Ch.1-107 Arc 1 : Amanat Sang Raja Racun✓
Ch.108-200 Arc 2 : Rencana Besar✓
--
Vian Matawijaksana, seorang Tuan muda dari keluarga konglomerat terpandang. Merasa bosan karena merasa telah memiliki segalanya.
Seorang pemuda yang bahkan belum berusia 18 tahun, pandai dalam hampir segala bidang.
Vian merasa dunia tempat dia tinggal saat ini sangat kecil dan membosankan.
Sampai suatu hari, pemuda itu menemukan berita tentang game Martial Art's Online yang baru saja rilis pada kala itu.
Sebuah Game yang awalnya dia anggap sebuah pelampiasan dan pelarian dari kehidupan di dunia nyata, namun perlahan, game tersebut ternyata akan merubah dirinya dan dunia nyata, ke arah yang tidak pernah terduga sama sekali.
*Memiliki unsur overpower yang berlebihan (katanya)
--
Gabungan Genre Rpg.lit x Xuanhuan
Terinspirasi dari shujinkouron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.30 Kota Angin Laut
Kota Angin Laut - Kerajaan Angin
Kota Angin Laut adalah kota terbesar nomor 2 di Kerajaan Angin, alasan mengapa Kota ini bisa menjadi Kota nomor 2 setelah Kota Pusat / Ibukota Kerajaan Angin adalah karena di Kota ini terdapat Pelabuhan terbesar di Kerajaan Angin dan menjadi jalur perdagangan laut pusat di Kerajaan Angin.
Mayoritas penduduk yang tinggal di Kota Angin Laut memiliki profesi Nelayan atau pun Menyewakan Kapal mereka.
Shu dan Wu Ming mengantri di gerbang Kota Angin Laut untuk di cek identitasnya oleh Penjaga.
Melihat keamanan Kota ini begitu ketat membuat Shu dan Wu Ming menyadari ada sesuatu yang terjadi di Kota ini.
Saat sampai pada gilirannya, Wu Ming menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di Kota kepada sang Penjaga.
Penjaga itu melirik Wu Ming dan Shu serta memastikan identitas keduanya sebelum menjawab. "Kelompok pembunuh bayaran 4 Malaikat Maut diketahui sedang berada di Kota ini, kalian sebagai Pendekar berlevel rendah berhati-hatilah dan sebaiknya menghindari keributan yang terjadi di Kota ini."
Shu dan Wu Ming saling berpandangan, tidak menyangka mereka sangat berjodoh dengan 4 Malaikat Maut.
Sebelumnya Linlin memberitahu kepada Shu dan Wu Ming tentang Kelompok Pembunuh bayaran yang menyerang mereka sebelumnya disebut 4 Malaikat Maut karena selalu berhasil membunuh target mereka dengan berbagai cara.
Linlin mengatakan bahwa Shu dan Wu Ming cukup beruntung untuk dapat keluar hidup-hidup setelah berhadapan dengan 4 Malaikat Maut serta mengatakan bahwa sepertinya kinerja 4 Malaikat Maut saat berhadapan dengan keduanya sedang buruk membuat mereka terlihat tidak terlalu kuat.
"Baik terima kasih atas informasinya." Wu Ming memberikan 1 Koin Perak pada penjaga itu sebelum memasuki Kota Angin Laut.
"Kemana kita akan pergi sekarang Ming?" Tanya Shu.
"Mari kita ke Guild Pendekar terlebih dahulu, kita perlu mendapatkan informasi seputar perjalanan kita dan menjual beberapa Item yang tidak dibutuhkan." Jawab Wu Ming.
Gedung Guild Pendekar tidak sulit dicari karena bangunan itu adalah salah satu yang terbesar di Kota Angin Laut.
Saat menuju Gedung Guild Pendekar, di perjalanan Wu Ming melihat sebuah kedai yang rusak parah dan bangunan sekitarnya hangus terbakar, sepertinya beberapa hari yang lalu ada sebuah ledakan dari pertarungan di dekat kedai tersebut.
Bunyi lonceng segera terdengar begitu Wu Ming membuka Pintu Guild Pendekar, beberapa pasang mata tertuju pada mereka sesaat sebelum mengalihkan padangan dengan tawa mengejek.
Itu karena para Pendekar yang berada di Guild memastikan Level berapa Wu Ming dan Shu, kemudian saat melihat Shu dan Wu Ming masih memiliki Level 15 mereka menjadi tertawa geli walaupun sebenarnya status Shu & Wu Ming setara dengan seorang Pendekar Biasa Lv 50.
Rata-rata Pendekar yang berada di Guild ini memiliki Lv35 sampai 50, namun beberapa ada yang lebih dari itu.
Wu Ming mendatangi meja resepsionis untuk menjual barang yang dia dapatkan sebelumnya.
"Apa yang bisa saya bantu Tuan?" Ucap resepsionis itu tersenyum lembut.
"Aku ingin menjual semua Item ini." Wu Ming mengeluarkan semua isi dari Cincin Spatial tingkat rendahnya yang berisi Item-item yang ingin di jual.
