NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI LAIN SANG MONSTER (2)

Anak tangga menuju atap terasa begitu dingin dan lembap. Suara ketukan sepatu kain Kayla terdengar samar, berkejaran dengan deru angin sore yang kian kencang di luar gedung. Begitu tangan Kayla mendorong pintu besi pembatas atap yang berat, aroma tanah basah dan rintik gerimis tipis langsung menyergap indra penciumannya. Sky-line Jakarta yang kelabu membentang luas di hadapannya.

Di ujung pembatas beton atap, Alvaro Pramudya berdiri membelakanginya. Cowok itu mencengkeram besi pembatas dengan kedua tangannya, membiarkan tubuhnya yang kini hanya berbalut kemeja putih tanpa dasi diguyur oleh gerimis sore. Kepala Alvaro terduduk dalam, napasnya terlihat berat dan tersengal, seperti seseorang yang tengah menahan sesak yang teramat sangat di dadanya.

Kayla melangkah perlahan di atas lantai semen *rooftop* yang basah. Jarak di antara mereka kian terkikis, hingga menyisakan tiga langkah saja.

"Jika kamu ke sini untuk mengakhiri hidup hanya karena ucapan ayahmu, itu adalah hal paling bodoh yang pernah kupikirkan tentang seorang Alvaro," suara Kayla memecah keheningan, terdengar jernih di antara suara rintik air yang jatuh.

Alvaro tersentak. Bahunya menegang kaku sebelum ia perlahan memutar tubuhnya. Sepasang mata hitam yang biasanya memancarkan kilat intimidasi itu kini terlihat begitu redup, dipenuhi oleh lingkaran hitam kelelahan dan gurat luka yang rapuh. Ada keterkejutan yang nyata di wajah tampannya saat mendapati Kayla berdiri di sana, memegang selembar sapu tangan sutra biru muda—sapu tangan yang sama yang pernah diberikan Devan kepadanya.

"Kayla... Kenapa kamu bisa di sini?" suara Alvaro terdengar serak, hampir menyerupai bisikan yang kehilangan tenaga. Ia refleks membuang muka ke samping, mencoba menyembunyikan memar biru di pipi kirinya yang kini terasa semakin perih akibat basah terkena air hujan. "Pergilah. Tempat ini bukan untuk anak beasiswa sepertimu. Aku sedang tidak ingin berdebat atau membuat masalah."

Kayla tidak mundur. Ia justru melangkah maju hingga kini mereka berdiri berhadapan, terpisahkan jarak kurang dari satu meter. Kayla mengangkat tangan kanannya yang memegang sapu tangan, mengarahkannya ke wajah Alvaro.

"Jangan bergerak," perintah Kayla dengan nada suara yang melembut, mengikis seluruh ketegangan.

Dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, Kayla menempelkan sapu tangan sutra itu ke pipi kiri Alvaro yang memar, menyeka sisa-sisa air hujan yang membasahi luka tersebut. Alvaro membeku seketika. Jantungnya berdegup dengan kecepatan yang tidak wajar. Sentuhan tangan Kayla terasa begitu hangat dan tulus, sangat kontras dengan tamparan keras yang ia terima dari tangan yang sama semalam.

"Aku... aku tidak sengaja mendengar pertengkaran orang tuamu di bawah tadi," bisik Kayla jujur, matanya menatap lurus ke dalam manik mata hitam Alvaro dengan pandangan yang dipenuhi rasa empati yang mendalam. "Aku tidak tahu... kalau hidup yang kamu jalani di balik dinding istanamu ternyata sekejam itu."

Alvaro terkekeh pahit, sebuah suara tawa yang sarat akan keputusasaan. Ia tidak menepis tangan Kayla, justru membiarkan gadis itu terus mengobati wajahnya.

