NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kecantikan / Tamat
Popularitas:192.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Bagaimana rasanya jika seorang wanita terlahir dengan bentuk badan tambun, berwajah dan berkulit kusam? Pasti akan sangat menyedihkan bukan?

Dewi Sekar Kemuning, wanita berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi orkes melayu, selalu saja mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meski memiliki suara yang khas namun tidak lantas membuat orang-orang di sekitarnya memuji ataupun memberikan apresiasi. Ia justru dijadikan bahan caci maki dengan fisik yang ia miliki. Ditambah lagi, di usia yang terbilang matang ia sama sekali belum pernah menjalin hubungan kasih yang membuat cemoohan demi cemoohan itu semakin datang menyerang.

Hingga pada akhirnya ia nekad pergi ke kota untuk berusaha mengubah takdir hidupnya.

"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sang dewi yang bersinar yang dielu-elukan. Dan akan aku buat mulut orang-orang yang menghinaku terbungkam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Jodoh Masa Kecil?

Sorot mata tajam tiada henti membidik tubuh seorang laki-laki yang tengah kalap memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam keranjang belanja. Dari cara lelaki itu memasukkan pakaian tanpa melihat label harga yang tertera, seakan menunjukkan jika lelaki itu orang berpunya. Ia memasukkan beberapa potong pakaian sudah seperti memasukkan camilan saja. Ia seolah tidak perduli berapa banyak nominal uang yang harus ia keluarkan.

Dua jam lebih Dewi dan Bhumi mengelilingi salah satu pusat perbelanjaan yang berada di kota ini. Satu per satu outlet pakaian mereka masuki. Hasil dari perburuan outlet-outlet ini, entah sudah berapa banyak pakaian yang mereka beli. Dan seketika memunculkan sebuah tanda besar di hati Dewi.

"Sudah? Kalau sudah mari kita ke kasir!"

Setelah puas dengan beberapa potong pakaian yang masuk ke dalam keranjang, Bhumi mengajak Dewi untuk segera membayar belanjaan mereka. Dewi sedikit terkesiap dan hanya bisa menganggukkan kepala.

"Sudah Bang. Ini belanjaanku!"

Sekilas, Bhumi melihat pakaian-pakaian yang masuk ke dalam keranjang pakaian yang dibawa oleh Dewi. Lelaki itu hanya bisa berdecak lirih karena hanya tiga potong pakaian saja yang dimasukkan oleh wanita ini.

"Mengapa hanya tiga potong? Dan ini mengapa celana dan t-shirt lagi yang kamu ambil? Coba ambil yang lain!"

"Tapi Bang...."

"Ssstttt ... diam! Jangan banyak protes!"

Bhumi seakan memberikan sebuah titah tiada terbantah di hadapan Dewi. Manik mata lelaki itu mengedar seperti seseorang yang sedang sibuk mencari.

"Mbak, kemarilah!"

Bhumi sedikit berteriak, memanggil salah seorang SPG yang berada di outlet pakaian ini. Tak selang lama, seorang SPG berparas cantik dengan tinggi semampai mendekat ke arah Bhumi.

"Iya Kak, ada yang bisa saya bantu?"

"Mbak, tolong carikan beberapa potong dress yang cocok untuk wanita ini. Pilihkan model pakaian yang pas dengan postur tubuhnya."

Sang SPG menatap lekat tubuh Dewi yang berdiri di sisi. SPG itu hanya tersenyum penuh arti. "Kebetulan sekali, brand kami sedang launching beberapa model dress dari bahan siffon khusus untuk wanita yang memiliki postur tubuh seperti Kakak ini. Saya rasa akan cocok sekali dengan tubuh Kakak. Mari ikut saya."

SPG itu perlahan mengayunkan tungkai kaki untuk mengajak Dewi. Wanita itu hanya bisa terperangah tiada henti. Sebelum mengikuti jejak sang SPG, Dewi lebih dulu merapatkan tubuhnya ke arah Bhumi. Wanita inipun lirih berbisik.

"Pssssttt ... Bang, bagaimana caranya aku bisa membayar belanjaanku ini? Uang yang aku bawa sudah menipis Bang?"

Wajah Dewi nampak dipenuhi oleh gurat-gurat kecemasan. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana malunya ia ketika uang yang ia bawa kurang untuk membayar pakaian yang sudah masuk ke dalam keranjang. Bisa jadi, di depan umum ia akan dipermalukan.

Lagi-lagi Bhumi hanya menggelengkan kepala. Selalu saja ada drama seperti ini yang terjadi di depan mata. Di mana Dewi selalu meributkan perkara nominal belanja.

