Alluna tak tahu jika kepergiannya kali ini akan menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri. Emanuel Sagi Pratu, lelaki yang telah di pacarinya selama 3 tahun terakhir memilih menikah dengan Syailea - kakak dari Luna.
Tanpa tahu apa yang terjadi, Luna mengerahkan segala cara agar Sagi dapat kembali menjadi miliknya. Tetapi lelaki bernama Andrew Kilburn mendadak hadir di tengah usahanya itu. Lelaki yang ternyata adalah Om dari Sagi itu mengaku jika Alluna adalah miliknya.
•••
I Love You, Omm! Season 2
Keterpurukan Sagi akan cinta pertama mengantarkan gadis bernama Saras dalam hidupnya. Gadis pemilik iris caramel yang kembali memperangkap ingatan Sagi tentang Alluna. Sagi yang merasa penasaran serta keberadaan Saras yang selalu disisinya itu pun membuat perasaan nyaman memenuhi diri Sagi. Dan untuk pertama kalinya jantung Sagi kembali berdebar oleh senyum seorang Wanita selain Luna. Namun sayangnya perbedaan diantara mereka terlalu besar.
“Cinta yang tidak dikatakan pun masih tetap disebut cinta kan, Oom?” — Saras.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan Selviani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARURAT
Setelah Andrew pergi, Alluna kembali ke ruangannya. Baru saja ia akan menyelesaikan laporan terakhir, suara panggilan darurat terdengar dari pengeras suara rumah sakit.
"Perhatian, perhatian! Kecelakaan lalu lintas. Korban dalam kondisi kritis sedang dalam perjalanan ke IGD. Tim medis diminta bersiap."
Alluna langsung berdiri, rasa lelah yang tadi sempat dirasakannya mendadak hilang. Ia merapikan jas putihnya dan berjalan cepat ke ruang gawat darurat.
Sepanjang perjalanan, ia bertemu dengan seorang perawat yang membawa catatan awal dari tim ambulans.
“Dok, ini laporan awal dari korban. Ada dua pasien. Yang pertama seorang pria berusia 45 tahun dengan kemungkinan trauma kepala dan patah tulang di kaki kanan. Pasien kedua seorang wanita, usianya sekitar 30-an, mengalami perdarahan hebat di bagian perut. Kami menduga ada cedera organ dalam,” lapor perawat itu dengan nada tergesa-gesa.
Alluna mengangguk cepat. “Baik, segera siapkan ruang trauma. Saya akan tangani pasien kedua. Hubungi dokter bedah jika diperlukan,” perintahnya tegas.
Meski situasi darurat, Alluna selalu berhasil menjaga ketenangannya.
Tak lama, sirene ambulans terdengar mendekat. Beberapa petugas medis bergegas membawa kedua pasien masuk ke IGD. Alluna langsung menghampiri pasien wanita yang kondisinya terlihat lebih kritis.
Wajah pasien pucat, dan perban di perutnya sudah basah oleh darah.
“Alluna, ini pasien dengan trauma perut. Tekanan darahnya turun drastis, 80/50. Kami sudah memberikan cairan IV, tapi perdarahan tidak berhenti,” lapor paramedis sambil memindahkan pasien ke tempat tidur.
Alluna memeriksa pasien dengan cepat. "Kita butuh ultrasonografi segera untuk memeriksa ada tidaknya pendarahan internal. Siapkan juga darah untuk transfusi. Golongan darahnya apa?” tanyanya sambil memasang stetoskop ke dada pasien.
“AB negatif, Dok. Kami sudah memesan darah ke bank darah,” jawab perawat.
Alluna mengangguk, lalu menatap pasien dengan penuh perhatian. "Bu, tenang ya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Anda,” katanya dengan suara lembut.
Pasien membuka matanya yang sayu, mencoba berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar. Alluna meraih tangannya. "Jangan khawatir. Fokus saja bernapas perlahan. Saya di sini untuk membantu Anda," lanjutnya, memberikan semangat.
Perawat kembali dengan hasil ultrasonografi portabel. “Dok, ada cairan bebas di rongga perut. Kemungkinan besar ruptur organ dalam,” lapornya.
Alluna menghela napas. Ini lebih serius dari dugaannya. Ia segera menghubungi dokter bedah melalui telepon internal. "Dokter Bagas, ini Alluna di IGD. Saya membutuhkan Anda untuk operasi darurat. Pasien mengalami perdarahan internal akibat trauma perut.”
Setelah memastikan bantuan dalam perjalanan, Alluna kembali ke sisi pasien, memberikan instruksi kepada tim.
“Tingkatkan kecepatan infus. Pantau tekanan darah setiap lima menit. Kita harus menjaga stabilitas pasien sampai dia siap untuk dioperasi.”
Ketika dokter bedah tiba, Alluna menyerahkan laporan lengkap dan tetap di ruangan untuk membantu persiapan. Prosedur berjalan cepat, dan Alluna bekerja sama dengan tim untuk memastikan pasien mendapat penanganan terbaik.