"Lucu, bukan?" ujar Alvaro, matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi yang bergolak di dadanya. "Semua orang di sekolah ini mengira aku adalah dewa yang bisa melakukan apa saja. Mereka takut padaku, mereka memujaku karena uang keluargaku. Tapi di rumah itu... aku hanyalah sebuah produk investasi. Jika nilai sahamku turun, atau jika aku terlihat lemah sedikit saja di depan publik seperti semalam... ayahku tidak akan segan untuk mencambukku sampai aku memohon ampun."

Air mata yang sejak tadi ditahan Alvaro akhirnya luruh, mengalir melewati pipinya yang memar, bercampur dengan rintik gerimis sore. Bahu tegap sang penguasa sekolah itu bergetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alvaro melepaskan seluruh topeng angkuhnya dan menangis di depan orang lain—dan orang itu adalah gadis yang paling ia tindas selama ini.

"Aku membuat kartu merah itu... aku menindas orang-orang lemah... karena aku ingin merasa berkuasa, Kayla," aku Alvaro dengan suara yang pecah oleh tangisan. "Di rumah, aku tidak punya hak suara sedikit pun. Aku dikendalikan seperti boneka. Jadi di sekolah, aku melampiaskan semua rasa frustrasiku dengan mengendalikan hidup orang lain. Aku tahu aku bajingan... Aku tahu aku monster."

Kayla menurunkan tangannya dari pipi Alvaro. Ia menatap cowok di hadapannya yang kini terlihat begitu rapuh dan kesepian. Segala rasa dendam dan trauma akibat perundungan kemarin mendadak menguap, digantikan oleh pemahaman baru yang mendalam. Alvaro bukanlah monster sejati; ia hanyalah korban dari sistem keluarga elite yang kejam, seorang anak yang tersesat dan menggunakan kekerasan untuk menutupi ketakutannya sendiri.

"Kamu bukan monster, Alvaro," kata Kayla lembut, seulas senyuman tulus yang menenangkan terukir di wajah manisnya. "Kamu hanya seorang anak laki-laki yang kesepian dan butuh disembuhkan. Mulai hari ini... kamu tidak perlu berpura-pura menjadi kuat di depanku. Kamu bisa menjadi dirimu yang sebenarnya."

Alvaro tertegun mendengar kalimat dari Kayla. Kata-kata itu bagai embun pagi yang menyejukkan seluruh jiwa dan rongga dadanya yang gersang selama belasan tahun. Tanpa bisa ditahan lagi oleh akal sehatnya, Alvaro maju selangkah dan menarik tubuh Kayla ke dalam dekapan dadanya.

Ia memeluk Kayla dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu, membiarkan tangisannya pecah sepenuhnya di bawah guyuran gerimis atap sekolah. Kayla sempat tersentak kaget dengan pelukan yang tiba-tiba ini, namun menyadari betapa hancurnya kondisi psikologis Alvaro saat ini, ia perlahan mengangkat kedua tangannya dan menepuk-nepuk punggung tegap Alvaro dengan lembut, memberikan kehangatan pelindung yang tak pernah didapatkan cowok itu di rumahnya sendiri.

Dari balik kaca pintu tangga darurat yang sedikit terbuka, Devan Narendra berdiri diam menyaksikan seluruh adegan emosional tersebut. Tangannya yang memegang payung hitam bergetar sedikit. Sepasang mata teduh Devan menatap kedekatan Alvaro dan Kayla dengan sebersit rasa kecewa dan cemburu yang mendalam yang mulai mengikis ketenangannya.

"Tampaknya... duri dari rumput liar itu tidak hanya melukaimu, Alvaro," gumam Devan lirih pada diri sendiri, sebelum berbalik dan melangkah turun meninggalkan atap sekolah dalam keheningan. "Tapi duri itu juga telah berhasil meruntuhkan seluruh benteng pertahananmu."

Di atas atap sekolah, di bawah siraman gerimis sore yang kian menderu, dua hati yang semula saling bertolak belakang kini mulai menemukan frekuensi yang sama. Batas tipis antara benci yang mendalam dan obsesi yang berubah menjadi rasa ingin melindungi, kini telah resmi mengabur di antara sang rumput liar dan sang penguasa yang terluka.

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!