Kanaya merupakan seorang gadis penulis novel terkenal di kota Bandung, semua orang mengenal Kanaya, siapa yang tidak mengenalnya seorang gadis yang sedang populer di kota Bandung.
Tapi karena hanya sebuah novel yang harus Kanaya buat di sebuah desa membuatnya kehilangan nyawa dengan sangat tragis.
Sampai dia kembali terbangun di tubuh seorang gadis yang umurnya hanya selisih satu tahun dengan dirinya.
"Siapa kau?"
"Aku pemilik tubuh, yang kau tempati sekarang, nama ku Dara"
"Ohh tidak, jadi gue transmigrasi gitu? dan kenapa tubuh lu culun banget sih?"
Bagaimana cara Kanaya menjalani hidup barunya?
Dari pada penasaran mending baca
Follow instagram: @Ilmanadia26
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dara dan Bara di PT Ali Hasan Group
SELAMAT MEMBACA REDES MAAF SEMALEM KALAU UDAH ADA YANG BACA BAB INI, KARENA KURANG BARU 500 KATA UDAH AKU UP TAPI INI UDAH FULL BAB, TERIMA KASIH BANYAK BUAT KALIAN YANG SETIA MAMPIR DI GREAT GRIL 🤗.
"Permisi Mbak saya ingin bertemu dengan bapak Ali, apakah beliau ada?" Kanaya menyapa ramah resepsionis perempuan yang sedang bertugas.
"Dengan Mbak Dara?" resepsionis itu kembali bertanya ramah pada Kanaya.
"Iya benar saya Dara"
"Silakan masuk ke ruang presiden Mbak Dara sudah ditunggu, ruang presiden lantai 40"
Setelah diizinkan masuk Dara segera menuju lantai empat puluh dimana ruang presiden berada.
Saat Kanaya berjalan melewati para karyawan tidak ada drama dimana, Kanaya dipandang rendah atau menjadi pusat perhatian semuanya hanya fokus pada masing-masing kecuali mereka yang memang benar-benar melihat Kanaya mereka akan menyapa dengan ramah, begitu juga Kanaya.
"Permisi apa pak Ali nya ada?"
Seorang cowok yang sedang duduk di sebelah ruang presiden menatap Kanaya dengan tatapan kagum yang sangat berlebihan, ceritanya terpesona pada pandangan pertama.
"Permisi" ucap Kanaya lagi sambil melambaikan tangannya di depan cowok tersebut.
Saat itu juga dia sadar dengan tingkahnya yang sudah berlebihan. "Hmmm" dehemnya untuk menetralkan dirinya yang sudah dikuasai rasa gugup.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?"
"Saya mau bertanya apa pak Ali nya ada?"
"Mbak suda ditunggu sedari tadi oleh pak Ali jadi silahkan masuk"
Cowok yang bernama Ridwan yang terlihat dari name teg nya itu berbicara ramah dengan Kanaya, saat Kanaya sudah masuk ke ruang presiden, Ridwan bisa bernafas lega, dia sendiri tidak tahu kenapa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya saat melihat Dara atau Kanaya yang menurutnya cantik paripurna.
"Pa, maaf Dara terlambat" ucap Kanaya tidak enak dia berjalan menuju kursi yang berbeda di depan sang papa.
"Duduklah dulu Dara" suara lembut Ali, mampu membuat Kanaya lebih tenang dari sebelumnya.
"Jadi apa benar Dara terlambat?" tanya Kanaya memastikan saat bokongnya
sudah mendarat sempurna di kursi.
"Tidak! sekarang kau mulai mengerjakan semua pekerjaan ini" ucap Ali sambil memberikan beberapa maaf pada Kanaya.
"Yang benar aja pa masa kanaya disuruh mengerjakan semua yang sudah ada di dalam dokumen ini" elak Kanaya sungguh saat ini dia sangat lelah saja.
"Jangan ngebantah Dara! ingat ini kantor bukan rumah jadi jaga sikapmu"
"Baiklah Dara akan mengerjakan semuanya tanpa mengeluh"
Setelah mengatakan itu Kanaya segera menyelesaikan semua pekerjanya yang sudah tertunda.
Setelah tiga jam lamanya Kanaya berkukuh dengan dokumen kini semuanya telah selesai.
"Bagaimana bisa kau melakukan semua ini?" tanya Ali pada Dara anaknya.
"Kan Dara anak papa dan mama, jadi wajar pak kalau ngerjain ini semua itu mahah kecil"
Ali sungguh sangat terkejut dengan pekerjaan Kanaya yang ternyata diluar dugaannya.
"Kamu sungguh pintar Dara, papa saja sampai tidak percaya saat melihat hasil yang sudah kamu kerjakan" puji Ali pada Putri sulungnya itu, Ali sangat senang melihat Dara atau Kanaya bisa melakukan semuanya dengan baik.
"Dara sebentar lagi ada pertemuan dengan klien kita disini jadi tolong siapkan semuanya, papa mau kamu yang melakukan presentasi saat meeting nanti"
Kanaya kembali fokus pada laptop di depannya setelah mendengar ucapan papanya barusan dia harus melakukan latihan sebelum melakukan presentasi nanti di depan klien papanya.
