Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riuh yang Sepi
Lampu gantung kristal yang menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, menciptakan atmosfer kemegahan yang nyaris tidak nyata. Ratusan orang dari kalangan jetset Jakarta memenuhi ruangan—para pengusaha kelas kakap, pejabat pemerintahan, hingga sosialita yang penampilannya dipenuhi kilau berlian berharga fantastis. Musik klasik yang dimainkan oleh orkestra mini di sudut ruangan mengalun lembut, berusaha meredam riuh rendah suara obrolan dan denting gelas-gelas kristal yang saling beradu.
Di tengah semua kemewahan itu, Alana merasa seperti sebuah pajangan mati.
Tangannya masih bertumpu pada lengan jas Jevandra. Ia bisa merasakan tekstur kain wol berkualitas tinggi itu di bawah jemarinya, sekaligus merasakan kehangatan tubuh pria itu yang terasa begitu kontradiktif dengan sedingin apa sikapnya jika mereka sedang berdua. Sejak melangkah melewati pintu masuk, Jevandra tidak pernah melepaskannya. Pria itu menuntunnya dari satu kelompok rekan bisnis ke kelompok lainnya, memperkenalkan Alana dengan nada suara yang begitu bangga dan penuh asmara.
"Ini Alana, istri saya," ucap Jevandra untuk kesekian kalinya malam itu kepada seorang investor paruh baya dari Singapura. Senyum di wajah Jevandra tampak begitu tulus, matanya berbinar jenaka, seolah-olah ia adalah pria paling beruntung di dunia karena telah menyunting Alana.
"Ah, Nyonya muda Pratama. Sungguh anggun sekali. Jevandra benar-benar pandai memilih pendamping," puji investor tersebut, menatap Alana dengan pandangan kagum. "Kalian terlihat sangat serasi. Pernikahan dua keluarga besar yang sangat serasi."
Alana memaksakan sudut-sudut bibirnya untuk terangkat lebih tinggi, menampilkan senyum terbaik yang ia miliki meski otot-otot wajahnya mulai terasa kaku dan pegal. "Terima kasih, Pak pujiannya. Anda terlalu berlebihan."
Jevandra menoleh ke arah Alana, lalu dengan gerakan yang sangat natural, ia mengangkat tangan kirinya untuk merapikan sehelai rambut Alana yang sedikit keluar dari sanggulan anggunnya. Sentuhan jarinya di pipi Alana terasa seringan angin, namun efeknya seperti sengatan listrik yang membuat bulu kuduk Alana meremang.
"Dia memang selalu rendah hati," bisik Jevandra kepada investor itu, namun matanya menatap lekat ke dalam manik mata Alana. Tatapan itu begitu intens, penuh kepura-puraan yang sangat sempurna hingga Alana hampir saja tertipu jika ia tidak mengingat kejadian di restoran Italia kemarin siang.
Setelah obrolan singkat itu selesai dan sang investor berpamitan untuk menyapa tamu lain, Jevandra langsung menarik Alana sedikit menjauh menuju sudut ruangan yang agak sepi, dekat dengan pilar marmer besar.
Begitu mereka lepas dari pandangan langsung para tamu utama, perubahan atmosfer di antara mereka terjadi dalam hitungan detik. Topeng kehangatan di wajah Jevandra menguap tanpa bekas, digantikan oleh ekspresi datar dan dingin yang sudah sangat Alana kenali. Cengkeraman tangannya di pinggang Alana terlepas, menyisakan rasa hampa yang mendadak aneh.
"Kerja bagus," ujar Jevandra pendek, suaranya kembali ke nada baritonnya yang rendah dan penuh jarak. Ia mengambil segelas champagne dari nampan pelayan yang kebetulan melintas, lalu menyesapnya sedikit. "Setidaknya kamu tidak membuat kesalahan di depan Liam tadi. Dia investor penting untuk proyek sirkuit baru kami di Mandalika."
