Demi membalas orang-orang yang membuatnya terpaksa terpisah dengan orangtua, Nayyara telah merencanakan sebuah pembalasan.
Dia menyamarkan dirinya dengan sempurna, menyembunyikan wajah indahnya menjadi wajah buruk yang menggunakan kacamata tebal!
Namun dalam proses balas dendamnya, Nayyara berbuat salah yang fatal—— dia telah menarik perhatian CEO dingin.
""Semua wanita itu murahan"" Harry Balwis
""Kau hanya pria arogan yang haus akan cinta"" Nayyara.
Mampukah Naya mencapai tujuannya? atau dia malah jatuh cinta pada pria itu sebelum tujuannya tercapai?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Kembali ke Australia
Laki - laki paruh baya itu belum mengucapkan satu patah katapun. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah pamannya.
Yara menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan pamannya.
"Yara.. " panggil pamannya. "Paman hari ini akan kembali dulu ke Australia, untuk beberapa hari ke depan paman tidak bisa menemanimu disini" berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya kembali."Elang kecelakaan dan kondisinya buruk" jelas paman berkaca kaca, mengingat putranya itu yang baru saja duduk dibangku kuliah.
Duarrr
Bagaikan tersambar ketir, sekarang ketenangan itu lenyap seketika. "Kecelakaan? " paman mengangguk lagi. "Ayo paman kita kembali sekarang juga, jangn biarkan Elang sendirian paman"
"Tidak Yara, hanya paman yang akan berangkat, kau akan tetap disini"
"Yara harus menemani Elang paman, dia akan mencari Yara" ucapnya sedih, bulir bening sudah keluar dari sudut matanya. "Ayo paman" anaknya lagi sembari memegang tangan pamannya
"Dengarkan paman" paman memeluk Yara yang sudah mulai terisak" Paman tahu Yara sangat menyayangi Elang, dia adikmu, tapi besok adalah hari yang sangat penting untuk mencapai tujuan kita, ingat tujuan kita"
Yara menangis. "Tapi paman Yara... "
"Paman akan berangkat hari ini, jika kau sudah bisa mengatasi keadaan, pulanglah! Elang pasti akan baik baik saja"
"Baiklah, Yara akan menyusul nanti, kabari Yara terus bagaimana keadaan Elang"
*
*
Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari dimana Yara secara resmi menjabat sebagai direktur CM Mall dan pemilik terbesar saham disana setelah menerima warisan dari orangtuanya.
"Terima kasih paman" ucap Yara pada paman Gilang, yang tentu mendapat sambutan yang sangat ramah.
"Semoga kau bisa mempertahankan kursimu" hanya itu jawaban yang diberikan pamannya.
"Tentu" kemudian Paman Gilang pergi meninggalkan ruangan Yara.
*
*
Di sebuah rumah mewah tepatnya di sebuah kamar seorang wanita.
Seorang wanita cantik berteriak, melemparkan semua yang ada dihadapannya.
Prang
Entah apa lagi yang ia lemparkan, kamar itu sudah seperti kapal pecah, penghuni meja rias pun tergeletak di lantai.
"Ahhh.... " ia berteriak.
"Tasya, apa yang kau lakukan? " tanya ibunya, nyonya Ratna. Salah satu pembantu yang mendengar teriakan Tasya segera melaporkan keadaan yang terjadi pada anak majikannya, segera nyonya Ratna mendatangi kamar putrinya setelah mendengar keadaan putrinya dari pembantu tadi.
Tasya terduduk dilantai, ibunya langsung memeluknya, berusaha untuk menenangkannya kemudian membawanya duduk diatas ranjang, karena hanya tempat itu yang aman dari pecahan kaca.
"Ibu, aku membencinya, aku sangat membencinya, apa benar harta yang kita miliki ini bukan milik kita?"
"Ini milik kita, dia hanya orang asing" jawab ibunya, tapi Tasya tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Ia yakin ada yang tidak beres.
Tapi ia juga tidak Terima jika itu adalah kenyataannya. Apa yang dikatakan orang lain nantinya, sahabatnya, orang terdekatnya. ia tidak mau jatuh miskin. CM Mall adalah miliknya.
Ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, ia tidak peduli lagi siapa yang berhak atas harta itu, milik orang tuanya atau bukan, itu sama saja, aku akan merebutnya kembali.
"Ibu aku akan pergi" ucapnya lalu mengambil tas dan kunci mobilnya.
"Mau kemana? jangan pergi dalam keadaan seperti ini"
"Ada yang harus Tasya selesaikan ibu" ia melangkah keluar setelah berpamitan kepada ibunya.
Dalam setengah jam ia sampai di CM Mall, ia langsung menuju ruangan Yara berada. Tanpa mengetuk pintu ia masuk ke dalam ruangan Yara.
