Apa jadinya jika seorang pembunuh bayaran terlatih malah jatuh cinta pada targetnya ? Hal itu yang dialami Sofia yang jatuh cinta pada Biyan pria yang seharusnya ia lenyapkan. Namun sayang cinta itu tumbuh ketika Sofia menjadi Anna bukan Sofia yang sesungguhnya. Apakah Sofia akan tetap memutuskan menjadi gadis tunangan dokter muda itu atau sebutir peluru yang akan mengakhiri semua dendam masa lalunya ? Cinta adalah tragedi untuk keduanya yang terjebak dalam keluarga mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joya J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Anna
Dua tahun setelah kepergian Sofia
roda kehidupan terus harus berputar. Sofia dan ibu panti sudah sukses membangun
toko florist mereka dan bahkan mereka sudah memiliki kebun bunga mereka
sendiri. Anak-anak panti pun menjalani kehidupan yang semakin baik seperti Dion
dan Aura anak panti yang tertua sudah memasuki pendidikan universitas. Mereka berdua
anak-anak cerdas hingga mampu menembus perguruan tinggi dengan beasiswa
berprestasi. Di samping itu Sofia tetap berusaha agar mereka tetap bisa tenang
dalam menununtut ilmu tanpa membiarkan biaya pendidikan. Namun keduanya tak
tinggal diam Dion dan Aura masih sering membantu Sofia di toko florist atau pun
di kebun bunga mereka. Sementara Anisa anak panti yang paling muda kini
keadaannya makin membaik meski ia memang harus menghabiskan waktunya lebih
banyak di kursi roda. Trauma penculikan yang di alaminya kini sudah tidak ada
lagi. Sofia benar-benar menjalani kehidupan yang manusiawi tanpa scenario pelenyapan
nyawa orang lain dan tangan yang berlumuran darah.
Kehidupan Biyan pun terus berjalan ia
menjadi dokter bedah yang sukses. Setelah ayah angkatnya dokter Rasyidi menikah
dengan bibi Rima Biyan memutuskan untuk pindah ke rumah sakit kota dan
menjalani profesinya sebagai dokter bedah dengan baik dan bisa sangat
diandalkan. Ardha mengembangkan usaha ayahnya di bidang resort dan ia
memperlihatkan tanda-tanda jika ia memang berbakat sebagai pengusaha ulung. Mereka
berdua masih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama di kala Biyan mempunyai
waktu senggang. Maxwilliam ayah kandung
Biyan pun masih menjalin komunikasi yang baik dengan putranya itu sesekali
BIyan pun mendatangi ayahnya untuk sekedar makan malam bersama. Max masih
menawarkan Biyan untuk tinggal bersamanya namun Biyan masih enggan dan memilih
tinggal di apartemen yang tak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja.
Langit berwarna oranye menandakan kehadiran senja yang hangat. BIyan
sedang berada di café rooftop apartemennya menikmati secangkir kopi, tampak ia
sedang memegang buku yang terbuka dan serius membacanya hingga ia tak menyadari
kedatangan Ardha yang menarik kursi di depannya dan menghempaskan bokongnya.
“Wooy… serius amat… disini banyak pemandangan kece tapi kamu biarkan
begitu saja?” tentu yang dimaksud
pemandangan bagi Ardha adalah beberapa perempuan di sudut café yang tengah
mencuri-curi pandang ke arah Biyan. Dokter muda itu mengangkat wajahnya dan
hanya sekilas melihat sekeliling lalu menunduk untuk melanjutkan membaca lagi. Ia
tak pernah peduli tentang gadis-gadis lain lagi setelah Sofia pergi dari
kehidupannya. Kerinduan kepada Sofia membuat hati Biyan menjadi dingin sangat
dingin kepada perempuan lain. Ia hanya bisa bersikap sedikit hangat kepada para
pasiennya dan keluarga dekatnya. Ardha memberi kode kepada pramusaji agar
mendekat. Ia memesan minuman buah dan seporsi besar spageti. Biyan hanya menggelengkan kepala medengar
pesanan sahabatnya itu.
“Sayaaang… Kamu telat datangnya tau gak ?
Aku itu udah hampir mati kering disini menunggu kamu? Dari mana saja kamu
Sayang?” dengan suara agak dikeraskan dan ekspresi dibuat-buat Biyan memandang
dan memegang tangan Ardha tiba-tiba. Beberapa pasang mata gadis-gadis yang
sedari tadi memperhatikan Biyan membulat dan terlihat kecewa. Mereka berbisik-bisik
satu dengan yang lainnya jika pria tampan yang mereka perhatikan hampir sejam
itu ternyata seorang penyuka sesame jenis. Ada yang merengut kecewa dan ada
yang tampak tak percaya.
