana mobil yang ia kendarai berhenti.
*
*
Kediaman Mama Mira
Raut wajahnya sudah seperti harimau yang akan menerkam mangsanya. Tatapan matanya begitu tajam dengan aura yang sangat menyeramkan. Mama Mira kesal dan marah, saat mengetahui bahwa Cakka pergi ke rumah Dara dari mata-mata yang ia suruh untuk mengikuti kemana pun Cakka pergi.
"Sial! Seharusnya mereka tidak bertemu lagi! Kalau begini jadinya, bisa saja ingatan Cakka akan kembali seperti semula!"
Selain kesal dan marah, Mama Mira juga tampak gelisah. Ia benar-benar tidak ingin Cakka berhubungan kembali dengan Dara, wanita dari keluarga yang sangat jauh berbeda dengan keluarganya. Bahkan sangat-sangat tidak pantas untuk bersanding dengan Cakka.
Seketika, ide cemerlang pun muncul di kepalanya. Ia akan benar-benar menjodohkan Jeslin dengan Cakka bukan hanya wacana saja. Dengan begitu, Cakka tidak bisa lagi berhubungan dengan Dara. Namun, ia tidak bisa memaksa Cakka begitu saja, harus ada pendukung lain agar Cakka tidak bisa menolak permintaannya.
Setelah lama berpikir, Mama Mira pun tersenyum penuh misteri. Ia sudah mendapatkan caranya. Hanya tinggal merealisasikan rencananya saja.
"Kali ini, kamu tidak akan bisa menolak permintaan mama!"
*
*
Ramaikan kolom komentarnya teman-teman. Jangan lupa untuk like, vote dan beri dukungannya.
Love you all ❣️
makasih ya author 👍👍👍👍😍😍😍