Henry, seorang pria yang berumur 45 tahun dengan status duda beranak satu. Suatu ketika takdir mempertemukan dirinya dengan seorang gadis.
Kejadian ini berawal dari dia menolong tragedi kecelakaan pada seorang wanita muda nan cantik yang bernama Renata.
Seiring berjalan nya waktu Renata tinggal dirumah Henry, sehingga membuat Henry jatuh cinta kepadanya kemudian dia mengajak untuk segera menikah dengan nya.
Suatu ketika kejadian miris menimpa Renata kembali, hingga ia ditolong oleh seorang pemuda yang bernama Kellan.
Singkat cerita, sejak awal bertemu dengan Renata Kellan sudah jatuh cinta terhadap nya. Namun sayangnya, wanita yang dicintainya itu terpaksa harus menjadi ibu sambung nya.
Akankah Kellan terus mengejar cintanya dengan sang ibu sambung?
Akankah Henry mengetahui hal ini? dan jika tahu apa yang akan diperbuat olehnya?
Penasaran? mari kita simak cerita nya!
Jangan lupa vote, komen, dan like dari kalian ❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Henry
Beberapa menit kemudian ciuman mereka berhenti secara bersamaan, lumayan lama mereka melakukan adegan tersebut.
Hosss
Hosss
Hosss
Nafas mereka mulai terengah-engah kini posisi mereka saling berhadapan lebih tepatnya duduk di atas sofa.
"Aku kira kau marah terhadap perlakuan ku, tapi kau malah membalasnya." Sahut Henry sambil memandangi wajah Renata terlihat disana bibir ranum nya agak membengkak karena ulah nya.
"Iya, itu semua karena aku siap menerima hukuman dari mu. Aku kira Paman akan memukul ku namun dugaan ku salah." Jawab nya lirih.
Henry menyunggingkan senyum,
"Jangankan memukul mu berada didekat mu saja aku sudah lemah. Ingat lah baik-baik tangan ini tidak akan bermain kasar terhadap mu." Ucap nya sambil mengapit wajah Renata.
"Tapi tadi tatapan mata mu membuat ku takut."
"He-he-he tadi itu aku hanya ingin mengerjai mu saja." Henry terkekeh.
"Ish... Paman kamu jahat situasi sudah tegang kau malah mengerjai ku."
"Aku suka dengan ketakutan wajah mu, kau terlihat begitu menggemaskan."
'aku suka saat situasi mu sedang tegang terutama saat kau menggigit bibir mu Renata, seakan memancing hasrat ku rupanya bibir mu terasa sangat lembut, kini sebagian dirimu sudah menjadi candu ku.' ucap batin Henry.
"Huh! Kau ini menyebalkan, Paman!" Renata beranjak berdiri dari duduk nya tiba-tiba Henry menarik pergelangan tangannya seketika tubuhnya terjatuh di atas pangkuan Henry, kini jarak mereka sangat dekat sekitar satu jengkal.
Wajah mereka saling tatap satu sama lain lalu Henry mengutarakan isi hati nya selama ini yang ia pendam.
"Renata, aku tidak bisa menahan nya lagi. Paman sangat mencintaimu mu melebihi dari seorang keponakan, dan aku juga ingin menjadikan mu sebagai kekasih ku." Ungkap nya penuh arti.
"Sejak kapan Paman mencintai ku?"
"Sejak kamu tinggal dirumah ini. Sebelumnya hari-hari ku terasa hampa tapi semenjak ada dirimu hidup ku menjadi berwarna dan penuh makna."
'Saat ini aku sedang belajar mencintaimu, Paman. Memang butuh waktu untuk memastikan nya tapi tenang lah Paman aku akan berusaha membuka hati untuk mu mulai hari ini.' batin Renata bergurau.
"Aku tahu pertemuan kita memang terlalu singkat dan setiap hari pun kita selalu bertemu saling memberikan perhatian satu sama lain. Entah lah! Cinta memang tidak bisa ditebak dan tak bisa kita rencanakan. Aku tidak peduli perbedaan usia diantara kita yang terpenting sekarang aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu, Renata aku ingin kau menjadi bagian dalam hidup ku seutuhnya."
Renata terdiam sejenak sambil menatap lekat padanya, nampak bola matanya terlihat sangat serius dengan apa yang ia ucapkan benar-benar tulus dari hatinya.
"Maaf Renata aku hanya mengungkapkan isi hati ku jika kau tidak suka, kau boleh menghiraukan nya." Ujar Henry sambil menunduk.
Seketika Renata mendongakkan kepala Henry tiba-tiba ia mendaratkan kecupan singkat pada bibir nya.
Cup....
"Aku siap menjadi bagian dalam hidup mu, Paman!"
"Benarkah? Sungguh?"
Respon Renata mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih, sayang. Kau sudah mau menerima ku." Ujar nya sambil memeluk serta membelai rambut Renata yang terurai panjang.
~~
~~
Pagi hari....
Seperti biasa di pagi hari Renata selalu menyiapkan hidangan sarapan, kali ini ia membuatkan roti bakar manis serta roti bakar isi daging.