"Baik pa ,Dara akan melakukan yang terbaik saat presentasi dengan yang lain nanti" Kanaya sedang berusaha untuk membuat papanya yakin jika dia akan menampilkan yang terbaik nanti.
Setelah latihan beberapa kali akhirnya Kanaya dan papa Ali menuju ruang meeting untuk mengadakan rapat penting.
Sesampainya di ruang meeting Kanaya bisa bernafas lega karena mereka tidak terlambat dan Kanaya juga meyakinkan dirinya agar dia bisa percaya diri.
"Bagaimana apakah kita akan mulai sekarang rapatnya?" tanya Ali pada Karyawannya.
"Maaf pak tapi perwakilan dari perusahaan Wisnu belum datang" jawab Ridwan sopan..
"Baik kita tunggu dulu sebentar" putus Ali, semua setuju dengan keputusan Ali.
Tak pernah waktu lama orang yang ditunggu akhirnya muncul juga.
"Maaf saya terlambat tadi jalan menuju kesini sedikit macet" ucap Bara.
"Tidak papa, pak" Ali memakluminya, karena dia tahu jalan menuju kantornya kalau sudah diatas jam dua siang pasti akan macet.
Sedangkan Kanaya tidak habis pikir karena Bara ada dimana-mana. 'Sungguh orang aneh' batin Kanaya sambil menatap sinis Bara, tentu tidak ada yang melihat itu.
"Baik Dara silahkan lakukan persentasenya kita mulai sekarang juga"
Setelah Ali menyuruh Dara melakukan presentasi dengan segera Kanaya memulainya, sungguh lagi-lagi Ali buat kagum oleh putrinya, bagaimana tidak Kanaya melakukan presentasi dengan lancar tanpa adanya kesalahan sedikitpun.
"Baik ini lah yang saya persentase kan sekarang jadi bagaimana apakah kalian semua setuju dengan apa yang ada di persentase"
"Boleh saya bertanya?" tanya Bara sambil mengangkat tangannya.
"Silahkan disini kita juga menampung pendapat orang lain"
Bara mulai bertanya dengan pertanyaan yang sedikit sulit dia sedang ingin menjatuhkan Kanaya di depan semua orang yang berada di ruang meeting, tapi siapa sangka Kanaya dapat menjawab pertanyaan yang Bara berikan dengan lugas, baik dan benar. Sampai-sampai Ridwan sekretaris pak Ali sudah tidak berkedip menatap Kanaya atau Dara.
'Sial bagaimana gadis ini bisa sepintar ini sekarang' Bara ngebatin tidak percaya.
"Baik mungkin sampai sini saja rapat kali ini, kita semua sudah deal dengan penyampaian Dara" ucap pak Ali mengakhiri rapat mereka.
'Lo salah Bara kalau mau ngelawan gue' sinis Kanaya tersenyum kemenangan.
"Kalau begitu saya permisi, terima kasih untuk kerjasamanya pak Ali, papa saya benar kerja sama dengan perusahaan bapak memang sangat bisa dipercaya" ucap Bara sambil berpamitan pada Ali dia juga menjabat tangan Ali.
"Sama-sama pak Bara" Ali tersenyum tulus pada Bara. Setelah berpamitan Bara segera pergi dari perusahaan Ali Hasan Grup belum apa-apa Bara sudah kalah dari Kanaya atau Dara.
Makanya jangan main-main dengan yang namanya Kanaya kalau tidak orang itu sendiri yang akan terkena imbasnya.
"Pa Dara izin pulang dulu ya, udah selesai kan pekerja untuk hari ini?" tanya Kanaya memastikan siapa tau berkas-berkas menumpuk masih menunggunya.
"Pulanglah nak, kamu udah melakukan banyak hal untuk perusahaan ini dan hari ini, terima kasih banyak atas bantuannya, jadi kamu diterima" Ali berkata sambil memeluk putrinya haru.
"Terima kasih banyak juga Pa, udah percaya sama Dara, dan udah ngasih Dara kesempatan, Dara pamit pulang dulu" Kanaya mencium punggung tangan papanya setelah mengucap salam Kanaya benar-benar pergi.
"Lumayan cakep sih tapi gak papa, lo haru semangat Kanaya apalagi musuh Dara di depan mata, sekarang aja menjalin kerjasama sama perusahaan papa, gue yakin pasti ada motif tertentu mengapa perusahaan Wisnu mau bekerja sama dengan perusahaan papa" gumun Kanaya.
"Neng Dara, kok komat-kamit di depan pintu?"
"Astagfirullah, bapak Ridwan ngagetin aja" ucap Kanaya. Sedangkan Ridwan mengelus dadanya saat Kanaya memanggil dirinya dengan sebutan 'Bapak' 'Apa gue setua itu, dipanggil bapak?' batin Ridwan sambil bertanya pada diri sendiri.
"Kalau gitu Dara duluan ya pak Ridwan, mari" Kanaya berpamitan sambil tersenyum Ridwan yang melihat senyum manis Kanaya saat itu juga rasanya jantungnya mau copot.
"Ada apa sama gue sih aneh" ucap Ridwan saat sudah sadar, dia segera masuk ke ruang presiden untuk memberikan beberapa dokumen yang harus ditanda tangani oleh presiden sendiri.
kbnyakan monolog nya