Ku tahu semuanya telah salah dari awal...
Tak seharusnya aku memaksakan kaki ku untuk terus melangkah masuk ke sebuah tempat yang aku sendiri tahu tidak akan pernah ada tempat untuk ku di dalamnya..
Air mata setitik demi setitik mulai akrab menyapa hati yang sunyi..
Sanggup kah aku bertahan hidup seperti ini?
Atau haruskah ku patah balik dan coba membawa diri lari jauh dari keinginan hati...
#hanya diarylah teman ku mengarungi hati, mencoba menjangkau mimpi hingga semua serpihan hati berlahan pergi ...
(sebuah karya goresan tangan sahabat kak Upe, kak UPe diminta membantu mengembangkan ceritanya karna yang bersangkutan sudah tidak menulis lagi, sebuah karya untuk para penggemar kalung senja)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
“Apa kau merasa senang hari ini Ruby?” tanya Kurama tiba-tiba saja menjadi akrab dengan Ruby.
Ruby pun mengangguk dengan mantap! “Tidak pernah sesenang ini!” Jawab Ruby dengan mata yang berbinar-binar.
“Apa masih ada tempat yang ingin kau kunjungi Ruby? Aku siap mengantar mu kemana saja.” Ujar Kurama sambil menyerahkan sebuah minuman ke Ruby.
“Kemana ya? Hmmm.. sebetulnya aku masih ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang dulu hanya pernah aku dengar dari teman-teman online ku. Hanya saja-“ Ruby tidak menunduk dan tidak melanjutkan kata-kata nya.
“Hanya saja apa?” tanya Kurama.
“Hanya saja seperti ini sudah sangat sore. Aku tidak enak jika kau harus pulang malam karena diri ku.” Lanjut Ruby, tersenyum sungkan.
“Aku ini pria bebas Ruby! Aku bisa pulang ke rumah kapan pun aku mau. Aku malah memikirkan diri mu, apa suami mu tidak mencari mu kalau kau pulang malam? Dan maaf sedari tadi aku tidak melihat mu berteleponan dengan suami mu.” Pancing Kurama.
“Oh itu.. hmm suami ku sedang rapat hari ini Kurama. Dan dia mengatakan kalau rapat nya akan sampai tengah malam.” Ruby terpaksa berbohong.
“Sampai tengah malam? Dari pagi?” ulang Kurama plus dengan wajah tidak percaya nya yang terlihat sangat jelas.
“Yups! Benar! Dari pagi sampai tengah malam.” Jawab Ruby tidak berani melihat mata Kurama yang tengah menatapnya.
“Wah! Suami mu luar biasa sekali dalam bekerja Ruby! Mengalahkan Satpam! Satpam aja dari pagi sampai tengah malam itu pakai gantian shiff.” Sarkas Kurama, yang sudah pasti tidak akan percaya ada rapat yang sedemikian lama nya.
“Hahaha.. suami ku itu memang seorang yang pekerja keras.” Tambah Ruby dengan tawa yang di paksakan.
Ruby melirik pada Kurama sejenak. Dalam hati nya Ruby berkata,” aku tidak bisa membiarkan topik tentang Putra ini terus-terusan menjadi topik pembahasan ku bersama Kurama. Kurama pasti lama kelamaan tahu kalau aku sedang berbohong pada nya.” Batin Ruby.
“Baiklah! Tempat yang ingin aku kunjungi berikut nya adalah BAR.” Ruby pun akhir nya menyebutkan tempat yang ingin dia kunjungi pada Kurama.
Menurut Ruby, lebih baik dia segera pergi ke Bar bersama Kurama dari pada terus terusan duduk di sini ngomongin Putra, yang sudah pasti semua jawaban yang keluar dari mulut Ruby merupakan jawaban karangan Ruby belaka alias bohong besar.
“Bar? Kau ingin ke Bar?” tanya Kurama terihat sedikit terkejut mengetahui Ruby ingin pergi ke Bar.
“Hahaha.. jangan memandang ku seperti itu Kurama! Kau membuat ku merasa seperti wanita aneh saja.” Ucap Ruby sambil tertawa.
“Tapi jujur saja aku merasa sedikit aneh dengan permintaan mu. BAR? Tidak biasa nya wanita ingin pergi ke tempat itu. Terutama wanita baik-baik.” ucap Kurama sambil berbisik pada Ruby.
“Hah? Benarkah?” seru nya terkejut setelah mendengar perkataan Kurama.
“Hmm.. benar! Aku biasa nya tidak pergi ke Bar kecuali klien ku yang meminta pertemuan di ada kan disana.Ya semacam refresing suasana rapat.” Jawab Kurama.
“Aissh! Ternyata teman-teman online ku bukan teman yang benar.” Gerutu Ruby dengan wajah yang di tekuk nya karena kecewa setelah tau bar bukan lah tempat yang tepat untuk seorang wanita baik-baik.
Mana dia sudah lama membayangkan akan pergi ke tempat itu. Minum minuman yang teman – teman nya katakan.
“Hei kenapa tu muka jadi cemberut gitu?” tanya Kurama.
“Tidak apa-apa. Ya sudah lah kalau begitu kita pulang saja Kurama. Tidak ada lagi tempat yang ingin aku kunjungi.” Ungkap Ruby lemas.
“Kau penasaran ya dengan yang nama nya Bar?” Kurama tersenyum melihat tingkah polos wanita yang di depan nya ini. Bisa-bisa nya wanita ini tidak tahu sama sekali apa itu Bar.
“Tadi nya iya. Malah sangat penasaran karena teman-teman online ku selalu bercerita mereka ke Bar ini lah... ke Bar itu lah! Pokok nya lengkap! Sedangkan aku yang memang sebagian besar hidup ku di dalam rumah hanya bisa membayangkan seperti apa Bar itu dari apa yang teman-teman online ku katakan.” Sungut nya yang tanpa sadar telah menceritakan sedikit tentang kehidupan pribadi nya pada Kurama.
“Teman-teman online? Apa dia tidak punya teman tatap muka eh maksud ku teman – teman di dunia nyata?” Kurama terdiam sesaat menganalisa kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Ruby, termasuk saat Ruby mengatakan kalau sebagian besar hidup nya dia habiskan di dalam rumah.
Kurama benar-benar bingung harus menyimpulkan apa mengenai kehidupan wanita ini. Seorang putri sekali pun tidak lah akan di kurung seperti diri nya. Kecuali putri-putri di dunia dongeng.
"Siapa diri mu sebenar nya Ruby .." Ujar Kurama sambil mencuri lihat pada Ruby.
☘️☘️☘️
Mohon bantu like di 10 komentar pembaca lain ya kakak-kakak syantik.. dan tinggalkan komen kamu... makasih