Novel romance pernikahan
Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.
Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.
Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.
Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh
Olivia bisa bernapas lega saat sang ibu mertua memutuskan untuk pulang. Vino berpamitan akan mengantar wanita itu sampai naik taksi. Tentu saja Olivia tidak keberatan sama sekali.
Boleh tidak sih, jika dirinya berharap agar Vino bisa mengantar sang mama sampai rumah saja. Namun, lisannya tak mampu menyuarakan isi hatinya tersebut. Alhasil, Olivia memilih bungkam tanpa sepatah kata pun.
Tiga puluh menit kemudian, Vino kembali dengan wajah yang semakin tampak lelah serta kusut. Benar-benar tak enak dipandang mata. Sesekali tangan lelaki itu akan menguap wajah secara kasar. Seakan, terlalu banyak beban yang bergelayut manja di pundaknya.
Olivia tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. "Ada apa, Kak? Apa soal biaya rumah sakit atau soal tinggal di rumah Mama?" tanyanya hati-hati.
"Semuanya, Sayang ...," jawab Vino. Hatinya gusar untuk menentukan keputusan mana yang harus diambil.
Vino menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
"Kamu gimana dengan usulan Mama tadi?" tanya Vino hati-hati.
Kali ini gantian Olivia yang risau. Bagaimana mengatakan yang sebenarnya jika dirinya keberatan menerima tawaran Mama Sekar.
"Apa ... kamu tidak apa-apa jika untuk sementara tinggal di rumah Mama?" Masih dengan suara pelan dan penuh kehati-hatian, Vino bertanya kepada Olivia. Ia menatap lekat wanita yang menundukkan kepala di hadapannya itu. "Kalau ... kamu keberatan enggak apa-apa, kok." Vino tersenyum tipis, "aku bisa ngerti."
"Benarkah?" Seketika Olivia mendongak membalas tatapan sendu Vino.
"Hm." Vino menggumam sebagai persetujuan disertai anggukan pelan.
"Kalau kita kekurangan biaya, aku bisa pinjam di mamanya Nadia. kebetulan, beliau nawarin aku, Kak," ujar Olivia. Ekspresi wajahnya tampak lebih rileks dari pada beberapa menit yang lalu.
"Tapi aku yang enggak enak," balas Vino.
"Lagi pula, makanya Nadia kok yang nawarin duluan. Aku enggak bilang apa-apa. Jujur saja, ketimbang nerima uang dari keluarga Kak Vini aku lebih nyaman menerima tawaran pinjaman dari orang lain. Uangnya jelas kan kita pinjam, dan bisa dicicil tiap bula," jelas Olivia meminta pengertian dari suaminya.
"Iya, tapi kan aku enggak enak sama Mama, Sayang." Vino mengemukakan apa yang ia rasakan.
"Kita kan sedang belajar mandiri, Kak. Apalagi dengan masalah yang sebenarnya belum usai. Lebih baik, kita atasi sendiri dulu soal keuangan atau masalah apa pun dalam rumah tangga kita." Olivia menghela napas pelan lalu melanjutkan kalimatnya, "Bukan aku nolak untuk menerima bantuan dari keluarga Kakak. Suami aku sendiri. Hanya saja, rasanya enggak nyaman aja. Kita nikah apa adanya, Kakak datang juga tanpa keluarga. Pas ada masalah begini orang tua Kakak mau ikut campur ini itu ...."
"Bukan ikut campur, Sayang. Tapi Mama berusaha untuk nolongin kita. Harusnya kita berterima kasih, kan, bukannya malah bilang ini itu tentang niat baik Mama." Vino menyela ucapan istrinya.
"Oke katakanlah demikian. Tapi aku enggak bisa begitu saja melupakan masalah di antara kalian," sahut Olivia.
"Masalah yang mana? Mama bahkan enggak mengungkit sama sekali kan tadi ...."
Enggak ngungkit tapi ngebandingin aku sama calon mantu gagal itu. Olivia menyahuti perkataan suaminya dalam hati.
Yang keluar dari mulut Olivia hanya dengkusan saja. Ia berpikir keras untuk menolak permintaan Mama Sekar tanpa ada fakta yang keluar bahwa ibu mertuanya itu jelas-jelas tidak menyukainya.
Bukan, bukan Olivia tidak mau mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Namun, wanita itu tengah berusaha untuk tidak memasukkan orang lain dalam masalah rumah tangganya sekarang ini. Bagi Olivia, masalah keuangan dan biaya rumah sakit saat ini adalah masalah mereka berdua saja yang harus diselesaikan bersama. Bukan malah enak enakan menerima uluran tangan Mama Sekar.