Sarapan sudah siap untuk dilahap bergegas ia memanggil Henry untuk segera sarapan bersama nya, tak lama kemudian Henry tiba diruang meja makan.
Tumben sekali pagi ini ia terlihat sangat ceria dan riang seperti baru menemukan sebuah harta karun.
Perlahan ia pun mulai mencicipi sarapan nya,
"Ummm... Roti bakar buatan mu memang tak ada tandingannya." Ujar nya dengan pujian.
"Paman bisa saja. Aku kan memang selalu membuatkan nya."
"Tapi kali ini rasanya beda dari biasa nya."
Renata hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Aku hampir lupa menanyakan ini, waktu malam itu kau pergi kemana? Apa pergi dengan Justin." Tanya Henry dengan penasaran.
Sejenak Renata terdiam seakan ia tak ingin membahasnya karena ia takut Henry marah padanya.
"Kenapa cuma diam, sayang. Aku menanyakan nya secara baik-baik." Perlahan tangan Henry menyentuh tangan Renata yang kebetulan ada di atas meja makan.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Justin. Jika aku ceritakan yang sebenarnya apakah kamu akan marah?" Tanya nya lirih.
"Aku kan sudah bilang padamu, bahwa aku tidak bisa marah dengan mu." Balas nya dengan mengelus lembut pipi Renata.
"Baiklah akan aku ceritakan. Jadi kejadian nya itu aku baru saja diterima berkerja sebagai waitress pada saat wawancara memang aku tidak menaruh curiga padanya. Namun rupanya aku bukan berkerja sebagai waitress melainkan menjadi budak nafsu pria hidung belang."
Tiba-tiba Henry menggebrak meja setelah mendengar penuturan kata dari Renata,
"Kurang ajar! Berani nya mereka menjajakan dirimu pada pria hidung belang." Suara bentakan Henry terdengar di seluruh ruangan namun perkataan tersebut hanya kekesalan pada dirinya.
"Sabar lah, Paman." Renata sambil menenangkan.
"Maaf sayang aku hanya merasa kesal. Lalu apakah pria hidung belang itu sempat menyentuh mu ?"
Renata mengangguk dengan menampilkan wajah sedih,
"Dia menyentuh ku di bagian leher dan juga dia terus memaksaku."
"Brengsek! Kalau aku ada disana sudah pasti ku patahkan tangan nya atau bila perlu ku lenyap kan dia dari muka bumi ini." Henry kembali mengamuk.
Kemudian arah kursi nya ia geser kan sehingga posisi nya berdekatan dengan Renata,
"Sayang... Aku tak mengira, pasti kau sangat ketakutan sekali pada saat itu. Maafkan aku yang tidak becus menjaga mu." Ujar nya sambil mengelus lembut rambut Renata dan tak lepas dengan tatapan nya.
"Sudahlah Paman jangan disesali, itu sudah berlalu. Akhirnya aku bisa melepaskan jeratan darinya karena ada seseorang yang menolong ku."
"Siapa yang menolong mu, apakah dia seorang pria?"
"Iya, dia pria."
"Apakah dia cukup muda?"
"Iya begitu lah..."
"Apakah dia tampan?"
"Dia cukup tampan seperti mu." Goda Renata seraya memberi cubitan ringan pada pipi nya.
Henry memajukan wajah nya, kini nampak wajah mereka begitu dekat,
"Kau menggoda ku biar aku tidak marah kan?"
"Aku sama sekali tidak menggoda mu."
"Tapi kalau aku suka di goda olehmu bagaimana?"
Seketika jantung Renata berpacu dengan cepat gerak-gerik nya mulai terlihat gugup, pandangan nya menoleh ke lain arah,
"Ah-em.... Paman seperti nya posisi kita terlalu dekat."
Henry segera merubah posisinya, kini kembali pada posisi awal nya.
"Maaf aku hanya penasaran saja dengan cerita mu." Ucap nya mengelak.
"Lagi pula kau untuk apa mencari kerja, jika perlu sesuatu kau tinggal bilang saja padaku." Sahut nya.
"Baik, Paman !"
"Oh iya! Mengenai pria yang menolong mu, apa kau sempat berkenalan dengan nya?" Terdapat perasaan cemburu didalam hati Henry.
"Tidak, Paman. Lagi pula aku tidak sempat menanyakan namanya."
Henry merasa lega,
"Bagus lah. Aku harap kau jangan sampai berkenalan dengan nya, karena ada hati yang harus kau jaga."
"Aku mengerti, sayang!" Balas nya dengan tersenyum lebar.
"Ok, kita bahas yang tadi. Mengenai masalah yang kau ceritakan tadi, kamu tidak usah khawatir aku akan segera menutup tempat itu."
"Terimakasih, Paman. Ku harap mereka jera agar tidak ada lagi korban berikutnya."
Mati aja lu Kellan 😛😕
Renata, Kellan itu suka sama kamu peka dong . masa kamu gk tau sih 😕
🌟💗💜💜💜💜🌟
🌟💗💜💜💜💜🌟
🌟✨💜💜💜✨🌟
🌟✨✨💜✨✨🌟
✨🐬✨🐬✨🐬✨
🌊🌊🌊🐬🌊🌊🌊