Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiba di Thorton
Sejauh mata memandang, yang terlihat oleh Zen hanyalah hamparan tanah gersang yang dipenuhi retakan panjang, seolah hujan telah lama melupakan tempat itu. Reruntuhan rumah-rumah hangus berjajar di sepanjang jalan berbatu yang mereka lewati, menyisakan kerangka kayu menghitam dan dinding gosong yang nyaris roboh. Di kejauhan, tampak batang-batang pohon mati menjulang kurus ke atas langit, sementara ranting-ranting keringnya mencuat tinggi.
Udara panas menyengat kulit, bercampur debu halus yang beterbangan setiap kali angin berembus melintasi desa terbengkalai tersebut. Aroma arang, tanah kering, dan bau samar yang menyerupai bangkai busuk menggantung di udara, membuat setiap tarikan napas terasa berat dan menyesakkan dada.
Zen memalingkan pandangannya ke sekeliling.
Berbeda dari desa kemarin yang sempat ia dan Amanda singgahi, tempat ini terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada suara percakapan warga. Tidak ada anak-anak yang berlarian di jalanan. Bahkan suara hewan ternak atau pun dentingan aktivitas dari balik rumah-rumah kosong itu tidak terdengar sama sekali. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa tersebut, Zen memang tidak melihat satu pun penduduk melintas, seolah seluruh kehidupan di tempat itu telah dilenyapkan dengan sengaja.
"Desa ini benar-benar mati," kata Zen, memecah keheningan di antara mereka. Sepasang manik birunya tetap menatap lurus ke depan dengan waspada. "Tidak ada satu pun orang yang kulihat sejak menginjakkan kaki di sini."
Amanda tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada gerbang kerajaan Thorton yang samar-samar mulai terlihat dari kejauhan.
"Kau benar..." ia menarik napas berat yang terasa panas di dadanya sebelum perlahan menoleh ke arah Zen. "Dan kita sudah semakin dekat dengan Thorton."
Langkah kaki Amanda mendadak melambat. Ia menjeda ucapannya sejenak sembari menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba berubah sendu di balik bayangan tudung jubah. Entah mengapa, di tengah tugas sepenting ini, pikirannya malah memutar kembali potongan memori kelam lima belas tahun lalu. Sebuah ingatan menjijikkan yang selalu ia coba buang jauh-jauh.
Amanda meremas sebelah dadanya tanpa sadar. Semakin dekat mereka dengan Thorton, semakin sulit baginya mengusir kenangan yang mulai bermunculan satu per satu. Hatinya terasa sesak, seolah udara panas di sekelilingnya mendadak berubah jauh lebih berat untuk dihirup.
Ingatan itu membawa Amanda kembali pada momen ketika tubuh kecilnya dibanting dengan kasar ke atas tanah di bawah sebuah gerobak jerami yang gelap dan sempit. Sebuah malam yang menghancurkan hidupnya, meninggalkan trauma mendalam yang melenyapkan masa kecilnya yang penuh warna.
"Kita akan kembali ke tempat itu, Zen," lanjut Amanda dengan suara yang bergetar samar. "Banyak hal yang kita lewati di sana... kau masih ingat semuanya, bukan? Aku benar-benar tidak pernah bisa melupakan semua memori indah di Thorton."
Zen menghentikan langkah kakinya begitu menyadari perubahan nada bicara Amanda. Ia berbalik, menatap Amanda yang kini tengah menunduk dalam sembari meremas dadanya sendiri, sementara tangan kiri wanita itu mencengkram tali kendali kuda miliknya dengan kuat. Rahang tegas ksatria bermuka batu itu mendadak mengeras.
Zen tahu betul, kembali ke tempat ini bukanlah sesuatu yang mudah. Bagi dirinya sendiri, Thorton adalah luka lama yang harus ia singkirkan dari hidupnya. Meski belum sepenuhnya bisa melupakan kenangan pahit itu, Zen selalu memaksa dirinya untuk mengunci rapat memori tersebut di sudut tergelap kepalanya. Namun melihat Amanda yang tertekan seperti itu membuat hatinya ikut bergetar.
Ia tahu persis rasa sakit yang sedang mendera Amanda. Bedanya, jika Amanda meluapkan traumanya dengan menyakiti diri sendiri, Zen memilih untuk menekan semua itu dalam-dalam. Menggunakan pikiran dan jiwanya sebagai ksatria untuk membentengi diri dari masa lalu yang suram.