"Sudah, ikuti SPG itu. Pilihlah beberapa potong dress yang kamu suka. Tidak perlu kamu pikirkan bagaimana cara kamu membayar."

"Tapi Bang....?"

"Aku tidak menerima sebuah bantahan!"

Bibir Dewi hanya bisa mencebik jika Bhumi sudah memberikan ultimatum seperti ini. Ia sampai bingung sendiri ekspresi seperti apa yang harus ia tampakkan. Haruskah ia berbahagia? Atau merasa tidak enak hati? Namun, jika mendengar ultimatum dari Bhumi, seakan menjadikan Dewi sebagai seseorang yang tengah mendapatkan durian runtuh. Ia bertekad akan memanfaatkan kesempatan ini.

Tuhan... aku anggap ini semua rezeki yang Engkau berikan. Jika aku ikut kalap belanja, jangan salahkan aku ya.. Aku hanya mengikuti kemauan Bang Bhumi. Hihihihi...

***

"Bagaimana Hans? Apakah kamu sudah berhasil menemukan gadis yang menolongku?"

Masih duduk di balkon kamar sembari menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi, Kartika menghabiskan waktunya di siang hari ini. Jika sebelumnya ia ditemani oleh sang putra, kini pengawal pribadinya lah yang menemani. Pada kesempatan ini, Kartika menanyakan perihal keberadaan seorang gadis yang berhasil mengusik pikiran dan hati.

"Baru beberapa informasi yang bisa saya kumpulkan, Nyonya."

"Benarkah? Informasi apa itu?"

"Wanita yang menolong Nyonya, ternyata sempat pergi ke pegadaian sebelum membayar biaya administrasi yang harus ia bayarkan sebagai jaminan."

Dahi Kartika sedikit mengernyit. "Apa? Dia pergi ke pegadaian? Apakah mungkin dia menggadaikan barang berharga yang ia punya untuk membayar biaya administrasi?"

Hans menganggukkan kepala. Lelaki itu juga berpikir hal yang sama dengan sang nyonya. "Saya juga berpikir seperti itu, Nyonya. Ada barang berharga yang dimiliki oleh wanita itu yang ia jual atau ia gadaikan."

"Lalu, apakah kamu sudah berhasil menemukan barang apa yang digadaikan oleh gadis itu?"

"Belum Nyonya. Hari ini merupakan hari Minggu, sehingga pegadaian yang berada di sekitar rumah sakit libur. Saya baru berencana esok hari pergi ke pegadaian itu."

"Bagus Hans. Aku benar-benar puas dengan cara kerjamu. Seandainya saja aku belum terikat janji dengan salah satu sahabatku untuk menjodohkan cucu-cucu kita, pastinya aku akan menjodohkan gadis penyelamat nyawaku itu dengan Bhumi."

Hans sedikit terperangah. Ada satu hal yang baru ia ketahui perihal cucu kesayangan Kartika ini. "Jadi, tuan muda Arga sejak kecil sudah dijodohkan, Nyonya?"

Kartika menganggukkan kepala. "Iya Hans. Dia sudah aku jodohkan dengan cucu dari sahabatku."

"Lalu, di mana sahabat Nyonya saat ini?"

Tiba-tiba saja Kartika membuang napas sedikit kasar. Pandangannya tiba-tiba menerawang. "Itulah yang menjadi beban pikiranku Hans. Aku sama sekali tidak mengetahui keberadaan sahabatku itu. Entah ia masih hidup atau sudah tiada."

Hans bahkan sampai memijit-mijit pelipisnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Kartika perihal bagaimana caranya ia dapat bertemu dengan sahabat lamanya itu. Hans sampai berpikir jika sebentar lagi akan ada tugas khusus yang diberikan oleh Kartika selain mencari Arga dan si gadis penyelamat nyawa. Yakni ditambah dengan mencari keberadaan sahabat lama Kartika.

"Lalu, bagaimana caranya Nyonya bisa mempertemukan tuan muda Arga dengan jodohnya?"

Kartika mengendikkan bahu. "Aku juga tidak mengerti Hans. Sepertinya hal yang mustahil aku bisa bertemu dengan sahabat lamaku itu. Namun, aku masih memegang satu petunjuk yang aku yakini bisa mempertemukanku dengan cucu dari sahabat lamaku itu."

"Petunjuk? Petunjuk apa Nyonya?"

"Tolong bawa kemari kotak kayu yang aku simpan di dalam laci nakas Hans!"

Dengan patuh, Hans mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah nakas. Ia buka laci dan segera ia bawa kotak kayu yang dimaksud oleh Kartika. Ia pun menyerahkan kotak itu kepada sang Nyonya.