Brak.
Yara yang sedang fokus dengan dokumen yang harus ia pelajari, mendongak menatap siapa yang sembarangan masuk ke ruangannya. Terlihat di belakangnya sekertarisnya mengejar wanita yang menerobos masuk.
"Ada apa?" tanya Yara sembari menutup dokumennya, ia berdiri melangkah menuju sofa yang ada disana dengan maksud untuk menyambut tamu.
"Aku akan memberimu pelajaran, yaaaa" Tasya memukul Yara dengan tas mahalnya, tapi sebelum tas itu menyentuh bagian tubuhnya, dengan tangkas ia menangkap tas itu dan menahannya.
"Wahh... ternyata seorang putri yang tersingkir kasar juga" sindir Yara dengan senyum meremehkan.
"Kau bilang apa? dasar wanita murahan aku yakin kau naik ke atas ranjang para pemegang saham yang telah mendukungmu,, dasar menjijikkan" balas Tasya tak kalah pedas.
"Kau tahu?" tanya Yara dengan berpura - pura terkejut. "Apa kau juga punya pengalaman naik ke atas ranjang mereka"
"Aku bukan wanita murahan sepertimu" Tasya hendak melayangkan satu tamparan pada Yara, tapi Yara yang bisa membaca gelagatnya, mendadak menangkap tangan yang melayang di udara sehingga Tasya gagal lagi untuk menyentuh Yara.
"Kau bukan tandinganku, mungkin kau harus mengikuti jejakku dengan naik ke atas ranjang pria hidung belang untuk mendapatkan dukungan"
"Murahan! " Yara tertawa dengan suara yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.
"Apa peduli ku"
"Siapa kau sebenarnya, apa tujuanmu"
"Apa aku perlu memperkenalkan diriku lagi sepupu, kita memang tidak pernah dekat sewaktu kecil dan juga karena kita jarang bertemu, tapi setidaknya, sedikit saja kau mengingatku, Aku Nayyara Hartono putri satu satunya Sultan Hartono dan Riska Hartono, dan ayahmu adalah adik tiri ayahku, kakekku menikahi nenekmu dan membawa ayahmu ke keluarga Hartono, tapi ayahmu terlalu serakah yang menginginkan seluruh harta keluarga Hartono. Tapi jangan khawatir, ini baru permulaan aku akan merebutnya kembali"
"Aku tidak peduli, aku membencimu" Tasya mencoba untuk menyerang Yara kembali, tapi Yara berhasil mendorongnya sehingga jatuh ke sofa.
Lalu Yara mengambil kaca mata tebalnya didalam laci kemudian memakainya.
"Kau ingat aku siapa"
Deg
"Kau karyawan rendahan itu" betapa terkejutnya Tasya melihat wanita di hadapannya, dia pernah menyakitinya dan Yara diam saja tapi terakhir kali dia mendapatkan balasannya, Yara memperlakukannya dengan kasar.
"Ternyata ingatanmu bagus juga"
"Apa ini sudah kau rencanakan?"
"Tentu saja"
"Termasuk mendekati Harry"
"Ya, termasuk Harry, aku mendekatinya karena kau sangat tergila - gila padanya, aku ingin membalas dendam pada ayahmu melalui dirimu"
"Apa salah ayahku, bukankah dia sangat baik hati dengan menjaga harta yang katamu itu adalah milikmu"
"Dengan membunuh orangtuaku, menjadikanku yatim piatu"
"Apa maksudmu, mana mungkin ayahku melakukannya, mungkin kalau hanya mengancam aku percaya, tapi untuk membunuh kau salah menuduh orang"
"Aku hanya perlu membuktikannya"
"Kau tidak akan pernah mendapatkannya, Karena ayahku tidak pernah melakukannya, dan kau tunggulah aku akan merebut semuanya kembali"
"Silahkan, aku tak mungkin menghalangimu"
Tasya dengan terburu buru meninggalkan ruangan Yara dengan langkah yang penuh amarah.
Tanpa mereka sadari dari tadi dua pria mendengar semua percakapan mereka , karena pintu tidak tertutup sempurna.
Pria itu adalah Harry dan Rangga. Mereka terdiam mendengar pembicaraan dua wanita itu karena mereka merasa tidak berhak untuk ikut campur, karena sebenarnya meskipun tidak ada hubungan darah mereka masih Terikat persaudaraan.
Entah apa yang Harry pikirkan setelah mendengar dirinya juga terlibat dalam pembicaraan itu yang lebih tepat disebut pertengkaran.
terima kasih atas karya yg sangat menghibur ini thor.. semangat terus utk karya² baru yg lebih wow lagi.