Zen melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka sembari memindahkan tali kendali kudanya ke tangan kiri. Tanpa sepatah kata pun, tangan kanannya yang besar dan dipenuhi kapalan bekas gagang pedang kini bergerak bebas, menggenggam erat pergelangan tangan Amanda. Ia menarik tangan wanita itu perlahan, menghentikan cengkeraman yang tanpa sadar mulai melukai dirinya sendiri.
"Ada hal yang harus kau pahami...Amanda." Zen menjeda ucapannya. Ia menarik pelan pergelangan tangan Amanda, menuntun tubuh wanita itu mendekat hingga dahinya bertumpu pada dada tegap Zen. "Aku tidak pernah melupakan apa yang terjadi di sana."
Napas Zen berembus lambat, menggetarkan sedikit tudung jubah yang menutupi kepala Amanda.
"Namun, kita datang ke tempat ini bukan sebagai anak kecil yang tak berdaya malam itu," lanjut Zen pelan. "Kita kembali sebagai ksatria yang membawa pedang."
Sorot mata birunya menajam ke arah gerbang Thorton di kejauhan.
"Dan kali ini... kita tidak akan lari."
...———————————————————————————...
Gerbang utama Thorton yang terbuka lebar menjulang tinggi di hadapan Zen dan Amanda. Tembok batu hitam raksasa yang membentengi wilayah kerajaan itu tampak kusam, berlumut, dan dipenuhi retakan panjang yang menjalar di beberapa bagian, memperlihatkan celah-celah fondasi yang mulai keropos dimakan usia.
Di atas benteng yang tinggi, beberapa prajurit Thorton berdiri berjajar membawa tombak dan busur. Namun, tidak ada sedikit pun disiplin militer yang Zen lihat dari mereka, sangat kontras jika dibandingkan dengan ketatnya barisan ksatria Castlewood. Sebagian besar penjaga itu hanya bersandar santai di tembok pembatas benteng sembari merokok dan berbincang konyol, seolah tidak peduli pada keamanan pintu masuk utama yang berada tepat di bawah mereka.
Jantung Zen tiba-tiba saja berdegup lebih cepat saat pandangannya tertuju pada sebuah ukiran seekor elang berwarna perak yang tengah mengepakkan sayap dengan angkuhnya. Itu adalah lambang dari organisasi keji yang menjadi dalang utama dari pecahnya tragedi berdarah lima belas tahun lalu.
Melihat simbol itu terpampang jelas di tubuh para penjaga gerbang, sorot mata Zen perlahan menajam. Kedua tangannya mengepal begitu kuat di balik jubah sampai buku-buku jarinya memutih. Bagi Zen, siapa pun anggotanya, mereka semua adalah orang-orang yang telah merampas masa kecilnya dengan sangat kejam.
Zen mengalihkan pandangannya ke sudut salah satu gang di antara deretan rumah warga yang reyot. Di sana, seorang pria tua sedang dipukuli oleh dua pemuda berpakaian lusuh.
Bugh!
Lelaki tua malang itu tersungkur ke tanah gersang sambil memegangi wajahnya yang bersimbah darah. Namun, meski sang korban sudah tidak berdaya, kedua berandalan tersebut tetap melayangkan tendangan tanpa ampun ke arah tubuh ringkihnya.
"T-Tolong..." erang pria tua malang itu parau.
Yang membuat Zen tak habis pikir, para penjaga di atas benteng hanya melirik sekilas tanpa ada niat untuk membantu sama sekali. Di balik jubahnya, tangan kanan Zen bergerak meraba gagang pedang yang tersampir di pinggang. Rahangnya mengeras. Kerajaan ini bukan hanya telah kehilangan seluruh kejayaannya, tetapi juga rasa kemanusiaan pun seolah-olah ikut mati bersama runtuhnya Thorton.
"Mereka membiarkannya?" bisik Amanda, memecah keheningan di antara mereka. Tangan kirinya kini ikut mencengkeram erat tali kendali kuda miliknya, berusaha keras menahan gejolak amarah yang mendadak bangkit di dalam dada akibat kebiadaban yang baru saja disaksikannya.
Zen mengangguk singkat tanpa menoleh. "Kerajaan ini memang telah busuk, bahkan mental manusianya ikut hancur."
"Kelompok itu benar-benar menghancurkan tempat ini," desis Amanda rendah.
Zen tidak menyahut. Matanya menyipit waspada saat menatap dua prajurit berzirah besi yang berdiri tepat di tengah gerbang. Meski begitu, ia tetap melangkah tenang sambil menuntun kudanya. Suara ladam yang menghantam tanah menggema samar.
Namun, begitu mereka tiba tepat di ambang gerbang, dua penjaga itu mendadak melangkah maju, memblokir jalan sambil mengacungkan tombak tajam tepat ke arah dada Zen dan Amanda.