Alana mengembuskan napas perlahan, mencoba merilekskan bahunya yang tegang sejak dua jam lalu. "Saya sudah bilang, saya tahu cara menempatkan diri, Jevandra. Kamu tidak perlu terus-menerus mengawasi saya seolah-olah saya akan mempermalukanmu."
Jevandra tidak menyahut. Matanya menyapu ke seluruh penjuru ballroom, mengamati para tamu dengan tatapan tajam seorang predator bisnis. Di bawah pendar lampu yang temaram di sudut itu, Alana memperhatikan profil samping wajah suaminya. Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung sempurna, dan bagaimana pakaian formal itu melekat di tubuh tegapnya. Pria ini memiliki segalanya—ketampanan, kekayaan, kekuasaan—kecuali hati yang bisa Alana gapai. Hati itu sudah terkunci rapat, dan kuncinya dipegang oleh wanita lain.
"Jevandra! Alana!"
Sebuah suara wanita yang familiar dan terdengar sangat bersemangat memecah keheningan di antara mereka. Alana menoleh dan mendapati ibunya, Retno Indira, sedang berjalan anggun ke arah mereka bersama ayahnya, Raden Wijaya. Dan disamping mereka, berjalan pula orang tua Jevandra, Bimo Pratama dan Diana Prameswari.
Seketika itu juga, Jevandra kembali mengubah ekspresinya. Dengan kecepatan yang mencengangkan, ia meletakkan gelasnya dan kembali merangkul pinggang Alana, menarik tubuh wanita itu agar merapat ke sisinya. Alana sempat tersentak, namun ia segera menyesuaikan diri, kembali mengenakan topeng senyum bahagianya.
"Mama, Papa," sapa Jevandra dengan nada hormat dan hangat saat kedua pasang orang tua itu tiba di depan mereka.
"Aduh, lihatlah pengantin baru kita ini," ujar Diana Prameswari, ibunda Jevandra, dengan wajah berbinar-binar penuh kebahagiaan. "Kalian menempel terus seperti prangko dari tadi. Mama senang sekali melihatnya. Kemarin Mama sempat khawatir karena Jevandra bilang kalian langsung sibuk dengan urusan masing-masing setelah pindah ke apartemen."
Jantung Alana berdesir mendengar ucapan mertuanya. Ia melirik Jevandra lewat sudut matanya, penasaran dengan apa yang akan dikatakan pria itu.
Jevandra terkekeh pelan—sebuah kekehan yang terdengar begitu renyah dan meyakinkan. "Mama ini ada-ada saja. Tentu saja kami sibuk, Ma. Menata rumah baru kan butuh waktu. Tapi Alana sangat hebat, dia mengurus semuanya dengan baik." Jevandra lalu menunduk, mengecup pelipis Alana dengan lembut di depan keempat orang tua mereka. "Aku sangat berterima kasih punya istri seperti dia."
Sentuhan bibir Jevandra di pelipisnya membuat Alana membeku. Rasanya seperti sebuah ciuman yang tulus, namun Alana tahu ini hanyalah bagian dari pertunjukan teater kelas atas. Di dalam dadanya, rasa perih kembali menggores. Berbohong kepada dunia luar mungkin mudah, tetapi berbohong di depan orang tua sendiri yang menatap mereka dengan penuh harapan adalah jenis siksaan yang berbeda.
Retno Indira, ibu Alana, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Ia melangkah mendekati putrinya, mengusap lengan Alana dengan penuh kasih sayang. "Ibu senang mendengarnya, Jev. Alana memang sejak kecil selalu mandiri. Ibu harap kamu bisa membimbingnya dengan sabar." Retno kemudian menatap Alana, matanya berkaca-kaca penuh keharuan. "Kamu bahagia kan, Sayang? Pesanmu kemarin bilang Jevandra sangat perhatian, dan Ibu bisa melihatnya sendiri sekarang."