Bagaimana jika suatu saat mereka berada dalam masalah lagi? Apa harus selamanya seperti ini? Menerima uluran tangan dari Mama Sekar. Mau sampai kapan akan seperti ini dan hasilnya rumah tangganya tidak akan pernah mandiri.
"Aku hanya ingin kita menyelesaikannya secara mandiri, Kak. Kalau pun Mama ingin membantu, harus dengan akad yang jelas. membantu atau memberi pinjaman. Kalau hanya dengan membantu saja tanpa pinjaman, sampai kapan kita akan seperti ini? Bergantung dengan orang tua." Vino memicingkan mata mendengar penjelasan istrinya itu. "Sampai kapan kita akan menjadi anak yang manja. Padahal, di awal awal nikah kita sudah yakin kalau akan hidup sendiri, hidup mandiri. Baru ada masalah begini saja sudah goyah," lanjut Olivia dengan suara tegas.
"Tapi ini berhubungan dengan kamu, Kakak enggak mau kamu kenapa kenapa, Sayang ...." Vino masih berusaha memberikan pengertian kepada Olivia.
"buktinya aku enggak kenapa-kenapa kan sekarang. Justru yang kenapa-kenapa itu anak aku, anak kita yang enggak bisa bertahan di dalam sana," balas Olivia dengan suara bergetar. "Aku sudah cukup sedih dengan kehilangan anak aku, aku enggak mau tambah enggak nyaman lagi jika harus tinggal di rumah keluarga kamu, Kak. Apalagi harus dibiayai juga rumah sakitnya. aku enggak mau." Kali ini Olivia berbicara dengan derai air mata.
Vino tercengang dibuatnya. Dan ia mencoba untuk memahami posisi serta kondisi Olivia saat ini, hingga memutuskan untuk bungkam. Cukup mendengarkan. Langkahnya pelan mendekati ranjang, duduk di pinggiran ranjang. Tangannya terulur mengelus kepala Olivia.
"Baiklah, aku mengerti. Maafkan Kakak yang sempat egois tadi. Kakak hanya ingin agar kamu ada yang menjaga. kalau di rumah Mama mungkin kamu akan cepat pulih, Olivia," Ucap Vino lirih.
Yang ada aku akan tambah sakit, Kak, karena harus dibandingin sama calon istri kamu yang gagal itu.
Olivia membalas pelukan suaminya. Belum saatnya ia mengutarakan isi hatinya sekarang. Biarlah, semuanya terpendam dalam dada dan mungkin akan menguap begitu saja seiring waktu. Semoga saja.
Tidak lama kemudian dua orang perempuan berbeda usia datang dengan buah buahan di tangan sang anak.
"Ibu Oliv." Nadia meletakkan buah yang dibawanya ke atas nakas lalu menghambur memeluk Olivia dengan erat. Olivia membalas pelukan itu. Ajaib, seakan ada yang mengangkat batu besar yang beberapa menit lalu menghimpit dadanya.
Olivia mengucapkan terima kasih atas kedatangan merek berdua. Hal yang paling mengejutkan adalah ketika mamanya Nadia menjelaskan jika dia telah membayar biaya administrasi rumah sakit.
"Jangan begitu, Bu." Vino berbicara dengan nada penolakan. "Istri saya bahkan baru mengajar sebulan di rumah Ibu," lanjutnya.
"Ini semua demi anak saya Pak Vino. Nadia sangat mengkhawatirkan guru lesnya. Sebagai orang tua saya hanya membantu menghilangkan kekhawatiran di hati anak saya," jelas mamanya Nadia.
"Iya tapi, Ma ...." Olivia berusaha menyela.
"Tidak apa-apa. Kalau Olivia keberatan, bisa dipotong dengan gaji per bulan. Jadi kita tidak punya hutang piutang kan. Dan yang pastinya bisa dibayar dengan memberikan pelajaran yang baik kepada anak saya. Tentu itu sangat setimpal dengan uang yang tidak seberapa ini. Saya hanya ingin menghormati guru anak saya itu saja, Oliv." Olivia terkesima mendengan penjelasan mamanya Nadia.
Beruntung sekali Olivia bisa menjadi guru seorang anak yang orang tuanya sangat menghormati jasa seorang guru kepada anaknya.
Selanjutnya mengalirlah cerita tentang insiden kecelakaan yang Olivia alami.