“Gila kamu Bi…!” desis Ardha tertahan,
wajahnya memerah karena tiba-tiba saja BIyan bertingkah aneh. Ia mencoba melepaskan tangannya yang di
genggam Biyan namun Biyan melanjutkan permainannya.
“Kamu gak mau jelaskan ke aku gitu ? Jangan
harap kamu bisa selingkuh dari aku yaa Sayang Honey Bear Sweety.”
Ardha mengusap wajahnya sedikit
gusar dan memaksakan senyumnya karena terdengar bisik-bisik beberapa pengunjung
café yang entah kenapa saat ini justru lebih di dominasi perempuan muda yang
cantik dan yaa sangat menghibur mata. Biyan menatapnya lurus sambil menaikkan
sebelah alisnya.
“Ti… tidak laah Cinta… aku gak akan
selingkuh dari kamu kok… suwer deh…” Ardha mengangkat dua jarinya dan mengikuti
permainan Biyan. Terdengar cekikikan beberapa orang di sudut ruangan juga
senyum tertahan pramusaji yang membawakan minuman pesanan Ardha.
“Mati aku kalau ketemu kamu lain kali Bi.” Desis Ardha setengah jengkel.
Paling tidak Ardha menganggap ini adalah salah satu cara menyenangkan hati dokter
yang sudah dua tahun itu tak mampu mengobati luka hatinya sendiri. Biyan
tersenyum lebar ia berhasil mengerjai sahabatnya itu cukup lama ia tak berjumpa
dengan Ardha yang semakin sibuk mengurusi bisnis barunya.
“Bagaimana kabar orang tuamu ?” Tanya Biyan
sambil menutup bukunya,kali ini ia serius namun tak membesarkan suaranya lagi.
Ardha menikmati minuman buah yang melewati tenggorokannya sore itu.
“Mereka baik-baik saja dan sehat kecuali
jika kau bertanya tentang mamaku maka akan ku jawab mamaku sedang
gencar-gencarnya bertanya kapan aku akan menikah.”
Seorang pramusaji mendekat dan
meletakkan sepiring spaghetti pesanan Ardha tanpa menunggu lagi ia segera
menyantapnya dengan lahap.
“Iya bagus memang untukmu dan kuharap
istrimu kelak jago membuatmu kenyang…ck ck ck…” Biyan menggeleng melihat cara
Ardha makan yang cepat ia terlihat sangat kelaparan. Biyan kembali membuka buku
dan melanjutkan bacaannya. Tak lama seorang gadis datang membawa buket bunga
pesanan pemilik café.
“Pesanan buket bunga mba Riska
dari Sofia’s Florist !” seru gadis muda itu dengan semangat dan senyum ramah. Biyan
mendongak dan mencari sosok yang baru saja menyebutkan toko bunga Sofia. Ardha
yang mendengar hal yang sama menghentikan santapan spagettinya. Ia juga menoleh
ke arah gadis pengantar bunga. Seorang karyawan café mendekat dan mengambil
pesanan bunga itu dan membayarnya. Gadis pengantar bunga segera berbalik dan
meninggalkan café. Tanpa berpikir panjang Biyan segera mengikuti gadis yang
mengenakan topi baseball itu dan ia memang bukan Sofia. Toko bunga Sofia pun
pastinya bukan satu-satunya milik sofianya Biyan. Namun hati kecil Biyan
membisikan sesuatu yang baginya adalah petunjuk di mana kekasihnya itu berada.
Langit semakin meremang matahari sudah
kembali ke peraduannya. Jalanan agak lengang menuju parkiran tempat Aura
memarkir sepeda motornya. Sejak turun dari café ia merasa tengah diikuti dua
orang laki-laki. Tak lama setelah Biyan keluar dari café Ardha pun segera
menuyusul meski ia masih sayang pada beberapa gulung spaghetti yang masih
tersisa di piringnya. Dengan secepat kilat pula ia harus menandaskan minumannya
untuk membantu spaghetti itu melewati tenggorokannya dan segera mengejar BIyan.
