Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
BAB 13: Meja Makan Para Penguasa dan Ujian Ketulusan
Keheningan yang melingkupi ruang makan utama kediaman Dominic terasa berkali-kali lipat lebih mencekam daripada lobi apartemen tempo hari. Ruangan ini begitu megah, dengan dinding berpanel kayu ek gelap, lampu gantung kristal raksasa yang memancarkan cahaya kekuningan, dan deretan lukisan klasik abad pertengahan. Di tengah ruangan, sebuah meja makan panjang berbahan kayu mahoni berkilau menampilkan hidangan fine dining kelas atas yang ditata sangat presisi.
Elva Ileana duduk di sebelah Zayn, meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Gaun brokat biru dongker yang dikenakannya terasa sedikit meremang karena hawa dingin dari pendingin ruangan, atau mungkin karena aura intimidasi yang menguar dari pria paruh baya di ujung meja.
Alexander Dominic.
Pria itu duduk dengan posisi tegap sembari memotong daging steak nya dengan gerakan yang sangat tenang namun presisi. Setiap gerakan pisau dan garpunya menimbulkan bunyi denting halus yang seolah memicu debar jantung Elva semakin kencang. Di sebelah Alexander, Victoria Dominic, sang istri, sesekali menyesap anggur merahnya dari gelas kristal, mengamati Elva dengan tatapan menyelidik yang sulit dibaca.
"Jadi," suara bariton Alexander akhirnya memecah keheningan. Nada suaranya begitu berat, penuh wibawa, dan langsung membuat Elva refleks menegakkan punggungnya.
"Kamu yang bernama Elva Ileana?"
"I-iya, Om," jawab Elva cicit. Suaranya sedikit bergetar, namun dia berusaha sekuat tenaga untuk menatap mata pria yang sangat disegani di dunia bisnis nasional itu.
Alexander meletakkan pisau dan garpunya dengan perlahan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Mata tajamnya yang sangat mirip dengan Zayn menatap lurus ke dalam manik mata bulat Elva.
"Om sudah membaca seluruh laporan mengenai keluargamu. Narendra Ileana adalah pengusaha yang ambisius, namun ceroboh dalam mengambil langkah bisnis. Dan Om juga tahu, seminggu ini putraku sampai menggunakan otoritas asisten pribadi Om untuk menghancurkan investasi gabungan mereka hanya demi kamu."
Darah Elva seketika terasa berdesir dingin. Rasa bersalah yang besar mendadak menghantam dadanya. "Maaf, Om... Aku... aku tidak pernah meminta Zayn untuk melakukan hal itu," bisik Elva, matanya mulai berkaca-kaca. "Zayn menolongku karena... karena keluargaku memperlakukanku dengan buruk. Tapi aku benar-benar tidak berniat membawa kerugian bagi keluarga Om."
"Pa, cukup," potong Zayn tajam. Rahangnya mengeras sempurna, dan dia meletakkan garpunya dengan hentakan kasar ke atas meja.
"Gue yang ambil keputusan buat narik investor itu. Bokapnya Elva yang duluan menggunakan nama keluarga Dominic buat kepentingan sahamnya, dan mereka menyiksa Elva. Jangan pojokkan Elva atas keputusan yang gue buat sendiri."
Alexander melirik putranya dengan kilat mata yang tegas, tidak senang karena ucapannya dipotong. "Papa tidak sedang berbicara denganmu, Zayn. Papa sedang berbicara dengan gadis di sebelahmu. Diam dan biarkan dia menjawab sendiri."
Atmosfer di meja makan itu mendadak menjadi sangat panas karena konfrontasi visual antara ayah dan anak yang sama-sama memiliki watak keras kepala. Elva yang merasakan ketegangan itu langsung menyentuh lengan Zayn di bawah meja, memberi isyarat pelan agar cowok itu menahan emosinya.
Elva menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang dia miliki. Dia mendongak, menatap Alexander tanpa ada lagi kilat ketakutan, melainkan ketulusan yang murni.
"Om Alexander," panggil Elva, suaranya kini terdengar jauh lebih stabil dan jernih.
"Aku tahu aku tidak punya hak atau nilai apa pun di mata dunia bisnis Om. Keluargaku di ambang kehancuran, dan aku datang ke sini malam ini bukan untuk meminta Om mengembalikan kekayaan mereka. Aku dilemparkan ke gudang bawah tanah yang gelap karena aku menolak memanfaatkan ketulusan Zayn demi uang ayahku."