Setelah pasien dibawa ke ruang operasi, Alluna akhirnya bisa menarik napas lega. Ia melihat jam di dinding, sudah hampir jam 8 malam. Meskipun tubuhnya lelah, ia merasa puas karena telah memberikan yang terbaik dalam situasi darurat itu.
Namun, dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa setiap hari seperti ini adalah pengingat akan tanggung jawab besar yang ia emban sebagai dokter.
•••
Alluna duduk sejenak di ruang istirahat dokter. Ia meraih segelas air mineral dari dispenser dan meminumnya perlahan. Adrenalin dari kejadian tadi masih membuat tubuhnya terasa tegang.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang istirahat terbuka, dan salah satu perawat, Dina, masuk dengan wajah lelah namun penuh rasa hormat.
"Dok, hebat sekali tadi. Kalau bukan Dokter Alluna yang menangani, saya rasa pasien tadi tidak akan punya kesempatan sampai ke ruang operasi," puji Dina sambil duduk di kursi sebelah.
Alluna tersenyum tipis, menghapus keringat di dahinya dengan tisu. “Semua karena kerja sama tim. Kita semua berusaha yang terbaik,” jawabnya rendah hati.
Dina mengangguk, lalu melirik Alluna dengan tatapan penasaran. “Tapi Dok, saya perhatikan tadi wajah pasien pria yang kecelakaan bersama wanita tadi agak... familiar. Seperti pernah saya lihat sebelumnya.”
Alluna mengerutkan dahi, mengingat pasien pria yang tadi hanya sempat ia lirik sebentar karena fokus pada pasien wanita yang lebih kritis.
“Siapa, ya? Apa dia seseorang yang terkenal?” tanyanya.
Dina mengangkat bahu. “Entahlah, tapi saya merasa pernah melihatnya di berita atau sesuatu. Kalau tidak salah dia seorang pengusaha.”
Alluna menghela napas, merasa itu tidak terlalu penting untuk sekarang. “Semoga mereka berdua bisa melewati ini dengan baik,” gumamnya. Ia meletakkan gelas kosongnya, lalu bangkit.
“Aku akan memeriksa laporan pasien lain. Kalau ada kabar dari ruang operasi, segera beri tahu aku,” katanya sebelum meninggalkan ruang istirahat.
•••
Malam itu, saat Alluna sedang memeriksa catatan harian di komputernya, telepon ruangannya berdering. Ia mengangkatnya dengan cepat.
“Dokter Alluna berbicara,” sapanya.
“Dok, pasien wanita yang tadi ditangani sudah keluar dari ruang operasi. Kondisinya stabil untuk sekarang, tapi masih dalam pengawasan intensif di ICU,” lapor dokter Bagas dari ujung telepon.
“Syukurlah. Terima kasih atas laporannya, Dok. Saya akan ke ICU sebentar lagi untuk memeriksa,” jawab Alluna.
Setelah menutup telepon, ia menghela napas lega. Setidaknya satu nyawa berhasil diselamatkan hari ini.
Tapi rasa penasaran tentang kecelakaan itu tetap mengusiknya. Apalagi setelah ucapan Dina tentang pasien pria yang tampak familiar.
Ia berjalan menuju ICU, memastikan kondisi pasien wanita, yang kini terlihat lebih tenang dengan peralatan medis yang menunjang. Wajahnya masih pucat, namun denyut nadinya sudah lebih stabil.
“Alluna,” panggil dokter Bagas yang berdiri di dekat pintu. “Kamu hebat sekali tadi. Kalau kamu tidak cepat mengambil tindakan, dia mungkin tidak akan bertahan sampai ke meja operasi.”
“Semua berkat kerja sama tim, Dok. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya,” jawab Alluna rendah hati.
“Tapi kamu harus tahu, korban pria dari kecelakaan itu adalah seseorang yang cukup terkenal. Aku baru saja mendapatkan informasi dari polisi,” lanjut dokter Bagas.
Alluna menatapnya dengan bingung. “Siapa dia?” tanyanya.
“Namanya Pak Wirawan. Dia seorang pemilik perusahaan properti besar di kota ini,” jawab dokter Bagas.
Alluna terkejut mendengar nama itu. Ia tahu betul reputasi Pak Wirawan. Pria itu dikenal sebagai pebisnis sukses, tetapi juga penuh kontroversi karena rumor gaya hidupnya yang tidak sehat.
“Jadi ini kecelakaan biasa atau ada hal lain di baliknya?” tanya Alluna dengan nada serius.
“Polisi masih menyelidiki. Mereka curiga ada unsur kelalaian, tapi belum ada kepastian,” jawab dokter Bagas.
Alluna hanya mengangguk. Baginya, apa pun latar belakang pasien, tugasnya tetap sama: menyelamatkan nyawa mereka.
Meski begitu, ia tak bisa menghilangkan firasat aneh tentang kasus ini. Entah mengapa, ia merasa kecelakaan ini mungkin akan membuka pintu menuju sesuatu yang lebih besar.