Ardha tahu apa yang sedang dipikirkan dokter muda itu. Biyan tentu ingin
memastikan Sofia yang mana pemilik dari florist itu. Aura menaikkan
kewaspadaanya saat dua orang laki-laki itu mendekatinya. Tangan Biyan terjulur
hendak memegang bahu Aura namun gadis berperawakan mungil itu justru memberi
respon yang tak terduga. Aura menangkis lengan Biyan dan melayangkan pukulan ke
wajah Biyan lalu berdiri dengan posisi kuda-kuda siap menghadapi serangan. Kakaknya
Sofia sudah menggemblengnya dua tahun ini dengan ilmu bela diri yang kadang
sangat berguna bagi Aura jika ada orang yang berniat jahat kepadanya. BIyan
terhuyung dan terkejut luar biasa begitu pula dengan Ardha.
“Mau apa kalian?!” seru Aura lantang
tanpa takut sedikit pun. Ardha memandangi BIyan yang sudah berdiri tegak
kembali dan mengusap pipinya yang mendapat tinju luar biasa dari gadis yang
bertubuh mungil itu. Biyan mencoba tersenyum dan bersikap ramah.
“Aku mendengarmu mengantarkan paket bunga
ke café itu. Tenanglah kami bukan orang jahat. Aku dokter di rumah sakit itu.” Tunjuk
Biyan pada bangunan megah tak jauh dari café rooftop tadi. Namun Aura bergeming
ia masih bersikap waspada.
“Aku ingin memesan sebuah buket bunga yang
istimewa untuk pasienku. Aku ingin membuatnya merasa sedikit tenang dan bahagia
sebelum aku mengoperasinya besok.” Biyan pelan-pelan mengambil dompet di saku
celananya dan menunjukkan kartu identitasnya kepada Aura. Ekspresi Aura sedikit
melunak namun ia belum mengendurkan kuda-kudanya. Ia masih bersikap waspada.
“Percayalah… dan kami meminta maaf jika sikap kami tadi membuatmu merasa
dalam bahaya.” Timpal Ardha agar Aura mau menunjukkan sikap ramahnya seperti di
café tadi.
Aura menurunkan kuda-kudanya. Namun
ia masih tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya karena hal buruk bisa saja
terjadi tiba-tiba.
“Jadi Tuan ingin memesan bunga dari toko
kami?” Tanya Aura dengan nada dingin.
“Iya seperti itu. Beri tahu alamat toko
bungamu itu aku akan kesana memilih bunganya sendiri.” Jawab BIyan dengan
senyum ramah kepada Aura. Firasatnya mengatakan kali ini ia akan menemukan
Sofia. Aura mengambil sesuatu dari tas punggungnya dan menyerahkan selembar
kartu nama toko bunga mereka kepada Biyan. BIyan menerimanya dengan senang
hati.
“Saya minta maaf jika sudah bersikap kasar
kepada Tuan.” Ujar Aura dengan rasa sedikit merasa bersalah.
“Tidak apa-apa… temanku itu pantas
mendapatkan tinju yang keras hari ini he he he …” Ardha terkekeh sambil menepuk
bahu Biyan.
“Kalau begitu saya harus pamit sekarang, permisi.” Aura berbalik dan
segera menaiki sepeda motor maticnya.
“Namamu siapa Nona ?” Tanya Ardha kemudian.
“Aura, panggil saja Aura Tuan. Permisi.”
Gadis itu melaju dengan sepeda
motornya meninggalkan setitik harapan untuk BIyan. Biyan mengusap sekali lagi
bekas pukulan Aura di wajahnya.
“Syukuriiiin…!” seru Ardha sambil
tertawa-tawa ia merasa karma datang begitu cepat. Rasa jengkelnya karena ulah
Biyan senja tadi di café terbayar segera dengan satu tinju di wajah BIyan oleh
seorang gadis yang masih sangat muda.
“Ini harus sepadan dengan apa yang harus ku temukan segera.” Biyan
memandangi kartu nama berwarna pink dengan gambar kupu-kupu dan bunga. Tertulis
alamat dan nomer telpon di sana. Biyan mengambil ponselnya dan segera
menghubungi nomer telpon itu. Tak lama terdengar jawaban dari ujung sana.
“Sofia’s Florist, dengan Anna disini ada
yang bisa saya bantu?”
Jantung BIyan terasa terhenti,
sekejap ia tak mampu merespon apa pun. Nafasnya pun mendadak sesak ia terdiam
hingga suara di ujung sana kembali menyapanya.
“Halo?” suara perempuan itu kembali bergema
dan membuat BIyan bergetar.
Sukses iya untuk karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku, yang menceritakan seorang cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam dari
RINDUKU DI UJUNG SURGA
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
bawa like&rate juga.
semangat trs ya buat nulisnya.
ceritanya seru, bacanya aku cicil ya.
salam dari time memory.
mampir juga ya ke karyaku.. "Mungkinkah?"