Harap Baca Suamiku Pria Lumpuh, supaya nyambung dengan kisah mereka, ya.
Bagaimana, jika orang yang kamu cintai, adalah seorang yang telah menjadi masa lalu terburukmu. Yang telah menjadi penyebab penderitaanmu dimasa lalu. Padahal, Ia telah memberikan semuanta untukmu.
Carolina Hermawan. Gadis yatim piatu itu baru saja mengenal sebuah cinta dan bahagia, sejak bertemu dengan Reza Edwardo. Salah satu pewaris Nugraha's company.
Mereka sepakat menikah usai Olin wisuda, dan telah merancang semuanya. Tapi, rupanya keluarga Nugraha atau Papa Edward memiliki masa lalu diantara keluarga Olin.
Apa masalah itu, dan bagaimana mereka menghadapinya? Berstu, atau justru memcari jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa sepinya Reza
Motor telah terparkir di garasi. Reza masuk, tapi merasakan suasana rumah yang begitu lengang.
"Mamiii, Papiii...." panggilnya dengan keras. Namun tak kunjung ada jawaban.
Ia pun naik, mencoba mencari jawaban di kamar mereka. Mungkin, ada firasat tersendiri baginya pada mereka.
"Mas Reza, kenapa?" tanya Minah, yang menghampirinya.
"Bagas, sama Syifa kemana? "
"Oh, Tuan sama Nyonya? Mereka keluar. Pas ditanya, katanya mau malam mingguan."
"Hah, malam mingguan? Konyol?"
"Lah, kenapa konyol. Lah wong mereka sah kok. Mau ngapain aja bebas. Mau pulang atau nginep dihotel, juga ngga papa." Minah mengedikkan bahu, lalu meninggalkan Reza yang terus kesal memainkan bibirnya.
"Minaaaaah! Kau menyebalkan!"
"Udah, baru ngapel Mba Olin kan? Masa marah-marah? Jelek," Minah menjulurkan lidahnya.
Reza melirik tajam, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Ia mengganti pakaian, dan merebahkan dirinya di ranjang. Tapi, tak kunjung dapat terlelap.
"Hallo... Kau dimana?"
Reza akhirnya menelpon Papi karena gelisah.
"Kenapa? Malam mingguan lah. Kencan dengan istriku. Kenapa kau?".
"Hey, aku berusaha pulang cepat, agar kau tak khawatir."
"Aku tak pernah khawatir."
"Nyatanya, setiap malam menghadangku di depan pintu. Giliran pulang cepat, malah ditinggalkan." tukas Reza.
"Yasudah, kalau kau sudah dirumah. Istirahatlah."
"Tidak bisa! Terlalu sepi, bahkan aku tak dapat memejamkan mataku!" sergah Reza.
"Aku sedang kencan romantis, tak bisakah kau tak menggangguku?"
"Menyebalkan!"
"Terserah!" Papi pun mematikan teleponnya.
Ia segera menghampiri Mami, yang tengah menikmati pemandangan malam kota, dari lantai atas gedung Restaurant langganan mereka. Begitu indah, dengan gemerlap lampu dari segala penjuru. Dari kendaraan yang lalu lalang, dan dari gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh dan begitu megah.
"Kau menikmatinya, sayang?" peluk Papi dari belakang.
"Ya, ini indah sekali. Begitu romantis, dan hening. Sesuai dengan yang ku sukai."
"Ya, Aku sangat tahu itu, sayang." kecup Papi secara bertubi-tubi di pipi Mami yang mulai cubby. Bahkan, memainkan seolah ingin menggigit pipi kenyal yang menggemaskan itu.
"Eh iya, Mas Reza udah pulang?"
"Sudah, baru saja dia menelpon. Dia mengeluh, karena kita pergi."
"Pulang?"
"Kenapa? Aku masih ingin menikmati malam ini bersamamu."
Mami hanya tersenyum, menggenggam lengan Papi yang kekar memeluknya. Masih hangat, dan tak ada perubahan sedikitpun.
Sementara itu, Reza tampak begitu gelisah di kamarnya. Berguling-guling diatas tempat tidur, dan tak dapat memejamkan matanya. Bahkan, tak segan membuat posisi, ketika kakinya berada diatas, dan bagian kepalanya dibawah. Menggantung, mengalirkan darahnya ke otak agar lebih lancar.
"Mana mereka? Kenapa tak kunjung pulang?" gerutunya.
Ia pun meraih Hp, meski masih dengan posisi yang sama. Mengetik nomor Olin, lalu mengajaknya kembali berbincang.
"Belum tidur?" tanya Reza.
"Belum, sedang menoton drakor pavorit. Kenapa?"
"Aku, kesepian. Kau tahu, aku sangat takut dan gelisah dengan suasana yang begitu sepi."
Olin mengecilkan volume laptopnya. Kembali duduk dengan tegap, dan berusaha menjadi pendengar yang baik.
"Mami Papi, kemana?" tanya Olin.
"Mereka, kencan. Tak bilang padaku. Andai aku tahu mereka dimana, mungkin aku sudah menyusulnya."
"Tidurlah, pejamkan mata. Jangan matikan panggilan, biar aku temani dari sini."
"Kau, tak keberatan?"
"Kenapa iya? Tak apa, karena aku juga tengah menonton drama kesukaanku."
"Baiklah," Reza membenarkan posisi tidurnya. Ia meletakkan Hp tepat di dekat telinganya. Tak perduli, dengan radiasi atau apapun itu. Yang penting, Ia tahu jika Olin masih di sana menemaninya.
Perlahan matanya terpejam, mendengar senandung merdu dari sang kekasih, yang menyanyikan lagu Stay With You, dari Jungkook.
Olin mematikan Hpnya, ketika sudah mendengar suara dengkuran dari Reza. Karena itu tandanya, Ia sudah terlelap.
dan dijawab tinggal ditempat jauh dan butuh waktu untuk pembuktian