Alana menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Kalimat ibunya terasa seperti batu besar yang menghantam kesadarannya. Ia teringat pesan bohong yang ia kirimkan dari restoran Italia kemarin, sesaat sebelum ia melihat Jevandra memeluk Silvia Anita.
Melihat mata ibunya yang penuh cinta dan ketenangan karena mengira putrinya bahagia, Alana tahu ia tidak boleh menghancurkan ilusi itu. Ia tidak boleh membiarkan ibunya tahu bahwa di balik dinding apartemen megah mereka, ia hanyalah seorang asing yang tidak dipedulikan.
"Iya, Bu. Alana sangat bahagia," jawab Alana, suaranya sedikit bergetar namun ia berhasil menutupinya dengan senyuman yang paling manis. "Jevandra... dia memperlakukan Alana dengan sangat baik."
Jevandra yang mendengar jawaban Alana memberikan sedikit remasan pada pinggang wanita itu—sebuah gestur yang bagi orang tua mereka tampak seperti tindakan penuh kasih sayang, namun bagi Alana, itu adalah sebuah peringatan atau mungkin ucapan terima kasih karena telah memperpanjang sandiwara ini dengan baik.
"Baguslah kalau begitu," sela Bimo Pratama, ayah Jevandra, dengan suara beratnya yang berwibawa. "Pernikahan ini bukan hanya tentang menyatukan dua hati, tapi juga tentang memperkuat fondasi dua keluarga. Jika kalian harmonis, bisnis kita pun akan berjalan tanpa hambatan. Bulan depan, kita akan mulai mengeksekusi merger untuk divisi properti baru."
Kata 'bisnis' yang diucapkan oleh ayah mertuanya itu seolah menjadi penegasan kembali bagi Alana tentang mengapa ia berada di tempat ini mengenakan gaun mahal dan senyum palsu. Ini semua tentang angka, saham, dan keuntungan. Dirinya dan Jevandra hanyalah pion-pion berwajah rupawan yang diletakkan di atas papan catur demi kemakmuran dinasti keluarga mereka.
Setelah berbincang selama hampir lima belas menit mengenai rencana bisnis dan basa-basi keluarga, kedua pasang orang tua itu akhirnya pamit untuk menemui relasi mereka yang lain. Diana sempat membisikkan kata-kata di telinga Alana sebelum pergi, "Jangan lupa program cucu untuk Mama ya, Sayang." Kata-kata yang sukses membuat hati Alana mencelos ke dasar paling dalam.
Begitu keempat orang tua mereka menghilang di balik kerumunan tamu, Jevandra langsung melepaskan rangkulannya dari pinggang Alana. Perubahan sikapnya yang drastis itu terjadi begitu cepat, seolah-olah menyentuh Alana adalah sebuah tugas berat yang menguras energinya. Pria itu mengembuskan napas panjang, merapikan kembali jasnya yang sedikit bergeser.
"Kamu cukup pandai berakting," ucap Jevandra tanpa menatap Alana. Matanya kembali sibuk memandangi ruangan. "Ibumu tampak sangat mempercayaimu."
Alana merasakan setitik amarah mulai membakar rasa sedihnya. Ia melangkah satu langkah ke depan, menatap Jevandra dari samping dengan tatapan tajam. "Saya tidak sedang berakting untukmu, Jevandra. Saya melakukannya demi ibu saya. Saya tidak ingin dia menderita atau mengkhawatirkan saya hanya karena mendapati kenyataan bahwa menantunya yang terhormat ini ternyata hatinya tertinggal di tempat lain."
Jevandra menoleh tajam, matanya menyipit berbahaya mendengarkan sindiran Alana. "Jaga bicaramu, Alana. Kita masih di tempat umum."
"Saya tahu!" balas Alana dengan bisikan yang tajam dan penuh penekanan. "Saya tahu ini tempat umum, dan saya tahu batasan saya. Tapi tolong, jangan pernah meremehkan apa yang saya korbankan demi kelancaran bisnis keluargamu ini."