Perlahan, Kartika membuka kotak kayu yang sudah lama ia simpan dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia ambil sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati dan ia tatap lekat-lekat dengan wajah berbinar.

"Ini merupakan kalung yang akan menjadi pengikat antara cucuku dengan cucu sahabat lamaku. Dulu ia pernah mengatakan bahwa cucunya akan selalu memakai kalung seperti yang aku simpan ini. Meski peluang untuk bertemu dengan cucu sahabat lamaku ini sangatlah kecil, namun entah mengapa aku merasa bahwa orang itu berada di dekat sini, Hans."

🍁🍁🍁🍁🍁

Nah... semua pertanyaan sudah terjawab kan Kak? Perihal Bhumi, Kartika dan kalung yang dimiliki oleh Dewi?? Hihihihi hihihihi 😂😂😂 Lalu?? Apakah kalung yang dimiliki oleh Dewi yang kebetulan ada di pegadaian bisa kembali?

Tetap ikuti kelanjutan ceritanya ya Kak😘😘😘

1
Sri Wahyuni
kisah yang mengharukan, namun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, adalah dikehidupan nyata akhir yg seperti itu... 🤔🤔🤔😘😘😘🌹🌹🌹👍👍👍💪💪🖕
Sri Wahyuni
hanya satu kata terucap, bahagia...
Naraa 🌻
idih najis gatau malu
Naraa 🌻
Dasar iblis EMG si Wenda, bisa jamin dah pasti dia terlibat dalam kecelakaan mamanya Bhumi, bego nya bapaknya mungut dan nikahin dia, mana udh di kasih clue nenek ga paham juga, parah bgt
Naraa 🌻
Jahat licik bgt para benalu
Wanda Pratiwi
good
Tina
Biasalah....iya kan thoorrrr , namanya jga kumpulan ibu2 julid hihihihihihi apalagi kerjaannya coba , kalau nggak menggosip & menjulid 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tina
Akhirnya.... mudah2an cita2mu segera tercapai ya Wi....💪💪💪💪 Wi.
Tina
Terima kasih ya thor, banyak pesan moral & kehidupan yg disampaikan disini, tp ceritanya tetap menarik 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰. ❤️ U thor 🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗👍👍👍👍👍👍👍
Tina
Bener jga kata Radit Ga , perlu dipertimbangkan, walau bentuk fisik bukan yg utama ,tapi kesehatan jga penting Ga.
Tina
Wuaaahhhh selamat ya Wi ,udah mau buat pertunjukan di TMII, akhirnya buah kebaikan, pengorbanan & kesabaranmu membuahkan hasil, & jgn lupa jga memberi khabar ibu & adikmu ya Wi. Dan teruntuk author moga lekas sembuh & bisa lekas menyapa penggemarmu lgi ya.....sehat selalu thor
Tina
Maaf thor,🙏🙏🙏🙏🙏🙏sekali, nggak sengaja thor...padahal aq bukannya mau kasih 1 bintang lho, tp pas mau tekan bintang berikutnya, padahal udah tak tekan2 masih nggak bisa, eee tau2nya muncul notif penilaian berhasil,akhirnya ini deh hasilnya...sekali lgi maaf ya thor, nggak sengaja 🤗🤗🤗🤗 padahal ceritanya lumayan lho, typo jga nggak terlalu tu.... cuma aq nya aja yg buru2 nekan itu bintang, sekali lgi maaaaaffff ya thor,mungkin author akan kecewa , tp tolong jgn marah ya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tina
Yang sabar ya Dewi , semoga buah cinta & kesabaranmu membuahkan hasil .
Yora Fitriani86
hahahahahh
Sriza Juniarti
ternyata bhumi adalah arga...keren oi..🥰💕
Sriza Juniarti
bagus...tapi likenya kok sediikit ya
semangat kk💕🥰🥰
Sriza Juniarti
jahatnya.. balas thor...😤😤🤲
Maliqa Effendy
ga heran daerah Kampung Rambutan dan sekitarnya...harus extra hati2. kalo ga penting bngt jngn keluarin HP atau dompet.siapin uang secukupnya dikantong celana ..
Maliqa Effendy
lagian Dewi gampang banget sih percaya.kan jatohnya jadi gini...
Maliqa Effendy
Covernya bagus banget,Thor...semoga ceritanya jg bagus..baru mau baca ini....
Rasti Yulia: alhamdulillah... makasih kak.. tapi ini termasuk novel yang sedikit gagal karena pop nya gak naik-naik dan sepi pembaca 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!