Elva men jeda kalimatnya, matanya menatap berturut-turut pada Alexander dan Victoria. "Zayn adalah satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia saat semua orang mengabaikan eksistensiku. Jika kehadiran atau keberadaan ku di dekat Zayn dianggap sebagai beban atau noda bagi nama besar Dominic... aku bersedia pergi dari apartemennya. Aku bisa mencari kehidupan baru sendiri. Tapi aku mohon... jangan salahkan Zayn. Dia hanya melakukan hal yang menurutnya benar untuk melindungi ku."
Mendengar penuturan Elva yang begitu jujur, polos, dan sama sekali tidak mencari keuntungan materi, ruang makan itu kembali hening. Zayn tertegun, menatap gadis di sebelahnya dengan pandangan mata yang sarat akan rasa kagum sekaligus cinta yang semakin dalam. Elva rela menawarkan diri untuk pergi demi melindunginya dari kemarahan ayahnya.
Alexander Dominic terdiam cukup lama. Dia memperhatikan garis wajah Elva yang tegas namun lembut, mencari sisa-sisa kelicikan seperti yang biasa dia lihat pada pengusaha atau sosialita yang mencoba mendekati keluarganya. Namun, dia tidak menemukan hal itu. Di mata Elva, hanya ada ketulusan murni yang tidak bisa direkayasa.
Hening sejenak.
Tiba-tiba, suara tawa kecil yang anggun terdengar dari arah Victoria Dominic. Wanita paruh baya itu meletakkan gelas anggurnya, lalu menatap suaminya dengan senyuman tipis.
"Sudah, Pa. Jangan menakut-nakuti anak gadis orang lagi. Wajah Elva sampai pucat begitu karena ketegasanmu yang berlebihan."
Victoria kemudian mengalihkan pandangannya pada Elva, dan kali ini tatapan matanya dipenuhi oleh kehangatan seorang ibu yang sangat tulus.
"Elva, jangan dengarkan ucapan Om Alexander terlalu serius. Dia hanya sedang mengujimu. Sejak seminggu lalu, Zayn tidak mau pulang ke rumah ini dan terus mengabaikan telepon dari kami hanya untuk menjagamu. Tentu saja kami penasaran, gadis seperti apa yang bisa menjinakkan putra tunggal kami yang keras kepala ini."
Elva terbelalak kecil, menatap Victoria dengan bingung. "Eh? Jadi... Om tidak marah?"
Alexander Dominic menghela napas pendek, namun sebuah senyuman tipis yang sangat langka akhirnya terukir di sudut bibirnya yang kaku.
"Om tidak pernah memedulikan seberapa kaya atau hancurnya keluarga Ileana, Elva. Di dunia ini, uang bisa dicari dalam sekejap. Tapi mencari seseorang yang tulus melindungi dan berdiri di samping Zayn tanpa memedulikan harta... itu hal yang sangat langka. Kamu punya keberanian untuk membangkang orang tuamu demi melindungi ketulusan anak Om, dan itu sudah lebih dari cukup bagi Om untuk menilai mu."
Alexander memberi isyarat kepada pelayan di samping dinding untuk menuangkan minuman baru. "Penarikan investor di proyek Jakarta Barat itu tidak akan dicabut, karena Narendra Ileana memang tidak layak menjadi mitra Dominic Group. Tapi untukmu... mulai malam ini, kamu berada di bawah perlindungan hukum penuh keluarga Dominic. Kamu tidak perlu mencari kehidupan baru atau pergi dari apartemen Zayn. Tempat itu... adalah tempatmu sekarang."
Mendengar keputusan mutlak dari ayahnya, ketegangan di bahu Zayn seketika mengendur. Dia kembali bersandar di kursinya, melirik ayahnya dengan senyuman penuh kemenangan yang tipis.
"Makasih, Pa."
"Jangan berterima kasih pada Papa. Pastikan kamu menjaga gadis ini dengan benar. Kalau Papa dengar dia menangis lagi karena ulahmu atau orang lain, Papa sendiri yang akan menjemputnya dari apartemen mu," ancam Alexander, meskipun nadanya kini terdengar jauh lebih santai layaknya obrolan keluarga.
Air mata kebahagiaan perlahan mengalir di pipi Elva. Dia tersenyum sangat lebar, merasakan beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya menguap tanpa sisa. Di meja makan yang tadinya terasa sangat mengerikan ini, dia tidak hanya mendapatkan restu dan perlindungan hukum, tetapi dia akhirnya merasakan bagaimana rasanya memiliki sosok orang tua yang benar-benar bijaksana dan melindunginya dengan tulus.
Zayn meraih tangan Elva di bawah meja, menggenggamnya erat-erat dengan jemari tangannya yang hangat. Di bawah cahaya lampu kristal kediaman utama Dominic, malam yang menegangkan itu berakhir dengan sebuah awal baru yang penuh dengan kehangatan dan kepastian masa depan yang cerah bagi mereka berdua.