Sebelum Jevandra sempat membalas, ponsel di dalam saku jas pria itu bergetar. Jevandra terdiam, ia merengkuh ponselnya keluar dan melihat layarnya. Alana bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Jevandra yang tadinya mengeras karena marah tiba-tiba melunak hanya dalam satu detik setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
Ekspresi kekhawatiran yang mendalam langsung tergambar di wajah tampan itu. Jenis ekspresi yang tidak akan pernah Alana dapatkan, sekeras apa pun ia mencoba.
Jevandra melirik Alana sekilas, lalu berbalik sedikit untuk menerima panggilan tersebut. "Halo, Sil? Ada apa?" Suara Jevandra melembut seketika, begitu kontras dengan nada bicaranya kepada Alana beberapa detik lalu.
Alana memalingkan wajahnya, tidak sanggup mendengarkan lebih jauh. Dadanya terasa begitu sesak hingga ia merasa oksigen di dalam ballroom yang luas ini mendadak habis. Suara Jevandra yang berbisik penuh perhatian kepada Silvia di telepon terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk pendengarannya secara bertubi-tubi.
"Kamu di mana sekarang? Demamnya naik lagi? ... Baik, tunggu di situ. Aku akan ke sana sekarang," ucap Jevandra ke dalam telepon sebelum akhirnya mematikan sambungan.
Jevandra berbalik menghadap Alana, wajahnya tampak dipenuhi rasa cemas yang mendesak, seolah-olah dunianya sedang runtuh hanya karena wanita di seberang telepon itu mengalami kenaikan suhu tubuh.
"Saya harus pergi sekarang," kata Jevandra tanpa nada bersalah sedikit pun. "Silvia sedang sakit di apartemennya. Dia sendirian dan membutuhkan saya."
Alana menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya, bercampur dengan rasa hina yang mendalam. "Kamu mau pergi? Sekarang? Di tengah acara penting perusahaan papamu sendiri? Dan meninggalkan istri sahmu sendirian di sini?"
"Acara ini sudah hampir selesai, tugas kita untuk tampil di depan media juga sudah cukup," jawab Jevandra dingin, mengabaikan getaran protes dalam suara Alana. "Kamu bisa pulang sendiri menggunakan sopir pribadi yang mengantar kita tadi. Saya akan membawa mobil lain yang sudah disiapkan oleh asisten saya di bawah."
"Jevandra, bagaimana kalau orang tuamu bertanya kenapa kamu tiba-tiba menghilang?" Alana mencoba menahan pria itu, bukan karena ia ingin Jevandra tetap bersamanya, melainkan karena ia tidak ingin menanggung beban kepura-puraan lagi sendirian jika mertuanya datang bertanya.
"Bilang saja saya ada urusan mendadak di kantor atau apalah alasannya. Kamu pintar berbohong, bukan? Kamu baru saja melakukannya di depan ibumu tadi," ucap Jevandra kejam.
Kata-kata itu menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan sisa-sisa ketahanan Alana malam itu. Sebelum Alana sempat membalas atau menahan air matanya, Jevandra sudah berbalik dan melangkah cepat meninggalkan sudut ruangan, membelah kerumunan tamu dengan langkah tergesa-gesa tanpa sekali pun menengok ke belakang untuk melihat bagaimana kondisi istrinya.
Alana berdiri mematung di dekat pilar marmer yang dingin. Di sekelilingnya, orang-orang masih tertawa, musik orkestra masih mengalun dengan indah, dan kilatan kamera sesekali masih menerangi ruangan. Namun bagi Alana, seluruh riuh rendah di ruangan ini mendadak senyap. Ia berada di tengah keramaian, mengenakan gaun tercantik dan perhiasan berkilau, namun jiwanya merasa begitu sepi, terabaikan, dan hancur di dalam pusaran pernikahan yang tak ubahnya seperti sangkar emas yang menyiksa.