Gadis resepsionis sampai menahan nafasnya melihat banyak item yang seharusnya berharga berserakan diatas mejanya.
Gadis resepsionis kembali tersadar dan berkata. "B-baik Tuan, silahkan tunggu sebentar." Sikap resepsionis itu berubah menjadi lebih hormat pada Wu Ming karena bagaimanapun sosok yang bisa mendapatkan Item sebanyak ini pastinya bukan sembarang orang.
Wu Ming dan Shu menunggu di salah satu meja terdekat yang kosong.
Wu Ming memilih meracik Potion untuk menyibukkan diri sedangkan Shu mengasah Katananya.
Para Pendekar yang sebelumnya meremehkan Wu Ming dan Shu menjadi bingung bagaimana bisa keduanya mendapatkan banyak Item tingkat tinggi itu, bahkan mereka dengan santai menjual semua Item dan Equip tingkat tinggi seperti sudah mendapatkan yang lebih baik dari itu.
Beberapa Pendekar menatap keduanya dengan tatapan keserakahan sedangkan yang lebih pintar berusaha untuk tidak menyinggung Wu Ming dan Shu.
Karena keduanya terlalu sibuk membuat Shu dan Wu Ming tidak menyadari seorang Gadis kecil mendekatinya dengan wajah dan mata memerah seperti telah menangis beberapa waktu yang lalu.
"Tu-tuan, aku mohon bantuanmu!" Ucap Gadis kecil itu menahan air matanya.
Shu dan Wu Ming menoleh dengan heran siapa yang mendatangi mereka berdua, namun setelah melihat wajah gadis kecil itu membuat Shu dan Wu Ming menegang serta Shu bersiap menarik Katananya.
"Kau! Kau salah satu dari mereka!" Seru Shu tiba-tiba.
Melihat sepertinya tidak akan berjalan sesuai keinginannya, gadis kecil itu bergerak cepat kebelakang Wu Ming dan mengarahkan belatinya sampai menyentuh leher Wu Ming.
"Jangan bergerak! Atau aku akan membunuh temanmu! Aku hanya butuh beberapa Pill dari dia!" Seru Gadis kecil itu yang tidak lain ada Ai Rui, salah satu anggota dari Kelompok Empat Malaikat Maut.
Semua Pendekar di Guild menjadi waspada dan bersiap melawan Gadis kecil itu karena berani berbuat ulah di dalam Guild.
"Cih!" Shu berdecak kesal karena terlambat menyerang Ai Rui sebelum berhasil menyandera Wu Ming, namun dia melihat tatapan Wu Ming yang masih tenang dan mengisyaratkan untuk mundur terlebih dahulu.
"Jadi, apa yang kau butuhkan Nona?" Tanya Wu Ming tenang.
"Berikan semua Cincin Spatialmu sekarang!" Balas Ai Rui.
"Jangan lakukan Ming!" Shu mengetahui di dalam Cincin Spatial Wu Ming terdapat benda-benda berharga termasuk Tongkat Tujuh Racun dan Lentera Api Suci, memberikannya pada Ai Rui akan membuat kekuatan Wu Ming berkurang drastis.
"Tidak apa Shu, mari kita turuti keinginannya." Jawab Wu Ming dengan tenang dan melepaskan Cincin Spatialnya.
Ai Rui mengambil Cincin Spatial Wu Ming dan perlahan mendekati pintu keluar sambil menyadera Wu Ming.
Ai Rui melesat bagaikan kilat melewati Pintu dan langsung tidak terlihat di kegelapan malam.
Beberapa Pendekar tingkat tinggi langsung mengejar Ai Rui karena mengetahui harga kepala gadis kecil itu cukup mahal.
"Ming! Kau baik-baik saja?" Tanya Shu khawatir.
Wu Ming mengangguk dan tersenyum lebar. "Kita akan mengikutinya Shu, bersiaplah."
"Mengikutinya? Bagaimana caranya?" Tanya Shu kebingungan.
Wu Ming mengeluarkan Cincin Spatial tingkat rendah dari jubahnya dan mengambil Tongkat Tujuh Racun dan Lentera Api Suci dari cincin Spatial itu.
Shu bernafas lega melihat kedua item itu masih berada di Wu Ming, Wu Ming bukanlah seseorang yang ceroboh dan sudah mengantisipasi jika ada kejadian seperti ini.
"Aku sudah menanamkan Kumbangku di tubuhnya, kita bisa melacaknya kemanapun dia pergi selama dia tidak menyadarinya." Ucap Wu Ming tersenyum lebar, Wu Ming mengatakan pada resepsionis bahwa mereka ingin pergi mengejar gadis sebelumnya dan akan mengambil uang hasil penjualan Item mereka nanti.
Wu Ming dan Shu pergi ke sebuah tempat yang memiliki bangunan kumuh serta terlihat seperti tidak di huni jika bukan karena ada obor Api yang menyala dari dalam bangunan itu.
"4 Malaikat Maut, kalian akan merasakan pembalasan kami." Ucap Wu Ming dan segera memasuki bangunan itu bersama Shu.
pliss dijawab/Frown/
hmmmm... 😩😩😩😩😩😩😩